Ilmu Padi

October 8, 2005

Teh

Filed under: Milis

TEH, BEDA JENIS BEDA TRADISI
Dalam kejuaraan minuman terpopuler di dunia, konon teh hanya
menempati urutan kedua setelah sang jawara: air putih. Rasanya yang
pahit agak-agak sepet memang berhasil membuat kesengsem jutaan lidah
orang di dunia, dari Timur sampai Barat.
Apa pun jenisnya, semua teh sebenarnya berasal dari satu pohon,
yaitu Camellia sinensis. Yang membedakan hanya lokasi penanaman
pohon, kondisi tanah, dan iklim di sekitarnya. Hingga pada akhirnya
orang mengenal tiga jenis teh terpopuler: teh hitam, teh hijau, dan
teh oolong.
Perbedaan ketiga jenis teh juga terlihat pada cara mengolahnya. Teh
hitam diolah dengan cara fermentasi penuh. Warna seduhannya merah
pekat hingga ada yang menyebutnya teh merah.
Lain lagi dengan teh oolong, yang dikenal di pasar sebagai teh
gunung atau teh wangi. Diolah dengan cara setengah fermentasi dan
warna seduhannya merah agak kuning. Sedangkan teh hijau diolah tanpa
proses fermentasi dengan warna seduhan kuning hijau dan rasa lebih
sepet. Aroma khas
Di antara ketiga jenis tadi, teh hijau tercatat paling populer di
dunia. Selama berabad-abad teh jenis ini menjadi minuman pilihan di
Asia, terutama bagian Timur. Kunci popularitasnya terletak pada
aroma alaminya dan manfaatnya bagi kesehatan.
Menurut asalnya, teh hijau terbagi menjadi dua macam, yaitu teh
hijau cina dan teh hijau jepang. Begitu populer dan merakyat sampai
hampir semua teh yang diminum di dua negeri itu adalah teh hijau. Di
negeri-negeri Barat, popularitas teh jenis ini meningkat setelah
menjadi bagian penelitian ilmiah yang mengaitkannya dengan penurunan
risiko kanker.
Sementara lidah kebanyakan orang Barat rupanya lebih cocok dengan
teh hitam. Lebih dari 80% teh yang disuguhkan di sana dari jenis
ini. Bahkan, di negerinya Presiden Bush, pangsa pasar teh jenis ini
mencapai lebih dari 90%. Teh hitam terbaik di dunia dihasilkan di
India (Assam, Darjeeling, dan Nilgiri), Sri Lanka (Ceylon), dan
Cina. Negeri itu pula yang menikmati devisa dari penjualan tehnya.
Meski tak sepopuler teh hijau, teh oolong juga memiliki penggemar
fanatik. Banyak penggemarnya mengatakan, teh jenis ini memiliki
rasa “manis asli”. Kandungan senyawanya pun lebih banyak dan
berkhasiat bagi kesehatan tubuh.
Teh oolong di dunia diproduksi secara eksklusif di Cina, India
(Darjeeling), dan Taiwan (Formosa). Konon formosa oolong tea adalah
oolong terbaik berdasarkan budidaya perkebunan dan teknologi
pemrosesannya.
Untuk melihat kualitas oolong, tidaklah sulit. Sebab, daun teh
oolong yang bermutu tinggi hanya terdiri atas tiga pucuk utama.
Setelah diseduh, bentuk daunnya akan kembali utuh seperti ketika
baru dipetik. Ini sekaligus membuktikan penggunaan teknologi tinggi
dalam pengolahannya
Cangkir seibu jari
Perbedaan jenis dan prosesnya dengan sendirinya menentukan proses
penyeduhannya. Teh hitam misalnya, butuh air mendidih atau suhunya
berkisar 91 - 95oC. Air panas dituangkan ke dalam poci berisi daun
teh, biarkan terendam dua - empat menit dengan poci tertutup.
Segera setelah waktu yang ditentukan teh harus segera dikeluarkan.
Jika tidak, teh akan terasa pahit dan malah tidak menghasilkan rasa
yang maksimal. Sedangkan jika direndam kurang dari waktunya, atau
direndam dalam air yang kurang mendidih, yang didapat hanya air yang
telah berubah warna tetapi tidak mengeluarkan aroma sedap teh hitam.
Pada teh hijau, air cukup dimasak hingga timbul gelembung udara
kecil atau suhu ber-kisar 71 - 76oC. Teh hijau diseduh selama dua -
tiga menit, dalam posisi poci tertutup agar daunnya cepat terbuka.
Dengan cara ini diyakini teh hijau akan mengeluarkan rasa maksimal.
Pada teh oolong penanganannya agak berbeda. Sediakan satu sendok teh
untuk setiap orang. Teh diseduh selama dua - tiga menit dengan air
yang beruap tebal, baru kemudian dituangkan ke cangkirnya. Teh
oolong akan lebih baik dimasak beberapa kali dengan sedikit air,
daripada dimasak banyak sekaligus. Cara ini membuat seseorang dapat
lebih menikmati teh melalui proses pembuatannya. Teh pun akan tetap
hangat saat dinikmati.
Teh oolong sebaiknya diminum dalam jumlah sedikit dan menggunakan
cangkir kecil. Bukankah di Cina ada menggunakan cangkir mini
seukuran ibu jari? Sedangkan teh hijau disajikan di cangkir kecil
tanpa pegangan. Cara ini akan “memaksa” orang untuk menikmatinya
seteguk demi seteguk.
Teh hitam dapat dicampur dengan berbagai tambahan sesuai selera.
Seperti gula, jeruk nipis, atau susu. Pencampuran dilakukan setelah
teh diseduh secara penuh. Jika tidak, bahan-bahan tadi akan
menghambat proses seduhnya, bahkan mengubah rasanya.
Sedangkan teh oolong dan teh hijau dianjurkan untuk tidak dicampur
apa pun. Memang, ini hanya sekadar himbauan. Karena menurut pakar,
dari sononya bahan-bahan itu justru dapat mengalahkan cita rasa teh
