Ilmu Padi

January 31, 2006

Sejarah Tahun Baru Islam

Filed under: Religi

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihihi ajma’in, wa ba’du

1. Sejarah Tahun Baru Islam

Penggunaan sistem perhitungan Islam belum dilakukan di masa Rasulullah SAW masih hidup. Juga tidak dilakukan di masa khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Secara singkat sejarah digunakannya sistem perhitungan tahun Islam bermula sejak kejadian di masa Umar bin Al-Khattab ra. Salah satu riwayat menyebutkan yaitu ketika khalifah mendapat surat balasan yang mengkritik bahwa suratnya terdahulu dikirim tanpa angka tahun. Beliau lalu bermusyawarah dengan para shahabat dan singkat kata, mereka pun berijma’ untuk menjadikan momentum tahun di mana terjadi peristiwa hijrah nabi sebagai awal mula perhitungan tahun dalam Islam.

Sedangkan sistem kalender qamariyah berdasarkan peredaran bulan konon sudah dikenal oleh bangsa Arab sejak lama. Demikian juga nama-nama bulannya serta jumlahnya yang 12 bulan dalam setahun. Bahkan mereka sudah menggunakan bulan Muharram sebagai bulan pertama dan Zulhijjah sebagai bulan ke-12 sebelum masa kenabian.

Sehingga yang dijadikan titik acuan hanyalah tahun dimana terjadi peristiwa hijrah Nabi SAW. Bukan bulan dimana peristiwa hijrahnya terjadi. Sebab menurut riwayat beliau dan Abu Bakar hijrah ke Madinah pada bulan Sya’ban, atau bulan Rabiul Awwal menurut pendapat yang lain, tapi yang pasti bukan di bulan Muharram. Namun bulan pertama dalam kalender Islam tetap bulan Muharram.

Penting untuk dicatat disini adalah pilihan para shahabat menjadikan peristiwa hijrah nabi sebagai titik tolak awal perhitungan kalender Islam. Mengapa bukan berdasarkan tahun kelahiran Nabi SAW? Mengapa bukan berdasarkan tahun beliau diangkat menjadi Nabi? Mengapa bukan berdasarkan tahun Al-Qur’an turun pertama kali? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya perang Badar? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya pembebasan kota Mekkah? Mengapa bukan berdasarkan tahun terjadinya haji Wada’ (perpisahan) dan mengapa bukan berdasarkan tahun meninggalnya Rasulullah SAW?

Jawabannya adalah karena peristiwa hijrah itu menjadi momentum di mana umat Islam secara resmi menjadi sebuah badan hukum yang berdaulat, diakui keberadaannya secara hukum international. Sejak peristiwa hijrah itulah umat Islam punya sistem undang-undang formal, punya pemerintahan resmi dan punya jati diri sebagai sebuah negara yang berdaulat. Sejak itu hukum Islam tegak dan legitimate, bukan aturan liar tanpa dasar hukum. Dan sejak itulah hukum qishash dan hudud seperti memotong tangan pencuri, merajam/mencambuk pezina, menyalib pembuat huru-hara dan sebagainya mulai berlaku. Dan sejak itulah umat Islam bisa duduk sejajar dengan negara/kerajaan lain dalam percaturan dunia international.

Kondisi itu terus berlangsung hingga umat Islam melewati masa-masa yang panjang setelah wafatnya beliau, masa khualfaurrasyidin, masa khilafah Bani Umayyah Bani Abbasiyah dan masa khilafah Bani Ustamani. Wilayahnya membentang dari Maroko hingga Marauke di mana separuh bulatan muka bumi menjadi sebuah negeri yang satu, daulah Islamiyah.

Hingga kemudian semua itu berakhir pada abad 20 Masehi (abad 14 hijriyah) dengan ditumbangkannya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924 oleh Musthapa Kemal Ataturk. Seorang pemimpin boneka yang bekerja di bawah perintah zionis yahudi dan konspirasi jahat international. Seiring dengan tumbangnya khilafah Islamiyah terakir, umat Islam yang berjumlah 1,5 milyar di muka bumi ini tidak lagi punya satu pemimpin, tidak punya badan hukun dan tidak punya khilafah. Semua hidup di bawah tekanan pemerintahan boneka masing-masing yang kecil, lemah, miskin, tertekan dan tertindas di bawah hegemoni mantan penjajahnya.

Bersamaan dengan itu, isi perut bumi mereka serta kekayaan alam lainnya dikuras habis oleh para musuhnya tanpa setitik pun perlawanan yang berarti. Hukum dan undang-undang yang berlaku tidak lain adalah produk sampah para penjajah. Kurikulum pendidikannya telah melahirkan anak-anak generasi yang mising link serta jauh dari atmosfir Islam.

Semua ini adalah tantangan berat yang harus dilalui oleh kita yang hidup di masa sekarang ini. Dan sejak meninggalkan tahun 1400 hijryah, sudah dicanangkan oleh Rabithah Alam Islami bahwa abad ke-15 hijriyah adalah abad kebangkitan Islam. Masuk tahun baru ini, kita sudah melewati kuartal pertama dari abad 15 hijriyah. Sudahkah tanda-tanda kebangkitan itu nampak? Kita bisa menilainya masing-masing.

2. Hukum Memeriahkan Datangnya Tahun Baru Islam

Secara fiqih Islami, tidak ada perintah secara khusus dari Rasulullah SAW untuk melakukan perayaan penyambutan tahun baru secara ritual. Bukankah penetapan sistem kalender Islam baru saja dilakukan di masa khalifah Umar bin Al-Khattab r.a.? Selain itu memang kami tidak mendapati nash yang sharih tentang ritual khusus penyambutan tahun baru, apalagi dengan i’tikaf, shalat qiyamullail atau zikir-zikir tertentu. Kalau pun ada, hadits-haditsnya sangat lemah bahkan sampai kepada derajat maudhu’ dan mungkar hadits.

Namun bukan berarti kegiatan penyambutan tahun baruy itu menjadi terlarang dilakukan. Sebab selama tidak ada nash yang mengharamkan secara langsung dan kegiatan itu tidak terkait langsung dengan ibadah ritual yang diada-adakan, hukumnya hala-halal saja. Terutama bila kegiatan itu memang punya manfaat besar baik secara dakwah Islam maupun syiarnya. Yang penting jangan sampai menimbulkan salah interpretasi bahwa tiap malam satu Muharram disunnahkan qiyamullail atau beribadah ritual secara khusus di masjid. Sebab hal itu akan menimbulkan kerancuan dan bid’ah tersendiri yang harus diantisipasi.

3. Lebaran Anak Yatim?

Tentang lebaran anak yatim, mengapa sampai diidentikkan dengan bulan Muharram, karena ada anjuran untuk ‘mengusap kepada anak yatim’ pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari ‘Asyura. Mengusap kepada anak yatim adalah bahasa ungkapan untuk memberikan santunan dan bantuan kepada mereka,

Anjuran ini memang sangat masyhur dikenal di sebagian masyarakat dan merupakan salah satu diantara amaliyah lainnya seperti puasa, shalat, silaturrahim, menjenguk orang sakit, memakai celak mata, mandi, meluaskan belanja, menziarahi orang alim dan lainnya. Sebagaimana dituliskan dalam kitab I’anatut- Thalibin tentang anjuran amaliyah pada 10 Muharram.

