Ilmu Padi

October 9, 2005

What love means to kids

Filed under: Milis

I don’t know if you’ve already seen this. I read it in a friend’s blog and thought it’s worth sharing.

Adults should take lessons from some of these kids!!! A group of professional people posed this question to a group of 4 to 8 year olds. “What does love mean?” The answers they got were broader and deeper than anyone could have imagined.

1. When my grandma got arthritis, she couldn’t bend over and paint her toe nails anymore. So my grandpa does it for her now all the time, even when his hands got arthritis too. That’s love. Rebecca - age 8

2. When someone loves you, the way they say your name is different. You just know that your name is safe in their mouths. Billy - age 4

3 . Love is when a girl puts on perfume and a boy puts on shaving Cologne and they go out and smell each other. Kari - age 5

4. Love is when you go out to eat and give somebody most of your french fries without making them give you any of theirs. Chrissy - age 6

5. Love is what makes you smile when you’re tired. Terri - age 4

6. Love is when my mommy makes coffee for my daddy and she takes a sip before giving it to him, to make sure the taste is OK. Danny - age 7

7. Love is when you kiss all the time. Then when you get tired of kissing, you still want to be together and you talk more. My mommy and my daddy are like that. They look gross when they kiss. Emily - age 8

8. Love is what’s in the room with you at Christmas if you stop opening presents and listen. Bobby - age 7

9. If you want to learn to love better, you should start with a friend who you hate. Nikki - age 6

10. Love is when you tell a guy you like his shirt, then he wears it every day. Noelle - age 7

11. Love is like a little old woman and a little old man who are still friends even after they know each other so well. Tommy - age 6

12. During my piano recital, I was on stage and I was scared. I looked at all the people watching me and saw my daddy waving and smiling. He was the only one doing that. I wasn’t scared anymore. Cindy - age 8

13. My mommy loves me more than anybody. You don’t see anyone else kissing me to sleep at night. Clare - age 6

14. Love is when mommy gives daddy the best piece of chicken. Elaine - age 5

15. Love is when mommy sees daddy smelly and sweaty and still says he is handsomer than Robert Redford. Chris - age 7

16. Love is when your puppy licks your face even after you left him alone all day. Mary Ann - age 4

17. When you love somebody, your eyelashes go up and down and little stars come out of you. Karen - age 7

18. Love is when mommy sees daddy on the toilet and doesn’t think it’s gross. Mark - age 6

19. You really shouldn’t say “I LOVE YOU” unless you mean it. But if you mean it, you should say it a lot. People forget. Jessica - age 8

And the winner was a 4 year old child whose next door neighbor was an elderly man who had just lost his wife. When the child saw the man cry, the little boy went over into the man’s yard and climbed on top of the man’s lap and just sat there. When the boy’s mother asked him what he’d said to the neighbor, the little boy said, “Nothing, I just helped him cry.”

If that doesn’t restore your faith in humanity, I don’t know what will. :)

“So most men teach and few men learn. Let the unseen day be. Today is more than enough.”

JRR Tolkien
Unfinished Tales

Wish Granting Tree

Filed under: Milis

There was once a weary traveler who sat down to rest in the shade of a tree. He did not know that the tree he rested upon was a magic tree. It is called ” The Wish-Granting Tree.”

Seated on the hard ground, he thought how pleasant it would be if he can sleep in a soft bed. Instantly, a bed appeared before him. Astonished, the man immediately climbed onto the bed. Then, he thought that it would be nice if there would be a beautiful young girl beside him who would massage his sore legs. At that moment, a young girl appeared before him and began massaging him.

“I’m so hungry,” the man said to himself. “Having something to eat now would be a great pleasure.” Instantly, a table appeared with delicious foods.

The man rejoiced and began eating and drinking to his heart’s content. His head spun a little and his eyelids grew heavy as the wine took effect. He stretched himself and was thinking about the wonderful events that took place on that extraordinary day.

“I’ll sleep for an hour or two,” he thought. “The worst that could happen would be if a tiger wandered by while I’m asleep.”
Instantly a tiger appeared and devoured the poor man.

