[tips kepenulisan] BELAJAR MENULIS PADA AL-QUR’AN
[tips kepenulisan] BELAJAR MENULIS PADA AL-QUR’AN
tips kepenulisan
BELAJAR MENULIS PADA AL-QUR’AN
penulis : Mohammad Fauzil Adhim
makalah Gebyar FLP 2005
Tokyo - Komaba, 3 Desember
—————————————————-
Betul sekali. Saya seorang muslim, karena itu kebiasaan dasar yang harus saya miliki agar bisa berislam dengan baik adalah membaca dan menyampaikan ilmu melalui tulisan. Ayat yang pertama turun menyuruh kita membaca. Bukan shalat atau berpuasa! Allah menurunkan ayat-ayat pertamanya juga dengan menggunakan kata bertutur yang menarik, dan kalau engkau ingin mengajak orang kepada Islam sistematika ini harus engkau perhatikan. Allah memperkenalkan diri-Nya dengan menggunakan kata “rabb”. Bukan Allah. Rabb artinya Tuhan. Kalau ditelisik lagi berkait dengan tauhid rububiyah, meyakini bahwa yang menciptakan dan merawat alam semesta seisinya adalah tuhan. Tuhan yang mana? Nanti dululah. Yang jelas Tuhan Yang Maha Menciptakan, Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Begitu seterusnya sampai akhirnya Allah tunjukkan bahwa rabb yang dimaksud adalah Allah, satu-satunya yang layak menjadi al-ilah (tuhan yang disembah dan dipatuhi).
Kalau engkau punya waktu sejenak saja untuk mempelajari sistematika turunnya wahyu, akan engkau dapati pelajaran-pelajaran berharga yang luar biasa. Belum lagi kalau kita mempelajari tafsirnya, semakin banyak yang tergali dan semakin terbentang petunjuk yang bisa kita dapatkan. Begitu juga jika engkau mau meluangkan waktu sejenak untuk menyimak stilistika Al-Qur’an, bertumpuk pelajaran psikologi komunikasi yang akan engkau dapatkan.
Maaf, saya menggunakan kata bertumpuk karena kerap saya jumpai kita memperoleh banyak pelajaran melalui berbagai seminar yang digelar, tapi hanya kita tumpuk saja; di meja atau di otak kita. Bukan kita gunakan untuk menggerakkan diri kita sehingga melahirkan kekuatan dahsyat yang luar biasa.
Ah, saya ingin bincang-bincang sejenak tentang ini. Satu syaratnya, engkau percaya bahwa surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an semuanya mengajak kepada iman dan taqwa, mendekati surga dan menjauhi neraka, menggemarkan berbuat baik dan menjauhi perbuatan maksiat yang menyebabkan dosa, mempercayai adanya hari kiamat dan surga yang kekal abadi serta pengadilan yang tak seorang pun bisa lari (termasuk koruptor yang sekarang masih terlindungi, juga nggak bisa lari). Engkau percaya ini? Kalau percaya, mari kita teruskan. Kalau tidak, sampai jumpa di lain kesempatan.
Yupp, naam. Benar sekali setiap surat dalam Al-Qur’an selalu mengajak kepada iman dan amal shaleh serta mensucikan tauhid dan membersihkan diri dari syirik? Tapi periksa judul surat dalam Al-Qur’an! Berapa yang berhubungan dengan tauhid? Hanya sekitar sepuluh persen. Tepatnya? Coba kita hitung.