Namun bila dillihat dari dasar pensyariatannya, para ulama hadits umumnya berpendapat bahwa hanya puasa saja yang punya landasan yang kuat dengan hadits-hadits shahih. Yang juga punya dalil adalah meluaskan belanja. Sedangkan selebihnya hanya didukung oleh hadits-hadits dhaif bahkan sebagiannya maudhu’ dan mungkar. Sehingga tidak bisa diterima pensyariatannya oleh sebagian ulama. Lebih detail tentang hal ini, sudah kami bahas dalam kajian sebelumnya.

Wallahu A’lam Bish-shawab
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sumber : Sejarah Tahun Baru Islam

January 30, 2006

Tahun Baru Cina 2

Filed under: Artikel

Pantang larang dan perlakuan ketika sambutan Tahun Baru Cina

Pembersihan rumah

Seluruh kawasan rumah mesti dicuci sebelum tibanya tahun baru. Pada malam tahun baru, semua penyapu, berus dan semua jenis alat mencuci di simpan di tempat yang selamat. Menyapu dan mengemas tidak patut dilakukan pada hari tahun baru, kerana mengikut kepercayaan masyarakat Cina, nasib baik akan disapu bersama dengan sampah-sampah tersebut. Selepas tahun baru, lantai rumah akan disapu, bermula dari pintu ke tengah rumah dan diletak di penjuru. Sampah-sampah yang disapu itu tidak akan dibuang sehinggalah hari ke 5 perayaan.

Ambil yang jernih, buang yang keruh

Bermain mercun pada malam Tahun Baru adalah satu cara untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tahun yang akan ditinggalkan, dan meraikan ketibaan tahun baru. Pada satu ketika di tengah malam tahun baru, semua pintu dan tingkap mesti dibuka untuk membenarkan tahun yang lama pergi.

Aktiviti di Tahun Baru

Semua hutang sepatutnya telah dibayar pada ketika ini. Semua orang perlu menjaga perlakuan masing-masing pada ketika ini. Dilarang sama sekali menggunakan perkataan-perkataan kotor yang membawa maksud sial dan tidak baik. Merujuk kepada tahun yang lepas pun dilarang pada hari tahun baru kerana segala-segalanya mestilah maju ke depan dan tidak boleh memandang ke belakang lagi.

Dilarang sama sekali menangis pada tahun baru, kerana dikhuatiri orang tersebut akan menangis sepanjang tahun tersebut.

Kebersihan dan penampilan diri

Pada hari tahun baru, dilarang sama sekali mencuci rambut, kerana perlakuan ini akan mengakibatkan orang tersebut mambasuh pergi segala nasib baik untuk tahun baru itu. Pakaian merah digalakkan untuk dipakai. Merah dianggap warna cerah dan terang, yang memungkinkan pemakainya memperolehi masa depan yang terang. Dipercayai bahawa, cara pemakaian pada tahun baru menentukan nasib seseorang itu pada tahun tersebut. Kanak-kanak, saudara-mara rapat dan orang yang belum berkahwin diberi angpau untuk masa depan yang cerah.

Sumber : Tahun Baru Cina 2

January 29, 2006

Kalendar Lunar Cina

Filed under: Artikel

Kalendar Lunar Cina

Kalendar lunar Cina merupakan kalendar yang tertua di dunia, digunakan sejak 2600 Sebelum Masihi. Pengggunaan kalendar ini diperkenalkan oleh maharaja Huang Ti. Seperti kalendar barat, kalendar lunar Cina juga berasaskan pusingan tahunan yang mana permulaan tahun dimula berdasarkan pusingan bulan. Oleh sebab itu, permulaan tahun bagi kalendar Cina jatuh di sekitar bulan Januari dan Februari.

Satu putaran lengkap bulan mengelilingi bumi memakan masa selama 60 tahun dan terdiri daripada 5 putaran yang setiap satunya memakan masa selama 12 tahun. Kalendar lunar Cina menamakan setiap tahun berdasarkan 12 binatang.

Masyarakat Cina percaya bahawa setiap manusia yang lahir mempunyai pengaruh terhadap personaliti dan sikap berdasarkan binatang yang dinamakan pada tahun manusia tersebut dilahirkan.

Tikus
1924 1936 1948 1960 1972 1984 1996

Lembu
1925 1937 1949 1961 1973 1985 1997

Harimau
1926 1938 1950 1962 1974 1986 1998

Arnab
1927 1939 1951 1963 1975 1987 1999

Naga
1928 1940 1952 1964 1976 1988 2000

Ular
1929 1941 1953 1965 1977 1989 2001

Kuda
1930 1942 1954 1966 1978 1990 2002

Kambing
1931 1943 1955 1967 1979 1991 2003

Monyet
1932 1944 1956 1968 1980 1992 2004

Ayam
1933 1945 1957 1969 1981 1993 2005

Anjing
1934 1946 1958 1970 1982 1994 2006

Babi
1935 1947 1959 1971 1983 1995 2007

Hiasan Tahun Baru Cina

Sebelum sambutan Tahun Baru Cina, keluarga Cina akan menghias rumah dengan pasu-pasu berisi bunga yang sedang mekar berkembang, dulang-dulang berisi limau, dan juga dulang berisi 8 jenis buah kering yang manis. Di dinding dan pintu pula akan digantung dengan hiasan indah seperti puisi dan ucapan tahun baru yang dilukis di atas kertas merah.

Limau

Kebiasaannya bagi orang Cina, mereka akan membawa satu beg yang berisi limau dan angpau yang akan diberikan apabila melawat kawan dan keluarga sepanjang dua minggu sambutan Tahun Baru Cina. Mengikut kepercayaan orang Cina, limau yang masih mempunyai daun terlekat padanya membawa maksud hubungan seseorang dengan yang lain akan erat terjalin. Manakala bagi yang baru berkahwin pula, ini melambangkan hubungan perkahwinan yang terjalin akan mekar sehingga mendapat anak yang ramai. Limau adalah lambang kepada kegembiraan bagi masyarakat orang Cina.

Dulang manisan

Dulang manisan sama ada yang berbentuk bulat atau segi mempunyai pelbagai jenis manisan agar Tahun Baru dimulakan dengan penuh ‘kemanisan’. Setiap manisan dalam dulang melambangkan tuah yang tersendiri:

* manisan tembikai - melambangkan pertumbuhan dan kesihatan yang baik
* kuaci - malambangkan kegembiraan, kebenaran dan kejujuran
* butir laici - melambangkan ikatan kekeluargaan yang erat
* kumkuat (sejenis limau) - kekayaan
* manisan kelapa - keakraban
* kacang tanah - kehidupan berkekalan
* longan - melambangkan seseorang akan memperoleh ramai anak lelaki yang baik
* buah teratai - ramai anak

Kalender Lunar Cina

January 28, 2006

Sejarah Tahun Baru Cina 1

Filed under: Artikel

Sejarah Tahun Baru Cina

Asal-usul perayaan Tahun Baru Cina terlalu tua dan lama untuk dikaji. Walaubagaimanapun, pendapat umum mengatakan, perkatan Cina, ‘Nian’ atau yang bermaksud ‘tahun’ dalam bahasa Melayu, adalah nama kepada raksasa yang sering mencari mangsa pada malam sebelum tahun baru bermula.

