Ilmu Padi

December 31, 2005

Sejarah Natal

Filed under: Catatan

HARI NATAL

Daftar Isi :

- Pendahuluan
- Sejarah dan Perayaan Natal di Masa Lalu
- Perayaan Keagamaan
- Tukar Menukar Kado
- Malam Natal (Xmas Eve)
- Sejarah Natal
- Perayaan Natal

PENDAHULUAN

Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kadang-kadang kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Tradisi ini diawali oleh Gereja Kristen terdahulu. Dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Yesus). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Tidak ada yang tahu tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kebanyakan orang Kristen memperingati Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Pada hari itu, banyak yang pergi ke gereja untuk mengikuti perayaan keagamaan khusus. Selama masa Natal, mereka bertukar kado dan menghiasi rumah mereka dengan daun holly, mistletoe, dan pohon Natal.

SEJARAH DAN PERAYAAN NATAL DI MASA LALU

Kisah Natal berasal dari Injil Santo Lukas dan Santo Matius dalam Perjanjian Baru. Menurut Lukas, seorang malaikat memunculkan diri kepada para gembala di luar kota Betlehem dan mengabari mereka tentang lahirnya Yesus. Matius juga menceritakan bagaimana orang-orang bijak, yang disebut para majus, mengikuti bintang terang yang menunjukkan kepada mereka di mana Yesus berada. Catatan pertama peringatan hari Natal adalah tahun 336 Sesudah Masehi pada kalender Romawi kuno, yaitu pada tanggal 25 Desember. Perayaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perayaan orang kafir (bukan Kristen) pada saat itu. Sebagai bagian dari perayaan tersebut, masyarakat menyiapkan makanan khusus, menghiasi rumah mereka dengan daun-daunan hijau, menyanyi bersama dan tukar-menukar hadiah. Kebiasaan-kebiasaan itu lama-kelamaan menjadi bagian dari perayaan Natal. Pada akhir tahun 300-an Masehi agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Di tahun 1100 Natal telah menjadi perayaan keagamaan terpenting di Eropa, di banyak negara-negara di Eropa dengan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Hari Natal semakin tenar hingga masa Reformasi, suatu gerakan keagamaan di tahun 1500-an . Gerakan ini melahirkan agama Protestan. Pada masa Reformasi, banyak orang Kristen yang mulai menyebut Hari Natal sebagai hari raya kafir karena mengikutsertakan kebiasaan tanpa dasar keagamaan yang sah. Pada tahun 1600-an, karena adanya perasaan tidak enak itu, Natal dilarang di Inggris dan banyak koloni Inggris di Amerika. Namun, masyarakat tetap meneruskan kebiasaan tukar-menukar kado dan tak lama kemudian kembali kepada kebiasaan semula. Pada tahun 1800-an, ada dua kebiasaan baru yang dilakukan pada hari Natal, yaitu menghias pohon Natal dan mengirimkan kartu kepada sanak saudara dan teman-teman. Di Amerika Serikat, Santa Claus (Sinterklas) menggantikan Santo Nikolas sebagai lambang usaha untuk saling memberi. Sejak tahun 1900-an, perayaan Natal menjadi semakin penting untuk berbagai bisnis.

PERAYAAN KEAGAMAAN

Bagi kebanyakan orang Kristen, masa Xmas mulai pada hari Minggu yang paling dekat dengan tanggal 30 November. Hari ini adalah hari raya Santo Andreas, salah satu dari keduabelas rasul Kristus. Hari Minggu tersebut disebut hari pertama masa Adven, yaitu masa 4 minggu saat umat Kristiani mempersiapkan perayaan Natal. Kata adven berarti datang, dan mengacu pada kedatangan Yesus pada hari Natal. Untuk merayakan masa Adven, empat buah lilin, masing-masing melambangkan hari Minggu dalam masa Adven, diletakkan dalam suatu lingkaran daun-daunan. Pada hari Minggu pertama, keluarga menyalakan satu lilin dan bersatu dalam doa. Mereka mengulangi kegiatan ini setiap hari Minggu dalam masa Adven, dengan menambahkan satu lilin lagi setiap kalinya. Sebuah lilin merah besar yang melambangkan Yesus, ditambahkan pada lingkaran daun-daunan itu pada Hari Natal. Untuk kebanyakan umat Kristiani, masa Adven memuncak pada Misa tengah malam atau peringatan keagamaan lain pada malam sebelum Natal (Malam Natal), tanggal 24 Desember. Gereja-gereja dihiasi dengan lilin, lampu, dan daun-daunan hijau dan bunga pointsettia. Kebanyakan gereja juga mengadakan perayaan pada hari Natal. Masa Natal berakhir pada hari Epifani, tanggal 6 Januari. Untuk gereja Kristen Barat, Epifani adalah datangnya para majus di hadirat bayi Yesus. Menurut umat Kristen Timur, hari tersebut adalah perayaan pembaptisan Kristus. Epifani jatuh 12 hari setelah hari Natal.

TUKAR MENUKAR KADO

Kebiasaan untuk tukar menukar kado pada sanak-saudara dan teman-teman pada hari khusus di musim dingin kemungkinan bermula di Romawi Kuno dan Eropa Utara. Di daerah-daerah tersebut, orang-orang memberikan hadiah pada satu sama lain sebagai bagian dari perayaan akhir tahun. Pada tahun 1100, di banyak negara-negara Eropa, Santo Nikolas menjadi lambang usaha saling memberi. Menurut legenda, Santo Nikolas membawakan hadiah-hadiah untuk anak-anak pada malam sebelum perayaannya, tanggal 6 Desember. Tokoh-tokoh yang bukan keagamaan menggantikan Santo Nikolas di berbagai negara tak lama setelah reformasi, dan tanggal 25 Desember menjadi hari untuk tukar-menukar kado. Kini di Amerika Serikat, Santa Claus membawakan hadiah untuk anak-anak.

MALAM NATAL 24 Desember , Hari libur keagamaan dan sekuler

Karena pada dasarnya malam Natal adalah hari raya keagamaan, hari tersebut tidak dianggap sebagai hari libur resmi. Gereja-gereja mengadakan perayaan pada malam itu. Orang-orang memperhatikan gua Natal (replika dari kandang domba tempat Yesus lahir, dengan patung-patung Yesus, Maria, Yosef, gembala-gembala dan hewan-hewan) sambil menyanyikan lagu-lagu Natal. Orang-orang dewasa minum eggnog, semacam susu telur madu, yaitu campuran krim, susu, gula, telur kocok dan brandy (semacam minuman beralkohol) atau rum. Menurut kisahnya, pada malam Natal, Santa Claus menaiki kereta salju penuh hadiah, ditarik oleh delapan ekor rusa kutub. Santa Claus lalu terbang menembus awan untuk mengantarkan hadiah-hadiah itu kepada anak-anak di seluruh dunia. Untuk mempersiapkan kunjungan Santa, anak-anak Amerika mendengarkan orangtuanya membacakan The Night Before Christmas (Malam Sebelum Natal) sebelum tidur pada Malam Natal. Puisi tersebut dikarang oleh Clement Moore di tahun 1832.