yang begitu halus. Selama ratusan tahun kedua jenis teh itu
dinikmati tanpa tambahan apa pun.
Tidak asal teguk
Setiap bangsa di dunia boleh mengklaim memiliki upacara minum teh.
Jepang menamai tradisinya sado. Korea menyebutnya dado. Sedangkan
kaum aristokrat Inggris memperkenalkan afternoon tea, sebagai ajang
kumpul-kumpul sambil sesekali bergunjing.
Namun, jika tidak ingin jauh berkelana, kita pun dapat menikmati
wanginya teh poci di warung-warung tegal sepanjang Pantura. Atau
betapa santainya saat kaki bersila sambil menyeruput teh jahe ala
angkringan, di sudut Kota Yogyakarta. Semua intinya toh nyaris sama,
yaitu menikmati teh.
Upacara minum teh sebenarnya berakar dari Asia, atau tepatnya Cina,
lebih dari 6.000 tahun lalu. Baru pada abad ke-16 menyebar ke Eropa,
sehingga akhirnya terbagi menjadi gaya Asia dan gaya Eropa.
Perbedaan keduanya, terletak pada pemakaian pemanis. Pada kebanyakan
daerah di Asia, teh disajikan murni. Untuk mengurangi rasa pahit
atau sepet, disajikanlah penganan manis.
Sedangkan di Eropa, teh sering kali ditambahi gula atau krim.
Malahan di Inggris, teh diberi campuran melati, mawar, dan camomile
(sejenis aster mungil yang dikeringkan beraroma wangi lembut) untuk
memberi “nuansa” lain.
Malah pada beberapa bangsa di Asia, upacara minum teh dianggap
sakral karena berhubungan dengan ritual keagamaan. Sado di Jepang
misalnya, amat dipengaruhi ajaran Zen. Tradisi itu dimulai dari masa
Eisai, pendiri aliran Rinzai-shu, yang membawa teh ke Jepang
sekaligus membiasakan kepada pengikutnya. Kebiasaan selama berabad-
abad itu akhirnya menyatu dalam Zen, bahkan tercipta tata
upacaranya.
Sementara itu bangsa Korea berpendapat, dado mereka lebih tua dari
sado. Budaya dado diimpor dari India bersamaan dengan datangnya
Buddhisme, sebelum akhirnya diekspor ke Jepang. Sejumlah artefak
dari abad keempat dan ketujuh di berbagai tempat di Korea,
membuktikan hal itu.
Dado berasal dari kata da berarti teh, dan do adalah seni membuat
atau melakukan sesuatu. Secara sederhana dado dapat dimaknai sebagai
ritual mempersembahkan teh untuk menghormati Sang Buddha. Teh memang
dinilai sebagai sesuatu yang berharga. Tak heran teh pun dipakai
untuk menyambut tamu serta menentukan derajat keluarga bangsawan di
masa lalu.
Upacara yang hingga kini masih aktif dilakukan di beberapa kuil di
Korea itu, juga diibaratkan seperti meditasi. Saat meminumnya,
kelima indra kita akan terlibat. Telinga mendengar air mendidih,
hidung mencium aroma teh, mata melihat warna teh, lidah mencecap
rasanya, dan jemari dapat menyentuh kehangatan teh.
Cara menuangkan teh juga tidak sembarangan. Setiap cangkir harus
diisi dulu sedikit. Setelah semua mendapat bagian, baru ditambahkan
lagi secara bergiliran. Sebab, diyakini, rasa dan warna teh makin
lama makin kuat.
Dalam menyisip teh pun ada “aturan”nya. Teh sebaiknya diminum dalam
tiga cicipan. Tangan kanan mengitari cangkir teh yang ditopang
tangan kiri. Teh tidak langsung ditelan glek, tapi dikulum di mulut,
untuk lebih menikmati rasanya.
Cara minum teh menurut cara modern sebenarnya tak berbeda dengan
dado. Minum teh, atau kopi, sama dengan minum anggur. Pertama, cium
aromanya. Kemudian saat diminum, sebaiknya tidak langsung ditelan,
melainkan dinikmati rasanya sambil mengirup aromanya. Dari sini cita
rasa teh akan semakin terasa.
Tanah liat ungu
Di Indonesia, meski minum teh tidak memerlukan perlakuan khusus,
adakalanya orang menyimpan perangkat minum teh. Buat pantas-
pantaslah, kata kaum ibu yang selalu waswas dicela tetamu. Perangkat
yang terdiri atas teko atau poci dengan empat atau enam cangkir itu
bisa terbuat dari tanah atau gerabah, keramik atau porselen. Dalam
bentuk tradisional, ada poci dari Tegal, yang semakin lama
dipergunakan seolah semakin “berwibawa” karena warna endapan tehnya.
Jenis poci sangat berperan terhadap aroma dan rasa teh. Ada teh
jenis tertentu yang terasa nikmat bila diseduh pada poci tanah.
Sebaliknya, ada yang cocok diseduh di porselen. Yang penting, tidak
memakai satu poci untuk jenis teh yang berbeda, karena akan
mengacaukan aroma.
Poci teh yang terkenal berasal dari Yixing di Provinsi Jiangsu,
utara Shanghai. Separuh lebih dari penduduk kota itu berprofesi
membuat poci teh dari generasi ke generasi. Bentuknya pun begitu
orisinal, sehingga harganya pun terus menanjak. Percaya atau tidak,
ada poci yang harganya lebih dari Rp 100 juta!
Yang membuat poci made in Yingxi makin terkenal, karena bahannya,
yakni tanah liat ungu, yang hanya terdapat di wilayah itu. Tanah itu
mengandung berbagai macam zat besi yang teroksidasi dan diambil dari
gua berkedalaman 150 - 200 m.
Sedemikian panjang sejarahnya sehingga dapat diterima masyarakat
dunia. Sedemikian unik pula tradisi penyajian yang dilakukan di
berbagai tempat. Mungkin itu cukup jadi bukti, bahwa teh memang
bukan minuman sembarangan.
T. Tjahjo Widyasmoro