Menurut lagenda, Nian mempunyai mulut yang sangat besar, dan mampu menelan ramai manusia dengan satu gigitan. Manusia pada waktu itu sangat takut akan raksasa Nian ini. Pada satu hari, kebun buluh yang berdekatan kampung orang-orang cina terbakar. Buluh-buluh yang terbakar itu meletup dan mengeluarkan bunyi yang sangat kuat seperti mercun. Ini telah menakutkan Nian lalu ia tidak berani untuk pergi brdekatan dengan kampung itu. Orang-orang tua juga telah berpesan agar orang-orang kampung menggantungkan kertas berwarna merah di pintu-pintu dan tingkap-tingkap rumah mereka pada setiap waktu menjelangnya tahun baru, dikhuatiri Nian akan mengganas semula. Warna merah sangat ditakuti oleh Nian, dan mampu menghalau raksasa itu.

Begitulah lagenda yang dipercayai oleh masyarakat Cina. Amalan bermain mercun dan menggantung kertas merah masih diteruskan hingga hari ini, walaupun ada di antara masyarakat muda-mudi Cina tidak tahu tujuan sebenar amal tersebut dilakukan. Mereka hanya beranggapan bahawa amalan tersebut cuma akan menceriakan lagi sambutan tahun baru.

Angpau

Antara sebab mengapa Tahun Baru Cina dinanti-nantikan oleh kanak-kanak ialah pemberian ‘angpau’ atau sampul merah yang berisi duit. Bagi yang belum berkahwin, mereka layak untuk menerima angpau.

Pemberian wang atau angpau ini adalah untuk mengucapkan selamat bagi tahun tersebut dan berharap memperolehi kekayaan dan nasib yang baik untuk tahun tersebut. Wang tersebut juga boleh digunakan untuk membayar hutang yang tertunggak.

Mercun dan tarian singa

Mercun dan tarian singa amat sinonim dengan sambutan perayaan Tahun baru Cina. Mercun dimainkan untuk menghalau makhluk jahat yang sering menganggu ketenteraman manusia. Namun begitu, dari satu tahun ke tahun yaang lain, mercun sering dimainkan untuk menandakan musim perayaan yang akan tiba.

Tarian singa adalah persembahan tarian yang penuh dengan kesenian dan menjadi simbol yang menakjubkan bagi masyarakat Cina. Biasanya ia dimainkan oleh dua pemain, dan memakan masa yang lama untuk berlatih sebelum seseorang itu benar-benar mahir.

Sumber : Sejarah Tahun Baru Cina

January 27, 2006

Merancang Ruang Tidur yang Nyaman

Filed under: Catatan

Merancang Ruang Tidur yang Nyaman
12 Mei 2005 09:15:20

BEBERAPA dekade belakangan ini banyak ilmuwan dari berbagai bidang tertarik menyelidiki mengapa dan seberapa banyak manusia dan semua makhluk memerlukan tidur dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Hasil penyelidikan-penyelidikan tersebut menunjukkan, tidur atau keadaan tidur dari manusia ternyata jauh lebih penting dari yang banyak diperkirakan sebelumnya. Bagi kita pemilik rumah, hal ini sangat berhubungan erat dengan rancangan kamar tidur di rumah kita.

Kebanyakan dari kita berpendapat bahwa otak kita selagi sadar hanya melakukan satu pekerjaan: berpikir, dan hanya pada saat kita terjaga. Secara keseluruhan perkiraan itu memang betul, namun belakangan para ilmuwan dari berbagai bidang, antara lain ahli ilmu syaraf dan psikolog menemukan bahwa otak manusia mampu melakukan kemampuan yang hampir tak terbatas untuk mengorganisasi segala informasi yang kita tangkap.

Akan tetapi, otak kita pun membutuhkan istirahat (dari kesadaran) untuk melakukan kegiatan-kegiatan pengorganisasian tadi yang amat sulit dilakukan oleh otak manusia di saat sadar. Itulah sebabnya manusia dan hampir semua binatang menyusui secara naluriah mau mengambil risiko untuk tidur (artinya masuk ke dalam keadaan yang sangat tidak siaga terhadap berbagai kemungkinan ancaman) untuk mendapatkan waktu bagi otaknya guna berbenah diri. Tanpa tidur otak akan mengalami beban yang tak tertahankan. Tidur ternyata digunakan oleh otak kita untuk mengerjakan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan di saat kita terjaga.

Dengan anggapan tidur untuk memberi kesempatan bagi badan dan otak untuk beristirahat, kita menganggap bahwa kamar tidur juga berfungsi sebagai tempat menarik diri dari kehidupan sosial dan kemudian untuk mempersiapkan diri kembali ke dunia luar.

Fungsi pokok kamar itu sebagai tempat tidur sedikit terganggu dengan fungsi tambahannya. Rancangan tempat tidur kemudian menjadi semakin rumit dengan tambahan-tambahan fasilitas untuk fungsi-fungsi sekundernya. Akibatnya, tidur menjadi sesuatu yang lebih sulit dilakukan di kamar tidur itu. Lalu barangkali ini bisa dijadikan pendekatan alternatif dalam merancang kamar tidur Anda sebagai bagian terpenting dari suatu rumah tinggal.

Kamar tidur, selain ruang dengan tingkat hierarki privasi tertinggi, juga harus memiliki tingkat keheningan tertinggi sebagai cara yang paling umum untuk meningkatkan “kualitas” tidur Anda.

Konsekuensinya adalah tempat tidur harus sesederhana mungkin (hanya ada tempat tidur yang sangat nyaman) dan terisolasi dengan kegiatan-kegiatan lainnya.

Demikian juga ukurannya, jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil. Sekitar empat kali empat atau empat kali lima meter persegi adalah ukuran yang pas untuk sebuah kamar tidur utama. Kamar tidur juga harus menghambat kegiatan-kegiatan selain tidur dilakukan di ruang ini. Pandangan yang umum berlaku dulu dan mungkin sekarang memungkinkan beberapa kegiatan nontidur bisa dilakukan di kamar ini, seperti berias diri, menelepon, menonton TV atau membaca yang dianggap bisa mengantar tidur. Dengan sedikit pengamatan ternyata semua itu akan mengganggu “jadwal” dan “kualitas” tidur Anda.

Rancangan yang tepat bagi sebuah kamar tidur adalah sedemikian rupa sehingga kamar tidur benar-benar berfungsi untuk tidur karena kita telah menyadari betapa pentingnya tidur itu. Jadi apabila nanti Anda terbangun seseorang boleh bertanya, “Bagaimana dengan tidur Anda semalam?

Sumber : Kompas

January 26, 2006

Teh Hijau Mampu Hambat Pertumbuhan Sel Kanker

Filed under: Catatan

Teh Hijau Mampu Hambat Pertumbuhan Sel Kanker
21 Maret 2005 08:04:44

Khasiat teh hijau sebagai antikanker sudah dikenal luas. Namun pernyataan itu selama ini belum didukung oleh bukti ilmiah. Baru-baru ini ilmuwan Inggris dan Spanyol telah menemukan bagaimana teh hijau mampu menahan berkembangnya beberapa jenis kanker. Namun hati-hati bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan. Mengonsumsi teh hijau yang berlebihan dapat mengakibatkan rusaknya syaraf janin. Oleh karena itu konsumsinya harus dimbangi dengan suplemen asam folat.

