Ilmu Padi

February 18, 2006

Masjid Khusus Muslimah di India

Filed under: Religi

Jumat, 24 September 2004

Masjid Khusus Muslimah di India

Perhelatan Muslimah Tamil Nadu meruncing pada satu pokok: bagaimana Muslimah leluasa melampiaskan hasrat spiritualnya dan diakui hak-haknya. Tak ada yang berubah dari ‘ritual’ tahun lalu dalam Konferensi Komite Jamaah Muslimah Tamil Nadu (MWJC). Pertemuan dimulai dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Rajab Nisha yang diikuti kata amin bersahutan dari para jamaah. Di akhir doa, Rajab menutupnya dengan kalimat, "Semoga Allah SWT memberikan kekuatan bagi para muslimah!" Koor amin jamaah kali ini lebih keras dan penuh antusias.

Hajatan yang kelima lembaga jamaah Muslimah pertama di dunia itu tahun ini tidak terlihat lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, acara yang dihadiri 50 Muslimah wakil dari berbagai ormas Muslimah India ini menghasilkan sesuatu yang bersejarah, yakni keputusan untuk mendirikan masjid khusus bagi Muslimah. Advokasi perempuan memang terlihat mengental sejak awal pertemuan. Usai pembukaan, Daud Sharifa Khanam, ketua umum lembaga STEPS Organisasi Pemberdayaan Kaum Wanita yang berkedudukan di Pudukkottai, memperkenalkan seorang Muslimah berasal dari desa Mukkanamalaipatti, bernama Sajida Banu. Wanita ini terlihat lebih tua dari usia sebenarnya, 22 tahun.

"Sajida kini sudah bisa tersenyum. Apakah Anda ingat bagaimana kondisi dia ketika terakhir kali bertemu?" tanyanya. Tanpa dikomando, hadirin serempak menjawab, "Dia menangis!" Ada juga yang berteriak, "Dia terlihat mengenaskan!" Kemudian Sharifa melanjutkan kalimatnya, "Tahukah Anda semua apa yang membuatnya tersenyum saat ini? Dia telah memenjarakan suaminya." Hadirin terdiam sejenak, sebelum akhirnya berdiri sambil bertepuk tangan. Sebelumnya, media lokal ramai memberitakan Sajida yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Ironisnya, masyarakat tidak bersimpati padanya.

Jamak dalam masyarakat Tamil Nadu, seringkali dalam perselisihan rumah tangga, istrilah yang dianggap bersalah. Barulah setelah MWJC memberikan bantuan asistensi dengan menggambarkan pada masyarakat duduk persoalan yang sebenarnya publik sedikit ‘melirik’ dan bersimpati. Sajida akhirnya bisa terbebas dari problem yang melilitnya. Bahkan kemudian pelaku penganiayaan suaminya sendiri mendapat hukuman. Wilayah Tamil Nadu memiliki sistem peradilan yang unik, termasuk yang berkaitan dengan masalah-masalah agama. Umat Muslim memiliki wewenang dalam lembaga hukum. Akan tetapi, tidak satu pun Muslimah yang duduk di dewan peradilan. Di sisi lain, tak ada aturan yang membolehkan Muslimah menyelesaikan sendiri masalah yang mereka hadapi.

Para Muslimah juga tidak serta merta mendapat jaminan perlakuan hukum yang sama apabila datang ke polisi. Seperti diutarakan Rahmatunissa, seorang penerima asistensi MWJC saat mengadukan masalah selingkuh suaminya. "Bahkan semua polisi wanita menyarankan agar saya mematuhi saja aturan yang ada, dengan mengatakan ‘Hukum Anda sudah mengatur demikian, apa yang bisa kami perbuat." Suami Rahmatunissa, Varusai Muhammad, punya dua istri simpanan. Hal itu sudah berlangsung selama 10 tahun tanpa diketahui Rahmatunissa. Kemudian sang suami mengirimkan surat talak melalui masjid al-Jamiul Munavvar, Kattuthalaivasal, di distrik Karaikudi, tiga tahun lalu.

Penyelesaian yang ditawarkan adalah pemberian kompensasi sebesar 1,25 rupee. Tanpa menunggu persetujuannya, Varusai lantas menikah ulang dengan simpanannya. Rahmatunissa baru mendapat kompensasi yang layak setelah pihak WMJC turun tangan. Belum lagi debat tentang talak tiga selesai, kaum Muslim Tamil sudah menggulirkan isu mengenai kemungkinan pemberian talak melalui e-mail, surat, dan telegram. Yang pertama bereaksi adalah kalangan Muslimah yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan rumah tangga serta amat dirugikan dengan aturan talak jenis terbaru. Mereka ramai-ramai mendatangi kantor STEPs yang sudah berjuang membela hak-hak kaum wanita sejak tahun 1989 untuk membatasi dominasi kaum pria.

Menurut Sharifa, lembaga peradilan tidak bisa diharapkan dapat memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Demikian pula masjid yang sudah didominasi kaum pria dan mengontrol masyarakat. "Ketika muslimah menolak untuk mengikuti aturan itu, tidak ada pilihan selain membangun jamaah sendiri. Dan mengingat jamaah amat terkait dengan masjid, maka kita pun akan membangun masjid sendiri," ujarnya. Perjuangan mereka mendapat dukungan dari beberapa pihak. Bulan Nopember 2003, seorang jamaah yang murah hati bersedia menghibahkan sebidang tanah bagi pembangunan masjid muslimah di desa Parambur.

Seiring gencarnya pemberitaan, desakan datang dari kalangan jamaah Masjid Delhi agar rencana membangun masjid di Parambur dipikirkan ulang. Namun rencana tetap berjalan bersama langkah awal pembentukan Tamil Nadu Muslim Women’s Jamaat Committee pada tanggal 18 Pebruari 2004. Saat ini, dengan 35 anggota dari 10 negara bagian di distrik selatan, jamaah dapat memastikan adanya keadilan bagi beberapa Muslimah. Meski begitu, mereka masih kesulitan mengumpulkan dana untuk penambahan lahan seluas 10 are guna pembangunan masjid. Masjid itu nantinya tak hanya digunakan sebagai tempat shalat, namun juga akan difungsikan sebagai tempat silaturahmi, relaksasi, dan berbagi keperluan Muslimah lainnya.

"Masjid pun dapat dijadikan tempat bernaung sementara bagi wanita dan anak-anak telantar," tambah Sharifa. Rasheeda Begum, seorang peneliti, menambahkan, "Pada masjid yang didominasi kaum pria, sebagian besar persoalan kaum wanita tidaklah menjadi perhatian serius ulama. Sehingga bagi kami, masjid adalah pula sarana untuk meningkatkan kepercayaan dan harga diri." Di sisi lain, kalangan umat Muslim di Tamil Nadu tampak tidak terlalu terkesan dengan rencana tersebut. Ini tercermin dari pernyataan MH Jawahirullah, ketua Tamil Nadu Muslim Munnetra Kazhagam. "Kaum wanita punya hak untuk melaksanakan ibadah di masjid.

Sekitar lima persen masjid yang ada di TN sudah menerapkan pembatasan antara jamaah pria dan wanita. Tetapi, tidak dapat diterima adanya masjid khusus Muslimah. Karena sebenarnya tidak semua jamaah anti Muslimah," tegasnya. Adapun Syeda Hamid, aktivis lembaga swadaya masyarakat setempat, melihat inisiatif itu sebagai sebuah harapan baru. "Angin perubahan telah berhembus dari Pudukkottai. Kaum wanita dapat membela diri berdasarkan prinsip-prinsip syariat. Mereka tidak lagi harus menjadi korban," kata dia. Disampaikan oleh Rajab Nisha, anggota MWJC, mengharapkan angin ini akan segera mencapai Delhi. "Masjid yang terpisah, kami sudah punya daftar panjang permintaan. Rajiv Gandhi telah mewujudkan harapan kaum Muslim pria, oleh karenanya diharapkan agar Sonia Gandhi juga mendengarkan aspirasi kami." Masjid, kata dia, bukanlah tujuan utama. Inti pokoknya adalah agar Muslimah dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam bingkai nilai-nilai keislaman. ‘’Karena Islam hadir justru untuk membebaskan .

