Penulis Cerpen
Rabu, 09 Oktober 2002
Penulis Cerpen
Punya Imajinasi, Kreatif, dan Cerdik Membaca Lingkungan
Setiap orang pasti memiliki jalan cerita. Namun, tidak setiap anak manusia menorehkan pengalaman jalan cerita hidupnya lewat tulisan berbentuk cerita pendek (cerpen). Lebih sedikit lagi, tidak semua orang menjadikan aktivitas menulis cerpen sebagai profesi hidup. Padahal, penghasilan seorang penulis cerpen cukup lumayan untuk dijadikan sandaran hidup.
Bayangkan. Apabila berhasil menggelitik decak kagum redaktur media massa, karya seorang cerpenis dihargai dengan bayaran cukup besar. Sebuah cerpen mendapat harga antara Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu apabila berhasil dimuat pada media massa. ‘’Jumlah besar kecilnya bayaran sangat tergantung pada media mana yang dituju,'’ tandas Asma Nadia, penulis cerpen kawakan.
Reward (penghargaan) seorang penulis cerpen tak cukup sampai di situ. Sang cerpenis dapat pula memanjangkan tulisan cerita menjadi sebuah cerita bersambung yang diterbitkan secara berkala. Bayaran untuk ini lebih besar lagi. ‘’Bila lolos dari penilaian redaksi, cerita bersambung biasanya diterbitkan dalam 20 epidose,'’ ujar Asma. ‘’Setiap episode, cerpenis akan mendapatkan bayaran sebesar Rp 200 ribu'’.
Selanjutnya karya seorang penulis cerpen dapat dijadikan buku dalam bentuk antalog yang bersanding dengan karya-karya cerpenis terkenal. Atau, sang penulis cerpen juga dapat mengumpulkan karyanya lalu dijadikan sebuah buku berupa kumpulan cerpen. ‘’Setiap cerpenis mendapat 10 persen dari harga buku yang terjual,'’ ungkap Asma yang telah menghasilkan sekitar 60 karya yang tersebar di sejumlah media massa.
Bayaran seorang penulis cerpen memang cukup besar. Namun demikian, menjadi cerpenis handal tidak gampang. Ada dua jalur yang dapat ditapaki seseorang yang ingin merajut karier sebagai cerpenis. Pertama, seseorang dapat merintis profesi penulis cerpen melalui jenjang pendidikan resmi, yakni melalui kuliah di fakultas sastra.
Kedua, dia dapat belajar menulis cerpen secara otodidak. ‘’Dan bagusnya, dua cara itu mesti ditempuh sehingga bisa dipadankan antara teori dengan pengalaman,'’ ucap cerpenis yang memiliki dua anak ini.
Terlepas dari jalur mana yang ditempuh, ada syarat utama yang mesti dimiliki oleh seorang cerpenis. Yaitu, mencintai bahasa dan budaya membaca. ‘’Dengan kecintaan tersebut, sang cerpenis mampu mengeksplorasi bahasa sehingga tidak miskin kata,'’ tegas Asma yang telah menciptakan 16 buku sejak dua tahun lalu.
Aktivitas diskusi pun menjadi syarat utama lainnya. Melalui kegiatan sharing<.I> pemikiran ini, sang penulis cerpen dapat berbagi pengalaman sehingga menemukan ide-ide baru. ‘’Dalam suatu diskusi, karya cerpenis bisa mendapat berbagai masukan yang membangun,'’ imbuh Asma yang menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Profesi penulis cerpen merupakan profesi yang dilakukan secara freelance<.I>. Artinya, tidak selamanya karya seorang cerpenis dimuat di media massa sesuai harapan. Karena itu, motivasi sangat dibutuhkan sekali oleh para penulis cerpen untuk tetap konsisten melayangkan karyanya ke sejumlah media massa. ‘’Jadikan aktivitas menulis cerpen sebagai sebuah ibadah,'’ saran Asma. ‘’Dengan itu, cerpenis tidak akan putus asa ketika karyanya tidak dimuat di media massa'’.
Membaca riwayat pengalaman hidup cerpenis terkenal dapat pula dijadikan sarana untuk memotivasi diri. Selain itu bergabung dengan komunitas kepenulisanm dapat juga dijadikan ajang untuk memotivasi diri. ‘’Anggota komunitas dapat membantu kita memotivasi diri,'’ tandas Asma. ‘’Sesama anggota bisa saling memberikan bantuan teknis, seperti meminjamkan komputer'’.