Mari kita periksa nama surat-surat permulaan dalam Al-Qur’an. Ah, ya…. Betul sekali. Al-Faatihah –The Opening—sesuai namanya menjadi pembuka. Surat kedua Al-Baqarah, Sapi Betina, tetapi bukan tentang peternakan sapi. Struktur surat ini juga unik. Jika engkau ingin bikin tulisan persuasif, alur penuturan surat ini bisa engkau tiru. Ingat hasil penelitian tentang persepsi terhadap sifat orang, kan? Itu lho penelitian eksperimental Solomon E. Asch tentang bagaimana rangkaian kata sifat menentukan persepsi orang. Jika saya ceritakan kepadamu bahwa calon isterimu cerdas, rajin, lincah, kritis, kepala batu dan dengki, engkau akan membayangkan dia sebagai orang yang “bahagia”, humoris, dan “mudah bergaul”. Tetapi jika engkau membalik rangkaian kata itu mulai dari dengki, kepala batu dan seterusnya, kesanmu tentang dia segera berubah. Menurut Solomon E. Asch, kata yang engkau dengar pertama kali akan mengarahkan pada penilaian selanjutnya. Kata “kritis” pada rangkaian pertama mempunyai konotasi positif; pada rangkaian kedua, negatif. Pengaruh kata pertama ini, kata Jalaluddin Rakhmat dalam buku Psikologi Komunikasi (o ya, saya kutip penelitian Asch dari buku Kang Jalal ini), kemudian terkenal sebagai primacy effect. Dalam beberapa kesempatan, saya penelitian eksperimental Asch ini saya ulang dan hasilnya… hampir semua sama, kecuali ketika saya cobakan pada ustadz-ustadz Hidayatullah (mereka memelototi cukup lama sebelum memutuskan).
Satu lagi. Jika engkau menghadapi orang yang membantah pendapatmu, atau ingin menyampaikan gagasan kepada orang lain, mulailah dari yang positif dan menimbulkan hasrat untuk mencapainya. Bukan hal-hal negatif yang ingin kita jauhi, sebab otak kita cenderung bekerja lebih efektif pada pesan-pesan positif. Komentar “Masakanmu enak sekali hari ini. Kalau garamnya dikurangi sedikit, pasti lebih enak” insya-Allah akan segera membuat isterimu tersenyum lebar selebar-lebarnya. Tetapi tidak demikian ketika engkau mengatakan, “Lain kali kalau kasih garam jangan terlalu banyak. Pasti masakanmu akan lebih enak lagi.” Apalagi kalau engkau berkata, “Kamu itu tahu bedanya gula dengan garam nggak, sih? Bikin masakan kok terlalu asin?”
Bisa merasakan bedanya ketiga kalimat tadi? Saya harap engkau dapat merasakan. Kalau tidak, cobalah. Kalau sulit, mungkin engkau belum menikah. “Oh, tidak. Saya sudah menikah,” barangkali ada yang protes begitu. Kalau benar sudah menikah, ada satu pertanyaan buatmu, “Seberapa baik engkau mengenal isterimu sehingga sulit merasakan perbedaan akibat dari ketiga kalimat yang mungkin paling sering engkau ungkapkan?”
Baiklah, saya tidak berpanjang-panjang dengan ini. Kita bukan sedang berbicara pernikahan (maafkan saya kalau contoh yang saya berikan berbau pernikahan). Saya paparkan contoh-contoh tersebut untuk mengajak melihat kekuatan pendekatan positif. Gaya bertutur Al-Baqarah begitu. Pertama, menyebut golongan muttaqin, berlanjut dengan menyebut iman dan golongan orang-orang beruntung (muflihun) yang secara keseluruhan menunjukkan ciri orang-orang mukmin. Kedua, menyebut golongan orang-orang kafir dan munafik. Sesudah itu menginjak bagian berikutnya, mulai memasuki ayat-ayat yang berisi perintah. Sebagaimana bagian sebelumnya, bagian ini juga dimulai dengan perintah bagi orang-orang yang beriman, lalu diikuti dengan tantangan bagi orang-orang musyrik; balasan bagi orang-orang yang beriman, perumpamaan dalam Al-Qur’an dan hikmah-hikmahnya, bukti-bukti keesaan Allah, penciptaan manusia dan penguasaannya di muka bumi, lalu berlanjut dengan peringatan kepada Bani Israel. Berikutnya masih panjang, tetapi engkau bisa memeriksa langsung Al-Qur’an yang ada di tanganmu.
Coba perhatikan, misalnya, surat Al-Ikhlash. Surat ini membantah perkataan manusia bahwa Tuhan beranak dan diperanakkan. Tapi lihat, bagaimana Al-Qur’an memulai bantahannya? Pertanyaan positif. Bukan bantahan yang bersifat negasi. Pada kalimat ketiga baru Allah ‘Azza wa Jalla menggunakan kalimat negatif. Lengkapnya, mari kita perhatikan: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Esa//Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu//Tidaklah Dia beranak dan tidaklah Dia diperanakkan//Dan tidaklah ada seorang pun yang setara dengan Dia//”. (QS. Al-Ikhlash: 1-4).
