Manusia Menyadari Kekufurannya
Kandungan ayat ke enam dan ke tujuh ini merupakan tema sentral dari surah Al-Adiyat, yaitu sesungguhnya manusia menyadari dan menyaksikan sendiri kekufurannya terhadap nikmat-nikmat Allah Swt. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ke delapan, diantara penyebabnya adalah karena cinta manusia yang berlebihan terhadap harta, dan sikap manusia yang bakhil dan rakus. Kaitan antara tema sentral ini dengan prolog tema sentral ini yang terdapat ayat pertama hingga ayat ke lima, terletak pada fungsi hakiki dan utama dari harta benda dan nikmat yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada manusia. Sesungguhnya harta benda dan nikmat Allah Swt. digunakan untuk beribadah kepada Allah Swt. dan memperjuangkan risalah agama-Nya, diantaranya dengan mempersiapkan sarana untuk berjihad, seperti; kuda perang, tank, persenjataan dan lain-lain.
Sesungguhnya termasuk bentuk kekufuran terhadap nikmat Allah Swt. bila harta benda itu digunakan bukan untuk beribadah dan memperjuangkan risalah agama Allah Swt. Bila manusia kufur dan tidak bersyukur terhadap nikmat Allah Swt., maka hal itu sangat bertentangan dengan ketundukan kuda yang mempersembahkan kekuatan terbaiknya untuk berjuang di jalan Allah Swt. Dari sudut pandangan ini, maka manusia lebih rendah daripada kuda jihad.
Ayat yang ke enam dan ke tujuh memberitakan bahwa manusia melakukan kekufuran dengan kesadaran dan kesaksian dirinya sendiri. Dengan demikian kekufuran itu adalah pilihan manusia sendiri. Penegasan Allah Swt. dalam firman-Nya ini menghapus segala stigma yang diasumsikan oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik bahwa kekafiran dan kemusyrikan mereka, adalah suatu yang dipaksakan terhadap mereka dan mereka tidak punya pilihan untuk beriman. Seolah-olah mereka menuduh bahwa Allah Swt. telah menakdirkan mereka menjadi kafir dan musyrik. Tuduhan ini tentu saja serampangan dan salah, karena sesungguhnya mereka sendiri menyadari kekufurannya dan kemusyrikannya.
Bila dikaitkan dengan dakwah Islam yang universal, maka hakikat kesadaran itu menutup peluang orang-orang non-muslim dari orang-orang kafir dan orang-orang musyrik di hadapan Allah Swt. kelak di hari kiamat, untuk mengemukakan alasan (hujjah) penyebab mereka tidak beriman kepada Islam, umpamanya dengan alasan tidak tahu dan tidak sadar bahwa mereka sendiri kafir dan informasi tentang keimanan belum mereka terima, setelah berita tentang Islam itu datang kepada mereka. Memang ada golongan manusia, yang bisa jadi karena keterbatasan informasi dan terisolasi dari dunia luar sehingga tidak memiliki akses terhadap dakwah Islam dan informasi tentang keimanan, yang membuat mereka kafir dan musyrik. Untuk kelompok manusia seperti ini, Allah Swt. mempunyai kebijakan tersendiri dan hal itu akan diputuskan kelak di hari kiamat dan hari hisab, dimana mereka dihisab bersama anak-anak yang meninggal sebelum usia baligh dari orang-orang kafir, dan orang-orang yang gila dan tidak sempurna akalnya.
Allah Swt. Maha Adil dan Maha Bijaksana. Ancaman yang terdapat dalam ayat ke sembilan, sepuluh dan sebelas, tidak muncul begitu saja tanpa kelayakan dan asas hukuman yang setimpal karena perbuatan manusia sendiri. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya beriman dan beramal-shaleh untuk diri sendiri, dan jangan pernah sekali-kali menyalahkan dan mengkambing-hitamkan Tuhan. Wallahu a’lam
Tajuddin, M.A.
IKADI [Ikatan Da’i Indonesia]
