Ilmu Padi

February 27, 2006

Buku-buku Yang Membunuh

Filed under: Artikel

Buku-buku Yang Membunuh

Sebuah buku bahkan bisa mengilhami lima pembunuhan berantai dan 40 pembantaian.

8 Desember 1980. Malam musim dingin di Manhattan sudah tua. Jarum waktu menunjuk pukul 23.00. Sebuah sedan limusin berhenti di depan Dakota. Itu bukan nama kota, tapi sebuah apartemen luks tempat orangorang berduit tinggal; orang-orang seperti penumpang limusin itu.

Dari dalam mobil mewah keluar pria berusia 40 tahun. Ia berjalan menuju apartemennya. Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan mobil, empat tembakan membelah malam.

Pria itu—John Lennon—jatuh mandi darah. Dengan mobil polisi ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Roosevelt, namun itu tak berguna. Lennon pergi dan gagal merayakan Natal tahun itu.

Tak jauh dari darah yang menggenang, seorang pria duduk di atas trotoar. Dengan bantuan sinar lampu jalanan, dengan tangan yang bertabur bubuk mesiu, ia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. The Catcher in the Rye, judulnya. J.D. Salinger, pengarangnya.

Buku yang dibelinya dari sebuah toko buku di Fifth Avenue itu sudah mulai lusuh. Bukan karena tua. Baru beberapa hari lalu ia membelinya, setelah yang lama hilang ketika ia berlibur ke Hawaii.

Pria itu, Mark Chapman, amat suka dengan sampulnya yang didominasi merah dan huruf kuning. Menurutnya, warna itu sangat dramatis dan cocok. Tapi ia lebih suka isinya. Begitu sukanya hingga ia baca berkali-kali tanpa bosan.

Chapman yakin buku itu diciptakan untuknya. Ia yakin Holden Caulfield, tokoh utama novel itu, adalah dirinya. Bahkan Chapman sempat ingin mengganti namanya menjadi Holden Caulfield. Untuk menghidupkan fantasinya, pria berkacamata itu juga pernah menapaktilasi jalanan New York yang dilalui Holden pada malam-malam dingin menjelang Natal.

Tak cuma itu, saudara. Chapman juga percaya, kisah hidupnya akan menjadi pelengkap, menjadi bab terakhir The Catcher. Di halaman depan, Chapman menulis: “This is my statement. Holden Caulfield —The Cather in the Rye.”

Malam itu, malam dibunuhnya musisi rock terbesar, novel yang terbit pertama kali pada 1945 itu memang tak ditulis ulang, tapi seorang tengah membacanya perlahan, dengan tekun, seperti sedang merapal kitab suci. Ia yakin, apa yang baru saja dilakukannya adalah sebuah drama yang luput ditulis oleh Salinger.

Salinger—di luar bahasa kasar yang membuat novel itu dilarang selama beberapa tahun—tentu tidak bermaksud mengilhami siapapun untuk membunuh atau berbuat kasar. Hal yang sama juga pasti tidak dilakukan oleh Anthony Fawcett saat menulis One Day At A Time. Tapi toh kedua buku itu menggerakkan Chapman untuk membunuh Lennon.

Chapman seorang psycho? Tentu, banyak yang percaya itu. Pasti ada yang tak beres pada otak seorang yang membunuh karena membaca sebuah novel. Tapi Chapman tak sendiri. Nun ribuan kilometer dari New York, lima belas tahun setelah Lennon terkapar oleh peluru Chapman, sebuah pembunuhan yang lebih keji terjadi. Juga karena sebuah novel.

Di stasiun bawah tanah Tokyo, pada awal musim semi, dua belas orang tewas dan lima ribu orang terluka. Sebuah sekte kiamat bernama Aum Shinrikyo meledakkan gas sarin di sana. Mereka melakukan ini bukan karena ajaran kitab suci yang disalahpahami, seperti halnya Azahari dan kawan-kawan saat meledakkan bom bunuh diri, tapi karena amat terpengaruh oleh serial novel Foundation buah pena Isaac Asimov.

Novel itu menggambarkan alam raya menjelang kehancuran sebuah kekaisaran. Saat itu hanya Foundation, sebuah kelompok rahasia pimpinan Hari Seldon, yang mampu menyelamatkan peradaban sebelum hilang di era kegelapan. Pengikut Seldon, yang merupakan para ilmuwan itu, memeluk agama baru.