Dulu, anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian. Santa turun dari cerobong asap dan meninggalkan permen dan hadiah-hadiah dalam kaus kaki itu untuk anak-anak. Kini, tradisi itu tetap diteruskan, namun kaus kakinya digantikan oleh tas kain merah berbentuk kaus kaki. Xmas juga secara tradisi merupakan saat untuk berhenti bertengkar. Hari Raya Natal (Pesta Natal) 25 Desember Hari ini merupakan hari libur keagamaan maupun sekuler. Umat Kristiani merayakan peringatan kelahiran Yesus dari Nazareth.

SEJARAH NATAL

Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Kisah Natal berasal dari Perjanjian Baru dari Alkitab. Seorang malaikat menampakkan diri pada para gembala dan memberitahu mereka bahwa Sang Juru Selamat telah lahir ke dalam keluarga Maria dan Yusuf di sebuah kandang domba di Betlehem. Tiga orang bijak dari Timur, yang disebut para majus, mengikuti bintang istimewa yang menuntun mereka kepada bayi Yesus, yang mereka sembah dan beri hadiah emas, kemenyan dan mur.

PERAYAAN NATAL

Karena sebetulnya Natal merupakan hari raya keagamaan, hari tersebut bukan merupakan hari libur resmi. Namun, karena kebanyakan orang Amerika Serikat adalah orang Kristen, hari itu adalah hari di saat kebanyakan bisnis tutup dan hari di mana paling banyak pekerja, termasuk karyawan pemerintah, diliburkan. Pulang ke rumah (termasuk pulang kampung) merupakan kebiasaan yang sangat dihormati. Selain dari tradisi yang sangat bersifat keagamaan, kebanyakan kebiasaan di saat Xmas juga dilakukan oleh orang-orang yang tidak relijius atau tidak memeluk agama Kristen. Biasanya, umat Kristiani merayakan Xmas menurut tradisi gereja mereka masing-masing.

Ada berbagai macam ibadah keagamaan di gereja yang dilakukan oleh keluarga-keluarga sebelum mereka keliling untuk mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman.

Natal menurut tradisi Amerika:

Tukar menukar kado

Mengirim kartu ucapan kepada sanak-saudara dan teman-teman. Menjadi populer sejak tahun 1800-an. Lagu-lagu Natal, yang disebut carol, dinyanyikan dan didengarkan selama masa liburan. Menjadi populer sejak tahun 1800-an. Menghias rumah. Kebanyakan orang Amerika menghias pohon Natal, yaitu pohon cemara atau pohon buatan, di rumah-rumah mereka. Lampu-lampu dan lingkaran daun-daunan dari pohon empat musim, mistletoe dan ucapan Selamat Natal diletakkan di dalam dan di luar banyak rumah. Menjadi populer sejak tahun 1800-an.

Makan Malam Natal, seringkali dengan kalkun. Selain itu, banyak yang mengadakan pesta perjamuan persis sebelum dan sesudah Natal.

Santa Claus. Tokoh ini berasal dari kisah lama tentang seorang Santo Kristiani bernama Nikolas dan dari dewa Norwegia yang bernama Odin. Para imigran membawa Bapa Natal atau Santo Nikolas ke Amerika Serikat. Namanya lambat laun berubah menjadi Santa Claus, dari nama Belanda untuk Bapa Natal abad ke-empat, Sinter Claas. Sekalipun asalnya dari mitologi Norwegia sebelum ajaran Kristen, Santa Claus baru menjadi tokoh yang kita kenal sekarang di Amerika Serikat. Orang Amerika memberikannya janggut berwarna putih, mendandaninya dengan baju merah dan menjadikannya seorang tua yang riang dengan pipi yang merah dan sinar di matanya. Santa Claus adalah tokoh mitos yang dikatakan tinggal di Kutub Utara, di mana beliau membuat mainan sepanjang tahun.

Amal. Natal juga merupakan saat di mana orang Amerika menunjukkan kemurahan hati kepada orang-orang yang kurang beruntung. Uang dikirimkan ke rumah sakit dan panti asuhan atau dibuat dana khusus untuk membantu fakir miskin.

Xmas secara tradisi merupakan saat untuk menghentikan segala macam pertempuran dan pertikaian.

Sumber : Sejarah Natal

December 30, 2005

Mengenali dan Mengatasi Bahaya Tersedak

Filed under: Artikel

Mengenali dan Mengatasi Bahaya Tersedak
14 Oktober 2004 11:32:49

Siapa pun pasti pernah mengalami tersedak. Namun, sebagian orang justru kurang paham cara menanganinya. Seseorang tersedak bila jalan pernapasan atau tenggorokan tersumbat. Situasi ini memerlukan tindakan pertolongan pertama untuk mencegah pingsan atau kematian. Tersedak, sakit jantung, atau kondisi tertentu dapat menyebabkan sirkulasi jantung dan pernapasan terhenti.

Berikut beberapa hal yang dapat membantu Anda untuk mengenali faktor pemicu gangguan tersedak:

* Tersedak akibat tidak sempurna mengunyah makanan, yang tersangkut di tenggorokan atau saluran pernapasan. Makanan padat seperti daging sering menjadi penyebabnya.
* Umumnya orang tersedak saat mengunyah makanan sambil berbicara.
* Gigi palsu juga merupakan salah satu penyebab orang tersedak. Gigi palsu tak mungin bisa mengunyah makanan sebaik gigi asli karena gigi palsu kurang memberi tekanan pengunyahan.
* Orang yang tersedak biasanya panik. Wajahnya terlihat ketakutan. Awalnya wajahnya tampak kemerahan, kedua matanya melotot, dan napasnya tersengal-sengal.
* Apabila makanan “salah masuk”, dengan batuk berkali-kali secara refleks hal tersebut akan teratasi. Yang pasti, seseorang tidak tersedak bila ia dapat batuk dengan leluasa, warna kulit tidak berubah dan masih mampu berbicara. Sebalinya, bila batuknya terdengar seperti tertahan dan kulit wajahnya menjadi biru, ada kemungkinan ia tersedak.
* Kalau ragu-ragu, tanyakan langsung apakah dia mampu berbicara. Apabila bisa, berarti saluran pernapasannya tidak sepenuhnya tersumbat dan oksigen dapat mencapai paru-paru. Sebaliknya, orang yang tersedak tidak mampu berbicara, hanya menggerak-gerakkan tangan.
* Ciri umum orang tersedak adalah tangan memegangi tenggorokan dengan kuat, ibu jari dan jari-jari direntangkan. Orang yang bersikap seperti itu membutuhkan penanganan darurat (Manuver Heimlich) dan tidak boleh ditinggalkan.