Peneliti dari Universitas Murcia di Spanyol dan John Innes Center di Norwich Inggris, telah menemukan suatu senyawa yang disebut dengan EGCG di teh hijau mampu menghambat pertumbuhan sel kanker dengan mengikatnya ke enzim spesifik.

“Kami telah menemukan untuk pertama kalinya bahwa EGCG di dalam teh hijau ada dalam konsentrasi yang relatif tinggi, mengandung enzim dihydrofolate reductase [DHFR], yang sudah dikenal, dan menjadi target bahan obat antikanker,” kata Professor Roger Thorneley, dari JIC kepada Reuters.

“Ini pertama kali, menurut pengetahuan kami, bahan yang diketahui sebagai obat anti kanker telah diidentifikasi, yang diketahui sebagai EGCG.”
Teh hijau memiliki kandungan EGCG lima kali lebih banyak dibandingkan dengan teh biasa. Kandungan itu diketahui dapat menghambat beberapa jenis sel kanker.

Tetapi beberapa ilmuwan belum yakin senyawa apa saja yang terlibat atau bagaimana mereka bekerja. Mereka juga belum menentukan berapa banyak berapa banyak teh hijau yang bisa diminum setiap orang untuk mendapatkan efek yang menguntungkan.

Thorneley mengatakan EGCG kemungkinan hanya satu dari sejumlah mekanisme anti kanker di teh hijau.

“Kami telah mengidentifikasi enzim ini di sel tumor yang menjadi target EGCG dan mengerti bagaimana hal itu menghentikan enzim dalam pembuatan DNA. Hal ini berarti kami mungkin juga dapat mengembangkan obat anti kanker yang baru berdasarkan struktur molekul EGCG.

Ilmuwan memutuskan untuk meneliti EGCG setelah mereka menyadari strukturnya sama dengan obat kanker yang disebut dengan methotrexate.

“Kami menemukan bahwa EGCG dapat membunuh sel kanker seperti halnya methotrexate,” kata Jose Neptuno Rodriguez-Lopez, dari UMU, salah satu penulis riset yang diterbitkan di jurnal Cancer Research.

EGCG mengikat dengan kuat DHFR, yang esensial dalam sel kanker dan sel sehat. Tetapi dia tida mengikat sekeras methotrexate, sehingga efek sampingnya pada sel yang sehat tidak sekeras dibandingkan dengan obatnya.

Thorneley mengatakan EGCG dapat memimpin senyawa untuk obat antikanker yang baru.
Penemuan itu juga menjelaskan mengapa perempuan yang meminum teh hijau dalam jumlah besar pada waktu mereka konsepsi dan awal kehamilan kemungkinan akan mengalami peningkatan risiko memiliki anak dengan spina bifida atau neural tube disorders.

Perempuan dianjurkan untuk minum suplemen asam folat karena melindungi dari spina bifida. Tetapi mengonsumsi teh hijau dalam jumlah besar dapat menurunkan efektivitas asam folat.

“Enzim ini [DHRF], adalah salah satu suplemen asam folat yang sudah ada. Kekurangan asam folat akan mengakibatkan kerusakan perkembangan neural tube,” tambah Thorneley.

Sumber : Bisnis Indonesia

January 25, 2006

Menikahkan anak tanpa Kerelaannya..

Filed under: Religi

Ada seorang bapak yang menikahkan kedua anak wanitanya tanpa ada kerelaan dari keduanya dengan dua orang laki-laki. Akad nikah dilangsungkan tanpa kehadiran… bahkan tanpa sepengetahuan keduanya. Kedua wanita tersebut selama sepuluh tahun lamanya semenjak menikah belum pernah menjalani hubungan selayaknya suami istri dan tetap bertahan untuk menolak pernikahan itu sama sekali?

Jawab:

Jika benar terjadi sebagaimana yang telah disebutkan maka berarti bapak kedua wanita tersebut telah melakukan kesalahan karena mengadakan akad nikah tanpa kerelaan kedua anak wanitanya. Akad nikah seperti ini tidak sah menurut pendapat yang benar. Itulah pendapat para ulama muhaqqiq. Meski memang ada pendapat lain, namun pendapat inilah merupakan pendapat yang benar, berdasarkan hadits yang shahih. Seperti hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

“Seorang janda tidak boleh dinikahkan hingga dimintai perintahnya. Sedangkan seorang gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izin.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits Ibnu Abbas, ada seorang gadis belia datang kepada Nabi dan mengadukan bapaknya yang telah menikahkannya padahal ia tidak mau. Maka Nabi memintanya untuk memilih apakah pernikahan tetap diteruskan atau dibatalkan. (Al Bani menshahihkan hadits ini dalam kitab shahih sunan Ibnu Majah)

Jika belum terjadi persetubuhan maka dua suami yang disebutkan dalam pertanyaan harus mentalak istrinya masing-masing. Jika mereka menolak maka hakim peradilan agama yang akan membatalkan (fasakh) status pernikahan keduanya.

Kewajiban seorang ayah adalah bertaqwa, takut kepada Allah dan tidak menikahkan anak wanitanya kecuali dengan kerelaannya. Karena dengan hal ini tujuan yang diharapkan dengan pernikahan bisa terwujud.

Sumber : Email dari teman

January 24, 2006

Perintah Ittiba’ dan Larangan Taqlid..

Filed under: Religi

Telah masyhur di kalangan kita bahwa sebagian besar manusia dalam menjalankan agamanya hanya mengikuti apa-apa yang di ajarkan oleh Kyai-kyainya, atau Ustadznya tanpa mengikuti dalil-dalil yang jelas dari agama ini. Mengikuti di sini yang dimaksudkan adalah mengikuti tanpa dasar ilmu. Mereka hanya ikut (manut) saja apa kata Sang Kyai atau Sang Ustadz, seolah apa yang mereka katakan pasti benar. Di sini kita melihat kebenaran hanya diukur oleh ucapan-ucapan kyai/ustadz tersebut tanpa melakukan penelitian ilmiah terhadap dasar ucapan mereka. Mereka tidak meneliti apakah sumbernya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, atau hanya bersumber dari hadits-hadits yang lemah, atau lebih fatal lagi bila bersumber dari hadits yang palsu. Inilah sesungguhnya Hakikat dari Taqlid.