Kakak Seorang Gelandangan

Filed under: Milis

Roy Angel adalah pendeta miskin yang memiliki kakak
seorang milyuner. Pada tahun 1940, ketika bisnis
minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya
menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan
harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy
Angel menjadi kayaraya. Setelah itu kaka Roy Angel menanam
saham pada perusahaan besar dan memperoleh untung
yang besar. Kini dia tinggal di apartemen mewah di New
York dan memiliki kantor di Wallstreet.
Seminggu sebelum Natal, kakaknya menghadiahi Roy
Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap. Suatu
pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan
penuh kekaguman.
“Hai.. nak” sapa Roy
Anak itu melihat pada Roy dan bertanya “Apakah ini
mobil Tuan?”
“Ya,” jawab Roy singkat.
“Berapa harganya Tuan?”
“Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa”.
“Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan
yang punya mobil ini?” Gelandangan kecil itu bertanya
penuh heran.
“Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak
saya”
Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan
bergumam,”Seandainya…. seandainya…”
Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak
kecil itu,
“Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama
seperti kakakku”.
Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu
melanjutkan kata-katanya:
“Seandainya… seandainya saya dapat menjadi kakak
seperti itu..”
Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu
berkeliling dengan mobilnya.
Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya.
Sampai satu kali anak itu berkata,”Tuan bersediakah
Tuan mampir ke rumah saya ? Letaknya hanya beberapa
blok dari sini”.
Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin
dilakukan anak ini.
“Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada
teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah”
pikir Roy.
“OK, mengapa tidak”, kata Roy sambil menuju arah
rumah anak itu.
Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada
Roy untuk berhenti sejenak,
“Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan
segera kembali”.
Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah
reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy
mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar
dari mobilnya, menatap rumah reot itu. Pada waktu itu ia
mendengar suara kaki yang perlahan-lah
“Lihat… seperti yang kakak bilang padamu. Ini
mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan
ini. Suatu saat nanti kakak akakn membelikan mobil
seperti ini untukmu”.
Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang
hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang
membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu
juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang
selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya.
Sandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.
Kisah ini diambil dari buku “Stories for the
family’s heart” by Alice Gray.
Setiap saya membaca cerita ini, saya tidak dapat
menahan haru. Bagi saya kisah ini sangat menyentuh
dan membuat kita mengerti untuk selalu mengasihi orang
lain. Berikanlah yang terbaik bagi orang yang anda
kasihi selagi anda bisa, atau anda akan menyesal
seumur hidup anda.