You have a magic tree inside you, waiting to grant your wishes. But be careful! The same tree can also make your negative thoughts and fears come true. At the very least it will be influenced by your negative thoughts, so that the good things you wish for do not happen.

That’s what worrying can do.

I wish with all my heart that you live a life free of worry, negative thoughts and fear, in the shade and comfort of your personal Wish-Granting Tree.

Jika…

Filed under: Milis

Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat ..
anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.

Jika anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksanaan, atau kelaparan ..
anda berada selangkah lebih maju dibandingkan 500 juta orang di dunia.

Jika anda dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap, disiksa, atau mati ..
anda beruntung, karena lebih dari 3 milyar orang di dunia tidak dapat melakukannya.

Jika anda memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian, dan memiliki atap yang menaungi tempat anda beristirahat…
anda lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.

Jika anda memiliki uang di bank, di dompet, dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran ..
anda merupakan anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.

Jika orang tua anda masih hidup & menikmati kebahagiaan kehidupan pernikahan mereka …
maka anda termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka.

Jika anda mampu menegakkan kepala dengan senyuman dibibir dan merasa benar-benar bahagia …
anda memiliki keistimewaan tersendiri, karena sebagian besar orang tidak memperoleh kenikmatan tersebut.

Dengan bersyukur, anda akan lebih menikmati hidup yang hanya sebentar ini.

Cerita dari Pulau Buru

Filed under: Milis

Laporan ini ditulis oleh Sutikno yang bertugas di JRS di pulau Buru, Maluku. Penulis bisa dihubungi di tikno@jrs.or.id

=======================
Sebuah cerita dari Buru,

Umurnya paling tua 12 tahun. Matanya yang lebar, bulu matanya yang lentik dan kulitnya yang putih pasti membuat kalian tidak percaya kalau dia orang asli Buru. Nama gadis kecil itu Nonce Nurlatu. Pertama ku bertemunya di rumah sakit umum Ambon. Mata indahnya dipenuhi air. Dokter sedang membersihkan luka di perutnya. Benang-benang hitam berderet di sebelah kanan pusarnya, berpegangan erat berusaha sekuat tenaga menyatukan kulit yang menganga.

Sekitar dua bulan sebelumnya, terjadi perang suku di kampungnya yang bernama Italahin. 9 orang telah menjadi korban. Mati ditombak atau dibacok parang. Dia sendiri terkena tombak di perutnya. Untung waktu itu tangannya yang kurus mengalasi perut. Tombak itu menembus tangannya dan terus melesak ke perutnya. (perang ini merupakan perang turun temurun antara 2 marga, sejak jaman bahulak, Nurlatu dan Latbual memang sudah saling menanam dendam. Mata balas mata, nyawa balas nyawa. Membunuh lebih banyak lawan menjadi suatu prestasi. Kedua keluarga besar ini berlomba untuk mengejar prestasi …. bunuh lawan sebanyak mungkin. Konon masalahnya sederhana saja : pembayaran
mas kawin yang belum lunas …)

Nonce kecil harus menunggu di kampungnya tanpa pengobatan sama sekali selama satu minggu, sebelum dia digotong dengan tandu menuju kampung terdekat, dimana kendaraan yang lebih modern bisa melarikannya ke rumah sakit. Perjalanan yang tidak gampang. Untuk mencapai dusun kecil bernama waipcalit, satu hari satu malam, tandu sederhana itu dengan sabar menahan tubuh mungilnya. Sebuah truk terbuka menolong gadis malang itu menuju Namlea, ibu kota kabupaten yang berjarak 60 km. Bersamanya ada 3 korban yang lain : Seorang ibu dengan rahim menganga, setelah sebatang tombak memburaikan kandungannya dan merenggut janin didalamnya keluar, dan dua lelaki yang masing2 luka di punggung dan di dada.

Namun luka-luka menganga mereka telah menunggu terlalu lama. Ulat-ulat gemuk yang entah dari mana datangnya telah berpesta dengan rakus menggerogoti daging yang mulai membusuk. Dua hari berlalu, tubuh ibu dengan rahim busuk itu tak kuasa mempertahankan nyawa melekat di raganya.