Ingatlah wahai saudaraku kaum muslimin ….. bahwasannya kebenaran atau al haq itu bukan berdasarkan banyaknya pengikut atau status sosial orang yang mengucapkan, karena kebenaran akan tetap merupakan kebenaran meskipun hanya sedikit yang mengikutinya. Dan yang namanya kebatilan merupakan kebatilan sekalipun seluruh manusia mengikutinya. Dan kebiasaan mengekor tanpa ilmu ini jelas-jelas merupakan suatu hal yang sangat tercela. Bahkan Allah mengharamkan untuk mengikuti sesuatu yang kita tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran ” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya .” (QS. Al-Israa : 36). Dan juga perkataan Imam Bukhori ” Bahwa ilmu itu sebelum ucapan dan perbuatan .” Dampak yang nyata terhadap hal ini ialah semakin jauhnya para muqolid (orang-orang yang taklid) ini dari ajaran Islam yang murni, dimana amalan-amalan mereka banyak yang bersumber dari hadits yang dhoif (lemah) atau bahkan hadits palsu dan bahkan mungkin mereka beramal tanpa ada dalil, hanya mengikuti ucapan Kyai atau Ustadznya. Jika dikatakan kepada mereka bahwa amalan mereka itu menyelisihi dalil yang shohih dari Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan “kami hanyalah mengikuti apa-apa yang ada pada bapak-bapak kami atau kyai / ustadz kami.”

Contoh paling nyata sekarang ini, kebanyakan mereka mengaku mengikuti Madzab Syafii, Hambali, Hanafi, dan Maliki dari para imam-imam madzab. Padahal kalau kita tengok ajaran/perbuatan/amalan mereka sangat jauh dari perbuatan imam-imam madzab tersebut. Mereka begitu fanatik kepada madzab yang mereka ikuti, bahkan bila ada seseorang yang berkata yang perkataannya itu bertentangan dengan madzab yang mereka anut, walaupun ucapannya itu haq adanya, niscaya mereka akan menentangnya habis-habisan, dan yang demikian ini terjadi. Wahai saudaraku… agama adalah nasihat, sebagai sesama kaum muslimin harus saling menasihati. Lantas bagaimana kalau sikap mereka menolak dari nasihat orang yang tidak sesuai dengan pendapat mereka (meskipun nasihat yang haq).

Agama Islam dibawa oleh Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian para shahabatnya meneruskannya, kemudian lagi para tabi’in (murid shahabat) terus sampai jaman kita sekarang ini, kita harus mengikuti mereka. Dalam beragama itu harus mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah yang shohih sesuai dengan pemahaman para shahabat Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kita harus memahami agama ini sesuai dengan pemahaman para shahabat karena merekalah orang-orang yang paling tahu tentang sunnah Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dididik secara langsung oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau ada yang keliru diantara mereka langsung ditegur atau dibetulkan/diluruskan oleh Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi pada jaman shahabatlah agama ini sangat terjaga kemurniannya. Untuk itu kita wajib menjalankan agama ini sesuai petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sesuai dengan apa yang dipahami oleh para shahabat Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sesungguhnya Hakikat dari Ittiba’ (mengikuti).

Berikut ini akan kami sampaikan pendapat dari Empat Imam tentang masalah Taqlid dan Ittiba:

1. Imam Asy Syafii

- “Tidak ada seorang pun kecuali dia harus bermadzhab dengan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bertentangan dengan ucapanku, maka peganglah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah ucapanku.”
- “Apa bila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka peganglah ucapan Beliau dan tinggalkanlah ucapanku.”
- Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadits yang shohih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Oleh karena itu janganlah mengikuti aku.”
- “Apabila hadits itu shohih, maka itu adalah madzhabku.”
- “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa telah terang baginya Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang.”
- “Setiap masalah yang di dalamnya kabar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah shohih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati.”

2. Imam Ahmad bin Hambal
Beliau berkata :
- “Janganlah engkau mengikuti aku dan janganlah pula engkau ikuti Malik, Syafii, Auzai, Tsauri, tapi ambillah dari mana mereka mengambil.”
- “Barang siapa menolak hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran.”
- “Pendapat Auzai, pendapat Malik dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar”

3. Imam Malik bin Anas
Beliau berkata :
- “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah dan yang tidak maka tinggalkanlah.”
- “Tidak ada seorangpun setelah Nabi r, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Muhammad r.

4. Imam Abu Hanifah
Beliau berkata :
- “Apabila hadits itu shohih maka hadits itu adalah madzhabku
- “Tidak dihalalkan bagi seorang untuk berpegang kepada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya”
- Dalam sebuah riwayat dikatakan,Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.”
- “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Alloh dan kabar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.”

Demikianlah wahai saudaraku kaum muslimin, pendapat dari empat imam tentang larangan taklid buta. Mereka memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan hadits Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta melarangnya untuk mengikuti mereka tanpa melakukan penelitian. Jadi mereka para Imam yang empat melarang keras kepada kita untuk taqlid buta / membebek / mengekor tanpa ilmu.

Barang siapa yang berpegang dengan setiap apa yang telah ditetapkan di dalam hadits yang shohih, walaupun bertentangan dengan perkataan para imam, sebenarnya tidaklah ia bertentangan dengan madzhabnya (para imam) dan tidak pula keluar dari jalan mereka, berdasarkan perkataan para imam di atas. Karena tidak ada satu ucapanpun yang dapat mengalahkan ucapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahkan ucapan para shahabat pun !!! Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas :
“Aku khawatir akan datang hujan batu dari langit, aku ucapkan Rosululloh berkata .., engkau ucapkan Abu Bakar berkata, …dan Umar berkata…”.

Inilah sikap yang seharusnya kita ambil, mencontoh para shahabat, imam-imam yang mendapat petunjuk, di mana merekalah yang telah mengamalkan dien/agama ini sesuai dengan petunjuk Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengada-ada (tidak menambah/mengurangi). Dan hal inipun menunjukkan kesempurnaan ilmu yang ada pada mereka (para Imam) dan ketaqwaannya. Kadang kala mereka mengakui bahwasannya tidak semua hadits mereka ketahui.Terkadang mereka menutupkan suatu perkara dengan ijtihad mereka, namun hasil ijtihad mereka keliru karena bertentangan dengan hadits yang shohih. Hal ini dikarenakan belum sampainya hadits shohih yang menjelaskan tentang perkara itu kepada mereka. Jadi sangatlah wajar bagi seseorang yang belum paham suatu permasalahan kembali berubah sikap manakala ada yang menasehatinya dengan catatan sesuai dengan sunnah yang shohih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu Alam…. :)

Sumber : email dari teman

January 23, 2006

Guru dan Murid

Filed under: Artikel

Hubungan Suci Antara Guru dan Murid

Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Taipei, Formosa, 8 Juli 1986

Pada saat inisiasi, saya berkata kepada kalian, “Selamat! Mulai sekarang, kalian betul-betul bebas. Kalian menjadi seorang yang sudah bebas, orang yang terbebaskan!” Akan tetapi, barangkali hanya separuh saja dari kalian yang percaya pada saya. Tetapi tidak apa-apa. Menjadi terbebaskan berarti menjadi terbebaskan, apakah kalian percaya atau tidak, tidak akan mengubah kenyataan. Akan tetapi, kalian masih harus berjalan mengikuti saya. Setelah beberapa lama, kalian akan menyadarinya lebih cepat. Semakin banyak kalian bermeditasi, semakin cepat pula kalian mengerti.

Pada suatu hari yang belum begitu lama, seorang Guru tercerahkan di India, ditemani oleh lima muridnya, bepergian untuk suatu keperluan. Ditengah perjalanan, salah satu muridnya digigit ular yang sangat berbisa, ular yang paling berbisa dan paling mematikan yang ada di India. Dalam sekejap, wajah si murid tadi berubah menjadi ungu, kemudian biru dan disusul oleh warna-warna lainnya. Setiap orang memperkirakan bahwa kematiannya sudah dekat karena tidak ada satu orang pun yang bisa bertahan dari gigitan ular semacam itu lebih dari lima atau sepuluh menit dan lagi pula tidak ada penangkalnya.