SMS on Wisdom

Filed under: Milis

SMS… on Wisdom

• Many people want to serve Allah, but in an advisory position.

• Whosoever wants to serve Allah in an advisory position, will be fired.

• Live a life of loyalty and love and obedience to Allah.

• If you come out of reading the Quran and you are not knowing Allah better, and

loving Allah more, you have not read the Quran.

• Quran is the nourishment of your soul, the more you consume it the better it

tastes.

• The shaytaan may mange to put a coma in the sentence of your life, but never

allow him to put a question mark or a period.

• The dark heart is the room where negatives are developed.

• Give shaytaan a inch and he will be the ruler by which you measure things.

• When the love of Allah lodges in your heart it shall change you to that which Allah

loves of you to be.

• When the will of Allah defeats your will, you become a victor.

• Surrender to Allah. Raise the white flag.

• Life is not a play ground, but rather a worship ground.

• All of us want to go to Jannah, but while on earth some want to live like hell.

• Some always think how to go to Jannah with the least amount of obedience.

• If your life is like hell, read the Quran it will knock the hell out of you.

• True Islamic life is built from the inside out because authentic life is lived from the

inside out.

• Information doesn’t bring transformation, but application does.

• Your attitude about money reveals your true love to Allah.

• If your inner cavity is not filled with the truth, it will be filled with falsehood,

deceptions and lies.

• Allah created you in the world in such away that you are destined to fail unless you

draw on His help and support.

• Your true worth is not based on how much profit you’ve made but how much

prophet you’ve followed.

• The masjid is the place to get built up not beat up.

• Acquiring theological truths about Allah produces accurate application of His rules.

• Many Muslims obey the rules which they agree with, but Allah does not want you

to agree with Him, He wants you to surrender to Him.

• Many Muslims today receive Allah as their Lord and Deity as long as they keep their

ways according to their likings. But true allegiance to Allah requires to denounce all

other lords including yourself.

• Don’t fall in love, prostrate in love and worship The Greatest. And then stand in

love and say the truth.

• Worship is living out your faith in every aspect of your life.

• What is worthwhile is worth waiting for.

• Together is better.

• Many love Allah is theory, but the real thing is to love Allah in application.

• It sufficed it to understand that our relationship with Allah cannot be right until our

relationship with one another is made right. We can rightly relate to Allah when we

rightly relate to one another.

• A good caller to Allah puts people in the mode of repair not in despair.

• Let not your emotion victimize your love to your sibling in faith.

• Some people fill their minds with info, yet their hearts are still in limbo.

• Death is born to the marriage of internal desires with external temptations.

• Life is born the marriage of internal desires with the external guidance.
• Killing time is a crime.

• Allah wants to love him sacrificially, we want to love Him artificially.

• Your tongue is the dip stick for your faith.

• Some people major in minors while neglecting the most important matters.

sumber: MyIslam

Kejarlah Allah Dan Jangan Kejar SyurgaNya - Milis MyQ

Filed under: Milis, Religi

Kejarlah Allah Dan Jangan Kejar SyurgaNya

Kejarlah Tuhan , dan jangan kejar SyurgaNya
Tuan Syurga lebih utama daripada SyurgaNya
Carilah Tuhan dan jangan cari fadilatnya
Dapat Tuhan, Dapatlah segala-galanya

Cari Tuhan kerana kita hendak
memperhambakan diri kepadaNya
Cari Syurga atau fadilatnya ertinya
hendak membesarkan nikmat Tuhan

Mengapa hendak membesarkan diri kepada makhluk?
Memperhambakan diri kepada Khaliq bukankah yang lebih utama?
Jika mengejar fadilat , rasa bertuhan tidak ada.
Jika rasa bertuhan tidak ada, rasa kehambaan pun tidak ada.

Sedangkan fungsi hamba
hendak melahirkan rasa kehambaan
Kalau rasa kehambaan tidak ada,
mazmumah tidak akan dapat dimusnahkan!

Kerana itulah orang yang beribadah
Kerana Syurga atau Fadilat
Perangainya tidak berubah
Bahkan adakalanya ibadahnya itulah
yang menyuburkan mazmumahnya

Mengapa beribadah kerana Syurga dan Fadilat?
Syurga dan Fadilat adalah hak Tuhan
yang memang telah ditentukan olehNya

Carilah Tuhan
Dapat Tuhan, syurga dan Fadilatnya pun dapat sama
Kerana itulah syurga dan fadilat tak perlu difikirkan

Mencari Syurga atau Fadilat
Syurga atau Fadilat belum dapat
Tuhan sudah tentu tak dapat

Yang hendak kita cintai adalah Tuhan
Kerana Dia pencipta kita
Bukan Syurga atau Fadilat yang kita cintai
Betulkan semula fungsi ibadah kita
Agar matlamat ibadah itu tepat pada sasarannya.