( yus/ sumber berbagai )

 

Sumber : republika 

February 17, 2006

Filosofis Kebebasan Perempuan

Filed under: Religi

Filosofis Kebebasan Perempuan
Artikel Muslimah - Saturday, 09 April 2005

Kafemuslimah.com Sesungguhnya, topik tentang perempuan dan hal-hal yang berkaitan dengannya merupakan topik yang hangat diperbincangkan dari masa ke masa. Perempuan selalu tampil dalam berbagai media dan sarana-sarana informasi untuk menggambarkan sosok yang begitu menarik dan indah sehingga tidak segan-segan mereka tampil dengan dandanan yang kurang beretika. Intrik musuh-musuh Islam tidak terbatas sampai di situ. Saat ini, ketika orang-orang mulai ramai memperbincangkan hal-hal yang lux, tidak bisa terlepas dari gambar-gambar wanita cantik. Bahkan sampai produk-produk obat-obatan dan elektronik yang tidak ada kaitannya dengan perempuan juga tidak terlepas dari peragaan yang mempertontonkan “perhiasan” perempuan.

Seorang nasrani bernama Zummer mengatakan bahwa orang-orang Nasrani tidak perlu putus asa, sebab di dalam hati kaum muslimin telah berkembang kecenderungan yang mencolok ke arah ilmu bangsa-bangsa Eropa dan kebebasan perempuannya. Dari kutipan tidak langsug di atas dapat disimpulkan bahwa keinginan mereka dalam menghancurkan Islam ditempuh dengan cara yang lain, yaitu dengan menjauhkan perempuan dari agamanya, yaitu Islam.

Tampaknya, hal itu benar-benar menjadi kenyataan. Gerakan pembebasan wanita dari belenggu penindasan dan gerakan kesetaraan gender yang dimotori oleh kaum feminis menjadi semakin hangat dari hari ke hari. Dan yang lebih buruk lagi, para pejuang kemerdekaan perempuan itu menganggap bahwa Islamlah yang menjadi penghalang keindependenan perempuan. Banyak nash yang bisa mereka jadikan kambing hitam untuk itu, contohnya dalam surah Al Ahzab: 33, perintah bahwa wanita lebih baik di rumah ….; An Nisaa: 34, laki-laki itu lebih utama dari perempuan ….. dan masih banyak yang lain. Padahal apa yang mereka pahami tidaklah demikian adanya. Isu poligami beramai-ramai dibantah. Pembagian warisan yang lebih banyak untuk laki-laki menjadi alasan betapa Islam tidak adil dalam memperlakukan manusia. Kewajiban mentaati suami dalam rumah tangga menurut mereka adalah sikap sewenang-wenang dan melanggar HAM. Mereka menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Karena hal itu mereka anggap sebagai keadilan.

Jika kebebasan perempuan di dunia Barat menjadi impian perempuan pribumi, pertanyaannya apakah di dunia Barat perempuan benar-benar bahagia dengan kebebasannya itu? Mengingat tujuan hidup manusia sesungguhnya adalah bahagia dunia dan akhirat? Bukti apa yang bisa kita ajukan untuk membenarkan hal itu atau tolok ukur apa yang kita gunakan untuk menilai bahwa mereka benar-benar bahagia dalam kebebasannya itu?

Pertama, ketika perempuan di dunia Barat terkungkung oleh Gereja yang menindas semua hak-haknya, mereka berusaha untuk melawan dan memperjuangkan kesetaraan gender. Mereka akhirnya menuai hasil. Perempuan dan laki-laki bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan laki-laki dalam segala lini kehidupan. Bahkn dalam bidang militer sekalipun. Perempuan diikutsertakan dalam peperangan. Ketika pecah perang Vietnam, kurang lebih 100. 000 orang tentara perempuan turut ambil bagian dalam perang tersebut. Hasilnya, dari sekian jumlah tentara perempuan, enam puluh ribu mengaku dirinya diperkosa oleh rekan tentara laki-laki di barak-barak militer di mana tidak ada pemisahan tempat tidur antara tentara laki-laki dan perempuan. Itu baru yang mengaku, belum lagi termasuk pelecehan-pelecehan yang lain yang terjadi dan luput dari publikasi media. Lantas di mana letak kebahagiaan itu? Ataukah kebebasan mereka untuk bekerja di kantor sama halnya laki-laki yang membuat mereka bahagia? Mereka mengaku memperjuangkan kebebasan tapi yang terjadi adalah mereka mengorbankan diri mereka sendiri. Penelitian membuktikan bahwa wanita yang lebih bayak beraktivitas di luar rumah lebih rawan terkena penyakit dari pada mereka yang menjadikan rumah sebagai fokus kegiatannya. Kebebasan yang berujung eksploitasi.

Islam tidak mengenal emansipasi atau kebebasan atau kesetaraan gender, karena pada dasarnya Islam tidak pernah melegitimasi penindasan terhadap perempuan. Semua aturan yang mengatur perempuan dalam Islam hanyalah untuk menyelamatkan perempuan dari noda dan hal-hal buruk agar dia tetap bersih. Aturan itu terutama ditujukan untuk melindungi perempuan dari musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam melalui perempuan.

Islam datang menempatkan perempuan di tempat yang lebih mulia. Perintah menuntut ilmu adalam wajib hukumnya bagi laki-laki dan perempuan (thalabul ilmu faridhatun ‘ala kulli muslimiin wa muslimaat). Seorang perempuan haruslah cerdas bukan untuk tujuan agar mampu bersaing dengan laki-laki, tapi untuk tujuan yang jauh lebih mulia, yaitu menjadi seorang pendidik. Mendidik generasi bukanlah hal yang mudah, tidak cukup dengan bekal apa adanya, bagaimana mungkin seorang perempuan mampu mendidik anak-anak yang nantinya lahir dari rahimnya jika dia sendiri tidak mampu mendidik dirinya sendiri, dan untuk itu dibutuhkan ilmu. Selain itu dalam surah Al Ahzab: 31, bahwa jika perempuan mampu taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan kata lain berbuat kebaikan maka akan diberikan pahala dua kali lipat. Dan banyak lagi yang lain yang bisa kita kemukakan untuk membuktikan bahwa antara laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan hanyalah takwanya saja (Al Hujuraat: 13).

Kedua, bukti bahwa karena mereka mampu melepaskan diri dari ketergantungan ekonomi (mereka bekerja sendiri) sehingga tampak bahagia adalah hal yang masih bisa diperdebatkan. Mengingat ukuran kebahagiaan tidaklah sesimpel itu, tapi kebahagiaan sesungguhnya tidak hanya melibatkan faktor lahir, tetapi juga meliputi ketenangan batin. Dan, bisa dibuktikan dengan penelitian bahwa yang paling banyak mengalami gangguan stress adalah mereka yang bekerja terlalu lama di luar rumah. Bukankah stress adalah bukti betapa kita gagal memenej emosi kita? Dan itu adalah faktor non fisik (batin).

Seseorang yang hidup bergaul dengan kaum muslimin dan mengenal Islam dengan benar, maka dia akan melihat bahwa perempuan Islam di tengah-tengah masyarakat muslim menempati kedudukan yang tinggi dan terhormat. Satu kedudukan yang dapat menjaga martabat perempuan dan kesuciannya. Perintah menutup aurat juga sebagai bukti perlindungan Islam terhadap pandangan laki-laki yang tidak berhak memandangnya.

Terakhir, Islam tidak pernah melarang perempuan beraktifitas di luar rumah selama itu sesuai dengan kodratnya sebagai perempuan dan mampu membagi waktu antara pekerjaannya dengan rumah tangganya. Betapa pun juga, titik berat kewajiban perempuan ada di rumahnya karena pekerjaan itu tidak bisa digantikan oleh siapa pun, jangankan pembantu rumah tangga, suami pun tak mampu melakoni itu. Seorang perempuan dalam memandang rumah tangga jauh lebih dalam dibandingkan dengan laki-laki. Mungkin karena dari rahimnyalah lahir makhluk hidup yang nantinya akan jadi pemimpin-pemimpin dunia. Jadi, apa jadinya jika semua wanita mulai menjadikan rumah hanya sebatas tempat beristirahat dan setelah itu keluar rumah lagi. Pada saat itu, kita tak perlu lagi berharap kader-kader militan dan cerdas akan muncul dari kita sebagai muslimah. Mudah-mudahan yang terakhir ini bisa jadi renungan buat kita., terkhusus bagi mereka yang mengaku muslimah. Sebuah nama yang sekaligus mencerminkan identitas kita. So, mari kita berkreasi dan berprestasi selama itu tidak melanggar aturan dan ketentuan yang ada.