“Tolong jangan sampaikan kepada Guru,” si murid yang digigit ular tersebut memohon kepada teman-temannya. “Pergilah bersama Guru dan tinggalkan saya di sini. Sebentar lagi saya akan meninggal dan terbebaskan. Tidak apa-apa.” Kemudian, selagi murid-murid lainnya memikirkan apa yang harus dikerjakan, Guru mereka menyadari apa yang terjadi dan berjalan balik untuk melihat muridNya yang tergigit ular, dan menjadi cemas dengan kondisi muridNya. Tetapi muridNya memohon kepadaNya, dan mengatakan, “Guru, jangan khawatirkan saya. Saya akan segera terbebaskan. Tidak masalah!” Kemudian Guru itu berkata kepada murid-murid lainnya, “Saya mendengar bahwa gigitan ular ini bisa disembuhkan dengan menggosok lukanya dengan sejenis tumbuhan tertentu.”

Murid-murid lainnya melaksanakan sesuai instruksi dan merawat si korban dengan ramuan tumbuhan itu, dan dia benar-benar menjadi sembuh. Si murid menyadari sekali bahwa bukannya ramuan tumbuhan itu tetapi daya kuasa Gurunya yang telah menyelamatkannya; karena bagaimana mungkin seseorang yang sudah sekarat dapat disembuhkan hanya dengan mengosok-gosokkan dedaunan pada lukanya? Dengan sangat tersentuh, si murid berterima kasih dan berlutut di hadapan Guru itu, dan berkata, “Saya hanyalah murid yang tidak berarti. Kenapa Anda begitu bermurah hati memikul karma saya? Kenapa Anda melakukannya?” Dan Gurunya hanya merespon, “Bukan! Bukan saya yang melakukannya. Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan kita.” Begitulah hubungan antara Guru dan para murid.

Bersyukurlah atas Kesempatan Langka Mempunyai Seorang Guru Tercerahkan di Dunia ini

Para Guru Agung adalah manifestasi daripada Tuhan. Mereka sangat welas asih, tetapi di dunia ini, daya kuasa Mereka terbatas dan Mereka tidak dapat mengungkapkan identitas sejati Mereka atau apa yang Mereka dapat kerjakan, sehingga hanya diketahui oleh beberapa orang saja, bahkan hanya oleh beberapa murid saja. Misalnya, setelah menyelamatkan muridNya, sang Guru memerintahkan muridNya, dan berkata, “Jangan mengatakan kejadian ini kepada siapapun. Kamu harus segera melupakannya.” Cerita ini baru terungkap setelah si murid mendiskusikannya pada buku yang ditulisnya, tetapi pada waktu itu sang Guru telah meninggalkan dunia ini.

Begitulah umat manusia. Seorang Guru Agung datang mengajar kita, tetapi kita tidak mengenali-Nya. Bahkan kalaupun ada beberapa orang belajar mengikutiNya, mereka plin-plan dan tidak memahami identitas Guru mereka. Para Guru Agung menjadi terkenal hanya setelah Mereka meninggalkan dunia ini, dan setelah itu seluruh dunia menghormati Mereka. Seperti itulah orang-orang belajar tentang keberadaan Yesus Kristus, Bodhidharma, Buddha Shakyamuni, Lao-Tse dan Chuang-Tse.Tetapi sudah terlambat! Kita hanya mengenal para Guru Agung setelah Mereka pergi, tidak ketika mereka masih di dunia. Sayang sekali! Demikianlah kebiasaan orang-orang di dunia ini.

Banyak pengikut datang belajar dari seorang Guru, tetapi setelah mengikuti untuk waktu yang cukup lama, mereka masih saja belum menyadari siapa Gurunya sebenarnya. Mendengar bahwa mereka perlu bermeditasi, mereka berkata, “Oh! Meditasi terlalu sukar bagi saya.” Mendengar bahwa mereka harus pergi dan menemui Guru, mereka berkata, “Baiklah! Apa gunanya menemui Dia?” Mendengar bahwa mereka harus mengikuti ceramah Guru, mereka berkata, “Baiklah! Tidak ada bedanya jika saya mengikuti ceramah yang diberikan oleh para guru lainnya, jadi kenapa saya mesti pergi ke Guru ini?” (Guru tertawa.)

Tetapi setelah sang Guru Agung pergi dari dunia ini, tiba-tiba saja setiap orang mengetahui tentang Dia, memahami betapa agungnya Dia, dan belajar banyak mengenai berbagai hal yang dikerjakan selama hidupNya. Ini karena para Guru Agung tidak banyak bercerita tentang perbuatan-perbuatan Mereka dan bahkan murid-murid Mereka juga tidak menyadari Mereka. Pada saat kesulitan, kita mencari pertolongan Guru dan berterima kasih atas bantuanNya. Walaupun kemudian Dia berkata, “Itu bukan apa-apa! Saya tidak mengerjakan apa-apa.” (Guru tertawa.) Dia bahkan mungkin menegur kita, mengatakan, “Omong kosong! Takhyul!(Guru dan hadirin tertawa) Para Guru ini tidak pernah mempromosikan diri Mereka. Guru yang memamerkan kekuatan-kekuatan gaib dan lainnya adalah bukan seorang Guru sejati yang tercerahkan.

Dapat Berlatih Spritual di bawah Bimbingan Seorang Guru Tercerahkan Adalah Berkah yang Terbesar

Para Guru Agung memberkati murid-murid Mereka dengan berbagai macam cara. Beberapa diberkati dengan pandangan sekilas saja. Beberapa dengan sentuhan di kepala, dan masih ada cara lain yang tidak tampak. Kebanyakan murid tidak tahu bagaimana sang Guru membantu mereka atau apa yang Dia kerjakan untuk mereka. Akan tetapi, apakah mereka menyadari atau tidak, bertemu dengan Guru demikian ini, membuat mereka menjadi murid-murid yang paling terberkati dan terlindungi. Sebagian besar karma mereka dihapus hanya dengan sentuhan di kepala oleh seorang Guru yang demikian itu.

Di India, orang-orang memuja seorang Guru hidup melebihi yang mereka lakukan terhadap Buddha Shakyamuni atau Tuhan. “Meskipun Tuhan itu sangat tinggi, saya tidak dapat melihatNya,” kata mereka, “Bagi saya, Guru saya adalah yang tertinggi! Saya tidak dapat melihat para Buddha tetapi saya bisa melihat Guru saya. Saya tidak tahu apa yang telah dikerjakan oleh para Buddha, tetapi saya tahu apa yang dikerjakan Guru untuk menolong saya!” Pada mulanya, para Guru Agung juga berasal dari Tuhan, Mereka merupakan manifestasi dari hakekat Kebuddhaan. Akan tetapi, mereka diam-diam saja. Bahkan jika mereka bercerita tentang itu, orang-orang tidak akan mempercayainya.