Manuver Heimlich

Banyak cara untuk mengatasu gangguan tersedak, satu diantaranya adalah Manuver Heimlich. Cara ini digunakan untuk mengeluarkan suatu benda dari saluran pernapasan orang yang tersedak. Anda dapat mempraktikkan metode ini bail pada diri maupun pada orang lain. Berikut langkah-langkahnya:

1. Berdirilah di belakang orang yang tersedak, lingkarkan kedua tangan Anda ke pinggangnya. Bungkukkan orang itu sedikit ke depan.
2. Kepalkan salah satu tangan Anda dan taruh di bagian atas pusar korban.
3. Pegang erat-erat kepalan Anda itu dengan tangan lain dan tekan kuat sambil mendorong cepat ke atas.
4. Ulangi tindakan ini sampai benda yang menghambat itu keluar dari saluran udara korban.

Kemudian bila harus melakukan tindakan ini pada diri sendiri:

*Kepalkan salah sati tangan Anda, letakkan sedikit di atas pusar.
*Pegang kepalan tangan Anda itu dengan tangan yang lain lalu tekan kuat-kuat ke arah atas sampai benda itu keluar.
*Anda juga bisa melakukan ini dengan bantuan dari sandaran sebuah kursi, tapi cara ini kurang dianjurkan. Lebih baik Anda minta bantuan orang lain.

Sumber : Senior

December 29, 2005

Pasir Hisap Tidak Mungkin Menenggelamkan Manusia

Filed under: Artikel

Pasir Hisap Tidak Mungkin Menenggelamkan Manusia

Jatuh ke pasir hisap ternyata tidak seseram yang digambarkan dalam film-film.
Korban yang terperosok ke dalamnya masih terapung karena pasir hisap hanya akan
menenggelamkan bagian bawah pinggang. Demikian hasil penelitian para ilmuwan di
Belanda.

Pasir hisap pada dasarnya pasir biasa yang bercampur air sehingga ikatan
antarpartikelnya berkurang dan tidak mampu menahan beban tertentu. Campuran
tersebut seringkali ditemukan di delta atau sekitar sungai-sungai besar. Pasir
hisap juga dapat terbentuk setelah gempa bumi yang menyebabkan air dari
reservoir di dalam tanah merembes ke permukaan tanah. Pasir hisap menjadi sangat
berbahaya karena dapat menyebabkan ambruknya jembatan atau bangunan.

Namun, kemungkinan seseorang tenggelam ke dalam pasir hisap bisa dikatakan nol.
“Gambaran Holywood salah,” kata Thomas Zimmie, seorang ahli mekanika tanah di
Ransellar Polytechnic Institute di Troy, New York. Meskipun demikian, para
ilmuwan tidak letih untuk membuktikan kebenaran mitos tersebut secara ilmiah.
Daniel Bonn berpikir untuk membangun model pasir hisap di laboratorium sejak
berkunjung di Iran.

Peneliti dari University of Amsterdam itu melihat papan peringatan kepada
pengunjung terhadap bahaya pasir hisap di dekat danau Namak yang terletak di
bagian utara negara tersebut. Bonn juga mendengar peringatan langsung dari
penduduk setempat tentang bahaya tersebut. Peringatan tersebut menarik
perhatiannya untuk membawa sampel pasir ke Belanda dan menganalisis
komposisinya. Setelah menemukan bahwa campuran tersebut terdiri atas pasir
berkualitas tinggi, tanah liat, dan air garam, Bonn bersama timnya membuat
tiruan pasir hisap dalam jumlah besar.

Mereka kemudian meletakkan bola aluminium di atas permukaan pasir hisap. Bola
tersebut tidak tenggelam hingga para peneliti menggetarkan pasir hisap dan
membuat gerakan yang menyebabkan campuran lebih cair. Ketika melakukan hal ini,
bola aluminium benar-benar seluruhnya tenggelam. Namun saat menggunakan bola
aluminium yang memiliki kerapatan sama dengan manusia yang berarti lebih rendah
daripada kerapatan pasir hisap, bola tersebut tidak pernah tenggelam walaupun
campuran diperlakukan dengan kasar.

Jatuhnya objek ke pasir hisap menyebabkan pastikel pasir bercampur air
kehilangan kestabilan. Jika terus diberi tekanan, campuran tersebut akan berubah
menjadi lebih cair di permukaan dan sangat padat di dasarnya. “Semakin besar
tekanannya, semakin banyak cairan yang terbentuk di pasir hisap sehingga gerakan
korban membuatnya terperosok semakin dalam,” kata Daniel Bonn, pemimpin
penelitian dari University of Amsterdam sebagaimana ditulis dalam jurnal Nature
edisi 29 September. Berdasarkan pengukuran terhadap peralatan aluminium ini,
meningkatkan tekanan fisik ke partikel sebesar 1 persen menyebabkan kecepatan
tenggelamnya naik sejuta kali. Bonn menambahkan bahwa menarik benda dari pasir
pada tahap ini membutuhkan kekuatan setara mengangkat mobil berukuran menengah.

Sabar dan tenang
——————–
“Yang paling berbahaya adalah apabila pasir hisap cenderung menarik dengan
cepat,” katanya. Tapi, kesabaran dapat menyelamatkan Anda. Jika ditunggu dengan
sabar, partikel pasir lambat laun akan stabil sehingga daya apung campuran
tersebut akan mengangkat Anda ke atas. “Kami mengetahui bahwa lapisan pasir di
bawahnya lebih rapat sedangkan air lebih banyak di lapisan atas. Lapisan pasir
yang sangat pekat di bawah sangat sedikit mengandung air sehingga sulit melepas
kaki yang terperosok ke dalamnya,” lanjut Bonn.

Sarannya, tetaplah tenang dan biasanya Anda akan terapung. Luruskan punggung
Anda untuk memperluas area yang bebas dan tunggu hingga kaki bebas dari pasir.
Bonn juga menyarankan agar kaki bergerak untuk mengendalikan air sehingga Anda
terapung. “Anda harus memasukkan air ke dalam pasir dan cara yang paling mudah
adalah memutar-mutar sekitar kaki di dalam pasir hisap,” tambahnya. Saran
tersebut kemungkinan besar benar. Buktinya, bola aluminium kedua dalam percobaan
ini tidak tenggelam lebih dari setengah bagian. Meskipun bola tersebut hanya
empat milimeter diameternya, kerapatannya sama dengan manusia sehingga bisa
digunakan sebagai model manusia.

Sumber : Kompas

December 28, 2005

Seno Gumira Tentang Perjuangan Komik Indonesia

Filed under: Milis

Seno Gumira Tentang Perjuangan Komik Indonesia

Jakarta, Kamis 5 Januari 2006

Sastrawan dan budayawan Seno Gumira Ajidarma (47) mengibaratkan
perjuangan komik Indonesia telah sampai pada benteng terakhir.

“Benteng terakhir ini diperjuangkan bukan hanya oleh para ksatria
tapi juga rakyatnya. Kekuatan apa lagi yang lebih kuat daripada
rakyat,” kata peraih gelar doktor bidang ilmu susastra untuk
desertasinya “Tiga Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan”
itu dalam diskusi dan peluncuran komik Indonesia terbaru “Gina” di
Jakarta, Rabu malam.

Menurut Seno, ksatria yang ia maksud adalah para komikus yang masih
produktif untuk menciptakan komik-komik Indonesia. Sedangkan rakyat
adalah para penggemar komik yang masih terus setia membeli dan
mengoleksi komik tersebut.