Luka Nonce kecil ini telah dijahit. Dua bilah kulit mulai bersambung.
Namun apa boleh dikata, malang belum mau berlalu dari bayangannya. Penanganan medis di kabupaten terpencil ini memang jauh dari standard. Seminggu setelah dirawat, dia diijinkan pulang. Dari bekas jahitan di perutnya menyembul segumpal daging sebesar jempol tangan orang dewasa. Ternyata, ususnya ‘mbrojol’ keluar. Jahitannya kurang rapet …

Kebetulan Jrs (lembaga dimana aku bekerja) mendampingi penduduk asli di Waipcalit setelah mereka kembali dari pengungsian paska kerusuhan di pulau yang terkenal dengan tapolnya ini. Kami memberi bantuan biaya pengobatan di Ambon pada gadis mungil itu beserta seorang pasien yang lain. Tanpa menghiraukan lelahnya sel-sel kulit yang telah berhari-hari bere-generasi ini, pisau tajam dokter membedahnya kembali. Dengan paksa, usus nakal itu dimasukkan ke rongga perut yang gelap dan lembab. Kali ini lincah tangan ahli bedah Ambon merenda benang-benang hitam yang lebih kuat di perutnya yang tipis.

Singkat cerita, setelah hari-hari membosankan dilewatkan di rumah sakit, cucuran air mata yang tiap kali menghiasi kencan dengan ahli bedah yang tanpa perasaan mengusap kuat-kuat jahitan di samping pusarnya, tibalah saatnya Nonce kecil harus pulang kampung.

‘Nonce seng usah kembali ke gunung lagi saja pak Kani. Biar dia tinggal dan sekolah di Waipcalit saja’ kataku pada Bapak Kani, kerabat yang relatif lancar berbahasa Indonesia yang mengantarnya berobat ke Ambon (Nonce itu sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, jadi dia perlu penerjemah ketika harus berkomunikasi dengan dokter)
‘Seng bisa mas,’ Kata lelaki berambut gondrong ini. ( seng = tidak)
‘Barang kenapa?’ tanyaku ingin tau (barang kenapa = kenapa)
‘Kalo dia su sembuh, berarti paituanya pasti jemput untuk dibawa
kembali ke gunung lagi’ sahutnya. (paitua = suami ; su = sudah)
‘Paitua? Jadi Nonce ini su kawin???’ tanyaku tak percaya
‘Betul mas, su sejak kecil segini (dia mengangkat tangannya menggambarkan tinggi anak itu ketika pertama dikawinkan) dia dibawa paituanya ke gunung. Kawin piara toh,’ terang dia kalem, seakan tak ada hal aneh di ceritanya.

Aku yang tinggal terbengong-bengong, asik bermain dengan pikiranku sendiri. Memang sudah sering kudengar sejak masih anak-anak perempuan-perempuan Buru dikawinkan. Bahkan ibu yang masih mengandungpun, anaknya (kalo perempuan) sudah ‘dibayar’ lunas oleh lelaki berduit di sana. ‘Suami’ yang telah membayar lunas anak perempuan bisa memelihara ‘istrinya’ di rumah. Setelah siap dibuahi, diadakan upacara kecil untuk mensahkan perkawinan mereka.

Perempuan di Buru pedalaman, pada dasarnya adalah budak lelaki. Suami hanya duduk makan pinang, isap tembakau sementara istri setengah mati cari makan, masak, urus anak …, dipukul suami kalo suami lagi marah … dll. Bahkan di beberapa tempat di pedalaman Buru, para ibu ini melahirkan sendiri, tanpa ada pertolongan…. ngeden sendiri, potong tali puser sendiri, keluarin ari2 sendiri …

setelah kemerdekaannya yang 59 tahun, Indonesia masih menyisakan cerita ‘ngenes’ tentang anak negrinya.