Incawati
Mahasiwi Universitas Negeri Makassar
Makassar, Sulawesi Selatan

 

Sumber : Kafe Muslimah 

February 16, 2006

Tampil Segar Alami

Filed under: Beauty

Sabtu, 07 Juni 2003
Tampil Segar Alami
Berdandan ibarat pekerjaan seni. Susah-susah gampang melakukannya. Apalagi membuat wajah tampil cantik alami. Perlu kerja keras untuk mewujudkannya.

Saat berdandan, tidak jarang para wanita dilanda stres. Bingung memilih warna dan aksentuasi, serta cemas pada hasilnya. Entah berapa lama waktu yang habis untuk berdandan.

Padahal, berdandan bisa dilakukan hanya dalam waktu 10 menit. Tanpa stres pula. Mungkinkah? Tentu saja. Suzanne Gleason dan Daniela Massenz dari Shape punya triknya. Begini:

1. Tenang adalah faktor terpenting dalam berdandan. Anda akan lebih mudah merias wajah dalam keadaan tenang. Tidak perlu banyak waktu maupun kosmetik ‘ajaib’ untuk membuat cantik wajah Anda. Ketenangan akan membuat wajah Anda cerah. Ini tidak akan bisa didapat dari kosmetik termahal sekalipun.

* Pengelupasan kulit mati adalah cara selanjutnya. Gunakan masker peeling atau scrub. Lakukan setidaknya sekali dalam seminggu.

* Lanjutkan proses penyegaran kulit ini dengan mengompreskan washlap yang telah direndam dalam susu dingin. Lakukan selama 5-10 menit. Jangan lupa untuk membilas wajah sesudahnya.

* Tatalah rambut Anda. Beri volume pada rambut lurus Anda. Bagi Anda yang berambut keriting, pakailah rol rambut untuk mendapatkan ekstra bounce dan gaya. Anda yang berambut panjang dapat mengikatnya berupa ekor kuda. Rambut yang wangi juga akan menyegarkan penampilan. Caranya cukup mudah. Jatuhkan beberapa tetes minyak esensial, seperti lavender, dalam air. Lantas, gosokkan campuran itu di kedua telapak tangan dan gosokkan ke rambut menggunakan jemari.

* Untuk efek yang natural, lupakan alas bedak. Alas bedak atau penyamar noda hanya pantas dikenakan jika memang dibutuhkan, seperti untuk menyamarkan warna hitam di seputar mata. Hadirkan efek natural lewat krim mengkilat di wajah dan bahu.

Jangan lupa untuk menaburkan bedak transparan untuk menghasilkan riasan yang menawan. Lalu, berikan sedikit penekanan pada riasan mata dengan pensil alis warna cokelat dan berikan bayangan mata. Sapukan lipstik yang warnanya dua tingkat lebih gelap dari warna alami bibir. Jepitkan tisu pada bibir untuk meratakannya. rei

Sumber : Republika 

February 15, 2006

WORLD BOOK DAY 2006 INDONESIA

Filed under: Milis

WORLD BOOK DAY 2006 INDONESIA
Merayakan Buku Membangun Literasi

Jakarta, 2 - 5 Maret 2006
Perpustakaan Pendidikan Nasional, Senayan Jakarta

PENGANTAR

WORLD BOOK DAY dirancang oleh UNESCO sebagai perayaan buku dan literasi yang mendunia, dan ini ditandai dengan telah diselenggarakannya di lebih dari 30 negara di seluruh dunia. Perayaan yang saat ini kita peringati, awal mulanya dirayakan di Inggris dan Irlandia yang berasal dari tradisi perayaan St. George Day di Catalonia yang telah dimulai sekitar 80 tahun lalu, di mana bunga dan buku dijadikan sebagai hadiah untuk orang yang kita cintai.

Perayaan ini adalah bentuk kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan serta komunitas-komunitas yang semuanya bekerja sama mempromosikan buku dan literasi sebagai bentuk pengayaan diri individu dan kebutuhan batiniah bagi seluruh masyarakat. Secara umum, tujuan diselenggarakannya World Book Day sebagai sebuah world event adalah untuk menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak-anak untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bisa didapat dari buku dan membaca.

Acara-acara yang mengangkat dunia literasi sudah diselenggarakan di Indonesia, diantaranya ada ‘Hari Buku Nasional’, ‘Hari Kunjungan Perpustakaan’ sampai berbagai pameran dan bazaar buku (book fair) di tingkat komunitas, lokal maupun nasional. Seiring dengan adanya globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, sudah saatnya kita melebarkan aktivitas kita dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan buku berskala internasional agar lebih menggaungkan literasi di tengah masyarakat Indonesia.

Kegiatan ini bernama ‘World Book Day 2006′ yang di
tahun 2006
jatuh pada tanggal 2 Maret 2006. Tanggal puncak
perayaan hari buku
sedunia ini selalu dilaksanakan bulan Maret setiap
tahunnya,
walaupun tanggal selalu berbeda dari tahun satu ke
tahun lainnya.
World Book Day dalam program internasionalnya memiliki
tema yang
berbeda setiap tahunnya. Untuk tahun 2006 mengambil
tema ‘Happy
World Book Day’ Untuk konteks Indonesia tema tersebut
disesuaikan
dengan konteks lokal dan menjadi: ‘merayakan buku,
membangun
literasi’.

Forum Indonesia Membaca (FIM), sebuah organisasi
kemasyarakatan
yang berkonsentrasi di aktivitas literasi, berupaya
membuka ruang
partisipasi seluas-luasnya kepada masyarakat dalam
penguatan
budaya baca, di tahun 2006 ini berusaha merealisasikan

penyelenggaraan acara World Book Day di Indonesia.
Sebagai suatu
festival yang merayakan buku dan literasi, acara World
Book Day
membuka partisipasi masyarakat seluas-luasnya dalam
meningkatkan
kesadaran akan pentingnya buku dan membaca, serta
mengapresiasi
dunia perbukuan itu sendiri. Dalam pelaksanaan kali
ini didukung
oleh Perpustakaan Pendidikan Nasional, British Council
Indonesia,
Ruang Baca Tempo, Mizan Pustaka, Majalah MataBaca,
Yayasan Garda
Budaya, Forum Lingkar Pena, dan the Indonesian
Literacy Institute.
Bentuk-bentuk partisipasi para pihak ini akan terus
bertambah
dengan semakin dekatnya pelaksanaan World Book Day
2006.

TUJUAN KEGIATAN

Penyelenggaraan World Book Day 2006, sebagai sebuah
perayaan
atas buku, bertujuan membuka partisipasi
seluas-luasnya kepada
masyarakat ke dunia literasi, baik sebagai pembicara,
pengisi
acara, peserta, maupun sebagai pengunjung perayaan
berbentuk
festival ini. Kegiatan selama penyelengaraan World
Book Day 2006
ini ditujukan untuk memunculkan wacana di masyarakat
akan
pentingnya buku, dunia membaca dan menulis sehingga
muncul
kesadaran di masyarakat untuk menggunakan literasi
sebagai media
pembelajaran dalam kehidupannya.

SASARAN KEGIATAN

1. Masyarakat Indonesia pada umumnya, serta masyarakat
lokal
Jabodetabek pada khususnya.

2. Praktisi dan institusi dunia perbukuan, pendidikan
dan
kebudayaan.

3. Komunitas dan lembaga kemasyarakatan yang
beraktivitas di dunia
literasi, pendidikan, perbukuan dan kebudayaan.

PELAKSANAAN KEGIATAN

World Book Day 2006 Indonesia akan diadakan pada
Kamis, 2 Maret
s.d. Minggu, 5 Maret 2006, jam 10.00 s.d. 19.00 wib.
Acara-acara
akan terpusat di Gedung A Depdiknas Senayan dengan
dipilah menjadi
4 lokasi, yaitu Panggung Utama Festival, Taman Bermain
Anak,
Gazebo Literasi Dewasa di Plasa Terbuka serta Ruang
Belajar dan
Ruang Tengah Perpustakaan Pendidikan Nasional
[library@senayan].
Acara yang di dalam Taman Bermain Anak dan Gazebo
Literasi Dewasa
merupakan acara kecil yang lebih terfokus ke
masing-masing zona,
seperti dongeng anak, diskusi buku, temu pengarang,
dan pelbagai
acara literasi komunitas lainnya. Diadakan juga
pameran komunitas,
pameran buku, penjualan, dan bursa sesama penggemar
buku.