“Cara menyelamatkan komik Indonesia sangat mudah, hanya dengan
membaca dan membeli. Selama masih ada yang membeli, komik Indonesia
akan terus ada,” ujar laki-laki yang kerap memakai busana hitam-
hitam itu.

Sastrawan yang juga membuat novel grafis “Jakarta 2023″ itu
menyatakan dengan tegas bahwa perjuangan komik Indonesia masih
berlangsung dan belum padam.

Apa yang dikatakannya itu memang tampak benar dalam acara peluncuran
komik “Gina” yang merupakan salah satu acara dalam rangkaian
kegiatan peringatan satu tahun website KomikIndonesia.com.

Acara dua hari (Selasa dan Rabu) yang dilangsungkan di lantai dasar
Mal Ambasador, Kuningan, Jakarta Selatan, tersebut mendapat
perhatian yang besar dari para pencinta komik Indonesia dan
pengunjung pusat perbelanjaan.

Baju kaus dan mug yang bergambarkan komik terbaru karya Gerdi WK itu
terjual habis. Komik baru dan komik langka laku keras, dan diskusi
yang dilangsungkan diikuti dengan antusias oleh pengunjung.

Seno malam itu bertindak sebagai moderator dalam diskusi yang
menampilkan pembicara Gerdi WK (pencipta “Gina”) , Sungging (putra
Wid NS, pencipta “Godam”) dan Hasmi (pencipta “Gundala”, sahabat
dekat Wid NS). Melihat antuisme pengunjung, ia berharap acara
semacam itu rutin diselanggarakan.

“Diskusi semacam ini dapat lebih membuka wawasan para komikus dan
penggemar. Komik Indonesia akan lebih maju dan tersosialisasikan,
dan bahkan dapat meraih pasar baru yaitu generasi muda,” ujar Seno
Gumira Ajidarma.

Sumber : Kompas.com/gaya hidup
(http://www.kompas.com/gayahidup/news/0601/06/005233.htm)

December 27, 2005

Komik Indonesia : Paham dan Salah Paham 2

Filed under: Milis

Komik Indonesia : Paham dan Salah Paham
Oleh Seno Gumira Ajidarma
(Disampaikan pada diskusi komik dalam rangka pasar komik 2000 IAIN
Suka Yogyakarta Mei 1999)

Komik Indonesia, selalu, menjadi tumpuan duka nestapa. Bukan dalam
arti karena komik itu menghibur, melainkan bahwa sebagai wacana
hiburan nasibnya sama sekali tidak menghibur. Terlalu sering kita
dengar : komik Indonesia kalah mutunya dengan komik asing, dan itu
sebabnya kalah bersaing di pasaran. Proposisi macam ini dalam lagu
Slank dinyatakan sebagai rada-rada goblok. Kenapa? Karena logika
menyetujui : meskipun seandainya komik Indonesia tidak kalah mutunya
dengan komik asing, tetap saja bisa kalah bersaing di pasaran.

Sebuah analisis dagang sederhana akan segera membuktikan, bahwa
faktor distribusi, promosi, dan dukungan modal yang meyakinkan
berperan penting bukan hanya dalam melariskan, melainkan juga pada
gilirannya menancapkan sebuah kultur–dengan kata lain, dalam pola
pemasaran mondial, yang asing diakrabkan, sementara yang lokal
sebagai saingan diasingkan, kalau perlu punahkan sama sekali.

Lagi pula, ukuran mutu bisa menjadi sangat rumit : ada pujian yang
berbunyi sudah seperti komik luar negeri, sebuah cara memuji yang
dengan mudah sangat dikecam. Namun berpolitik kebudayaan dengan
ungkapan mencari identitas Indonesia terasa konyol, sama seperti
mendengar penataran P4, karena Indonesia dalam komik juga merentang
dalam heterogenitas yang luar biasa– dari Panji Tengkorak yang bau
Cina sampai Caroq yang bau Amerika. Komikus Ganes Th pernah mengakui
sosok si Buta dari Goa Hantu merupakan perpaduan antara Tarzan
(tokoh dengan kera) dan Zatoichi (tokoh yang buta), Amerika plus
Jepang hasilnya Barda Mandrawata, orang Sunda. Dengan kata lain,
Indonesia akan ditemukan dalam komik tanpa komik Indonesia harus
mencari-carinya. Seniman komik hanya perlu kreatif, biarkan arkeolog
mengkeduk-keduk Indonesia itu. Peduli amat.

Sampai di sini, jelas bahwa mutu atawa kualitas terletak pada
kemampuan suatu karya komik ditafsir, dikembangkan, dan ditarik
anasir-anasir kedalamannya, bukan kepada laris tidaknya — artinya,
kegagalan komik Indonesia menjadi populer, adalah soal kegegelan
masyarakat Indonesia untuk menjadi mandiri dalam dialog kebudayaan,
bukan kegegelan seniman menjual gambar. Komik Indonesia sudah tidak
perlu membuktikan apa-apa lagi, masyarakatlah yang harus melawan
dikte selera industri komik, yang disebarkan agen-agennya di
Indonesia. Sengkarut perkomikan Indonesia tidak bisa disorot dari
komiknya itu sendiri, sehingga komik–bukan hanya di Indonesia–
nyaris kehilangan komunitasnya.

Jika komik bertahan, seperti film bioskop, Srimulat, maupun kesenian
tradisional, maka hal itu pasti karena komik mampu mempertahankan
dan mengandalkan idiomnya sendiri, yakni komik sebagai the invisible
art, seni di antara panil. Pertumbuhan komik mutakhir jelas mengacu
dan menyerap media-media baru itu, mulai dari visualisasi sampai
tema, dan ini hanya bisa diharapkan tumbuh dari sikap persaingan
bebas : yakni tidak diburu-buru target laris, tapi sekaligus juga
tidak di-P4-i bahwa komik itu harus beridentitas Indonesia. Selama
komik dibuat dengan mengacu pada kepekaan seniman kepada
lingkungannya, maka tidak ada hadiah yang lebih pantas selain
menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (SGA)

December 26, 2005

Menjual Komik Indonesia

Filed under: Milis

Menjual Komik Indonesia
Paham dan Salah Paham
Oleh Seno Gumira Ajidarma

DALAM perbincangan tentang komik Indonesia mutakhir, bisa dipastikan
terjumpai sejumlah pendapat seperti berikut: (1) Pasar komik
Indonesia telah direbut oleh komik Jepang; (2) Komik Indonesia
tersingkir dari pasar karena kualitasnya di bawah standar; (3) Komik
Indonesia perlu diterbitkan kembali untuk merebut pasar. Ketiga
pendapat ini menjadikan pasar sebagai acuan utama, dengan kata lain
menjadi ukuran pertumbuhan kualitas dan kuantitas pertumbuhan komik
Indonesia. Apa boleh buat, apabila kaum intelektual pun melecehkan
komik, jangan salahkan para pedagang yang mengambil peranan.
Dampaknya tampak dalam kasus berikut.