2 hari setelah ibu-ibu ini melahirkan mereka sudah harus cuci pakaian sendiri sambil gendong bayinya dibelakang, lalu setelah itu cari kasbi (ubi kayu) dihutan, parut kasbi untuk dibuat papeda (pati yang dikasih air panas … persiiss sekali dgn lem), masak untuk makan suaminya …

Kalo suami mati muda, sang istri yang sudah dibeli ini otomatis menjadi ‘milik’ kakak atau adik almarhum suaminya. Dan jangan heran bila bapak mertua mengambil alih peran anaknya untuk mengawini (baca : menyetubuhi) mantunya dengan berbagai alasan, such as anaknya turun gunung dan tidak pulang-pulang atau anak kandung mati muda dll

Nonce,……..
Disaat gadis-gadis lain seusiamu mulai belajar berdandan,
Engkau sudah harus mulai belajar mencari ubi kayu di hutan, belajar memasak untuk melayani laki-laki yang telah ‘membelimu’

Nonce,…..
Disaat gadis-gadis lain seusiamu sedang hobi-hobinya mejeng di mall, sibuk memilih baju2 mana yang fancy,
Engkau tak punya pilihan ketika ‘tuanmu’ menggerayangi pucuk dadamu yang mulai belajar tumbuh….

Nonce,
sudahkah benih ‘tuanmu’ membuahi telur beliamu?? Ketika riang gadis seumuranmu bergema, dengan ransel baru di punggung berjingkrak-jingkrak merayakan hari pertama mereka mamakai seragam biru putih…
Engkau tiap hari membanting tulang melayani ‘tuanmu’ tanpa merasakan beratnya ‘ransel’ perut berisi keturunanmu yang mangkin membuncit …. …

Nonce,
masih seberapa luaskah permukaan perutmu yang tidak dihiasi bekas luka… Karena runcing ujung tombak dan tajam parang musuh margamu selalu mengincar lembut dagingmu atas nama dendam orang tua-tua mereka …

Nonce,
aku tak kuasa berbuat apa-apa, hanya meminta yang aku bisa, semoga engkau diluputkan dari perang-perang berikutnya….

Sebuah Refleksi,
Dengan berbagi cerita di atas, aku ingin membagi usahaku dalam mengatasi masalah ‘berkubang dalam kesedihan’ ini. Ketika kita terus mendongak dan melihat keberuntungan-keberuntungan orang lain kita menjadi semakin terperosok dalam kubangan yang kita gali sendiri … tapi nek kita sesekali mau melihat ke bawah, semisal membayangkan apa yang dihadapi Nonce …. betapa buruk nasib yang menimpanya (at least dari sudut pandang kita ya)…. kok yo kuwat urip yo… kadang aku mikir ngono… Kita menjadi sadar betapa beruntungnya kita …. kita jadi mengerti bahwa kita masih punya banyak hal yang bisa digunakan sebagai modal untuk memperbaiki hidup ini…. yang akhirnya akan membangkitkan energi yang selama ini kita pusatkan pada kesedihan semata….

Buat rekan-rekan yang dikarunia telenta untuk selalu optimis menghadapi kerasnya hidup ini, bisa selalu melihat masalah sebagai tantangan, semoga cerita di atas bisa menjadi wacana yang mungkin bisa membangkitkan kepedulian sosial kalian sebagai sesama manusia, sesama warga Indonesia, sebagai sesama pribumi….. Yah, paling tidak tau lah bahwa di belahan bumi yang lain, ada gadis kecil bernama Nonce Nurlatu dengan segala masalah yang ditanggungnya…

Akhir kata : maap tidak bermaksud menggurui … hanya ingin berbagi!!!!

Sahabat

Filed under: Milis

Ada satu perbedaan antara menjadi seorang kenalan dan menjadi seorang sahabat.

Pertama, seorang kenalan adalah seorang yang namanya kau ketahui, yang kau lihat berkali-kali, yang dengannya mungkin kau miliki persamaan, dan yang disekitarnya kau merasa nyaman. Ia adalah orang yang dapat kau undang ke rumahmu dan dengannya kau berbagi. Namun mereka adalah orang yang dengannya tidak akan kau bagi hidupmu, yang tindakan-tindakannya kadang-kadang tidak kau mengerti karena kau tidak cukup tahu tentang mereka.