February 14, 2006

Tempat yang paling disuka

Filed under: Religi

23 January 2004 - 16:17
Tempat yang paling disuka
Hal-hal luar biasa (22)
Tempat yang paling disuka
***
Dari Abu Huroiroh ra,
dari Nabi saw, beliau berabda:
“Tempat yang paling disukai
oleh Allah adalah masjid,
dan tempat yang paling dibenci
oleh Allah adalah pasar.”
*
(HR Muslim)

Tengara Hikmah
Masjid adalah tempat sujud (sholat). Hadis di atas merupakan penguatan dan pembenaran atas ayat: “Tidak diciptakan jin dan manusia kecuali beribadah kepada-KU”.
Lebih dari itu Allah juga lebih suka melihat hamba-Nya menyepi daripada larut dalam keramaian. Ini pun paralel dengan keutamaan sholat tahajud.
Meski demikian perlu diingat, masjid yang makmur dengan banyak jamaah adalah syiar Islam karena merupakan wujud nyata dari terbinanya silaturahmi dan ukhuwah islamiyah. Sedang penyendirian untuk beribadah kepada Allah adalah nilai tambah bagi kaum muslim. Dan jika tiap individu memiliki nilai tambah, maka komunitas muslim yang banyak akan memiliki nilai tambah yang luar biasa pula. Sebab, Allah swt pun menjamin umat Islam bisa menjadi umat yang adil jika mereka bersatu dalam majelis.
Banyak hal yang bisa menjadi keagungan Islam jika umat Islam memakmurkan masjid, sekaligus menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan. Setidaknya, tiap orang akan mudah malu diri jika di dalam masjid melakukan hal yang buruk. Lain hal jika di tempat umum yang lain kebutuhannya, seperti di pasar.
Dari Salman Al Farizi ra - di antara perkatannya: “Jika kamu mampu janganlah sekali-kali kamu merupakan orang pertama yang memasuki pasar dan orang yang terakhir yang keluar darinya [pasar]. Sebab, pasar adalah medan pertemuan setan dan di sana ditegakkan bendera setan.” (HR Muslim).
Sementara itu Al Burqoniy meriwayatkan dalam kitab shohihnya dari Salman yang berkata: “Rosulullah saw pernah bersabda: “Janganlah kamu menjadi orang yang pertama memasuki pasar dan orang yang terakhir yang keluar dari sana, di sanalah setan bertelur dan beranak.”
Dari hadis ini umat Islam diminta untuk memelihara adab yang baik. Ini salah satu sebab para pedagang di Arab Saudi juga menutup daganganya ketika tiba waktu [awal] sholat. Umat Islam diajar oleh Nabi saw untuk berbisnis dengan keseimbangan yang terjaga ibadahnya. Wallahu a’lam bissawab. (Ace)

Sumber : Harian Terbit

February 13, 2006

Yang paling berhak dihormati

Filed under: Religi

26 January 2004 - 11:34
Yang paling berhak dihormat
Hal-hal luar biasa (23)
Yang paling berhak dihormat
*
Dari Abu Huroiroh ra ia berkata,
kali tertentu seorang lelaki
datang kepada Rosulullah saw lalu bertanya:
“Wahai Rosulullah,
siapakah yang paling berhak
aku pergauli dengan baik?”
Rosulullah saw nenjawab: “Ibumu!”
“Lalu siapa?”
Rosulullah menjawab: “Ibumu!”
Sekali lagi aku bertanya:
“Kemudian siapa?”.
Rosulullah menjawab: “Bapakmu!”
*
(HR Bukhori dan Muslim)

Tengara Hikmah
Wanita sebagai ibu adalah penentu kehidupan manusia. Sebab, dari ibulah anak manusia lahir, disusui, dibesarkan, dididik dan diarahkan kehidupannya. Itu sebabnya Islam memninggikan martabat ibu justru karena peran besarnya yang luar biasa sebagai sutradara kehidupan, bukan sebagai pemain kehidupan.
Statusnya sebagai pemimpin rumah tangga suaminya, juga tidak berarti menjadi pemimpin rumah tangga arena pemimpin rumah tagga tetap lelaki yang boleh dibilang Raja, dan sang istri adalah Ratu rumah tangga. Prialah yang tetap menjadi kholifah dan wanita dimuliakan untuk tidak menjadi orang yang berada di depan tetapi di belakang layar. Justru agar terhormat dan tidak mengundang berbagai fitnah yang selalu mudah timbul.
Ridho Tuhan tergantung ridho orangtua. Maka anak pun harus patuh pada orangtua. Teoritis, tiap muslim yang taat akan selalu menjaga moral dan perilakunya sehingga otomatis menadi teladan bagi anak, istri, maupun lingkungan masyarakatnya. Maka ibu yang terhormat pada dasarnya juga tercipta oleh suami yang terhormat, kecuali kelainan pada istri Fir’aun.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orangtua, membunuh orang, dan sumpah palsu.” (HR Bukhori).
Andai saja manusia bisa selalu menjaga mulutnya, Insya Allah manusia bisa menjadikan perkatannya sebagai kepastian yang benar. Namun mungkin hanya Rosulullah saw yang mampu bicara benar meski dalam keadaan marah. Meski demikian, merupakan kerugian besar jika ada anak yang berani membangkang pada orangtua sepanjang orangtua tersebut memang muslim yang taat.
Orangtualah yang akan menjadikan anaknya Nasrani, Majusi, atau Muslim yang sholih. Maka tetap saja orangtua tidak bisa menjadi penguasa bagi anak karena dia punya peran kehidupan, sang anak juga punya peran hidup sendiri.
Kahlil Gibran pun mengatakan orangtua itu sekedar busur, sedang anak adalah anak panah. Orangtua hanya mempersiapkan keturunan (merentang busur) untuk meluncurkan anak pada jalan yang dikehendaki. Anak yang berangkat dewasa akan lepas dan mandiri dan orangtua hanya bisa melihat seperti apa asuhan atau didikannya. Wallahu a’lam bissawab. (Ace)

Sumber : Harian Terbit

February 12, 2006

Si Tukang Batu

Filed under: Artikel

Si Tukang Batu

-Pencerahan Mengembalikan Kita

ke Jati Diri Kita yang Alamiah

Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Hsihu, Formosa, 10 Juli 1995

Di sini pernah hidup seorang tukang batu yang sangat rajin. Setiap hari ia memecah batu menjadi bagian-bagian kecil dan membuat berbagai macam barang dengan batu itu atau menjualnya. Sekalipun hari sangat panas sekali di Miaoli, ia tak pernah berhenti bekerja. Ia tak henti-hentinya bekerja, menggunakan sebuah palu yang sangat besar dan memecah batu-batu itu menjadi bagian yang kecil. Batu-batu ini kemudian digunakan oleh orang untuk membuat jalan, tempat dimana mereka duduk di dalam ruang meditasi, dan juga di setiap tempat dimana batu-batu kerikil dibutuhkan. Ini adalah hasil dari kerjanya.

Tukang batu ini mewarisi pekerjaan ini dari kakek buyutnya, dan kemudian dari kakeknya dan kemudian dari ayahnya. Jadi, ada beberapa generasi tukang batu di dalam keluarganya. Ia adalah seorang yang rajin dan kuat. Kadang-kadang ia tidak berhenti bekerja saat makan siang karena ia ingin mendapatkan uang lebih untuk keluarganya; ia akan bekerja sampai larut malam, kemudian pulang ke rumah dan tidur. Begitulah.

Banyak dari teman-teman dan tetangganya iri akan kesehatan dan gaya hidupnya yang sangat bebas. Ia kelihatannya sangat santai dan tidak tergantung pada orang lain. Akan tetapi, sebaliknya laki-laki ini (namanya berarti “kuasa”) tidak merasa gembira dengan keadaannya, tetapi selalu berharap untuk dapat hidup seperti bangsawan, dengan gaya hidup mewah dan berkalangan atas. Jadi, ia sebenarnya tidak selalu bahagia.

Suatu hari, ia sedang memecah batu, mungkin di dekat Sungai Surgawi. Saat itu pagi hari dan matahari sedang terbit. Tiba-tiba, ia melihat gumpalan hitam menuju kearahnya, seperti awan besar. Dan di tengah-tengahnya muncul sebuah kereta kencana yang besar dan indah sekali. Di atas kereta itu duduk seorang petinggi raja yang gemuk dan besar badannya. Ia memiliki begitu banyak pengawal yang menjaganya dan begitu banyak kuda yang mengelilinginya dan ia tampak sangat luar biasa, penuh kemegahan seperti seorang raja.