To make the story short, ada beberapa hal yang kita pelajari. Pertama, tulisan yang islami dan kita maksudkan untuk berdakwah secara keseluruhan harus berisi hal-hal yang baik. Sedangkan cara mengkomunikasikan sangat berkait dengan pembaca sasaran (target readers). Tulisan yang islami tidak mesti bertabur dengan dalil dan kalimat-kalimat yang bisa bikin pening orang apabila belum akrab. Kita mulai dari hal-hal yang pembaca lebih mudah menerima.
Kedua, selalu pertimbangkan judul yang hidup, menggugah, romantis dan sesuai dengan konteks zamannya. Kalau mau mengajak anak-anak ABG yang biasa nongkrong di kafe-kafe mall untuk berjilbab, bikinlah judul “Suer! Gue Cantik Banget”. Bukan “Urgensi Hijab bagi Ukhti Muslimah” (awas, mereka bisa lari terbirit-birit). Rasulullah saw. bilang, “Mudahkan dan janganlah engkau mempersulit. Gembirakanlah dan jangan engkau buat mereka lari.” Ini prinsip komunikasi dan sekaligus sikap dakwah. Maka, mulailah buku “Suer! Gue Cantik Banget” dari hal-hal positif yang dekat dengan dunia mereka (Thanks God You Make Me Pretty, Are You Pretty Enough, The Real Beauty –kalau engkau setuju dengan pembagian bab ini—baru memasuki bab yang bertutur tentang kenapa mereka harus berjilbab, misalnya dengan judul bab “Beautiful Forever”).
Kitab para ulama terdahulu banyak yang menggunakan judul indah dan romantis. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis buku dengan judul yang sangat indah Raudhatul Muhibbin. Taman Orang-orang Jatuh Cinta. Bukan “Rambu-rambu Islam bagi Orang yang Sedang Jatuh Cinta”. Ihya ‘Ulumuddin (Menghidupkan ‘Ilmu-‘ilmu Agama) merupakan kitab fenomenal Imam Al-Ghazali. Judulnya hidup dan positif. Bukan Rudud ala Abathil. Bantahan terhadap Pendapat-pendapat yang Sesat. Emm… saya bukan menolak kitab yang sangat berharga ini. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa judul semacam Rudud ala Abathil biasanya sulit menjadi karya fenomenal dan legendaris.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, buku Mbak Asma Nadia berjudul Jangan Jadi Muslimah Nyebelin rasanya akan lebih menggugah minat baca (dan beli) kalau menggunakan judul positif. Saudara-saudara kita yang masih pacaran, setidaknya masih menyimpan sebuah nama di hatinya dengan perasaan yang amat mendalam, tidak akan menyentuh buku “Islam Menolak Pacaran”, kecuali kalau mereka sudah ada keinginan untuk bertaubat. Sementara buku Wanita Mengapa Merosot Akhlaknya, rasanya hanya para murabiyyah yang akan bergegas membaca buku tersebut. Bukan mutarabi. Apalagi yang masih muter-muter.
Ketiga, biasakan menggunakan pendekatan positif. Sebuah Cerpen atau bahkan novel yang baik tidak mutlak membutuhkan tokoh antagonis yang bikin eneg. Ingat penelitiannya David McClelland. Tulisan yang secara keseluruhan inspiring good ‘menggugah inspirasi yang baik”, jauh lebih bergizi bagi jiwa daripada kisah yang suddenly good. Habis mabuk-mabukan, susah dinasehati, kacau balau hidupnya, lalu secara spontan berubah jadi orang baik tanpa kita bisa mempelajari prosesnya.
Uff! Masih banyak sekali yang perlu kita perbincangkan. Al-Qur’an memang tak akan pernah habis kalau kita mau menggali dan menggali terus. Apalagi kalau yang menggali sangat akrab dengan Al-Qur’an dan memiliki ilmu tafsir yang memadai. Kedua hal ini, belum ada pada saya. Karena itu, cukup sekian dulu, ya. Insya-Allah saat dialog bisa kita sambung.
Haik!!!
Sumber : flp jepang