Sebaliknya, seorang sahabat adalah seseorang yang kau cintai… Bukan karena kau jatuh cinta padanya, namun kau peduli akan orang itu, dan kau memikirkannya ketika mereka tidak ada.

Sahabat-sahabat adalah orang dimana kau diingatkan ketika kau melihat sesuatu yang mungkin mereka sukai, dan kau tahu itu karena kau mengenal mereka dengan baik.

Mereka adalah orang-orang yang fotonya kau miliki dan wajahnya selalu ada di kepalamu.
Mereka adalah orang-orang yang kau lihat dalam pikiranmu ketika kau mendengar sebuah lagu di radio karena mereka membuat dirimu berdiri untuk menghampiri mereka dan mengajak berdansa dengan mereka atau mungkin kau yang berdansa dengan mereka, mungkin mereka menginjak jari kakimu, atau sekedar menempatkan kepala mereka di pundakmu.
Mereka adalah orang-orang yang diantaranya kau merasa aman karena kau tahu mereka peduli terhadapmu. Mereka menelpon hanya untuk mengetahui apa kabarmu, karena sahabat sesungguhnya tidak butuh suatu alasanpun.
Mereka berkata jujur-pertama kali - dan kau melakukan hal yang sama. Kau tahu bahwa jika kau memiliki masalah, mereka akan bersedia mendengar.
Mereka adalah orang-orang yang tidak akan menertawakanmu atau menyakitimu, dan jika mereka benar-benar menyakitimu, mereka akan berusaha keras untuk memperbaikinya.
Mereka adalah orang-orang yang kau cintai dengan sadar ataupun tidak.
Mereka adalah orang-orang dengan siapa kau menagis ketika kau tidak diterima di perguruan tinggi dan selama lagu terakhir di pesta perpisahan kelas dan saat wisuda.
Mereka adalah orang-orang yang pada saat kau peluk, kau tak akan berpikir berapa lama memeluk dan siapa yang harus lebih dahulu
mengakhiri.
Mungkin mereka adalah orang yang memegang cincin pernikahanmu, atau orang yang mengantarkan / mengiringmu pada saat pernikahanmu, atau mungkin adalah orang yang kau nikahi.

Bunga Mawar dan Pohon Cemara

Filed under: Milis

Konon di tengah hutan, bunga mawar menertawakan pohon cemara seraya berkata : “Meskipun anda tumbuh begitu tegap, tetapi anda tidak memiliki keharuman sehingga tidak dapat menarik kumbang dan lebah untuk mendekat.”

Pohon cemara diam saja. Demikianlah bunga mawar di mana-mana menyiarkan dan menceritakan tampak buruk pohon cemara, sehingga membuat pohon cemara tersingkir dan menyendiri di tengah hutan.

Ketika musim dingin datang dan turun salju yang lebat, bunga mawar yang sombong sangat sulit mempertahankan kehidupannya. Demikian pula dengan pohon dan bunga-bunga lainnya. Hanya pohon cemara yang masih tegak berdiri di tengah badai dingin yang menerpa bumi.

Di tengah malam yang sunyi, salju berbincang-bincang dengan pohon cemara.

Salju berkata; “Setiap tahun saya datang ke bumi ini, selalu melihat kemakmuran dan keramaian di bumi berubah wajah. Hanya gersang dan sunyi senyap yang menyelimuti bumi.

Namun, kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya dan berdiri tegak hingga dapat menahan segala macam tekanan alam. Begitu pula alam kehidupan dan manusia selalu mengalami perubahan.”

Demikianlah pembicaraan menarik antara pohon cemara dan salju yang terjadi di tengah malam pada musim dingin.

Sedih dan gembira selalu datang silih berganti; hanya dengan keteguhan jiwa dan pikiran, kebahagiaan itu dapat diraihnya. Caci maki dan fitnah tidak dapat menjatuhkan orang yang kuat.

Di dalam ungkapan Timur sering terdapat kata-kata :

“Menengadah ke langit dan membuang ludah.” dan ” Menabur debu dengan angin yang berlawanan.”