Perubahan yang Ajaib

Saat melihat kejadian ini, si tukang batu terperanjat, mulutnya terbuka lebar dan matanya membelalak, dan ia merasa sangat sedih. Di relung hatinya, ia tiba-tiba berharap dan berkata, “Saya berharap, saya bisa menjadi pejabat tinggi yang mulia, pejabat raja yang hebat.” Dan tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar seperti suara petir dari puncak gunung: “Bum!” Karena raja gunung telah mendengar doa tukang batu itu dan mengabulkannya. Lalu dalam sekejap si tukang batu berubah menjadi seorang pejabat tinggi. Ia berubah menjadi seorang perdana menteri, dan segala sesuatu yang pernah ia inginkan menjadi kenyataan. Ia memiliki uang, istana besar, para pengawal dan tanah yang sangat luas. Semua orang menghormatinya; kemana pun ia pergi, orang-orang membungkuk sedalam-dalamnya dan tidak berani menatapnya. Dan ia akan mengibaskan debu ke arah mereka dan mereka tetap gembira; mereka tidak berani berkata apapun.

Si tukang batu sangat bangga sekali dengan dirinya. Setiap hari ia harus berkeliling, mengurus negara bagi raja dan memberi laporan kepada raja sekembalinya. Dan saat ia memasuki istana, ia harus berlutut dan bersujud di hadapan raja. Ia juga harus memakai pakaian resmi seorang pejabat, yang sangat tebal dan penuh dengan segala macam batu berharga seperti intan dan mutiara. Jadi, pakaian itu sangat berat. Selain itu, ia harus memakai topi, yang juga dipenuhi dengan batu berharga, emas dan perak, yang sesuai dengan jabatannya. Setiap saat ia membungkuk hormat, punggungnya sakit, dan ia berusaha menahan pinggangnya; kalau tidak, pinggangnya akan patah. Jadi, ia merasa sangat tertekan, tetapi ia tidak pernah berani menanggalkan pakaian resminya.

Suatu hari, saat ia masih berusaha bertahan dalam situasi ini demi kejayaan, kekayaan dan kekaguman orang-orang di sekelilingnya, sang raja mengirimnya ke suatu tempat yang sangat jauh sekali untuk mengurus masalah negara. Dan untuk sampai ke tempat itu, ia harus melalui padang gurun yang sangat luas, dan luar biasa panasnya. Tetapi ia tidak bisa menanggalkan pakaian resminya karena jabatan yang disandangnya. Kemana pun ia pergi, ia harus seperti seorang menteri yang ternama dan tidak ada pilihan lain. Hari sungguh panas sekali, dan ia hampir mati di sana. Kemudian topinya terasa tiga kali lebih berat dari biasanya. Ia juga berkeringat, bajunya basah dan membuatnya terasa lebih berat dari biasanya. Maka ia kemudian berpikir, “Oh Tuhan, menjadi perdana menteri sungguh, sungguh mengerikan. Saya tidak mau menjadi perdana menteri lagi. Saya pikir, saya akan begitu saja mati di sini! Saya pikir, saya lebih baik menjadi seorang raja. Jika saya bisa menjadi raja, itu akan lebih baik. Saya tidak perlu mengalami penderitaan di padang gurun seperti ini, dan saya tidak akan mendapat perintah dari siapa pun. Saya bisa melakukan apa yang saya inginkan, dan akan mempunyai banyak istri. Jadi, wow! Itu akan menyenangkan, menjadi seorang raja. Saya ingin menjadi raja. Saya hanya ingin menjadi raja, tidak ada lagi lainnya; saya ingin menjadi seorang raja, oke?”

Harapan Menjadi Raja Terpenuhi

Dan kemudian tanpa terduga, ia mendengar suara “Bum!” lainnya yang sangat keras, dan kemudian si raja gunung, sahabatnya, dewa gunung, mengabulkan doanya. Maka si tukang batu berubah menjadi seorang raja yang memerintah sebuat negara yang besar, dan mempunyai kekayaan yang berlimpah dan istri yang banyak. Dan setiap orang berlutut di hadapannya dan melakukan setiap keinginannya.

Maka ia merasa gembira untuk sementara waktu. Akan tetapi, masa bulan madu berlalu dan ia harus bekerja sampai larut malam karena banyaknya laporan dari berbagai menteri dan pimpinan-pimpinan provinsi dan gubernur negara bagian yang datang menghadapnya setiap hari. Setiap hari ia harus mendiskusikan masalah negara sampai larut malam dengan begitu banyak menteri-menterinya. Maka ia kemudian tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Ia mencemaskan pekerjaannya, masalah-masalah negara dan urusan penting lainnya yang berhubungan dengan masalah negara yang tidak bisa ia selesaikan seketika dan dengan damai.

Dengan masalah-masalah yang tak pernah berhenti, baik di dalam dan di luar negaranya, ia tidak bisa tidur nyenyak, ia tidak bisa makan dan ia tidak bisa bergembira dengan semua istri cantik yang dimilikinya. Ia begitu murung bahkan untuk melihat mereka sekali pun. Saat kalian sedih, kalian tidak akan bisa menikmati apa pun. Jadi, ia tidak bisa makan; ia bahkan tidak bisa menikmati makanan yang ia inginkan, dan ia tidak bisa bergembira dengan perempuan-perempuan yang selalu diinginkannya. Ia menjadi amat murung dan hanya terbenam dalam pekerjaan, kecemasan dan khawatir akan tekanan seluruh rakyat, musuh, teman, dan setiap orang yang menginginkan sesuatu darinya. Karena ia adalah seorang raja, orang yang paling berkuasa, hanya satu-satunya, setiap orang datang kepadanya dengan masalah mereka, baik di dalam maupun di luar, dan dengan demikian ia mulai merasa bahwa jabatannya sebagai raja bukanlah sebuah berkah melainkan sebuah hukuman baginya. Ia merasa sangat lelah dan lesu.

Bahkan Matahari Mempunyai Masa-Masa Gelap

Kemudian, pada suatu hari, negara tetangga menyerbu negaranya, dan karena dikalahkan, maka ia harus melarikan diri dan bersembunyi. Ia tidak mempunyai makanan untuk dimakan selama pelariannya, dan ia begitu lelah dan merasa panas. Dengan musuh-musuh di dekatnya dan hidupnya yang terancam, ia mulai berpikir bahwa adalah sangat mengerikan menjadi seorang raja, benar-benar mengerikan! Adalah suatu kesalahan bahwa ia telah berharap menjadi seorang raja. Ia kemudian memandang ke atas dan melihat bahwa sang matahari sangat bebas dan sangat tinggi; tidak seorang pun sanggup menyentuhnya. Matahari bersinar dan sangat bagus! Maka ia berkata, “Oh, Tuhan! Menjadi Matahari; lebih baik menjadi Matahari. Saya ingin menjadi Matahari. Saya tidak suka menjadi seorang raja. Saya ingin menjadi Matahari.”

Dan demikianlah, “Bum!” ia berada di atas, dan mendapatkan dirinya berada di atas bumi, memancarkan kasih dan kehangatannya kepada semua yang ada di muka bumi. Ia sangat senang menganugerahkan berkatnya bagi semua makhluk hidup di dunia. Dan ia merasa sangat mulia, gembira karena ia pikir ia adalah yang tertinggi di muka bumi. Ia memandang ke bawah ke semua makhluk hidup dan merasa sangat mulia dan bahagia.

Maka ia menutup matanya dan bermeditasi sebentar dan kemudian tiba-tiba ia berkata, “Mengapa menjadi begitu gelap? Begitu gelap sehingga mata kebijaksanaannya terbuka dan ia berkata “Oh!” Ada awan besar di hadapannya, berani menutupinya! Dan ia kemudian mulai berjuang dan tidak bisa keluar darinya. Semuanya gelap sehingga juga menutupi mata kebijaksanaannya. (Gelak tawa) Ia tidak melihat apapun dan sangat marah, berkata, “Saya harus menjadi awan. Saya harus menjadi awan! Awan lebih hebat dari Matahari. Matahari tidak berguna.”