Meski cerita Asimov ini berlatar belakang Romawi kuno, anggota Aum Shinrikyo melihat banyak kesamaan antara masyarakat Romawi itu dan masyarakat Jepang modern. Shoko Asahara, sang pemimpin, mengatakan berkali-kali bahwa peradaban akan segera runtuh, dan hanya yang percaya pada ajaran barunya yang selamat. Seperti Seldon, ia juga menggaet sejumlah ilmuwan dari berbagai bidang. Ia berusaha mewujudkan fiksi menjadi nyata.

Dalam sebuah wawancara, Hideo Murai, ketua para ilmuwan sekte itu, mengatakan bahwa tujuan Aum adalah untuk menyelamatkan manusia, seperti yang tecermin dalam Foundation. Aum bahkan menggunakan serial Foundation sebagai cetak biru rencana jangka panjang mereka. Kelompok ini menarik minat para ilmuwan muda yang rajin membaca novel fiksi ilmiah. Asahara yang buta itu menganggap dirinya sebagai Seldon dan Aum adalah Foundation.

Chapman terpengaruh secara emosional, Aum terpengaruh secara ideologi, tapi ada juga yang menjadikan novel sebagai buku panduan. Adalah Timothy McVeigh yang menjalankan dengan tepat aksi teror yang diceritakan dalam The Turner Diaries. McVeigh menggunakan novel itu sebagai pembimbing untuk meledakkan gedung federal di Oklahoma, AS. Seratus enam puluh delapan orang tewas karenanya.

Saat McVeigh ditangkap, polisi menemukan The Turner Diaries di mobilnya. “Aku” dalam novel itu meledakkan kantor pusat FBI dengan truk bom yang berisi amonium nitrat dan bensin. Cara inilah yang dipakai oleh McVeigh untuk meledakkan gedung federal itu. Temanteman McVeigh mengaku diminta olehnya untuk membaca novel karangan pemimpin National Alliance yang, seperti Hitler, mengelu-elukan supremasi kulit putih. Ia menggarisbawahi sejumlah kalimat di buku itu, termasuk, “tujuan dari serangan-serangan kita kini adalah untuk memberi dampak psikologis, bukan pada kerusakan yang serta merta.”

McVeigh bukan satu-satunya pengebom yang terinspirasi oleh novel. Ada juga Theodore John Kaczynski, Ph.D., yang mengirimkan sejumlah bom surat dalam rentang 18 tahun. Tiga orang tewas dan 29 lainnya terluka akibat aksi ini. Ia kemudian tertangkap pada 1996 dan dijatuhi hukuman mati.

Kaczynski mendapatkan ide dan inspirasi untuk melakukan teror ini dari sebuah novel berjudul The Secret Agent, karangan Joseph Conrad. Para agen federal bahkan harus mendatangkan ilmuwan pemerhati karya-karya Conrad untuk dapat mengerti dan mengetahui isi tempurung kepala sang doktor. Ya, maklum saja, Kaczynski telah khatam buku itu puluhan kali.

The Secret Agent adalah novel yang terbit pada 1907, tentang seorang teroris bernama Verloc yang melakukan sejumlah pemboman di London. Verloc adalah seorang provokator dari negara asing. Tak jelas negara mana, tapi kemungkinan Rusia yang dimaksud. Tak terbayangkan, bagaimana sebuah novel mampu mengilhami seorang jenius untuk membunuh selama hampir dua dasawarsa. Luar biasa.

Tapi, sesungguhnya, yang lebih dahsyat adalah novel The Collector karya John Fowles yang terbit untuk pertama kalinya pada 1963. Bayangkan, novel itu sudah menginspirasi, sedikitnya, lima pembunuhan berantai dan 40 pembantaian. Berbeda dengan novel-novel di atas, The Collector memang bercerita tentang pembunuh yang sakit jiwa. Dia adalah Frederick Clegg, seorang pria yang hobinya mengumpulkan kupu-kupu. Clegg jatuh cinta pada Miranda Grey, seorang mahasiswi fakultas seni yang menurutnya sangat cantik.