Teacher’s Potatoes

Filed under: Milis

A kindergarten teacher has decided to let her class play game. The teacher told each child in the class to bring along a plastic bag containing a few potatoes. Each potato will be given a name of a person that the child hates, so the number of potatoes that a child will put in his/her plastic bag will depend on the number of people he/she hates.

So when the day came, every child brought some potatoes with the name of the people he/she hated. Some had 2 potatoes; some 3 while some up to 5 potatoes. The teacher then told the children to carry with them the potatoes in the plastic bag wherever they go (even to the toilet) for 1 week. Days after days passed by, and the children started to complain due to the unpleasant smell let out by the rotten potatoes. Besides, those having 5 potatoes also had to carry heavier bags. After 1 week, the children were relieved because the game had finally ended.

The teacher asked: “How did you feel while carrying the potatoes with you for 1 week?”

The children let out their frustrations and started complaining of the trouble that they had to go through having to carry the heavy and smelly potatoes wherever they go.

Then the teacher told them the hidden meaning behind the game. The teacher said: “This is exactly the situation when you carry your hatred for somebody inside your heart. The stench of hatred will contaminate your heart and you will carry it with you wherever you go. If you cannot tolerate the smell of rotten potatoes for just 1 week, can you imagine what is it like to have the stench of hatred in your heart for your lifetime?”

Parenting Rules

Filed under: Milis

I was at our neighborhood pool last Saturday and witnessed this
gruesome scene:

Mother: We need to get going. Please get out of the pool.
Scott: Not yet, Mom.
Mother: Now. Let’s get moving.
Scott: I’m not ready to get out.
Mother: Young man, when I say get out I want you to listen.
Scott: (Paddles off, ignoring her.)
Mother: Scott! If you don’t get out of the pool this instant I’m
taking one dollar out of your allowance!
Scott: (Ignores her.)
Mother: Okay buddy. Make that two dollars. (Long pause) Three
dollars!
Scott: Aw, Mom, cut it out. I’ll get out in a minute.
Mother: Four dollars, and I mean it!
Scott: (Begins to splash around with a friend.)
Mother: (Grumbles something incomprehensible and sits down on a
lounge chair.)

What went wrong?

Scott’s frustrated mother broke two very important parenting rules.
They are:

1) Take charge!
2) Use rules and routines.

It’s very obvious that Scott and his mother do not have a clear
understanding of who’s in charge. I bet that variations on this scene
occur on a daily basis between them. The good news is that it’s a
problem that CAN be fixed.

The first step is for Mother to allow herself the position of control
in the relationship. She must believe that it is her right and
responsibility to take charge during Scott’s growing years. She must
then convey this message to him in her words and actions. HOW?

- Learn and use parenting skills.
- Have a discipline plan.
- Say what you meanm ean what you say, and follow through!

So how do you get him out of the pool without a scene?

First, by understanding the kid. He’s having fun. You’re spoiling it.
It’s hard for kids to switch gears on a dime, particularly if they
are doing something fun (swimming) and must leave to do something not
so fun (go home). When you burst into their fun saying, “Time to go”
it’s hard for a child to immediately comply.

How can you “be in charge” and acknowledge the child’s needs at the
same time? Easy. On a regular basis use the “5 … 3 … l…Go!”
skill.

Let’s re-write the grisly scene at the pool using this idea:

Mother: Scott, we’re leaving in five minutes.
Scott: Okay.
(About 2 minutes pass as Scott continues to play in the water.)
Mother: Scott, we’re leaving in three minutes.
(A few more minutes pass.)
Mother: Scott, we’re leaving in one minute. Do you want to take one
more dive, or one last slide?
(Scott takes a dive and looks up to see Mom standing by the side of
the pool holding out his towel.)
Mother: Okay, Scott, let’s go.

The keys to making this work are:

- Use this method daily for all kinds of events - dinner, bath time,
bedtime, leaving the house, starting an activity …
- When you say “Go” you mean “Go - NOW”. Make it clear and follow
through. After some practice your kids will get used to the idea and
respond promptly.
- Modify your approach based on your child’s age and personality. For
instance, with an older child you might say, “It’s 2:45 and we’re
leaving at 3:00 sharp, please be ready to go.”

This is just one more skill to help you be a more effective parent.

Kopi Asin

Filed under: Milis

Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat.

Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya. Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, “Kita pulang aja yuk…k?!?”

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, “Bisa minta garam buat kopi saya?”

Semua orang yang mendengar memandang dengan ke arah si pria, aneh sekali!! Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.

Si gadis dengan penasaran bertanya, “Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?”

Si pria menjawab,”Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana.”