Tidak Berbahagia Menjadi Awan dan Gunung

Jadi kemudian, “Bum!” Kalian tahu apa lagi yang terjadi! (Gelak tawa) Orang yang tidak pernah puas itu mendapatkan kepuasan sekali lagi. Ia menjadi awan. Untuk sementara, ia menjadi bahagia. Ia menurunkan hujan bagi orang-orang, memusnahkan berbagai macam benda, dan kemudian memberkati tanah dengan membuat semua bunga-bunga tumbuh subur dengan air dari awannya. Ia membuat setiap orang bahagia, dan ia juga bahagia. Untuk sesaat ia merasa puas. Dan tiba-tiba, angin datang! Dirinya semakin berkurang sampai hampir tidak ada. Ia menjadi lebih kurus dan kurus, lebih kecil dan kecil, sampai seperti seutas benang, hanya berkeliaran, mencoba menyelamatkan dirinya. Dan kemudian ia menjadi sangat marah. Tapi, ia pikir bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia mungkin bisa menjadi besar lagi.

Akan tetapi, kemudian angin meniupnya melewati puncak gunung, dan gunung menangkapnya, seperti seseorang menarik baju kalian. Dan ia tertangkap di sana, tergantung di atas gunung, dan ia menjadi sakit hati, berkata, “Segala sesuatu datang dan pergi, tetapi gunung selalu berdiri di sana; tidak pernah hilang, tidak pernah termusnahkan, tidak sesuatu pun! Gunung selalu kuat. Oh! Saya berharap, saya adalah gunung! Saya harus menjadi gunung. Gunung adalah yang terbaik.” Maka, “Bum!” Suara itu datang kembali! Dan kalian tahu ia menjadi apa! ( J: “Gunung.” ) Sebuah gunung! Maka ia kembali menjadi sangat senang. Ia telah menjadi gunung. Tidak peduli hujan, angin, salju atau matahari - tidak sesuatupun yang bisa mengganggu gunung. Ia duduk seperti ini (Guru meluruskan sikunya ke arah luar menyerupai pamer kekuatan), seperti saya. (Gelak tawa) Ia merasakan bahwa gunung sangat hebat, dan mengangkat hidungnya ke atas. Ia merasa sangat hebat. Setiap hari ia melihat ke atas dan merasa bahwa ia sangat agung. (Gelak tawa)

Dan suatu hari, ia merasa sepertinya seseorang sedang menusuk kakinya dengan pisau atau paku atau sesuatu semacam itu, dan saat ia memandang ke bawah ia berkata, “Oh!” Ada seorang tukang batu sedang memecah batu dari kakinya di bawah sana. Tentu saja, ia menjadi sangat marah dan berteriak, “Beraninya engkau mencungkil kaki saya! Itu menyakitkan!” Tetapi tukang batu itu tidak peduli. Ia menggunakan palunya yang besar dan pahat yang tajam dan memecah batu, satu per satu, dan ia sangat menikmati pekerjaannya, sambil bernyanyi dan bersiul. Maka, wow! Ia kemudian menjadi lebih marah dan berkata, “W-a-a-h ha-ha, Saya harus menjadi tukang batu!” (Gelak tawa)

Sesudah Pencerahan, Kita Sungguh Memiliki Pikiran yang Biasa

Hal ini menyerupai kita. Kadang kala orang berkata, “Pikiran yang biasa adalah pikiran Buddha,” tetapi kita tidak mempercayainya. Kita tidak mengetahui apakah itu. Dan kita sesungguhnya tidak tahu sampai memperoleh pencerahan. Kita kemudian menjadi normal kembali. Kemudian kita tahu bahwa segala sesuatu adalah baik dan menyadari bahwa kita mengetahui apakah pikiran yang biasa itu. Sebelum itu, meskipun kita memilikinya, kita tidak mengetahuinya.

Yang disebut cara normal orang pada umumnya menjalani hidup mereka, bukanlah pikiran biasa. Pikiran biasa yang sesungguhnya adalah yang damai, tenang, yang menerima segala sesuatu yang datang padanya dan bereaksi terhadap segala sesuatu dengan seperlunya saja. Tidak ada keinginan, tidak ada penolakan dan tidak ada pemberontakan apa pun. Itu adalah pikiran biasa. Akan tetapi, cara orang menjalani hidup mereka sehari-hari, bukanlah apa yang dimaksud dengan pikiran biasa.

Maka berhati-hatilah agar kalian tidak salah paham antara tingkatan pikiran yang tidak tercerahkan dengan yang tercerahkan, yang tercerahkan dengan yang super-tercerahkan, dan super-tercerahkan dengan tidak-tercerahkan. Sesudah kita menjadi sangat tercerahkan, kita mulai berhenti berbicara. Pada mulanya, ketika kita belum begitu tercerahkan, kita berbicara banyak; kita mengetahui segala sesuatu. Kita tahu apa artinya “Buddha”, Nirwana, samsara, karma, transmigrasi - segala sesuatu. Kita tahu semua perkataan utama dari semua agama. Kita mengetahui itu semuanya.

Kemudian, setelah kita cukup tercerahkan, kita berbicara lebih banyak lagi tapi kata-kata kita lebih mengandung inti sari. Perkataan kita lebih bermakna daripada sebelumnya karena kita memiliki pengertian yang lebih dalam dari arti kata-kata yang sering kita ucapkan sebelumnya, tetapi tidak tahu arti yang sesungguhnya. Jadi, ada dua tingkatan bicara. Tingkatan bicara yang disebutkan terakhir adalah lebih bermakna dan jujur karena itu datang dari realisasi diri kita sendiri. Lalu, setelah tingkatan bicara ini, kita mulai menjadi diam. Kita tidak ingin berbicara lagi. Jadi, tentu saja kalian heran mengapa saya bicara (Guru tertawa.) - karena kalian ingin supaya saya berbicara.

Tidak berbicara bukanlah berarti berdiam diri sepanjang hari. Karena, jika seseorang tidak berbicara, bukan berarti ia sedang diam. Dan jika seseorang menghentikan segala kegiatannya, bukan berarti ia sedang tenang. Jadi berbicara ataupun tidak berbicara bukanlah hal luar; itu berasal dari dalam. Pada saat itu, kalian berbicara tetapi kalian tahu bahwa tidaklah perlu untuk berbicara. Kalian berbicara karena diminta oleh orang lain atau hanya untuk menjadi seperti orang normal umumnya atau untuk membuat orang lain berbahagia. Atau kalian hanya berbicara karena berbicara ataupun tidak berbicara adalah sesuatu yang sama bagi kalian. Itu bukanlah pembicaraaan yang penuh antusias; itu bukanlah lagi pembicaraan yang mengesankan lagi, seperti halnya kita ingin membuat seseorang beralih kepada kepercayaan kita maupun segala sesuatu yang serupa itu. Itu adalah sangat biasa dan sangat normal. Jadi, begitulah. Itu adalah cerita si tukang batu. Sangat menakjubkan, bukan? Itu persis seperti kita.

Sumber: Tukang Batu

February 11, 2006

Cara Menggunakan Kemarahan

Filed under: Artikel

Cara Menggunakan Kemarahan

Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Harvard University, Boston, USA
27 Oktober 1989 (asal dalam bahasa Inggris)

Pertama-tama, kita harus mengenali hakekat dari kemarahan dan kebencian yang timbul agar bisa mengatasi sifat demikian. Kemarahan dan kebencian hanyalah suatu cara untuk tujuan perlindungan. Adakalanya Anda merasa terancam oleh pendapat orang lain, gaya hidup ataupun tingkah laku mereka. Hal-hal seperti itu bisa saja mengusik sifat keakuan, harga diri, tubuh, atau pikiran Anda, sehingga timbullah kemarahan dan rasa benci dalam diri Anda.

Kebencian (hatred) adalah suatu kata yang terlalu keras. Saya tidak begitu suka menggunakannya, karena sebenarnya apa yang terjadi adalah rasa sebal (resent), bukan benar-benar benci. Kebencian lebih dalam maknanya. Sering kita merasa sebal pada orang lain apabila kita menghadapi ancaman terhadap kenyamanan kita. Sehingga, jangan terlalu menyalahkan diri Anda bila Anda menjadi marah. Cukup dengan menyelidiki darimana sumber kemarahan itu muncul dan apakah Anda berada di sisi yang benar atau sisi yang salah. Adakalanya Anda berhak menunjukkan sedikit sifat kemarahan guna melindungi diri Anda. Pertanyaannya bukanlah menghentikan sifat marah, tapi mengenali kapan Anda mesti menunjukkan sedikit kemarahan dan kapan tidak perlu menunjukkannya. Kendalikan sifat tersebut dan gunakanlah secara bijaksana untuk kepentingan Anda, bukan menghapusnya sama sekali.