Ini semua mengisahkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang dan pada akhirnya mencelakakan dirinya sendiri. Menghadapi fitnahan dan celaan, hendaknya seseorang berlapang dada bagaikan langit besar yang tak bertepi.

Cuaca terang dan berawan selalu silih berganti. Belajar bagaikan cermin yang jernih dapat melihat keadaan sebenarnya.

Bunga mawar hanya merasakan kepuasan dan kecongkakan sejenak, tetapi pohon cemara dapat menghadapi, menerima dan menahan diri dengan tenang dan sabar.

Kita harus belajar dari sifat pohon cemara yang tegar menahan serangan, baik serangan yang bersifat tindakan, ucapan maupun pikiran, dan menjadikannya sesuatu yang sejuk, hangat dan damai.

How Big is your container of Pain?

Filed under: Milis

On Life and Pain . . . . .

When I was young I usually complain about the hardships I’ve been thru…. getting up after a hard fall down, trying to beat the odds even if it’s in a no-win “shituation”, and all this un-expectable stuffs which I thought I wouldn’t get into . . . . So I begin to wonder, is life pure of pain? … The answer was like this . . .

In one family outing my dad grew tired of me complaining, and so, one morning, he sent me to get some salt. When I returned, my dad instructed the “unhappy young man” (which was me hehe) to put a handful of salt in a glass of water and then to drink it.

“How does it taste?” dad asked.

“Bitter,” I spit and said.

Dad chuckled and then asked me to take the same handful of salt and put it in the lake. We walked in silence to the nearby lake, and once I swirled the handful of salt in the water, my old man said, “Now drink from the lake.”

As the water dripped down on my chin, dad asked, “How does it taste?”

“Fresh,” I remarked.

“Do you taste the salt?” dad asked.

“No,” I said.

At this, dad sat beside me, put his hands on my shoulder, and said, “The pain of life is pure salt; no more, no less. The amount of pain in life remains the same. However, the amount of bitterness we taste depends on the container we put the pain in. So when you are in pain, the only thing you can do is to enlarge your sense of things…. Stop being a glass. Become a lake.”

Anak adalah……

Filed under: Milis

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya.

Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha… ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. “Aku menang…”, begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga.

Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga. Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada sang “jagoan, “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik..” tanya Pak Guru, “Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..”.

Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah.” Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan, “Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat saya…”

