Ilmu Padi

April 22, 2006

[Kisah Sufi] Maimunah Siah dari Kufah

Filed under: Kisah Inspiratif

SEORANG sufi besar hidup sekitar 700 M, bernama Abdul Wahid bin Zayd. la sering berdiskusi masalah tasawuf dengan rekannya sesama Sufi yakni Fudhayl bin Iyad. Kepada Fudhail, Wahid berkisah bahwa ia selama tiga malam berturut-turut berdoa kepada Allah, untuk diperkenankan mengetahui siapa sahabatnya di surga nanti.

Pada malam hari ketiga Wahid diberi petunjuk dalam mimpinya. Petunjuk itu menyiratkan bahwa sahabat Wahid nantinya adalah Maimunah Siah dari Kufah.
Maimunah Siah adalah seorang sufi wanita yang hidup di akhir tahun 700 Masehi. Sebagai seorang sufi, ia hidup sederhana, berprofesi sebagai penggembala domba di sebuah gurun di dekat kota Kufah, Irak Selatan.

Keesokan harinya, Wahid langsung ke Kufah. Tanya sana-sini, siapa sih sebenarnya Maimunah itu? Kebanyakan orang Kufah menyebut sebagai wanita gila yang kerjanya menggembala domba di sebuah gurun. Setelah menyisir gurun ditemukan seorang wanita sedang salat. la selalu memakai jubah dan bulu domba yang dibagian belakangnya tertulis: "Aku tidak akan pernah membeli ataupun menjual."

Meski orang awam menyebut gila, narnun tekad Wahid untuk bertemu Maimunah tak pernah surut. la menganggap wanita ini misterius. Dengan kesabaran, Wahid menunggui wanita itu sarnpai ia selesai salat. Belum sempat ia bertanya, Maimunah sudah berucap, "Coba baca di punggung jubahku!" katanya.

MENIMBA ILMU
Wahid pun mahfum bahwa dirinya datang ke gurun itu dikira untuk membeli domba-dombanya. Belum sempat memberi jawaban justru Maimunah mengusirnya. "Kembalilah anak Zayd, waktu yang ditentukan telah tiba," ujarnya. Tentu saja Wahid kaget bukan kepalang. la ke gurun justru untuk menimba ilmu kepada sufi wanita yang selama ini jadi pikiran dan rasa penasaran.

"Semoga Allah SWT memberkatimu. Siapa yang mengatakan padamu bahwa aku adalah Wahid anak Zayd?" kata Wahid.

"Tidakkah kau tahu tentang hadis Nabi SAW yang mengatakan, ruh-ruh manusia bagaikan tentara yang diatur datam barisan. Mereka yang saling mengenal di dunia ini akan menjadi teman di akhirat nanti dan yang tidak kenal akan saling mengingkari."

Ternyata antara Maimunah dan Wahid terjadi salah paham, yang satu menganggap makelar domba sedang satunya, cuma wanita gila.

Ternyata Maimunah sudah tahu namanya. Bahkan Wahid kagum akan karomahnya, yakni menjadi juru damai antara domba dan serigala. Kedua binatang ini bisa merumput bernama-sama. Padahal di tempat lain serigala jadi predator, yang satu saling menerkam yang lain. Keduanya sebagai satwa yang penuh kekuatan dan menekan satwa yang lemah.

Ketika hal ini ditanyakan, apa rahasianya? Maimunah Siah hanya menjawab, "Karena aku telah membereskan segala urusan antara diriku dengan Allah SWT. Maka, Dia pun menetapkan perdamaian antara serigala-serigala dengan domba-dombaku," tuturnya. Wahid kemudian tercengang karena ilmu tasawuf wanita yang dianggap gila justru lebih tinggi dari dan dirinya. Wahid pun kemudian meminta nasihatnya.

SAHABAT DI SURGA
Apa jawab Maimunah Siah? "Aku heran, seorang pengkhutbah meminta orang lain yang kerjanya menggembala domba untuk berkhutbah kepadanya. Wahai Wahid anak Zayd, aku telah mendengar bahwa seorang hamba Allah SWT yang menyedekahkan sesuatu akan dianugerahi sesuatu yang serupa sebagai pahalanya.

Namun, seorang hamba yang darinya Allah SWT telah menghilangkan kecintaan akan kesendirian, akan dihukum dengan kejauhan setelah kedekatan dan ketakutan setelah keakraban." Mendengar kata-kata Maimunah ini Wahid merasa malu dan semakin yakin bahwa wanita inilah yang kelak akan menjadi sahabatnya di surga.

Kalimat-kalimat Maimunah begitu berkesan bagi Wahid. Hal ini semakin membuat Wahid memahami bahwa pada hakikatnya manusia adalah sendiri dan dalam kesendirian itulah manusia mengakui kesemestaan dan kebesaran-Nya. Dengan banyaknya ungkapan-ungkapan yang bermakna rnendalam itu pula Wahid semakin mengagumi Maimunah.

Dalam kelamnya malam yang semakin larut, kedua hamba Allah SWT itu semakin larut dalam perbincangan yang kental masalah tasawuf. Namun Wahid mengaku masih ada ganjalan dalam hatinya, adakah pekerjaan lain dari Maimunah Siah selain menggembala domba.

Apa jawab Maimunah? "Tidak ada. Tidak ada. Pekerjaan selain menggembala adalah salat. Baik pagi maupun petang aku tidak menginginkan apa pun selain Allah. Aku benar-benar rela dengan apa yang telah ditetapkan untukku," katanya.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://oryza.blogsome.com/2006/04/22/kisah-sufi-maimunah-siah-dari-kufah/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main