Ilmu Padi

February 8, 2006

Al-Qadli

Filed under: Religi

Ulama besar Al-Qadli Abu Bakar Mu­hammad bin Abdul Baqi bin Mu­hammad Al-Bazzar Al-Anshari mempunyai pengalaman yang cu­kup menarik "Dulu, aku pernah berada di Makkah semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menjaganya, suatu hari aku merasa­kan lapar yang sangat. Aku tidak mendapat­kan sesuatu yang dapat menghilangkan la­parku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutra yang diikat dengan kaos .kaki yang terbuat dari sutra pula.
Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Ketika aku buka, di dalam­nya ada sebuah kalung permata yang tak per­nah aku lihat sebelumnya. Lalu, barang ter­sebut aku simpan dalam lemari. Lalu aku ke­luar rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan, "Barang siapa yang menemukan dan me­ngembalikan kantong sutera berisi permata, maka dia akan mendapatkan uang 500 dinar."
Aku berkata dalam hati, "Aku sedang membutuhkan, aku ini sedang lapar. Aku bi­sa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan. Tapi, dalam hati kecilku le­bih baik mengembalikan kantong sutera ini padanya." Maka aku berkata pada bapak tua itu, "Hai Pak tua, kemarilah. Kantong Bapak aku temukan dan sekarang sudah aku sim­pan di rumah."
"Kalau begitu cepat tolong, bawa aku ke rumahmu," kata orang tua itu.

NAIK PERAHU
Aku pun membawanya ke rumahku. Se­tibanya di rumah, dia menceritakan padaku ciri-ciri kantong sutera itu, ada kaos kaki pengikatnya dan permata. Maka aku mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya, "Alhamdulillah barangku telat kembali," kata Pak Tua ini.
Tak lama kemudian, dia memberikanku uang lima ratus dinar, "Kalau begitu terimalah ini sebagai hadiah," katanya.
Sebetulnya, aku butuh, tapi aku tidak mau mengambilnya. "Memang seharusnya aku mengembalikan barang ini kepadamu tanpa minta upah dari Bapak" kataku.
Ternyata dia bersikeras. Meski sudah aku tolak di tetap saja memaksakan, "Kau harus mau menerimanya." katanya sambi memaksaku terus-menerus. Aku tetap pada pendirianku, tak mau menerima. Akhirnya bapak tua itu pun pergi meninggalkanku Entah ke mana tujuannya.
Beberapa saat setelah kejadian tersebut aku keluar dari Kota Makkah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut, perahu tumpa ngan itu pecah, orang-orang semua tenggelarT dengan harta benda mereka. Tetapi, aku se lamat, dengan menumpang potongan papar clan pecahan perahu itu. Entah sudah berapa hari aku di Laut. Dan aku tidak tahu sekarang posisiku di mana," Alhamdulillah, setelah beberapa hari hanya melihat air saja, akhirnya aku bisa melihat pulau," kataku dalam hati.
Akhirnya aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk cukup banyak. Setelah sampai di darat aku menuju di sebuah masjid. Sesu­dah itu aku menjalankan salat. Kemudian aku membaca ayat suci Aiquran dengan suara agak keras.
Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya. Maka semua penduduk yang berada di pulau itu datang kepadaku. Dan salah satu penduduk itu ternyata orang tua yang kehilangan permata beberapa hari yang lalu. Salah satu dari mereka berkata, "Ajarkanlah Aiquran kepadaku." Aku penuhi permintaan mereka.

DISURUH MENIKAH
Dari mereka aku mendapat harta yang banyak. Lalu salah satu dari mereka berta­nya, "Kau bisa menulis?" Aku menjawab, ‘Ya’. Orang yang berjubah putih itu bertanya lagi, "Kalau begitu, ajarilah kami menulis.” Tak lama kemudian, orang tersebut memerintahkan semua penduduk untuk mengikuti belajar menulis. Mereka pun datang dengan anak-anak juga dan para remaja mereke. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu juga aku mendapat banyak uang. "Alhamdulillah dari mengajar itu aku bisa mendapatkan uang banyak. Mereka memberi uang dengan suka rela," kataku.
Setelah itu dia berkata lagi, "Kami mempunyai seorang puteri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?”
Mendapat permintaan tersebut, aku menolak. Namun, mereka terus mendesak, "Tidak bisa, kau harus mau." Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga.
Ketika mereka membawa anak perempuan itu kehadapanku, aku pandangi dia Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di lehernya. Melihat tingkah lakuku itu, Pak Tua itu berkata, "Sungguh, kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini Kau hanya memperhatikan kalung itu daripada memperhatikan orangnya," katanya.
Maka aku ceritakan kepada mereka, tentang kisahku dengan kalung tersebut Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk setempat. "Ada apa dengan kalian?” kataku bertanya.
Mereka menjawab, "Tahukah engkau bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini.”
Dia pernah mengatakan, "Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku."
Dia juga berdoa, "Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu, hingga aku dapat menikahkannya dengan putriku. Dan sekarang sudah menjadi kenyataan."

<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main