Genre komik silat adalah suatu genre yang subur pada dekade ‘70-an.
Dengan istilah subur, maka dimaksudkan bahwa komik silat berhasil
sampai kepada pencapaian-pencapaian kultural menakjubkan, sekaligus
berhasil menumbuhkan komunitas yang memenuhi pasar, melalui jaringan
persewaan dan kios-kios komik. Di antara pencapaian yang mudah
diingat adalah menjulangnya dua tokoh persilatan, yakni Si Buta dari
Gua Hantu karya Ganes Th dan Panji Tengkorak karya Hans Jaladara.
Menurut pengakuan Ganes Th, Si Buta dari Gua Hantu yang selalu
membawa Wanara di bahunya dilahirkan dari persilangan dua tokoh,
yakni pendekar buta Zatoichi dari sinema Jepang dan Tarzan yang
selalu ditemani monyet karya Edgar Rice Burroughs. Persilangan ajaib
ini diterima komunitas komik sebagai pribadi yang mandiri. Bahkan
pada gilirannya, pengembaraan Si Buta keliling Indonesia ini seperti
berusaha mewujudkan wawasan Nusantara. Akan halnya Panji Tengkorak,
mudah ditebak gagasan yang ditimba dari genre cerita silat dalam
sastra populer, dan pengolahan Hans Jaladara pun menghasilkan
pribadi mandiri yang dihormati komunitas komik Indonesia.

Popularitas kedua tokoh fiktif ini dibuktikan dengan transformasi
keduanya ke layar perak. Bintang film Ratno Timoer mendapatkan
momentum dalam kariernya lewat Si Buta dari Gua Hantu (Lilik Sudjio,
1970) dan tak kurang dari Shan Kuang Ling Fung diundang dari
Hongkong untuk memerankan Dewi Bunga dalam film Panji Tengkorak (A.
Harris, 1971). Memperhatikan komik Si Buta dan Panji Tengkorak, saya
berpendapat bahwa memang ada kualitas dalam kandungan keduanya, yang
tidak sekadar menghibur dan mengisi waktu luang para pembacanya,
melainkan juga mencerahkan. Serial Si Buta maupun Panji Tengkorak
terhampar sebagai suatu dunia yang sangat mungkin ditelusuri dalam
tindak pembermaknaan. Bahwa kemudian film atau sinetron yang
menyusulnya tak pernah mencapai kualitas setara, memang merupakan
kegagalan dalam pembermaknaan tersebut. Demikianlah, kualitasnya
sebagai komik telah diakui, tapi apa yang kemudian terjadi?

***
HANS Jaladara menggubah Panji Tengkorak pada 1968. Dengan pemahaman
bahwa ia menimba gagasannya dari sumber literer, imajinasi visualnya
tentang adegan-adegan pertarungan melahirkan gambar koreografi
pertarungan silat yang artistik. Para petarung bergerak bagaikan
penari, di mana bentuk dan gerakan tubuh ditata dalam komposisi
harmonis. Hans tampak tidak mengacu kepada gerak baku ilmu beladiri
mana pun, melainkan setia kepada imajinasinya tentang gerakan para
pendekar. Namun, ketika ia menggambar ulang Panji Tengkorak pada
1985, tokoh Panji Tengkorak yang menggembleng diri di Lembah Alas
Purba melakukan gerakan kung fu yang baku, seolah diambil dari buku
petunjuk. Jelas, ini pengaruh membanjirnya film kung fu pada
dekade ‘80-an. Kostum bajak laut yang imajinatif pada gubahan 1968,
berubah sekadar menjadi bajak laut Jepang pada 1985. Terjadi
degradasi yang terdapat di segala aspek dalam komik Panji Tengkorak,
seperti mengurangi teks, mengosongkan ruang gambar, yang dalam
pengakuan Hans merupakan pesanan penerbit. Sebegitu jauh, dalam
Panji Tengkorak 1985 ini penceritaan dramatik Hans, tragedi Panji
Tengkorak sebagai antihero, masih terpertahankan.

Degradasi dan kehancuran yang sebenarnya terjadi pada gambar ulang
yang ketiga. Panji Tengkorak digambar ulang pada 1996 dengan gaya
yang mengadopsi sepenuhnya gaya komik Jepang. Mata yang membelalak
dan bidang gambar yang bersih tanpa arsiran memenuhi ruang gambar.
Teks, yang sahih saja berpanjang-panjang dalam novel grafis ini,
hilang sama sekali. Hans Jaladara yang jago dalam detail dan
imajinasi sebuah dunia fiktif, seperti pelukis yang dikebiri.
Dalam “versi Jepang” ini, kita tidak temukan lagi adegan sang
pendekar bercaping yang berjalan melalui lembah sunyi, rimbun, dan
berkabut, yang memberi perasaan teduh. Tiada lagi gerobak eksotik
yang berjalan lambat di tengah padang rumput atau tepi jurang. Tiada
juga pertarungan dalam koreografi artistik, yang berlangsung dalam
siluet kehitaman membayang. Tiada lagi drama. Ibarat kata Panji
Tengkorak memang cuma tinggal tengkorak, tanpa daging, apalagi nyawa
yang tersisa hanyalah sebuah kostum genit dari pertunjukan yang
gagal. Semua ini datang dari pengaruh dan kuasa pasar.

Dengan kata lain, terjadi suatu kesalahan kategoris dalam
pengertian “mengangkat kembali komik Indonesia”. Jelas, dalam kasus
Panji Tengkorak 1996 hegemoni pasar telah memaksa Hans Jaladara (dan
penerbit) menerima nilai-nilai yang berkuasa di pasar, yakni, ia
menggubah ulang Panji Tengkorak menjadi komik Jepang yang sedang
merajai pasaran. Dalam pengertian “mengangkat kembali” ini tidak ada
nilai apa pun yang diangkat, karena Panji Tengkorak 1996 ini sama
sekali bukan Panji Tengkorak 1968. Kegagalannya di pasar maupun
sebagai karya komik boleh dikembalikan kepada kesalahan kategoris
tersebut: orientasinya adalah menjual, bukan berkarya, karena kalau
toh mau digambar ulang, bukankah itu bisa saja tidak usah seperti
komik Jepang? Memperingati 50 tahun Superman, enam jilid pertama
komik itu digambar ulang, bahkan oleh orang lain, sebagai suatu
apresiasi budaya, bukan kepentingan komersial, tapi yang tentu saja
kemudian dijual dengan kiat-kiat komersial. Setelah restorasi,
Borobudur dijual sebagai The New Borobudur, tapi ia masih Borobudur
yang tua bukan?