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria dihadapannya itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, perduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana, masa kecilnya, dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua. Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli …betul-betul seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu!

Untung ada kopi asin!!

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya,dan setiap saat sang putrid membuat kopi untuk sang pangeran, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata,

“Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu tentang kopi asin. Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama?? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus”

“Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita!! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.”

“Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidup ku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu.”

“Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.”

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam??

Si gadis pasti menjawab, rasanya manis!!

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

Kadang anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukan seperti yang anda gambarkan.

Sama seperti kejadian kopi asin tadi.

Tambahkan CINTA dan Kurangi BENCI…

karena terkadang GARAM terasa LEBIH MANIS dari pada GULA!!

Annie…….

Filed under: Milis

Joke: ANNIE BUDDY? ANNIE WAN? NOE WAN? SUM BUDDY?

Lee Sum Wan : Hello can i speak to Annie Wan
Mr Sori : Yes u could speak to me.

Lee Sum Wan : No, i want to speak to Annie Wan!
Mr Sori : You are talking to someone! Who is this?

Lee Sum Wan : Im Sum Wan. And i need to talk to Annie Wan! Its urgent.
Mr Sori : I know u are someone and u want to talk to anyone!
But whats this urgent matter about?

Lee Sum Wan : Well just tell my sister Annie Wan that our brother was
involved in an accident. Noe Wan got injured and now Noe wan is being
sent to the hospital. Right now Avery Wan is going to the hospital.

Mr Sori! : Look if no one was injured and no one was sent to the
hospital from
the accident that isn’t an urgent matter! You may find this hilarious
but i don’t have time for this!!!

Lee Sum Wan : You are rude. Who are you?
Mr Sori : Im Sori.

Lee Sum Wan : You should be sorry. Now give me your name!
Mr Sori : Im Sori!!

Lee Sum Wan : I dont like your tone of voice Mr and i dont care,
give me your name!

Mr Sori : Look lady, I told you already Im Sori! Im Sori!! Im
SORI!!! you didnt even give me your name!

Lee Sum Wan : I told u before im Sum Wan! Sum Wan!!! You better be
careful my father is Sum Buddy. And my uncle holds a very big
position in the
company. He is Noe Buddy.
Mr Sori : Oh im so scared(sarcastically).Look i dont care about ur
uncle he’s a nobody. Everybody thinks his top dog and holding an
important!
position in the company.

Lee Sum Wan : No Avery Buddy just married my aunt. And Avery Buddy
doesn’t work there.
Mr Sori : Like i said i dont care which one of ur aunt screws
everybody and i also know that not everybody works here! Jeez!!!

Lee Sum Wan : Wheech Wan is my sis!
Mr. Sori : I dont know which one is ur sis! Why in gods name u
think i do!? Look i got work to do and if im feeling mischievious
i’ll
broadcast it on the P.A system saying. “Attention, someone called and
said that
anyones brother just got involved in an accident. But not to worry no
one got injured
and no one was sent to the hospital. But everyone is going to the
hospital
anyways. The father maybe a somebody but if u’re their uncle, u’re a
nobody. “how
bout that!? Toot….Toot….Toot……………..

10 People

Filed under: Milis

Bacalah kasus 10 anak berikut ini. Dengan menggunakan intuisi profesional Anda, perkirakanlah bagaimana perkembangan mereka selanjutnya. Menurut anda, ketika mereka dewasa kelak, akan menjadi orang yang:
A. Rata-rata/normal
B. Terganggu secara emosional/psikotis
C. Kriminal/antisosial
D. Terbelakang secara mental

Kasus 1
Anak lelaki, 13th, sangat lambat belajar. Baru hafal abjad saat usia 10th. Baru bisa membaca dengan baik tahun ini. Membaca huruf masih terbalik-balik, mengalami kesulitan menulis. Orangtuanya sabar padanya, tetapi mencemaskan kemajuannya yang lambat. Anak ini tampaknya tertarik pada hal-hal di sekitarnya, tetapi sulit mengintegrasikannya. Ia manis dan menyenangkan, serta kelihatan bahagia meskipun mengalami kesulitan akademis.

Kasus 2
Anak lelaki, 11th, disebut “idiot” oleh ayahnya. Dia belum bisa membaca atau menulis. Gurunya menyebutnya “terburuk di sekolah” dan ia akhirnya dibolehkan tidak bersekolah sampai memperoleh bantuan-khusus. Ia kadang-kadang tampak disorientasi dan melamun. Orangtuannya putus asa menolong anaknya dan ayahnya terutama sangat autoritatif dan menghukum secara fisik agar anak ini belajar.

