Ilmu Padi

February 13, 2006

Yang paling berhak dihormati

Filed under: Religi

26 January 2004 - 11:34
Yang paling berhak dihormat
Hal-hal luar biasa (23)
Yang paling berhak dihormat
*
Dari Abu Huroiroh ra ia berkata,
kali tertentu seorang lelaki
datang kepada Rosulullah saw lalu bertanya:
“Wahai Rosulullah,
siapakah yang paling berhak
aku pergauli dengan baik?”
Rosulullah saw nenjawab: “Ibumu!”
“Lalu siapa?”
Rosulullah menjawab: “Ibumu!”
Sekali lagi aku bertanya:
“Kemudian siapa?”.
Rosulullah menjawab: “Bapakmu!”
*
(HR Bukhori dan Muslim)

Tengara Hikmah
Wanita sebagai ibu adalah penentu kehidupan manusia. Sebab, dari ibulah anak manusia lahir, disusui, dibesarkan, dididik dan diarahkan kehidupannya. Itu sebabnya Islam memninggikan martabat ibu justru karena peran besarnya yang luar biasa sebagai sutradara kehidupan, bukan sebagai pemain kehidupan.
Statusnya sebagai pemimpin rumah tangga suaminya, juga tidak berarti menjadi pemimpin rumah tangga arena pemimpin rumah tagga tetap lelaki yang boleh dibilang Raja, dan sang istri adalah Ratu rumah tangga. Prialah yang tetap menjadi kholifah dan wanita dimuliakan untuk tidak menjadi orang yang berada di depan tetapi di belakang layar. Justru agar terhormat dan tidak mengundang berbagai fitnah yang selalu mudah timbul.
Ridho Tuhan tergantung ridho orangtua. Maka anak pun harus patuh pada orangtua. Teoritis, tiap muslim yang taat akan selalu menjaga moral dan perilakunya sehingga otomatis menadi teladan bagi anak, istri, maupun lingkungan masyarakatnya. Maka ibu yang terhormat pada dasarnya juga tercipta oleh suami yang terhormat, kecuali kelainan pada istri Fir’aun.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orangtua, membunuh orang, dan sumpah palsu.” (HR Bukhori).
Andai saja manusia bisa selalu menjaga mulutnya, Insya Allah manusia bisa menjadikan perkatannya sebagai kepastian yang benar. Namun mungkin hanya Rosulullah saw yang mampu bicara benar meski dalam keadaan marah. Meski demikian, merupakan kerugian besar jika ada anak yang berani membangkang pada orangtua sepanjang orangtua tersebut memang muslim yang taat.
Orangtualah yang akan menjadikan anaknya Nasrani, Majusi, atau Muslim yang sholih. Maka tetap saja orangtua tidak bisa menjadi penguasa bagi anak karena dia punya peran kehidupan, sang anak juga punya peran hidup sendiri.
Kahlil Gibran pun mengatakan orangtua itu sekedar busur, sedang anak adalah anak panah. Orangtua hanya mempersiapkan keturunan (merentang busur) untuk meluncurkan anak pada jalan yang dikehendaki. Anak yang berangkat dewasa akan lepas dan mandiri dan orangtua hanya bisa melihat seperti apa asuhan atau didikannya. Wallahu a’lam bissawab. (Ace)

Sumber : Harian Terbit

<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main