***
KESALAHAN kategoris ini masih berlangsung dalam penerbitan kembali
Ramayana karya R. A. Kosasih, yang dibuat tahun ‘60-an dan memang
merupakan salah satu monumen kebudayaan Indonesia. Seperti
diketahui, dalam hal Kosasih, kita harus melakukan pemisahan antara
Kosasih I dan Kosasih II. Setelah menjadi klasik dengan karya-karya
dari tahun ‘60-an, Kosasih menggambar kembali komik wayang di atas
kertas kalkir yang licin, karena timah cetak komik lama tak memenuhi
syarat lagi, dengan hasil yang sangat berbeda: tokoh-tokoh wayang
kehilangan kehalusannya. Artinya, jika orang bicara tentang
kedahsyatan Kosasih dengan Mahabharata dan Ramayana, itu pasti
mengacu kepada Kosasih I. Ketika gambar ulang pada tahun ‘70-an
muncul di pasar, keunikan Kosasih masih mampu mengambil potongan
kue, namun ia tetap ditempatkan sebagai Kosasih II, yang bukan saja
berbeda, melainkan sama sekali dianggap bukan Kosasih I. Bahwa tidak
dilakukan cetak ulang karya-karya Kosasih I saja, itu merupakan
dampak satu dari dua kemungkinan: (1) memang teknologi grafika belum
memungkinkan reproduksi komik lama; (2) penerbitan kembali memang
hanya berorientasi dagang dan bukan pendekatan kultural, karena
dalam pendekatan kultural, orisinalitas adalah penting. Bukankah
buku-buku sastra lama seperti Siti Nurbaya Marah Roesli, Salah
Asuhan Abdoel Moeis, dan Belenggu Armijn Pane yang bahasanya kuno
juga tidak ditulis ulang supaya menyesuaikan diri dengan pembaca
masa kini? Hanya ejaannya yang disesuaikan.

Penerbitan mutakhir Ramayana oleh Elex Media Komputindo adalah karya
Kosasih I, dan dengan segala persoalan yang telah diperbincangkan,
penerbitan itu adalah suatu prestasi. Anak-anak Indonesia mempunyai
peluang untuk sama beruntungnya dengan orangtua atau kakek-nenek
mereka, yang tahu cerita Mahabharata dan Ramayana di luar kepala
tanpa harus mengerti bahasa daerah, dengan asyik- dan ini merupakan
aset Indonesia yang penting. Toh kesalahan kategoris itu tetap
berakibat.

Pertama, dibandingkan dengan edisi yang terbit tahun ‘60-an, kertas
isi maupun kemasan sampul edisi 2000 ini terbilang murahan dan
kodian. Ramayana menjadi sekadar produk dan bukan karya. Edisi
tahun ‘60-an dikenal dengan tatawarna sampul-sampulnya yang
gemilang, justru karena berhasil memanfaatkan keterbatasan teknologi
grafika masa itu. Saya tidak mengatakan tatawarna sampul yang
sekarang buruk, namun, orientasi dagang dan bukan pendekatan budaya
tentu telah menghilangkan sampul-sampul lama atas nama efisiensi dan
penghematan, padahal, orisinalitas akan selalu merupakan nilai
lebih. Pembundelan jilid-jilid itu juga telah menghilangkan halaman-
halaman judul yang unik dan artistik, yang sebetulnya merupakan
bagian dari historical memories bangsa Indonesia.

Kedua, telah berlangsung vandalisme tanpa disengaja. Dalam gambar-
gambar Kosasih I yang merupakan karya klasik ini, untuk tidak
mengatakannya masterpiece, ditambahkan huruf-huruf yang dimaksudkan
sebagai bunyi dalam adegan-adegan yang diandaikan bersuara. Ambil
contoh, gambar terkenal perkelahian Hanoman dan Hanggada dalam
pembangunan Tambak Situ Bandalayu. Adegan pemukulan yang oleh
Kosasih I digambarkan dengan garis-garis bintang, ditambah huruf
DES. Demikianlah selanjutnya, untuk adegan terbang ditambah huruf
SINGGG (huruf G-nya tiga!); untuk adegan benturan BRAKK; dan untuk
adegan benda dilempar ZETTT dan GERR. Bahkan perlu ditambahkan suara
Hanoman tertawa HA HA HA yang hanya mengotor-ngotori gambar; gambar
monyet ditambah huruf NGUH NGUH NGUH; adegan Hanoman berhadapan
dengan Hanggada ditambah huruf AYO MAJU, entah siapa yang ngomong.

Jelas, pengabdian kepada semangat dagang mengandaikan, bahwa semua
tambahan itu akan “memperbaiki” karya Kosasih I, sehingga akan lebih
terjual dibanding kalau tidak ditambahi apa-apa. Padahal, gambar
Kosasih I tentang suara pukulan atau kesiut angin yang dimaksudnya,
akan memberi kebebasan kepada pembaca, untuk menafsir bunyi seperti
apa yang diakibatkan angin dan pukulan. Bukan hanya DES dan SINGGG
yang teracu melulu kepada efek-efek bunyi dalam budaya Jawa.
Kemampuan isomorfik, melihat gambar sebagai suara dengan cara
bermiripan, sudah ada dalam diri manusia tanpa harus dijelas-
jelaskan lagi. Biasanya, komik memang menuliskan bunyi, tapi Kosasih
sebetulnya telah membebaskan pembaca dari penggiringan ke arah
penafsiran budaya tertentu.

Perbuatan menambah huruf kepada gambar Kosasih I, meskipun
seandainya disetujui Kosasih pribadi, merupakan suatu vandalisme.
Bukan hanya karena sebuah karya budaya yang telah mengakar merupakan
milik khalayak, tetapi juga bahwa semenjak postmodernisme, setiap
bidang gambar seperti komik, derajatnya setara dengan karya seni
manapun. Setiap bingkai gambar Kosasih I ini harus dihormati sama
dengan setiap bingkai lukisan Affandi, Hendra Gunawan, maupun
S.Soedjojono. Sehingga karena itu setiap tindak corat-coret di atas
gambar dan lukisan itu merupakan suatu vandalisme, suatu perusakan
yang secara etis merupakan kesalahan serius.

Demikianlah bagaimana kesalahan kategoris mengakibatkan suatu paham
dan salah paham yang berakibat fatal dalam usaha “mengangkat
kembali” komik Indonesia, karena orientasinya lebih sebagai barang
dagangan dan bukan karya budaya. Jika diandaikan betapa karya budaya
akan selalu kurang laku dibanding barang dagang, hal itu merupakan
kesalahan kategoris yang lain lagi, karena karya budaya manapun pada
dasarnya bisa dan boleh dijual dengan kiat-kiat komersial, tanpa
mengorbankan karya budaya itu sendiri.

* Seno Gumira Ajidarma, wartawan

SUMBER : Harian Kompas, 5 November 2000

December 25, 2005

[Filsafat] Inti Ajaran Tasawuf

Filed under: Milis, Religi

…., maka fana’ dan kasyaf adalah inti ajaran yang menjiwai seluruh pikiran dan perbuatan ketasawufan. Tanpa cita fana’ dan kasyaf tidak akan ada tasawuf.

Semua kegiatan pemikiran, perasaan, dan filsafat yang dimunculkan oleh para sufi berserta konsep-konsep yang menyimbolkan cita ketasawufan, berkaitan erat langsung atau tidak langsng dengan cita fana’ dan kasyaf ini.

Maka segala definisi tentang tasawuf yang tidak menonjolkan cita fana’ dan kasyaf adalah kabur, dan memberi gambaran yang keliru, tidak jelas tentang tasawuf.

dari: Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, Simuh, rajawali Pers, hal.12.