Singkat cerita, teman kita ini mendapat rezeki nomplok dan membeli rumah di tengah padang. Sendiri dan kesepian, Clegg ingin ditemani Grey. Tapi apa daya, Clegg tak bisa menyatakan cintanya. Seperti layaknya seorang psycho, ia adalah penyendiri yang gagap bermasyarakat. Ia lebih akrab dengan kupu-kupu dibanding wanita. Akhirnya, cara itulah yang ia pakai. Grey diculik dan dijadikan salah satu “koleksinya”.

Grey kemudian meninggal dunia karena pnemonia di lantai bawah tanah yang lembab, tempat orang menyimpan anggur. Karena kematian itu, Clegg awalnya ingin bunuh diri. Namun ia memilih untuk melakukan hal lain yang lebih “cerdas”: menculik gadis lain untuk dijadikan koleksi.

Cerita ini menginspirasi banyak pembunuhan. Yang paling menarik perhatian adalah pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang bekas prajurit Angkatan Laut Amerika, Leonard Lake dan Charles Ng. Lake sebenarnya yang paling terinspirasi oleh The Collector, namun mereka melakukan skenario dalam novel itu bersama pada pertengahan 1980-an.

Mereka menyewa kabin di Wilseyville, 150 mil timur San Francisco. Di kabin itu keduanya membuat bunker dengan dua ruang. Ruang luar adalah tempat mereka menyimpan senjata. Ada tulisan “Operation Miranda” pada dindingnya. Miranda yang dimaksud tentunya adalah Miranda Grey dalam novel itu. Ruang dalam adalah ruang tertutup untuk menyekap dan mengubur 25 perempuan yang mereka culik dan bunuh.

Dalam buku harian Lake tertulis begini: “Ah, The Collector. Benarkah sudah hampir 20 tahun aku membawa-bawa fantasi ini? Dan Miranda? Betapa tepat? Sanderaku yang cantik di masa depan. Aku berada di jalanku untuk menjadi ‘pahlawan’, untuk menjadi gila. Aku tak ragu bahwa kami telah mengkompensasi ketidakmampuan yang kami miliki sejak fajar sejarah merekah. Sedih sungguh. Tapi, bagaimana kita bisa mati jika kita tak pernah hidup?”

Paparan di atas tentu saja tidak digelontorkan untuk mengatakan bahwa novel-novel itu “berbahaya”. Ada jutaan pembaca lain yang tidak membunuh setelah membaca novel-novel tersebut. Artinya, ada hal lain di luar teks novel itu yang membuat para pembunuh membantai korbannya.Namun novel memungkinkan pembaca untuk masuk ke dalamnya, menjadi bagian darinya. Hubungan antara novel dan pembacanya lebih karib dari hubungan film dan penontonnya.

Seperti ditulis oleh Goenawan Mohammad, ada imajinasi yang berperan untuk memvisulisasikan novel yang kita baca. Berbeda dengan film yang visualisasinya sudah tersedia, saat membaca novel pembaca sendiri yang menciptakan visual tokoh dan setting kejadian dalam otaknya, dengan bantuan imajinasi. Bisa jadi yang kita bayangkan adalah orang lain, tapi bisa juga diri kita sendiri. Bisa jadi imajinasi pembaca sekadarnya, bisa jadi juga berlebihan. Reaksi pembaca, memang, akhirnya tergantung sejauh mana keterkaitan pembaca dengan apa yang dibacanya. Tapi novel selalu membentangkan jalan bagi kita untuk “menciptakan” dunia sendiri, dunia yang kita khayalkan dengan bantuannya.

”Yang benar-benar meng-KO-ku adalah buku yang, saat kau selesai membacanya, kau berharap pengarang yang menulisnya adalah teman karibmu dan kau dapat meneleponnya kapan pun kau mau. Tapi itu tak sering terjadi.” Demkian Holden dalam The Catcher in the Rye.

Qaris Tajudin dari berbagai sumber

Sumber : Buku-buku yang membunuh thbb

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://oryza.blogsome.com/2006/02/27/buku-buku-yang-membunuh/trackback/

  1. Thanks sudah membaca artikel ini. Salam kenal.

    Q

    Comment by Qaris Tajudin — January 20, 2007 @ 3:53 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main