Ilmu Padi

December 27, 2005

Komik Indonesia : Paham dan Salah Paham 2

Filed under: Milis

Komik Indonesia : Paham dan Salah Paham
Oleh Seno Gumira Ajidarma
(Disampaikan pada diskusi komik dalam rangka pasar komik 2000 IAIN
Suka Yogyakarta Mei 1999)

Komik Indonesia, selalu, menjadi tumpuan duka nestapa. Bukan dalam
arti karena komik itu menghibur, melainkan bahwa sebagai wacana
hiburan nasibnya sama sekali tidak menghibur. Terlalu sering kita
dengar : komik Indonesia kalah mutunya dengan komik asing, dan itu
sebabnya kalah bersaing di pasaran. Proposisi macam ini dalam lagu
Slank dinyatakan sebagai rada-rada goblok. Kenapa? Karena logika
menyetujui : meskipun seandainya komik Indonesia tidak kalah mutunya
dengan komik asing, tetap saja bisa kalah bersaing di pasaran.

Sebuah analisis dagang sederhana akan segera membuktikan, bahwa
faktor distribusi, promosi, dan dukungan modal yang meyakinkan
berperan penting bukan hanya dalam melariskan, melainkan juga pada
gilirannya menancapkan sebuah kultur–dengan kata lain, dalam pola
pemasaran mondial, yang asing diakrabkan, sementara yang lokal
sebagai saingan diasingkan, kalau perlu punahkan sama sekali.

Lagi pula, ukuran mutu bisa menjadi sangat rumit : ada pujian yang
berbunyi sudah seperti komik luar negeri, sebuah cara memuji yang
dengan mudah sangat dikecam. Namun berpolitik kebudayaan dengan
ungkapan mencari identitas Indonesia terasa konyol, sama seperti
mendengar penataran P4, karena Indonesia dalam komik juga merentang
dalam heterogenitas yang luar biasa– dari Panji Tengkorak yang bau
Cina sampai Caroq yang bau Amerika. Komikus Ganes Th pernah mengakui
sosok si Buta dari Goa Hantu merupakan perpaduan antara Tarzan
(tokoh dengan kera) dan Zatoichi (tokoh yang buta), Amerika plus
Jepang hasilnya Barda Mandrawata, orang Sunda. Dengan kata lain,
Indonesia akan ditemukan dalam komik tanpa komik Indonesia harus
mencari-carinya. Seniman komik hanya perlu kreatif, biarkan arkeolog
mengkeduk-keduk Indonesia itu. Peduli amat.

Sampai di sini, jelas bahwa mutu atawa kualitas terletak pada
kemampuan suatu karya komik ditafsir, dikembangkan, dan ditarik
anasir-anasir kedalamannya, bukan kepada laris tidaknya — artinya,
kegagalan komik Indonesia menjadi populer, adalah soal kegegelan
masyarakat Indonesia untuk menjadi mandiri dalam dialog kebudayaan,
bukan kegegelan seniman menjual gambar. Komik Indonesia sudah tidak
perlu membuktikan apa-apa lagi, masyarakatlah yang harus melawan
dikte selera industri komik, yang disebarkan agen-agennya di
Indonesia. Sengkarut perkomikan Indonesia tidak bisa disorot dari
komiknya itu sendiri, sehingga komik–bukan hanya di Indonesia–
nyaris kehilangan komunitasnya.

Jika komik bertahan, seperti film bioskop, Srimulat, maupun kesenian
tradisional, maka hal itu pasti karena komik mampu mempertahankan
dan mengandalkan idiomnya sendiri, yakni komik sebagai the invisible
art, seni di antara panil. Pertumbuhan komik mutakhir jelas mengacu
dan menyerap media-media baru itu, mulai dari visualisasi sampai
tema, dan ini hanya bisa diharapkan tumbuh dari sikap persaingan
bebas : yakni tidak diburu-buru target laris, tapi sekaligus juga
tidak di-P4-i bahwa komik itu harus beridentitas Indonesia. Selama
komik dibuat dengan mengacu pada kepekaan seniman kepada
lingkungannya, maka tidak ada hadiah yang lebih pantas selain
menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (SGA)

<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main