December 24, 2005

Wanita Berpendidikan Cenderung Punya Masalah Seks

Filed under: Beauty, Artikel

Wanita Berpendidikan Cenderung Punya Masalah Seks
30 Mei 2005 07:34:09

Wanita adalah makhluk yang unik. Meneliti perilaku seksual wanita tidak semudah pria.

“Perlu waktu berhari-hari untuk meneliti seorang wanita. Mereka enggan membicarakan masalah seksual seterbuka pria kata Dr. Laura S. Mavendry, Sp.U, ahli urologi dari Puan Jakarta Boutique Clinic.

Riset terhadap perilaku seks wanita pernah dilakukan oleh Anita Chapagan di Nepal pada tahun 2000. Hasilnya, kasus perceraian di sana sekitar 70 persen dialami wanita berpendidikan tinggi karena mereka tidak mengalami kebahagiaan dengan kehidupan seksualnya.

Mengapa lebih sering dialami wanita berpendidikan?

“Dengan level pendidikan yang dimiliki, mereka jadi lebih punya harapan dan standar lebih tinggi soal kehidupan seks,” papar Laura. Berbeda dengan wanita biasa yang cukup puas dengan apa yang dialaminya.

Sama halnya dengan kaum pria, wanita juga punya penyakit disfungsi seksual. “Jenis disfungsi seksual wanita adalah penurunan gairah, ketidaknyamanan saat berhubungan seks, dan masalah orgasme. Banyak perempuan yang sudah lama menikah, tetapi belum pernah kenal orgasme’ ujarnya.

Disfungsi seksual ini disebabkan oleh permasalahan kesehatan fisik, konflik interpersonal, dan trauma masa kecil. “Trauma ini disebabkan mereka melihat orangtuanya berhubungan seks. Ia menganggap ayahnya menyakiti ibunya. Kesehatan fisik bisa pula dikarenakan penyakit diabetes melitus. Sekitar 36 persen wanita diabetes mengalami disfungsi seksual, terutama kurangnya lubrikasi saat berhubungan intim,” katanya.

Orgasme bisa dicapai perempuan dengan perangsangan klitoris yang terdapat di dalam vagina. “Klitoris itu penuh dengan saraf. Daerah lain yang tepat untuk perangsangan adalah puting payudara. Payudara yang kecil bukan masalah karena biasanya daerah puting justru lebih besar’ kata Laura.

Meski demikan, menurutnya, orgasme bukan satu-satunya cara untuk memperoleh kepuasan seksual. *

Sumber : Kompas

December 23, 2005

Mengintip Seksualitas Serat Centhini …

Filed under: Beauty, Artikel

Mengintip Seksualitas Serat Centhini …
20 Mei 2005 08:28:20

Bicara soal seks dan seksualitas, mungkin lebih mengenal Kama Sutra dari India daripada Serat Centhini, karya sástra Jawa kuno yang dirilis di awal abad ke-19. Padahal “manual” versi lokal ini dipercaya jauh lebih lengkap dan “menantang”.

Tak ada yang bisa memungkiri, urusan seks selalu saja menarik. Entah dengan bisik-bisik di antara kaum lelaki di warung kopi, atau di antara kaum perempuan di sela-sela arisan ibu-ibu se-RT. Kadang juga dibicarakan secara terbuka tapi terbatas, seperti di ruang seminar atau kesempatan formal lainnya.

Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar. Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun manual (panduan), atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala.

Beberapa manual kuno yang pernah ada, bisa kita sebut misalnya Ars Amatoria (The Art of Love) karya penyair Romawi, Publius Ovidius Naso (43 SM - 17 M). Atau Kama Sutra karya Vatsyayana dari India, yang ditaksir hidup di zaman Gupta (sekitar abad ke 1 - 6 M). Keduanya, bukan melihat seks sebagai subjek penelitian medis dan ilmiah, melainkan sebagai sex manual.

Di akhir abad ke- 19 dan awal abad ke-20, neurolog dan pakar psikoanalisis asal Austria, Sigmund Freud (1856 - 1939), mengembangkan sebuah teori tentang seksualitas yang didasarkan pada studinya terhadap para kliennya.

Nun jauh di sana, di tanah JaWa pada awal abad ke-19 muncul pula sebuah karya sastra yang terkenal hingga kini, yaitu Serat Centhini (nama resminya Suluk Tembangraras). Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V.

Serat Centhini yang terdiri atas 722 tembang (lagu Jawa) itu antara lain memang bicara soal seks dan seksualitas. Justru karena itulah serat ini menjadi termasyhur, bahkan di kalangan para pakar dunia.

Seorang kontributor sebuah surat kabar Prancis, Elizabeth D. Inandiak, misalnya, telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis dengan judul Les Chants de l’ile a dormir debout le Livre de Centhini (2002).

Blak-blakan

* Meski kebudayaan Jawa di masa kejayaan keraton bersifat represif-feodalistik, demikian tulis Otto Sukatno CR dalam Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa (Bentang, 2002), dalam bidang seksual ternyata sangat jauh dari apa yang kita bayangkan.

Masalah seksualitas muncul dalam ekspresi seni, terutama sastra dan tari. Dalam Serat Centhini, misalnya, masalah seksual ternyata menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling. “Ini sangat berlawanan dengan etika sosial Jawa yang bersifat puritan dan ortodoks,” tulis Sukatno.

Masalah seksual dalam serat itu diungkapkan dalam berbagai versi dan kasus. “Misalnya, menyangkut masalah pengertian, sifat, kedudukan dan fungsinya, etika dan tata cara bermain seks, gaya persetubuhan, dan lain-lain,” ungkap Sukatno. Bahkan seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan hidup atau pelampiasan hasrat hedonisme (sebuah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kebaikan tertinggi atau satu-satunya kebaikan dalam kehidupan).

Sukatno memberi contoh, dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi.

Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbana (gaya persetubuhan) serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya.

Terungkap juga ternyata perempuan tidak selamanya bersikap lugu, pasif dalam masalah seks sebagaimana stereotipe pandangan Jawa yang selama ini kita terima. Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal mereka selalu digambarkan pasrah, nrima kepada lelaki.

Hal itu tampak dalam Centhini V (Dhandhanggula). Di ruang belakang di rumah pengantin perempuan pada malam menjelang hari H perkawinan antara Syekh Amongraga dan Nike Tembangraras, para perempuan tua-muda sedang duduk-duduk sambil ngobrol. Ada yang membicarakan pengalamannya dinikahi lelaki berkali-kali, pengalaman malam pertama, serta masalah-masalah seksual lainnya yang membuat mereka tertawa cekikikan.

Salah satu percakapan itu misalnya seperti ini, “Nyai Tengah menjawab sambil bertanya, Benar dugaanku, Ni Daya, dia memang sangat kesulitan, napasnya tersengal. Saya batuk saja, eh lepas Mak bul mudah sekali lepasnya. Tak pernah kukuh di tempatnya. Susahnya sangat terasa, karena meski besar seakan mati.” Disambut dengan tawa cekikikan.