Ada hal penting yang mesti diketahui oleh seorang calon cerpenis. Menulis cerpen ternyata bukanlah sebuah bakat. Terbukti, banyak cerpenis besar yang lahir bukan dari orang tua seorang cerpenis. ‘’Kemampuan menulis cerpen bisa dibentuk dan dipelajari,'’ kata Asma yang ternyata jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB). ‘’Yang terpenting, seorang cerpenis mesti memiliki daya imajinasi, kreativitas, serta kemampuan membaca lingkungan.'’ c16 ( )
Bayangkan. Apabila berhasil menggelitik decak kagum redaktur media massa, karya seorang cerpenis dihargai dengan bayaran cukup besar. Sebuah cerpen mendapat harga antara Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu apabila berhasil dimuat pada media massa. ‘’Jumlah besar kecilnya bayaran sangat tergantung pada media mana yang dituju,'’ tandas Asma Nadia, penulis cerpen kawakan.
Reward (penghargaan) seorang penulis cerpen tak cukup sampai di situ. Sang cerpenis dapat pula memanjangkan tulisan cerita menjadi sebuah cerita bersambung yang diterbitkan secara berkala. Bayaran untuk ini lebih besar lagi. ‘’Bila lolos dari penilaian redaksi, cerita bersambung biasanya diterbitkan dalam 20 epidose,'’ ujar Asma. ‘’Setiap episode, cerpenis akan mendapatkan bayaran sebesar Rp 200 ribu'’.
Selanjutnya karya seorang penulis cerpen dapat dijadikan buku dalam bentuk antalog yang bersanding dengan karya-karya cerpenis terkenal. Atau, sang penulis cerpen juga dapat mengumpulkan karyanya lalu dijadikan sebuah buku berupa kumpulan cerpen. ‘’Setiap cerpenis mendapat 10 persen dari harga buku yang terjual,'’ ungkap Asma yang telah menghasilkan sekitar 60 karya yang tersebar di sejumlah media massa.
Bayaran seorang penulis cerpen memang cukup besar. Namun demikian, menjadi cerpenis handal tidak gampang. Ada dua jalur yang dapat ditapaki seseorang yang ingin merajut karier sebagai cerpenis. Pertama, seseorang dapat merintis profesi penulis cerpen melalui jenjang pendidikan resmi, yakni melalui kuliah di fakultas sastra.
Kedua, dia dapat belajar menulis cerpen secara otodidak. ‘’Dan bagusnya, dua cara itu mesti ditempuh sehingga bisa dipadankan antara teori dengan pengalaman,'’ ucap cerpenis yang memiliki dua anak ini.
Terlepas dari jalur mana yang ditempuh, ada syarat utama yang mesti dimiliki oleh seorang cerpenis. Yaitu, mencintai bahasa dan budaya membaca. ‘’Dengan kecintaan tersebut, sang cerpenis mampu mengeksplorasi bahasa sehingga tidak miskin kata,'’ tegas Asma yang telah menciptakan 16 buku sejak dua tahun lalu.
Aktivitas diskusi pun menjadi syarat utama lainnya. Melalui kegiatan sharing<.I> pemikiran ini, sang penulis cerpen dapat berbagi pengalaman sehingga menemukan ide-ide baru. ‘’Dalam suatu diskusi, karya cerpenis bisa mendapat berbagai masukan yang membangun,'’ imbuh Asma yang menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Profesi penulis cerpen merupakan profesi yang dilakukan secara freelance<.I>. Artinya, tidak selamanya karya seorang cerpenis dimuat di media massa sesuai harapan. Karena itu, motivasi sangat dibutuhkan sekali oleh para penulis cerpen untuk tetap konsisten melayangkan karyanya ke sejumlah media massa. ‘’Jadikan aktivitas menulis cerpen sebagai sebuah ibadah,'’ saran Asma. ‘’Dengan itu, cerpenis tidak akan putus asa ketika karyanya tidak dimuat di media massa'’.
Membaca riwayat pengalaman hidup cerpenis terkenal dapat pula dijadikan sarana untuk memotivasi diri. Selain itu bergabung dengan komunitas kepenulisanm dapat juga dijadikan ajang untuk memotivasi diri. ‘’Anggota komunitas dapat membantu kita memotivasi diri,'’ tandas Asma. ‘’Sesama anggota bisa saling memberikan bantuan teknis, seperti meminjamkan komputer'’.
Ada hal penting yang mesti diketahui oleh seorang calon cerpenis. Menulis cerpen ternyata bukanlah sebuah bakat. Terbukti, banyak cerpenis besar yang lahir bukan dari orang tua seorang cerpenis. ‘’Kemampuan menulis cerpen bisa dibentuk dan dipelajari,'’ kata Asma yang ternyata jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB). ‘’Yang terpenting, seorang cerpenis mesti memiliki daya imajinasi, kreativitas, serta kemampuan membaca lingkungan.'’ c16 ( )
Sumber : Republika