Saya mempunyai cerita pendek tentang seekor ular. Itu adalah ular yang amat besar dan sadis. Ular itu tinggal di suatu lobang pohon, dan dia suka sekali memakan ayam dan menggigit orang sehingga orang-orang di desa tersebut merasa takut pada ular itu. Suatu hari, seorang yogi agung melewati tempat tersebut, kemudian duduk di dekat pohon itu dan bermeditasi. Ular itu merasakan perubahan dalam dirinya dan kedamaian yang luar biasa. Kemudian ular itu bertanya pada sang yogi, bagaimana dapat meredam sifat sadisnya, sifat-sifat jahatnya, dan bagaimana agar bisa menjadi seekor ular yang baik hati. Sang yogi mengajarkannya lima sila: jangan menyakiti orang, harus makan vegetarian, jangan berbohong, jangan melakukan ini dan itu, jangan berjudi….., yah bagaimanapun ular itu tidak tahu sama sekali tentang judi. Jadi, hal yang paling penting untuk diketahuinya adalah jangan menyakiti orang lain. Ular itu berkata, “Mulai hari ini, aku akan berlatih meditasi, makan vegetarian, aku tidak akan memakan ayam lagi, dan juga aku tidak akan menggigit orang lagi!”

Hingga suatu hari, sang yogi harus pergi beberapa hari. Dia berpesan pada ular itu, untuk tetap tinggal di rumah, berlatih meditasi, dan tunggu dia pulang. Kebetulan, anak-anak desa lewat dan melihat ular tersebut sekarang duduk dengan amat tenang dalam meditasi dan samadhi, sehingga mereka merasa tidak takut lagi padanya. Mereka ingin membalas dendam karena sebelumnya mereka amat takut padanya. Lalu, mereka mengambil batu dan melemparkannya. Ular itu tidak melakukan apapun. Gurunya tidak mengatakan padanya bahwa dia tidak boleh marah, tapi jangan menyakiti orang lain. Maksudnya jangan menunjukkan sifat kekejaman sama sekali. Ahimsa berarti tanpa kekerasan. Sehingga ular itu tetap diam dan coba untuk bermeditasi lagi, namun anak-anak itu menendangnya, menarik ekornya, dan menggulungnya dalam bentuk lingkaran. Ular itu menjadi pusing. Kemudian mereka melemparkannya ke dahan pohon serta memukulnya, dan melakukan segala kekerasan kepadanya.

Seluruh badannya biru legam, hitam dan biru; dan ular itu berbaring dalam keadaan sekarat. Sang yogi pulang dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?” Ular itu menjawab, “Ini gara-gara lima sila tersebut - tanpa kekejaman.” Sang yogi amat kaget, “Apa, tanpa kekejaman?” Ular itu kemudian menjelaskan lebih lanjut, “Guru mengajariku untuk tidak boleh kejam, jadi kemarin anak-anak ke sini, menarik ekorku, dan menyambit batu padaku. Aku tidak bereaksi sama sekali, jadi mereka meneruskan permainannya. Sekarang aku sekarat!” Gurunya berkata, “Kamu benar-benar bodoh. Aku tidak mengatakan bahwa kamu tidak boleh mendesis. Kamu boleh mendesis untuk menghalau orang.”

Itulah bedanya antara memiliki Kebijaksanaan dengan tidak memiliki Kebijaksanaan. Bila kita tidak memiliki Kebijaksanaan, belum tercerahkan, kita akan dikendalikan oleh emosi kita sendiri. Bila kita memiliki Kebijaksanaan dan pencerahan, kita dapat menggunakan emosi tersebut guna menyesuaikan dengan situasi dan kepentingan kita. Bukanlah berarti bahwa kita harus menghilangkan sama sekali emosi kita, kita hanya perlu mengenali bagaimana menggunakan emosi tersebut. Ini seperti halnya sepucuk pistol yang berada di tangan orang baik. Dia dapat menembak di tempat yang dikehendakinya, dia tidak akan menembak sembarangan dan membunuh orang seenaknya. Nah, jika Anda ingin memiliki daya-pengendali dan Kebijaksanaan ini, Anda harus memiliki pencerahan. Dan cara untuk mencapai pencerahan adalah melalui Guru yang berpengalaman. Sama seperti halnya apabila Anda ingin belajar bahasa Inggris. Anda harus menemui seorang guru bahasa Inggris yang berpengalaman, hanya itu yang perlu dilakukan. Saya dapat menawarkannya kepada Anda.

Sumber : Kemarahan

February 10, 2006

Cerita Tentang Seekor Kucing Vegetarian

Filed under: Artikel

Cerita Tentang Seekor Kucing Vegetarian

Diceritakan oleh Saudari Sepelatihan
Taipei, Formosa

Dapatkah seekor kucing menjadi vegetarian? Kebanyakan dokter hewan akan berkata, “Tidak mungkin. Saya tidak pernah mendengar hal seperti itu. Bagi kucing, lebih baik mati dari pada menjadi vegetarian!” Tetapi Saudari Liu punya seekor kucing yang sangat luar biasa, bernama “Bighead (si Kepala Besar)” yang sangat ketat bervegetarian, menolak untuk menyentuh makanan apa saja yang berbau daging, bahkan juga “daging” vegetarian. Di bawah ini adalah cerita yang menarik dari kucing yang luar biasa ini.

Tuhan pasti telah mengatur agar saudari Liu bertemu dengan Bighead. Setelah diinisiasi, saudari Liu tidak memelihara binatang sebab dia harus bervegetarian dan tidak suka akan bau binatang. Kemudian pada suatu hari, dia pindah ke rumah yang baru. Setelah memindahkan barang-barang, dia menemukan seekor kucing liar yang badannya kecil dan kurus kering di tangga apartemennya, dan untuk beberapa hari dia memberikan susu dan biskuit pada kucing itu.

Saudari Liu mengajar Bahasa Inggris di rumah, dan suatu hari sebelum kelas dimulai, kucing itu mengikuti muridnya masuk ke dalam apartemennya. Tetapi, saudari Liu yang selalu menjaga kebersihan rumahnya, tidak mau memelihara binatang itu dan mengeluarkannya. Pada malam itu, beberapa saudara sepelatihan datang ke rumah saudari Liu untuk meditasi kelompok, dan seorang dari mereka mengusulkan agar saudari Liu memelihara kucing yang tak berdaya itu. Pada hari berikutnya, ketika saudari Liu melihat kucing itu di tangga, dia membuka pintu dan berkata pada si kucing, “Jika kamu ingin tinggal bersama saya, kamu harus menjadi vegetarian seperti saya.” Kemudian saudari Liu mulai menghitung dari satu sampai sepuluh dan dia memutuskan akan menutup pintu jika si kucing kecil itu tidak masuk ke dalam rumah sebelum dia selesai menghitung. Tetapi ketika dia menghitung sampai delapan, si kucing dengan perlahan berjalan masuk dan mulai saat itu menjadi anggota keluarga saudari Liu.

Apa yang sebenarnya dimakan oleh Bighead? Saya yakin semuanya ingin tahu tentang itu! Bighead makan ketimun, tunas alfalfa, pepaya, buah kesemak, apel, pir, seledri, kubis, tomat, serat daging vegetarian, biskuit, dan bahkan pothos rebus (potted golden pothos). Dia terutama sangat suka akan ketimun, tunas alfalfa dan makanan asam manis. Bahkan sekarang dia mendapat hal-hal baru dalam daftar makanannya! Hal lain yang menarik dari kucing ini adalah dia memilih makanan yang ringan. Dia menolak makanan vegetarian yang menyerupai daging. Luar biasa! Kita tahu bahwa kucing tidak punya gigi geraham, lalu bagaimana Bighead mengunyah makanan? Saudari Liu mengunyah makanan itu duluan dan kemudian menempatkan sepotong kecil, yang tidak lebih besar dari kacang ijo, di telapak tangannya dan memberi makan pada si kucing. Setiap kali makan akan menghabiskan waktu sekitar satu jam. Pada permulaan, Bighead belum dapat mengontrol rahangnya dengan baik dan giginya menggarut jari saudari Liu, tetapi sekarang kucing pandai itu telah belajar bagaimana menjilat makanan tanpa melukai majikannya. Dari sini kita tahu kalau binatang pun punya perasaaan dan sangat berpengertian.