Beberapa ratus tahun yang lalu, ada seorang Guru Agung di India. Pada suatu hari, salah satu murid perempuanNya dalam meditasinya mencapai alam ke lima. Di sana dia melihat Gurunya - seorang Guru tercerahkan di Alam Kelima. Setelah pengalaman ini, dia buru-buru menghadap Gurunya, dan berkata, “Guru! Anda tidak mengatakan yang sebenarnya! Anda telah mengolok-olok saya dengan mengatakan bahwa Anda hanyalah orang biasa saja yang tidak mempunyai kekuatan gaib atau kemampuan mengerjakan sesuatu. Tetapi, hari ini saya melihat bahwa Anda adalah Tuhan! Anda adalah Guru yang tercerahkan di Alam Kelima. Anda tertinggi, tidak ada yang melebihi Anda! Kenapa anda selama ini menyembunyikan Kebenaran ini dan tidak mau mengungkapkan jati diri Anda yang sebenarnya?” Gurunya menjawab, “Jika saya menceritakannya, kamu tidak akan percaya, sehingga saya memilih untuk diam.”

Itu adalah berkat tertinggi bagi seseorang yang bertemu dengan seorang Guru yang demikian. Tetapi, Dia tidak dapat mengungkapkan banyak hal di dunia ini. Disamping itu, Dia tidak suka membicarakannya, lagi pula untuk apa mengungkapkannya?

Kaisar Rusia dan Rakyatnya di Pengasingan

Dahulu kala, seorang Kaisar Rusia menyamar sebagai orang biasa bepergian ke Spanyol untuk mendalami teknik pembuatan kapal. Dalam masa pelatihannya, ia bertemu dengan orang-orang Rusia yang dibuang ke pengasingan karena melakukan beberapa kejahatan. Karena dilarang tinggal di Rusia, mereka mencari pekerjaan di Spanyol, dimana mereka hidup dalam kemiskinan dan kondisinya menyedihkan. Mereka sangat merindukan keluarga dan tanah airnya, tetapi tidak bisa karena perintah dari Kaisar.

Sang Kaisar bekerja dengan mereka setiap hari, dan bisa mengerti perasaan nostalgia mereka. Karena sangat tersentuh, dia berkata kepada mereka, “Saya adalah teman Kaisar. Saya kenal dia. Jika kalian ingin pulang, ikutlah dengan saya. Saya akan meminta Kaisar untuk memaafkan kalian sehingga kalian boleh pulang.” Beberapa diantaranya ada yang percaya dan mengikuti dia tetapi sebagian lagi tidak percaya karena penampilan sang Kaisar kelihatannya seperti pekerja biasa saja. Mereka tidak percaya kalau dia memiliki kekuasaan yang tinggi untuk bernegosiasi dengan Kaisar sehingga sebagian dari mereka menolak mengikutinya.

Mereka yang memilih kembali ke Rusia dengannya melihat sekerumunan besar orang keluar menyambut kedatangannya. Orang-orang menyambutnya di setiap kota yang dimasukinya. “Barangkali dia adalah orang yang berkuasa, pejabat tinggi yang mempunyai pengaruh besar, atau orang yang berstatus sosial tinggi dan sangat terkenal, ” mereka berspekulasi. Ketika mereka mendekati istana Kaisar, semakin banyak saja orang yang datang menyambutnya, dan acara jamuan makan menjadi semakin meriah. Mereka bersepekulasi lebih lanjut. “Oh! Dia pasti wakil tertinggi atau sanak keluarga dari Kaisar. Dia telah mengatakan kepada kita yang sebenarnya.” Akhirnya, setelah mereka memasuki istana dan melihat dia duduk di singgasana Kaisar, mereka menyadari bahwa dia sendirilah sang Kaisar itu. Pada saat itu, semua dosa mereka dimaafkan karena sang Kaisar memiliki wewenang yang paling tinggi. Dialah yang telah mengasingkan mereka, dan sekarang dia jugalah yang berwenang membolehkan mereka balik kembali.

Hal yang sama terjadi pada kita yang telah diinisiasi. Kita pada mulanya berasal dari Kekuatan Tertinggi, dan sekarang Kekuatan Tertinggi itu telah datang untuk membawa kita pulang. Sederhana sekali! Dalam kasus Kaisar ini, dia bisa membuang/ mengasingkan orang dan membawa mereka pulang karena dia memiliki wewenang tertinggi.

Para Inisiat Dapat Melihat dengan Seketika Hakekat Ketuhanan dan Mencapai Kesucian

Sebagaimana ditulis dalam kitab-kitab suci di India, jika kalian bertemu dengan seorang Guru yang mempunyai Daya Kuasa yang Tertinggi, sebenarnya tidak perlu lagi untuk melakukan apa-apa - tidak perlu memuja, tidak perlu menyembah, tidak perlu bertobat, tidak perlu mengumpulkan pahala, tidak diperlukan apa-apa lagi. Kalian akan menjadi benar-benar baik dan terpenuhi dalam segala hal karena pada mulanya kita adalah Daya Kuasa yang Tertinggi ini. Kita datang dari Dia dan kepada Dia kita kembali. Itulah sebabnya kita mengatakan. “Melihat hakekat Tuhan dan mencapai Kesucian.” “Hakekat” ini adalah Hakekat Diri kita sendiri, bukannya kepribadian kita. Inilah yang dimaksudkan oleh para Guru Zen kuno tentang “pencerahan seketika” - seketika melihat hakekat Tuhan dan mencapai kesucian. Mungkin sebagian besar dari kita masih belum percaya bahwa kita adalah orang-orang suci, tetapi meskipun demikian tetap saja kita adalah orang-orang suci. Kita bebas dan terbebaskan, semuanya sama. Jika sudah waktunya, kita akan mengetahuinya dengan sendirinya.

Ini sama dengan cerita yang baru saja saya sampaikan. Para pekerja yang mempunyai kepercayaan pada sang Kaisar, mengikuti dia pulang, dan pada saat mereka mencapai istana, mereka melihat yang sebenarnya. Mereka sudah bebas pada saat sang Kaisar berkata kepada mereka bahwa mereka bisa pulang. Ketika mereka masih di Spanyol, sang Kaisar berkata kepada mereka, “Kalian bisa pulang sekarang,” dan mulai saat itu mereka sudah bebas. Mereka tidak harus menunggu sampai mereka mencapai istana untuk dibebaskan. Tetapi, tidak masalah. Meskipun mereka ragu-ragu, tetapi selama mereka mengikuti sang Kaisar, mereka akhirnya akan mengerti semuanya pada saat meraka sampai di rumah.

Sama halnya, pada saat inisiasi, Saya mengatakan kepada kalian, “Selamat! Mulai saat ini, kalian betul-betul bebas. Kalian menjadi orang bebas, orang yang terbebaskan!” Akan tetapi, barangkali hanya separuh dari kalian yang percaya pada saya. Tetapi tidak apa-apa. Menjadi terbebaskan berarti menjadi terbebaskan, dan apakah kalian percaya atau tidak, tidak akan mengubah kenyataan. Tetapi, kalian masih harus mengikuti saya. Setelah mengikuti beberapa lama, kalian akan mengerti lebih cepat. Semakin banyak kalian bermeditasi, semakin cepat kalian menyadarinya. Jika kalian tidak bermeditasi, meskipun kalian akhirnya juga mengerti, hidup kalian akan menjadi kurang berarti. Kehidupan yang melempem, menyebabkan kesulitan untuk diri sendiri dan terserang berbagai penyakit, karma berat dan meredupkan pencerahan.

