Ilmu Padi

January 11, 2006

Adab Berdo’a

Filed under: Religi

Adab Berdo’a

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas 13 mengutip perkataan Ka’ab Al-Akhbar; “Kalian (ummat Islam) diberi tiga kelebihan yang tidak pernah diberikan kepada ummat sebelumnya (1) Para Rasul terdahulu diutus hanya untuk satu ummat tertentu, tetapi kalian menjadi saksi untuk seluruh ummat manusia, (2) Ummat terdahulu tidak diberi kelonggaran dalam menjalankan agamanya, sedangkan kalian mendapatkannya, (3) Ummat terdahulu hanya dikabulkan do’anya melalui Rasul mereka, tetapi kalian diberi perintah “Berdo’alah kalian masing-masing, niscaya Aku mengabulkan do’a kalian.” 14,15

Dengan keterangan ini, alangkah ruginya bila kita tidak mengamalkan perintah berdo’a setiap saat selama Allah SWT menghendaki dan seyogya-nyalah kita memperhatikan keutamaan dan adab berdo’a supaya selaras dengan maksud dan faedah do’a seperti yang Allah kehendaki.

Beberapa ayat Al-Quran menjelaskan bagaimana sikap batin ketika berdo’a, sebagaimana firman-Nya; “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap (akan terkabulnya do’a) dan cemas (dari adzab-Nya). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” 16

Dalam ayat ini dijelaskan tentang sikap sebelum dan ketika berdo’a yaitu bersegera dalam melakukan amal shalih serta sikap hati yang khusyu’ mengharap keridlaan Allah SWT dengan penuh harap (optimis) akan terkabulnya do’a kebaikan tersebut dan merasa takut akan adzab neraka, sehingga bersungguh-sungguh memohon untuk dijauhkan darinya.

Imam Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin” me-ngemukakan adab berdo’a antara lain:

1) Hendaklah melakukannya pada waktu yang uta-ma, seperti Hari Arafah, Bulan Ramadlan, Wak-tu Sahur, Hari Jum’at dll.

2) Dilakukan dengan penuh khidmat, misalnya ke-tika bersujud dalam ketenangan hati.

3) Menghadap kiblat disertai penyerahan diri ke-pada Allah.

4) Merendahkan suara agar lebih terasa pengha-yatan dari do’a tersebut.

5) Menggunakan bahasa yang sederhana tetapi me-ngandung maksud yang disampaikan, dan lebih utama dengan do’a-do’a yang ma-tsur dari Nabi SAW.

6) Tawadlu’ dan khusyu’.

7) Meyakini do’anya pasti dikabulkan Allah dan tidak merasa bosan bila do’anya belum terkabul.

8) Selalu optimis dan penuh harap sehingga terus mengulangi do’a-do’anya.

9) Hendaklah memulai do’a dengan menyebut as-ma Allah, Hamdallah dan Shalawat pada Nabi SAW.

10) Sebelum berdo’a diperintahkan untuk melaksa-nakan tazkiyatun Nafsi (Pembersihan Jiwa) dari perbuatan yang menghalangi terkabulnya do’a, misalnya dengan taubat, tidak memakan harta yang haram atau tidak berdo’a yang mustahil menurut akal dan mencelakakan orang lain ke-cuali karena didzalimi. 17

Ulama lainnya juga mengemukakan pedoman berdo’a seperti Ahmad Ibnu Taimiyah Al-Haramy dan Muhammad Bin Abdul Wahab An-Najdi dalam kitabnya “Majmu’at At-Tauhid” menyusun delapan belas cara berdo’a yang langsung diambil dari Ha-dits Nabi SAW, di antaranya;

*
* “Ada seorang lelaki yang masuk masjid, kemudian shalat dan berdo’a dengan tergesa-gesa, maka Rasulullah SAW menegurnya; “Janganlah kamu tergesa-gesa, shalatlah dengan tenang, lalu duduklah, memuji Allah (bertahmid) dengan me-nyebut asma-Nya, bershalawat untukku barulah berdo’a sesuai kehendakmu !” Kemudian datang seorang lainnya, dia bertahmid, bershalawat atas Nabi SAW, maka Nabi SAW berkata kepadanya; “Hai Mushalli, berdo’alah kamu, pasti akan terkabul, bila engkau duduk mulailah dengan memuji Allah, membaca shalawat atasku kemudian berdo’alah untuk dirimu.” Lalu Nabi SAW ber-sabda: “Mintalah, pasti diberi, sesungguhnya do’a itu terdiam antara langit dan bumi, tidak ada yang bisa mengangkatnya selain mengucapkan shalawat atas Nabimu.”
* “Adalah Rasulullah SAW gemar sekali pada kalimat do’a yang singkat tetapi meliputi semua maksud dalam do’a dan meninggalkan selain itu.”18
* “Jangan suka berdo’a yang tidak baik terhadap dirimu sendiri atau anak-anakmu atau harta milikmu, mungkin saja do’amu bertepatan saat Allah menerima do’a, maka dikabulkanlah do’a tersebut.” 19
* “Selalu diterima do’a seseorang selama tidak tergesa-gesa dengan berkata; “Saya telah ber-do’a tetapi tidak dikabulkan juga.” 20
* “Do’a seorang muslim untuk saudaranya diluar pengetahuan orang yang dido’akan itu mustajab, di atas kepala orang yang berdo’a itu malaikat muwakkal mengucapkan setiap kali do’a keba-ikan untuk saudaranya: AMIN WA LAKA BIMITS-LIK (Semoga diterima dan untukmu seperti itu).” 21
* “Berdo’alah kepada Allah dengan keyakinan pasti dikabul, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan do’a seseorang yang hatinya lalai.” 22
* “Apabila seorang hamba berkata; “Ya Rabby, Ya Rabby, Allah akan menjawab; Labbaik hamba-Ku, mintalah, pasti Aku beri.” 23
“Adalah Rasulullah SAW menganjurkan un-tuk mengakhiri do’a seseorang bertanya; “Dengan apa mengakhirinya?” Beliau menjawab: “Dengan Amien (semoga Allah mengabulkan).” 24

Sumber : Doa

<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main