Ketika Saudari Liu membawa Bighead ke dokter hewan untuk pertama kalinya, kucing itu mengambil sikap bertahan dan galak. Setelah tiga kali berkunjung, kucing itu menjadi jinak, tenang dan sangat bekerja sama. Pada mulanya dokter hewan itu tidak percaya kalau kucing dapat menjadi vegetarian, tetapi kemudian dia tertawa dan berkata kalau Bighead akan segera menjadi “tercerahkan,” dan melalui insiden ini dia mulai mengenal ajaran Guru. Di bawah pemeliharaan yang teliti, kucing tak berbulu ini mulai mempunyai bulu lagi dan karena berdiet vegetarian, dia tidak berbau seperti halnya binatang lainnya.

Bighead adalah seekor kucing spiritual “Quan Yin”. Dia berjalan dengan tenangnya di antara para inisiat yang datang untuk bermeditasi bersama, dan setelah bermeditasi, seorang saudara sepelatihan mendapatkan Bighead duduk tak bergerak pada lututnya, sepertinya dia sedang bermeditasi. Ketika para inisiat bersiap-siap untuk pulang setelah sesi meditasi selesai, kucing itu duduk di bantal dari setiap orang selama beberapa saat, supaya mendapatkan berkah. Bighead juga adalah weker dari saudari Liu. Setiap pagi, si kucing membangunkan saudari Liu untuk mengingatkan dia akan saat meditasi!

Sejak Bighead mulai makan makanan vegetarian, dia menjadi jinak dan bertingkah laku menyenangkan, yang membuatnya menjadi terkenal di antara para dewasa dan anak-anak. Tetapi dia juga sensitif. Dia menyembunyikan diri jika ada orang asing yang datang, tetapi keluar dengan segera untuk menyambut para inisiat. Ketika murid saudari Liu datang, dia bersembunyi, tetapi ketika anak-anak inisiat datang ke rumah saudari Liu, dia bermain dengan mereka dan membiarkan mereka mengelus tubuhnya. Kucing yang sangat menyenangkan!

Bighead tinggal dengan gembira dan bebas di rumah saudari Liu, dimana dia menikmati meluncur di lantai yang bersih dan berjungkirbalik ketika dia berada sendirian di rumah. Saudari Liu telah belajar tentang kebajikan, cinta dan kesabaran dari Bighead, dan sekarang mengerti kalau binatang pun mempunyai aspek kerohanian, yang berbeda hanyalah mereka menggunakan bahasa yang berlainan. Bighead adalah suatu bukti nyata bahwa binatang peliharaan dapat menjadi vegetarian, yang membuat mereka lebih sehat dan memiliki bulu yang lebih indah. (Silahkan melihat rujukan pada “Diet Vegetarian Menyelamatkan Anjing,” Majalah News No. 134.) Apakah kalian ingin mencoba gaya hidup saudari Liu? Mungkin binatang peliharaan kalian akan menjadi kucing atau anjing vegetarian yang berbahagia.

Sumber : kucing vegetarian

February 9, 2006

An-Nifary

Filed under: Religi

Muhammad Ibnu Abdul Jabbar Bin Al Husain An-Nifary atau yang lebih dikenal An-Nifary adalah mistikus Sufi besar yang dilahirkan di Basrah, Iraq. Minimnya data disebabkan oleh pribadi an-Nifary. Sang sufi dikenal sebagai seorang yang suka menyendiri dan kesehariannya lebih dikenal sebagai pengelana.

Ketinggian ilmunya melampaui Rumi dan al Hallaj. la adalah teoretikus sufi sekaligus sastrawan besar. Di mata ahli tasawuf pan­dangan-pandangan sufistiknya sangat berpengaruh. Para sufi sesudahnya banyak yang mengikuti jejak pria kelahiran Iraq ini. Dalam memaknai tasawuf an-Nifary dipandang lebih hati-hati dan tidak kontroversial. Mes­kipun sosoknya bisa dibilang agak sulit.

Karya-karyanya juga penuh dengan perjalanan spiritual yang mengagumkan. Tidak kalah jauhnya dengan pengembaraan­nya di dunia nyata. Tahap demi tahap dilakukannya sampai pada puncak yang paling tinggi. Tokoh ini terasa unik. Berbeda dengan Sufi lainnya, dalam diri an-Nifary ada dua ke­lebihan. Di dunia sastra sufi, an Nifary sama seperti ar Rumi maupun al Aththar. Diban­ding dengan keduanya, karya an-Nifary lebih mendalam. Pertama, ia seorang sastrawan sufi. Kedua, ia seorang teoretikus mistik.

SEORANG SASTRAWAN

Di bidang sastra bait-bait puisinya tidak pernah luput dari pemaknaan tentang Allah. Seperti puisinya tentang penyerahan kepada Allah. Sifat pasrah berhasil diungkapkan da­lam bahasa yang indah. Puisinya menggam­barkan, bagaimana sebaiknya mengartikan kepasrahan secara mendasar. Totalitas pe­nyerahan kepada Allah akan menghasilkan pemaknaan yang benar tentang Islam.

Pengalaman spiritual dibingkai dalam bahasa sastra yang tinggi dan elok. Tidak dapat dipungkiri, nama an Nifary berderet di antara sufi-sufi agung dan sastrawan sepanjang zaman. Bait-bait puisinya tidak pernah luput dari pemaknaan tentang Allah. Seperti puisinya tentang penyerahan kepada Allah berikut ini:

Ilmu adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh perbuatan. Dan perbuatan ada­lah huruf yang tak terungkap kecuali oleh keikhlasan. Dan keikhlasan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh kesabaran. Dan kesabaran adalah huruf yang tak terungkap oleh penyerahan

Sifat pasrah herhasil diungkapkan dalam bahasa yang indah. Puisi ini menggambarkan, bagaimana sebaiknya mengartikan kepasrahan secara mendasar. Totalitas penyerahan kepada Allah akan menghasilkan pemaknaan yang benar tentang Islam. Dan itulah pula makna sujud yang dilakukan oleh umat Islam dalam salat. Tidak hanya kening yang melekat di hamparan sajadah. Tetapi jauh lagi adalah menyerahkan jiwa raganya kepada Allah.

Terlepas dari itu semua, pemikiran tasawuf dengan sangat memukau. Tasawuf di kaji secara mendalam dengan argumentasi yang cerdas. Sufisme menjadi bahasa spiritual sekaligus ilmu pengetahuan. Melalui simbol-simbol tampak sekali perjalanan dan konsepnya tentang tasawuf. Meski dengan hati-hati, ia mampu menerjemahkannya dalam sebuah pola pikir yang jitu.

MEMILIH DIAM

Ada sebuah karyanya yapg penting dan da­pat dinikmati sampai sekarang. Kitab berjudul Al Mawafiq wal Mukhthabat (Posisi-Posisi dan Percakapan-Percakapan). Diakui banyak pengamat, karyanya ini sarat dengan simbol. Hasilnya bahasa-bahasa kiasan itu sering menimbulkan kontroversi. Dimungkinkan kalau tidak hati-hati akan menimbulkan pemaknaan yang salah.

Selanjutnya karya ini menjadi dua bagian penting. Namun, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Ada sebuah cerita menarik tentang karyanya ini. Menurut pen­dapat satu-satunya pemberi syarah karya an ­Nifary, Afifuddin at-Tilmisani, bahwa ia tidak menulis sendin karyanya. An-Nifary hanya mendiktekan ide dan pengalaman spin­tualnya pada sang anak. Atau ia hanya me­nulis dalam potongan-potongan kertas dan kemudian disusun kembali oleh putranya itu.

Dimungkinkan kalau karyanya ditulis dan disusun sendiri akan lebih sempurna dan indah. Dalam kitab ini juga diterangkan ten­tang ilinu dan amal perbuatan atau makrifat dengan ibadah. la mengatakan berpendapat hakikat ilmu adalah perbuatan. Hakikat per­buatan adalah keihlasan. Hakikat keikhlasan adalah kesabaran, dan hakekat kesabaran adalah penyerahan.

Baginya hakikat tidak akan terbentuk ke­cuali dengan syariat. Demikian pula ide tidak akan terlaksana kalau tidak ada penerapan dan perbuatan. Makanya, kerterkaitan antara syariat dan hakikat menjadi penting artinya. Sedang dalam kitab al Mukhathabat berisi kata-kata batin dan kata-kata yang Maha Kuasa dalam din sang sufi. Di mana dalam posisi terakhir ini an-Nifary lebih memilih diam. Pengalaman ruhani yang luar biasa ini menimbulkan spontanitas yang membuatnya menjadi gagap.

Sumber : Nurani

Previous<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main