Kecerdasan Anak Bisa Berbeda-beda
Kecerdasan Anak Bisa Berbeda-beda
27 Mei 2005 07:39:36
KEINGINAN orangtua mencetak anak-anaknya menjadi bibit unggul semakin besar. Orangtua, terutama yang datang dari kalangan mampu secara finansial, seakan tidak ingin melewatkan kesempatan memaksimalkan potensi anak mereka.
Gayung pun bersambut, ditandai mulai bermunculannya berbagai jenis sekolah untuk memenuhi “ambisi” para orangtua itu.
Hal ini, misalnya, tercermin dalam satu seminar bertajuk “Multiple Intelegence”. Ruang Sekolah Bina Nusantara, Jakarta, Jumat (20/5) pekan lalu, disesaki pengunjung seminar yang sebagian besar adalah ibu-ibu muda yang menebarkan harum parfum, berpakaian dan berpotongan rambut trendi. Selain orangtua murid, hadir pula para pengelola lembaga pendidikan.
Salah seorang ibu, misalnya, bertanya tentang bagaimana cara melihat kecerdasan sejati serta bakat anaknya sedari dini. “Terkadang anak bisa suatu saat menyukai suatu kegiatan kemudian bosan dan ditinggalkan. Anak saya sempat senang sekali bermain piano, tapi tahu-tahu dia bosan. Bagaimana mengatasinya?” kata sang ibu. Pertanyaan seputar memaksimalkan potensi anak-anak mereka juga muncul dari para peserta lain.
MENJAWAB serbuan pertanyaan tersebut, psikolog Sarlito Wirawan lebih menekankan pada keragaman jenis kecerdasan yang pada dasarnya berdiri sendiri. Mengutip Howard Gardner dengan teorinya, multiple intelligence, Sarlito mengungkapkan bahwa kecerdasan dapat dikelompokkan dalam beberapa bagian, yakni natural, numerical, physical, social, motion, spatial, self analitical, musical, dan verbal.
Hanya saja, dunia pendidikan di Tanah Air masih menggunakan faktor lama, yakni IQ yang berlaku umum. Dalam pandangan kecerdasan umum itu, pengelompokannya ialah IQ di atas 120 dianggap mampu memecahkan segala masalah. Ujungnya, anak masuk ke jurusan ilmu pengetahuan alam alias IPA di sekolah dan dianggap sebagai jaminan kesuksesan masa depan.
Tak heran bila kemudian setiap orang menginginkan anaknya masuk jurusan IPA. Sementara IQ sama dengan 100 digolongkan biasa-biasa saja dan kemudian masuk jurusan ilmu pengetahuan sosial alias IPS. Kelompok IQ di bawah 90 dikelompokkan sebagai terbelakang dan masuk sekolah luar biasa.
Paradigma tersebut membuat anak dipompa terus dengan pelajaran sekolah dan dijejali berbagai les bahasa dan matematika yang mengacu kepada otak kiri, tetapi tidak memberi kesempatan perkembangan otak kanan. Anak yang berbakat seni atau olahraga terhambat demi mencapai nilai matematika yang tinggi. Akibatnya, anak tidak mempunyai keunggulan atau tidak percaya diri. Ada pula yang kemudian malah bermasalah, seperti terjerat narkoba atau tawuran.
“Sebetulnya pemerintah sudah berupaya mengubah paradigma itu. Hanya saja, orangtua atau masyarakat sendiri belum bisa menerima. Pada dasarnya tidak mungkin IQ tinggi di semua bidang. Mozart, misalnya, mempunyai kecerdasan musikal yang tinggi tetapi kecerdasan sosial dan matematikanya tidak tinggi,” katanya.
Pendidikan formal juga bukan yang utama karena hanya memberikan kemampuan skolastik dasar. Ada penelitian yang menyebutkan keberhasilan seseorang hanya 20 persen ditentukan oleh IQ, selebihnya oleh kecerdasan emosional. Kecerdasan emosi itu ditandai dengan pengenalan terhadap emosinya sendiri dan mampu mengembangkan diri. Bahkan, kemudian muncul kecerdasan spiritual yang sangat populer walaupun belum ditemukan bukti-bukti ilmiahnya dan tidak terukur. Umumnya, spiritual quotion dikaitkan dengan kepercayaan terhadap agama tertentu.
LANTAS bagaimana mengembangkan multiple intelligence tersebut?
Sarlito berpendapat, biarkan anak menemukan bakat dan minatnya sendiri. Minat tersebut bukan sekadar ikut-ikutan atau coba-coba. Keseriusan anak akan terlihat dalam upayanya menekuni minat tersebut.
Kemudian, fokuskan minat tersebut dengan berlatih serius setiap hari, membaca dan mengumpulkan segala informasi tentang minat tersebut. Anak dapat juga diikutkan sanggar, lomba, atau pendidikan yang sesuai. Orangtua juga perlu memberikan dukungan dan bimbingan kepada anak pada masa usia balita dan usia sekolah dasar. Pada masa itu orangtua dapat memberikan contoh dan penanaman nilai-nilai yang baik sebagai dasar peningkatan kecerdasannya.
“Sayangnya yang terjadi kerap kali tidak demikian. Entah karena kesibukan, kebanyakan orangtua meninggalkan anak balita atau anak usia sekolah dasarnya di bawah pengasuhan orang lain, seperti pembantu. Setelah anak beranjak remaja, yakni memasuki usia sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas, baru diawasi secara ketat. Anak menjadi tidak nyaman dan dapat mengurangi rasa percaya diri,” katanya.
Sekarang, tinggal Anda-para orangtua-hendak dibawa ke mana anak-anak itu? (INE)
Sumber : Kompas