Kasus 3
Anak perempuan, 8th, mengalami cacat berat akibat meningitis sewaktu bayi. Akibatnya, dia buta dan tuli: dicurigai retardasi tingkat parah meskipun hal ini belum dikonfirmasi. Dia sangat sulit ditangani, tubuhnya sangat kotor, dan dia tidak menguasai keterampilan merawat diri sama sekali. Orangtuanya mencemaskan kesejahteraan putrinya, tetapi takut akan perilakunya yang aneh dan bingung bagaimana cara membantunya.

Kasus 4
Anak lelaki, 12th, dianggap bermasalah karena tak pernah menunjukan perhatian di sekolah. Anaknya tampan dan sangat mempesona, atletis, dan menurut tes, kecerdasannya di atas rata-rata. Namun, pekerjaan sekolahnya sangat buruk, dia jarang mengerjakan PR, biasa berbohong tentang banyak hal, dan sering berjalan-jalan di kelas, sehingga gurunya sering hilang kesabaran. Orangtuanya sama-sama menyayangi putranya, tetapi tak peduli soal pekerjaan sekolah. Mereka lebih suka kalau dia populer, pandai berolahraga, dan kelak punya banyak uang. Ayahnya sangat autoritatif dan menggunakan hukuman fisik padanya dan ke-empat saudaranya. Ibunya menyenangkan tetapi pasif.

Kasus 5
Anak peremupan, 16th, yatim piatu sejak kecil dan sekarang tinggal
bersama nenek dari pihak ibu, yang berpisah dengan suaminya yang
pemabuk. Sebelum meninggal, ibunya menolak anak ini secara terbuka, yang secara fisik tidak menarik dan diketahui sering berbohong dan mencuri. Anak ini sering mencari-cari perhatian sewaktu masih kecil, seperti menelan uang logam saat usia lima tahun, hanya agar diperhatikan. Namun ayahnya sangat menyayanginya dan selama bertahun-tahnu anak ini berkhayal menjadi nyonya rumah di rumah ayahnya. Keadaan rumahnya yang sekarang sangat tidak teratur, karena neneknya tidak bisa mengendalikan keempat anaknya sendiri yang masih tinggal di rumah. Seorang putranya sering minum dan meninggalkan rumah tanpa penjelasan. Seorang putrinya bergonta-ganti pacar, disertai perilaku dramatis dan emosional berlebihan. Si nenek bertekad untuk bersikap lebih tegas pada cucunya agar cucunya terkendali. Akibatnya, ia melarang anak ini bermain dengan teman-temannya, memberinya pakaian yang aneh, dan terkadang melarangnya bersekolah jika ia tidak menyetujui kurikulumnya.

Kasus 6
Anak lelaki, 16th, harus meninggalkan sekolah selama enam bulan atas
perintah dokter karena ia mengalami nervous breakdown. Ia memang
bukan murid yang baik di segala bidang, meskipun ia sangat berbakat
dalam beberapa mata pelajaran. Ia sangat tidak disukai murid maupun
guru, terutama karena perilakunya yang aneh. Perkembangannya lambat
sejak dulu, dan ia terlambat bisa berbicara dan berjalan.
Orangtuanya
cemas tetapi tak yakin ia harus diapakan. Mereka menganggapnya
“berbeda”. Ayahnya mengakui ia merasa malu karena anaknya tidak
atletis dan tidak pandai menyesuaikan diri dengan sekolah, karena ia
sendiri menjunjung tinggi pendidikan. Anak ini penyendiri yang biasa
menarik diri. Ia menciptakan agama sendiri, menyanyikan lagu himne
sendiri, dan jarang mengobrol dengan orang lain.

Kasus 7
Anak perempuan, 11th, putri di luar nikah dari seorang putri di luar
nikah. Anak ini, ibunya, neneknya, serta saudara di luar nikah oleh
ayah yang lain, semua tinggal serumah. Neneknya memeluk pandangan
agama fundamentalis dan meyakini bahwa perilaku buruk anak ini
adalah
akibat dosa sang nenek. Akibatnya, dia sangat tegas pada anak ini.
Sementara itu, ibu sang anak tidak konsisten. Kadang menghukumnya,
kadang melindunginya dari neneknya. Anak ini, yang berprestasi buruk
di sekolah, menunjukan indikasi memiliki kecerdasan diatas
rata-rata.
Namun ia selalu datang ke sekolah dengan tubuh kotor dan ia sering
bertindak provokatif secara seksual dan sulit di kendalikan.

Kasus 8
Anak lelaki, 12th, berprestasi sangat buruk. Sekolah menyebutnya
disleksia; ia sangat kesulitan mengeja. Kedua telinganya memakai
alat-bantu-dengar. Dia sering berkelahi dan pada umumnya tidak
disukai teman-temannya. Orangtuanya mengkhawatirkannya, tetapi
mengakui bahwa mereka merasa anak ini hampir tak mungkin membaik
karena cacat pendengarannya. Akibatnya, mereka memfokuskan perhatian
pada saudara-saudaranya yang lebih berprestasi.