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

~~~

Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji ataupun tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk. Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?

Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua, “berteriaklah kepada anak-anak kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang pemarah. Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita akan membesarkan seorang pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan seorang yang penuh dengki…”

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang kita tampilkan?

Teman, percayalah, mereka akan selalu belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang. Saya berharap menjadi orang yang ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring makan mereka sendiri. Sebab, bukankah mereka baru “belajar” memegang gelas dan piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisa seperti kita…..

BAGI YG BELUM BERKELUARGA DAPAT BELAJAR DARI SEKARANG !!!

MENCINTAI ORANG YANG SPESIAL

Filed under: Milis

Sangatlah menyakitkan mencintai seseorang, tetapi tidak dicintai olehnya. Tetapi lebih indah untuk mencintai dan tidak pernah menemukan keberanian untuk memberitahu mereka apa yang kamu rasakan.

Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang,satu hari untuk mencintai seseorang tetapi membutuhkan seumur hidup untuk melupakan seseorang. Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu. Jadi ketika kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat, kita akan tahu betapa berharganya anugerah tersebut

Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan, kesabaran dan romantis dalam suatu hubungan dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang lain terbuka. Tetapi kadang-kadang kita menatap terlalu lama pada pintu yang telah tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka untuk kita.

Teman yang terbaik adalah teman dimana kamu dapat duduk bersamanya dan merasa terbuai, dan tidak pernah mengatakan apa-apa dan kemudian berjalan bersama. Perasaan seperti itu adalah percakapan termanis yang pernah kamu rasakan. Benarlah bahwa kita tidak tahu apa yang kita dapatkan sampai kita kehilangan itu ?? Tetapi benar juga bahwa kita tidak tahu apa yang hilang sampai itu ada. Memberikan seseorang semua cintamu tidak pernah menjamin bahwa mereka akan mencintai kamu juga !!!

Jangan mengharapkan cinta sebagai balasan, tunggulah sampai itu tumbuh didalam hati mereka. Tetapi jika tidak, pastikan dia tumbuh didalam hatimu. Ada hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang dari mereka kamu ingin dengar.Tetapi jangan sampai kamu menjadi tuli walaupun kamu tidak mendengar itu dari seseorang yang mengatakan itu dari hatinya. Jangan pernah berkata selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kamu merasa masih dapat maju. Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi bila kamu tidak bisa membiarkannya pergi.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walapun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai,walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.

Jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu. Jangan melihat kekayaan, itu bisa menghilang. Datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum karena sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah. Berharaplah kamu dapat menemukan seseorang yang dapat membuatmu tersenyum.

Ada saat di dalam kehidupanmu dimana kamu sangat merindukan seseorang, kamu ingin mengambil mereka dari mimpimu dan benar-benar memeluk dia. Berharaplah bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia, yang berarti mimpilah apa yang ingin kamu mimpikan, pergilah kemana kamu ingin pergi, jadilah sesuai dengan keinginan kamu, karena kamu hanya hidup sekali dan satu kesempatan untuk melakukan apa yang kamu inginkan.

Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup cobaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk mmbuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu bahagia.

Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain. Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu, mungkin itu menyakitkan orang itu juga. Kata-kata yang ceroboh dapat mengakibatkan perselisihan, kata-kata yang kasar bisa membuat celaka, kata-kata yang tepat waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan menyenangkan.

Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak membentuk mereka menjadi sesuai keinginan kita. Dengan kata lain kita mencintai bayangan kita yang ada pada diri mereka.

Orang yang bahagia tidak perlu memiliki yang terbaik dari segala hal. Mereka hanya membuat segala hal yang datang dalam hidup mereka. Kebahagiaan adalah bohong bagi mereka yang menangis, mereka yang terluka, mereka yang mencari, mereka yang mencoba.

Mereka hanya bisa menghargai orang-orang yang penting yang telah menyentuh hidup mereka. Cinta mulai dengan senyuman, tumbuh dengan ciuman dan berakhir dengan air mata. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.Ketika kamu lahir, kamu menangis dan semua orang di sekeliling kamu tersenyum.

Hiduplah dengan hidupmu, jadi ketika kamu meninggal, kamu satu-satunya yang tersenyum dan semua orang di sekelilingmu akan merasakan kebahagiaan.

Pilihan

Filed under: Milis

PILIH PRESIDEN

Jika Anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga di antaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis; apakah Anda akan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya?

— THREE TOUGH QUESTIONS —

Sekarang adalah waktunya memilih seorang pemimpin dunia dan keputusan Anda berpengaruh besar terhadap siapa yang akan menjadi pemenang.

Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:

Calon A:

- Dihubung-hubungkan dengan politisi jahat; dan
- Sering berkonsultasi dengan astrologis
- Punya dua istri muda
- Dia seorang perokok berat; dan
- Minum 8-10 botol Martini setiap hari.

Calon B:

- Dipecat dua kali dari kantor.
- Selalu bangun sore hari.
- Pernah menggunakan narkoba waktu kuliah, dan
- Minum wiski setiap sore

Calon C:

- Dianggap sebagai pahlawan perang.
- Vegetarian
- Tidak merokok
- Hanya sesekali minum bir
- Tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya

Siapakah di antara ketiga calon ini yang akan Anda pilih? Putuskan baik-baik, jangan mengintip! Setelah itu, turunlah ke bawah Untuk melihat jawabannya.

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

*

HASILNYA:

Calon A adalah Franklin D. Roosevelt

Calon B adalah Winston Churchill

Calon C adalah Adolph Hitler

Menyeramkan ya… Mungkin sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan

Dan, ngomong-ngomong, jawaban untuk pertanyaan mengenai aborsi tadi:

Jika Anda menjawab Ya, Anda baru saja membunuh Beethoven

<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main