Ilmu Padi

February 9, 2006

An-Nifary

Filed under: Religi

Muhammad Ibnu Abdul Jabbar Bin Al Husain An-Nifary atau yang lebih dikenal An-Nifary adalah mistikus Sufi besar yang dilahirkan di Basrah, Iraq. Minimnya data disebabkan oleh pribadi an-Nifary. Sang sufi dikenal sebagai seorang yang suka menyendiri dan kesehariannya lebih dikenal sebagai pengelana.

Ketinggian ilmunya melampaui Rumi dan al Hallaj. la adalah teoretikus sufi sekaligus sastrawan besar. Di mata ahli tasawuf pan­dangan-pandangan sufistiknya sangat berpengaruh. Para sufi sesudahnya banyak yang mengikuti jejak pria kelahiran Iraq ini. Dalam memaknai tasawuf an-Nifary dipandang lebih hati-hati dan tidak kontroversial. Mes­kipun sosoknya bisa dibilang agak sulit.

Karya-karyanya juga penuh dengan perjalanan spiritual yang mengagumkan. Tidak kalah jauhnya dengan pengembaraan­nya di dunia nyata. Tahap demi tahap dilakukannya sampai pada puncak yang paling tinggi. Tokoh ini terasa unik. Berbeda dengan Sufi lainnya, dalam diri an-Nifary ada dua ke­lebihan. Di dunia sastra sufi, an Nifary sama seperti ar Rumi maupun al Aththar. Diban­ding dengan keduanya, karya an-Nifary lebih mendalam. Pertama, ia seorang sastrawan sufi. Kedua, ia seorang teoretikus mistik.

SEORANG SASTRAWAN

Di bidang sastra bait-bait puisinya tidak pernah luput dari pemaknaan tentang Allah. Seperti puisinya tentang penyerahan kepada Allah. Sifat pasrah berhasil diungkapkan da­lam bahasa yang indah. Puisinya menggam­barkan, bagaimana sebaiknya mengartikan kepasrahan secara mendasar. Totalitas pe­nyerahan kepada Allah akan menghasilkan pemaknaan yang benar tentang Islam.

Pengalaman spiritual dibingkai dalam bahasa sastra yang tinggi dan elok. Tidak dapat dipungkiri, nama an Nifary berderet di antara sufi-sufi agung dan sastrawan sepanjang zaman. Bait-bait puisinya tidak pernah luput dari pemaknaan tentang Allah. Seperti puisinya tentang penyerahan kepada Allah berikut ini:

Ilmu adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh perbuatan. Dan perbuatan ada­lah huruf yang tak terungkap kecuali oleh keikhlasan. Dan keikhlasan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh kesabaran. Dan kesabaran adalah huruf yang tak terungkap oleh penyerahan

Sifat pasrah herhasil diungkapkan dalam bahasa yang indah. Puisi ini menggambarkan, bagaimana sebaiknya mengartikan kepasrahan secara mendasar. Totalitas penyerahan kepada Allah akan menghasilkan pemaknaan yang benar tentang Islam. Dan itulah pula makna sujud yang dilakukan oleh umat Islam dalam salat. Tidak hanya kening yang melekat di hamparan sajadah. Tetapi jauh lagi adalah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah.

Terlepas dari itu semua, pemikiran tasawuf dengan sangat memukau. Tasawuf di kaji secara mendalam dengan argumentasi yang cerdas. Sufisme menjadi bahasa spiritual sekaligus ilmu pengetahuan. Melalui simbol-simbol tampak sekali perjalanan dan konsepnya tentang tasawuf. Meski dengan hati-hati, ia mampu menerjemahkannya dalam sebuah pola pikir yang jitu.

MEMILIH DIAM

Ada sebuah karyanya yapg penting dan da­pat dinikmati sampai sekarang. Kitab berjudul Al Mawafiq wal Mukhthabat (Posisi-Posisi dan Percakapan-Percakapan). Diakui banyak pengamat, karyanya ini sarat dengan simbol. Hasilnya bahasa-bahasa kiasan itu sering menimbulkan kontroversi. Dimungkinkan kalau tidak hati-hati akan menimbulkan pemaknaan yang salah.

Selanjutnya karya ini menjadi dua bagian penting. Namun, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Ada sebuah cerita menarik tentang karyanya ini. Menurut pen­dapat satu-satunya pemberi syarah karya an ­Nifary, Afifuddin at-Tilmisani, bahwa ia tidak menulis sendin karyanya. An-Nifary hanya mendiktekan ide dan pengalaman spin­tualnya pada sang anak. Atau ia hanya me­nulis dalam potongan-potongan kertas dan kemudian disusun kembali oleh putranya itu.

Dimungkinkan kalau karyanya ditulis dan disusun sendiri akan lebih sempurna dan indah. Dalam kitab ini juga diterangkan ten­tang ilinu dan amal perbuatan atau makrifat dengan ibadah. la mengatakan berpendapat hakikat ilmu adalah perbuatan. Hakikat per­buatan adalah keihlasan. Hakikat keikhlasan adalah kesabaran, dan hakekat kesabaran adalah penyerahan.

Baginya hakikat tidak akan terbentuk ke­cuali dengan syariat. Demikian pula ide tidak akan terlaksana kalau tidak ada penerapan dan perbuatan. Makanya, kerterkaitan antara syariat dan hakikat menjadi penting artinya. Sedang dalam kitab al Mukhathabat berisi kata-kata batin dan kata-kata yang Maha Kuasa dalam din sang sufi. Di mana dalam posisi terakhir ini an-Nifary lebih memilih diam. Pengalaman ruhani yang luar biasa ini menimbulkan spontanitas yang membuatnya menjadi gagap.

Sumber : Nurani

<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main