Kasus 9
Anak lelaki, 16th, sangat pendiam dan menarik diri. Menurut
guru-guru
dia rajin tetapi tetap prestasinya hanya rata-rata rendah. Ia
tampaknya menyenangkan, tetapi tak punya teman dekat. Malah, ketika
ditanya, kebanyakan murid lain di SMA-nya tak mengenalnya. Dia lebih
menyukai kegiatan yang dikerjakan sendirian, dan terutama suka
benda-benda mekanis. Orangtuanya juga pendiam, tetapi mereka sangat
menekankan prestasi akademis. Anak ini terkena campak yang parah di
usia lima yahun, disusul meningitis. Ini menyebabkan ia sedikit
tuli,
dan orangtuanya mempersalahkan kekurangan ini umtuk prestasi
akademisnya yang buruk.

Kasus 10
Anak lelaki, 6th, kelahirannya sulit dan kepalanya sangat besar.
Sewaktu kecil ia pernah sakit parah, yang disebut orangtuanya
“demam-otak”, mungkin meningitis, meskipun ini tak pernah
diverifikasi secara resmi. Di sekolah anak ini mengisolasi diri,
sering tampak disorientasi, sering tantrum hebat, dan tidak rukun
dengan anak-anak lain, lebih suka menyendiri. Orangtuanya kehilangan
3 anak lain sebelum anak ini lahir dan sekarang ibunya marah karena
personel sekolah mengatakan bahwa anak ini terganggu secara
emosional. Sang ibu tidak sepakat. Ia merasa anaknya normal, tak mau
anaknya di tes, dan kemudian menariknya dari sekolah dan memutuskan
untuk mengajarinya sendiri di rumah. Menurutnya, tantrum anak itu
“normal untuk anak lelaki”.

JAWABAN Kasus:
1. A : Woodrow Wilson - Presiden USA ke-28
2. A : Auguste RODIN - pematung asal Perancis
3. A : Hellen Keller
4. C : Di penjara - Kriminal - seorang Pemerkosa
5. A : Eleanor Roosevelt
6. A : Albert Einstein
7. C : Di Penjara - Kriminal
8. A : Harry Gutterman - dokter ahli bedah otak
9. C : Di Penjara - Kriminal - Pembunuh Berantai
10. A : Thomas Alfa Edison

A Journey Through Life

Filed under: Milis

I’ve Learned that you can do something in an instant that will give you heartache for life.

I’ve Learned that it’s taking me a long time to become the person I want to be.

I’ve Learned that you should always leave loved ones with loving words. It may be the last time you see them.

I’ve Learned that you can keep going long after you can’t. I’ve learned- that we are responsible for what we do, no matter how we feel.

I’ve Learned that either you control your attitude or it controls you.

I’ve Learned that regardless of how hot and steamy a relationship is at first, the passion fades and there had better be something else to take its place.

I’ve Learned that heroes are the people who do what has to be done when it needs to be done, regardless of the consequences.

I’ve Learned that money is a lousy way of keeping score.

I’ve Learned that my best friend and I can do anything or nothing and have the best time.

I’ve Learned that sometimes the people you expect to kick you when you’re down will be the ones to help you get back up.

I’ve Learned that sometimes when I’m angry I have the right to be angry, but that doesn’t give me the right to be cruel.

I’ve Learned that true friendship continues to grow, even over the longest distance. Same goes for true love.

I’ve Learned that just because someone doesn’t love you the way you want them to doesn’t mean they don’t love you with all they have.

I’ve Learned that maturity has more to do with what types of experiences you’ve had and what you’ve learned from them and less to do with how many birthdays you’ve celebrated.

I’ve Learned that your family won’t always be there for you. It may seem funny, but people you aren’t related to can take care of you and love you and teach you to trust people again. Families aren’t biological.

I’ve Learned that no matter how good a friend is, they’re going to hurt you every once in a while and you must forgive them for that.

I’ve Learned that it isn’t always enough to be forgiven by others, Sometimes you have to learn to forgive yourself.

I’ve Learned that our background and circumstances may have influenced who we are, but we are responsible for who we become.

I’ve Learned that just because two people argue, it doesn’t mean they don’t love each other. And just because they don’t argue, it doesn’t mean they do.

I’ve Learned that we don’t have to change friends if we understand that friends change.

I’ve Learned that you shouldn’t be so eager to find out a secret, It could change your life forever.

I’ve Learned that two people can look at the exact same thing and see something totally different.

I’ve Learned that your life can be changed in a matter of minutes, by people who don’t even know you.

I’ve Learned that even when you think you have no more to give, when a friend cries out to you, you will find the strength to help.

I’ve Learned that credentials on the wall do not make you a decent human being.

I’ve Learned that the people you care about most in life are taken from you too soon.

<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main