Ilmu Padi

April 11, 2006

Dibawah Lindungan Ka’bah 2

Filed under: Buku

Novel kedua Hamka (= Haji Abdul Malik Karim Amarullah) ini pertama kali diterbitkan Balai Pustaka (1983) hingga cetakan VI. Setelah cetakan VII sampai cetakan terakhir ini diterbitkan penerbit Bulan Bintang. "Dengan mengambil tempat bermainnya sebagian cerita di negeri Arab dan dengan memajukan falsafah keislaman, roman Di Bawah Lindungan Kabah ini menjadi suatu roman yang bercorak dan beraliran keislaman." Demikian pendapat H.B. Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei 1 (Gramedia, 1985; hlm. 46). Walaupun dalam soal kemurungan, Di Bawah Lindungan Kabah, masih terasa tak berbeda jauh dengan karya pertamanya, Dijemput Mamaknya (1930). Namun, dalam napas keislaman, DI Bawah Lindungan Kabah jauh lebih kuat dan bernas. Di samping itu, latar tempat kejadian di Mekah itu, ternyata juga sangat mendukung suasana murung dan kepedihan jiwa tokoh utamanya, Hamid.

Jika dibandingkan dengan cerpen panjang Al-Manfaluthi, Al-Yatim, novel Di Bawah Lindungan Kabah pun, tampak–sedikit-banyak– terpengaruh Pula oleh karya pengarang Mesir itu (lihat juga ulasan pada ringkasan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sungguhpun demikian, di dalamnya masih tampak jelas kritik Hamka terhadap adat perkawinan serta sikap para orang tua, yang mengaku islam, tetapi sebenarnya tidak berjiwa Islam.

Studi terhadap Di Bawah lindungan Kabah, antara lain, pernah dilakukan, Soebani (FS UGM, 1972), Hashim Lambak (FS unas, 1980), Ismail Bin Ibrahim (FS Unas, 1983), Mohd. Nasohah Haji Sanip (FS Uinas, 1978), Sabar Jakaria (FS Unas, 1973) yang semuanya merupakan penelitian skripsi sarjana muda. Adapun FX Djoko Sarwono (FS UGM, 1990) melihat struktur novel itu dengan novel Atheis dan Gairah untuk Hidup dan untuk Mati dalam skripsi sarjananya yang menggunakan pendekatan intertekstualitas.

Sumber : Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern, Grasindo, Jakarta

<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main