Ini disebabkan karena kita hanyalah manusia biasa yang tidak dapat mengerti Tuhan. Meskipun memiliki mata, kita tidak dapat melihat, persis seperti orang buta. Kita tidak tahu apa yang telah dikerjakan Tuhan untuk kita atau bagaimana Tuhan menolong kita. Sebagai gantinya, kita memuja patung kayu dan meminta berkah setiap hari. Bahkan kita memuja para dewa dan hantu, dan berdoa meminta keselamatan dan perlindungan. Meskipun kita kaya didalam, tetapi kita pergi meminta-minta diluar!

Sumber : Guru dan Murid

January 22, 2006

Pengemis dan Jutawan

Filed under: Artikel

Pengemis dan Jutawan

Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Retret 7-hari, Taipei, Formosa, 23 Mei 1994

Pada suatu ketika, ada seorang pengemis, dan di kota kediamannya hiduplah seorang jutawan. Tetapi orang itu sangat pelit sekali! Apapun yang dia peroleh, dia masukkan ke dalam lemari atau menggali lubang di dalam tanah dan disembunyikan. Tidak seorang pun, bahkan dirinya (gelak tawa), mengetahui dimana adanya. Dengan cara ini, dia tidak harus mengeluarkan uang!

Begitulah, dia sangat pelit sekali! Dia tidak pernah memberikan uang kecil kepada siapapun, apakah kepada pengungsi atau Palang Merah; dia bahkan tidak ingin mendengarkan hal-hal semacam itu. Dia ingin menjaga uangnya agar tetap utuh. Untuk pengeluaran sehari-hari, dia juga sangat, sangat ahli dalam kepelitannya. Maka istri, anak-anakn, ibu, dan saudara-saudarinya – sengsara.

Lalu suatu hari seorang pengemis mendatangi pintu rumah sang jutawan dan menginginkan sekeping emas dari dia. Sang jutawan memiliki banyak emas, tetapi tentu saja, dia mengusir pengemis itu dan menyuruh pelayan dan keluarganya untuk menyingkirkannya keluar.

Hari berikutnya, pengemis itu datang lagi dan menginginkan hal yang sama, sekeping emas. Maka sang jutawan sekali lagi menyepak dia keluar. Tetapi pengemis itu datang lagi pada hari berikutnya – dan lagi dan lagi, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Dia benar-benar berlatih kesabaran! (Gelak tawa). Dia pasti melakukan meditasi atau hal lainnya, karena dia amat gigih. Kesabaran adalah satu dari kebajikan yang diajarkan sang Budha kepada murid-muridnya, salah satu dari Enam Kesempurnaan (Paramita).

Tahun demi tahun berlalu seperti ini sampai pada suatu hari sang jutawan menjadi bosan dengan pengemis itu, dan akhirnya dia memotong sekeping emas, sangat kecil sekali, dan diberikannya kepada pengemis itu. (Gelak tawa). (Guru berkomentar bahwa kita harus belajar dari cerita ini: Apapun yang ingin kita lakukan, kita harus tekun, dan mungkin kita akan berhasil!)

Kemudian pengemis itu menjadi amat bahagia sekali. Dia meloncat kegirangan dan bernyanyi “Halleluya!” Dan kemudian dia menaruh kepingan emas itu di dadanya dan pulang kembali dan pergi tidur. Dia meletakkan kepingan emas itu di dekatnya, diatas bantal meditasinya, dan pergi tidur.

Tetapi pada saat dia bangun, emasnya tidak ada lagi.(Gelak tawa) Tentu saja! Mungkin inisiat yang lain telah mengira itu adalah mainan anak-anak dan membawanya pulang atau ada orang lain yang mengambilnya, tetapi dia tidak tahu siapa. Karena pengemis itu tidur dimana saja: di depan pasar swalayan, di kolong jembatan, di depan bioskop, di tanah lapang, dimana saja! Maka bila dia meletakkan sekeping emasnya di sana, orang dapat saja menbawanya pergi. Kemudian pada hari berikutnya dia kembali lagi dan meminta sekeping emas yang lain dari sang jutawan.

Dan sang jutawan bertanya, “Kenapa? Saya baru saja memberimu sekeping kemarin. Apa yang kamu perbuat dengannya?” Maka pengemis itu berkata, “Ya, kemarin saya memperolehnya, saya meletakkannya di samping saya, dan saya menutup mata, dan pada saat saya membuka mata, emasnya menghilang. Maka hari ini saya harus kembali lagi untuk sekeping yang lain.”

Saat sang jutawan mendengar ini, dia menjadi tercerahkan! (Gelak tawa) Dia menyadari Kebenaran mengenai segala hal di dunia ini: Hari ini kalian memilikinya; besok kalian tidak memilikinya lagi. Atau kalian mungkin memilikinya sekarang, tetapi sesudahnya kalian tidak memilikinya lagi. Dia tiba-tiba menjadi tercerahkan, bahwa kita seharusnya tidak terikat pada semua barang milik di dunia ini.

Dan setelah itu, dia mengubah sikapnya. Dia mulai memberikan amal kepada orang dan hidup dengan wajar, hidup santai. Dia tidak lagi melekat kepada emas atau uang. Orang di sekitarnya mengira bahwa pengemis itu adalah seorang makhluk Surgawi yang telah menjelmakan dirinya sendiri kedalam seorang manusia dengan tujuan untuk mengajarkan sang jutawan pelajaran mengenai ketidakmelekatan, dan mungkin pencerahan. (Tepuk tangan)

Buku ini (Guru mengangkat buku yang telah Dia baca) benar-benar bermanfaat bagi saya, dan merupakan guru saya. Setelah saya membaca buku ini, saya juga menjadi tercerahkan; saya juga menjadi sangat tidak melekat. Saya tidak lagi berpikir mengenai uang atau emas karena saya tidak memilikinya satupun! (Guru dan semua orang tertawa. Pendengar bertepuk tangan.)

Saya dilahirkan dengan tidak membawa emas, dan saya akan meninggalkan dunia ini dengan tidak membawa emas. Apapun yang saya peroleh adalah milik kalian. Itu milik dunia. Seperti halnya kalian mengambilnya di sini dan memberikannya di sana. Sama halnya dengan setiap dari kita. Kita mengambil air dari sungai, menyimpannya dalam sebuah tangki air, dan kemudian air itu didistribusikan ke seluruh desa atau kota.

Kita harus menjalani hidup kita bagaikan sebuah tangki air. Apapun yang kita peroleh adalah untuk dibagikan. Kita hanyalah penerima. Sebagai contoh, saya mempunyai banyak uang, tetapi saya tidak pernah merasa bahwa saya memilikinya.. Amat melegakan. Kalian tidak khawatir karena kalian sudah tidak menganggap bahwa itu adalah milik kalian. Jadi, apakah itu ada di sana atau tidak, itu tidak menjadi persoalan.

Sumber : Pengemis dan Jutawan

<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main