Tipe Perempuan

* Seperti diungkap oleh Franz Magnis Suseno dalam Etika Jawa, yang dikutip Sukatno, adalah fakta bahwa hubungan seksual dalam masyarakat Jawa hanya diizinkan dalam rangka perkawinan.

Masyarakat Jawa tidak mengenal masalah seksual sebagai wahana pelampiasan nafsu hedonistik, penikmatan terhadap hidup. Namun, pada kenyataannya tidaklah demikian. “Adanya sistem budaya katuranggan jelas merupakan penyangkalan terhadap hal itu,” ungkap Sukatno.

Dalam sejumlah karya sastra Jawa maupun karya tulis lainnya, seperti primbon, soal katuranggan banyak diungkapkan, termasuk dalam Serat Centhini. Dalam kaitannya dengan perempuan, katuranggan dapat diartikan sebagai watak, sifat, atau tanda-tanda berdasarkan penampakan lahiriahnya.

Dalam budaya katuranggan, terdapat beberapa ciri perempuan yang menjadi idealitas lelaki untuk dijadikan istri. Tipe-tipe perempuan demikian, di antaranya disebut guntur madu, merica pecah, tasik madu, sri tumurun, puspa megar, surya surup, menjangan ketawan, amurwa tarung, atau mutyara.

Sebagai gambaran, perempuan bertipe surya sumurup itu perempuan yang memiliki dua lapis bibir yang berwarna merah jambu. Sorot matanya kebiru-biruan. Ada sinom (rambut yang tumbuh di dahi) yang menggumpal. Kedua alisnya nanggal sepisan (laksana bulan sabit). Perempuan seperti ini menjadi idaman kaum lelaki karena memiliki kesetiaan tak diragukan lagi. Lebih dari itu, ungkap Sukatno, ia tipe perempuan yang serasi dalam bermain asmara, sehingga dapat mencapai derajat marlupa (orgasme) bersama-sama.

Ekspresi budaya katuranggan ini juga terungkap, misalnya dalam Kitab Primbon Lumanakim Adammakna. Disebutkan, seperti Sukatno, ciri perempuan yang menggairahkan secara seksual antara lain, bertubuh kecil, wajahnya merah bersemu biru manis, rambut hitam panjang, sinom menggumpal. Atau, bertubuh kecil, pandangan dan wajahnya nguwung (agak melengkung), kulit kuning bersemu hijau, sinom menggumpal. Atau, bertubuh tinggi langsing, badan mbambang (padat berisi), roman mukanya galak, dan rambutnya panjang. Masih banyak lagi ciri perempuan menggairahkan lainnya.

Seperti diungkap Sukatno, tentu saja tidak semua tipe perempuan cocok dengan tipe ideal seperti itu. Masih ada tipe-tipe lain yang merupakan tipe campuran dari sebagian atau keseluruhan wacana keluruhan tiap-tiap tipenya. Memang rumit dan kompleks, karena seks, tidak bisa dinilai hanya dari segi penampilan lahiriahnya semata.

Jamu dan tatakarama

* Ritualisasi seksual juga diungkapkan dalam Serat Centhini, termasuk soal tata krama dalam melakukan hubungan seksual antarsuami-istri.

Dalam berhubungan, misalnya, harus empan papan. Maksudnya, mengetahui situasi, tempat, dan keadaan, tidak tergesa-gesa, dan juga merupakan keinginan bersama.

Selain mendasarkan diri pada tata krama menurut budaya Jawa, tata krama ini juga mendasarkan diri pada hadis Nabi Muhammad SAW. Misalnya, sebelum melakukan hubungan seksual, seyogianya mandi terlebih dahulu. Setelah itu berdandan dan memakai wewangian. Sebelum mulai, berdoa lebih dulu dengan mengucapkan syahadat.

Masyarakat Jawa juga mengenal kalender seksual. “Ini berkaitan dengan masalah rasa perempuan, yang berhubungan dengan organ genital seksualnya. Satu asumsi bahwa setiap hari organ genital seksual yang sensitif pada perempuan selalu berpindah tempat, sesuai dengan tinggi rendahnya Bulan — ini berdasar pada kalender Jawa. Dengan mendasarkan pada kalender seksual, pasangan dapat mencapai puncak kepuasan secara bersama-sama,” tulis Sukatno.

Selain diungkap mengenai tata cara, etika, dan ritualisasi, dalam Serat Centhini II (Pupuh Asamaradana) diulas pula bentuk-bentuk serta pose hubungan seksual yang seharusnya dilakukan. Semua itu dimaksudkan agar pasangan dapat mencapai kepuasan bersama-sama.

“Hubungan seksual tidak hanya sekadar pemuasan nafsu lelaki maupun perempuan, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan perasaan cinta kasih, proses prokreasi, dan seks sekaligus sebagai wahana ibadah,” ungkap Sukatno.

Dalam Serat Centhini IV (Pupuh Balabak) dijelaskan dengan gamblang posisi berhubungan seksual sebagaimana ajaran Jawa. Dalam melakukan penetrasi, misalnya, harus tetap pula melihat tipe perempuan pasangannya. Maka kemudian ada gaya kadya galak sawer (patukannya laksana ular galak); lir ngaras gandane sekar (seperti meraba baunya bunga); lir bremana ngisep sekar (laksana kumbang mengisap madu); lir lumaksana pinggire jurang (ibarat berada di tepi jurang); baita layar anjog rumambaka (seperti kapal layar turun ke tengah laut) dan sebagainya.

Dalam masyarakat Jawa lalu dikenal pula berbagai resep jalu usada (pengobatan seksual) agar lelaki jadi perkasa. Misalnya, untuk mencegah agar air mani tidak encer sehingga dapat memperoleh keturunan, seperti dijumpai dalam Serat Centhini VII (Pupuh Dhandhanggula). Resepnya berupa merica sunti dan cabe wungkuk tujuh buah, garam lanang, arang kayu jati, gula aren seperempat. Semua bahan itu dipipis hingga lembut di tengah halaman pada saat siang hari. Sesudah itu dibentuk seperti kapsul.

Jamu berbentuk mirip kapsul itu ditelan sambil membaca mantra, “Sang dewa senjata akas-akas, kurang bagaluwih akase, kurang baga akukuh, ora ana patine.” Enggak ada matinye! (intisari)

Sumber : Kompas

December 22, 2005

Sejarah Hari Ibu

Filed under: Milis

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Berbeda dengan di Amerika dan Kanada yang merayakan Hari Ibu atau Mother’s Day pada hari Minggu di minggu kedua bulan Mei.

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan di tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda. Organisasi perempuan sendiri sudah bermula sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Pada tanggal 22 Desember 1928 organisasi-organisasi perempuan mengadakan kongres pertamanya di Yogyakarta dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani), kongres berikutnya diadakan di Jakarta dan Bandung.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional, hingga kini.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan dibuat sebuah monumen, setahun berikutnya diletakkan batu pertama oleh Ibu Sukanto (ketua kongres pertama) untuk pembangunan Balai Srikandi dan diresmikan oleh menteri Maria Ulfah tahun 1956. Akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.

Sumber : Sejarah Hari Ibu

<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main