Ilmu Padi

May 31, 2006

Celine Dion › The Power Of Love

Filed under: Song for Today

The whispers in the morning
Of lovers sleeping tight
Are rolling like thunder now
As I look in your eyes

I hold on to your body
And feel each move you make
Your voice is warm and tender
A love that I could not forsake

(first chorus)
cause I am your lady
And you are my man
Whenever you reach for me
Ill do all that I can

Lost is how Im feeling lying in your arms
When the world outsides too
Much to take
That all ends when Im with you

Even though there may be times
It seems Im far away
Never wonder where I am
cause I am always by your side

(repeat first chorus)

(second chorus)
Were heading for something
Somewhere Ive never been
Sometimes I am frightened
But Im ready to learn
Of the power of love

The sound of your heart beating
Made it clear
Suddenly the feeling that I cant go on
Is light years away

(repeat first chorus)

(repeat second chorus)

May 30, 2006

Gila

Filed under: Kisah Inspiratif

Betapa indah dan manis
Di telinga kalbuku
Engkau seorang pencinta?
Berlakulah gila, gila!

Ingin bersatu dengan-Nya
Asingkanlah egomu
Jika engkau memang setia
Cinta dan tulus kepada-Nya

Bakarlah egomu
Terbanglah ke api cinta
Laksana seekor laron
Wahai kalbu, jangan gila

(Putri Zubaydah)

May 29, 2006

Ruh

Filed under: Kisah Inspiratif

Ruh-ruh manusia
Bagaikan tentara
Diatur dalam barisan
Mereka saling mengenal

Jika di dunia kenal
Di akhirat menjadi teman
Jika di dunia tak kenal
Mereka saling ingkar

Di surga Aden
atau di surga dunia
Ruh-ruh itu mencari
Kiblat pusat hati

(Ibnu Zayd)

May 28, 2006

Syekh Sa’di Asy-Syirazi, Sufi dari Persia

Filed under: Kisah Inspiratif

Dengan puisi yang menyentuh kalbu, membuat seorang berandal tidak jadi merampok Syekh Sa’di Asy-Syirazi. Berkat puisinya pula seorang raja tidak jadi memurkai seorang petani.

Tundukkan Perampok dengan Puisi
SA’DI dikenal sebagai tokoh sufi yang suka berkelana. Saat ia melakukan perjalanan ke Saudi Arabia, ia berjumpa dengan seorang perampok. Ditatapnya perampok itu yang hendak memukul dan memaksanya untuk menyerahkan barang bawaannya.

Dengan santun ia melantunkan puisinya, "Sang singa tidak akan memakan sisa-sisa anjing. Sekalipun ia harus mati kelaparan di sarangnya biarlah tubuhmu menderita kelaparan. Janganlah merendah karena mengharap bantuan."

Alangkah terkejutnya sang perampok. la pun balik bertanya, "Kenapa engkau tidak takut denganku?" Dengan tenang Sa’di menjawab, "Wahai tuan, tidakkah engkau bisa berbuat sesukamu kepadaku." Seperti tersentuh jiwanya, sang perampok terdiam dan membiarkan Sa’di berlalu menyusuri padang pasir seraya bergumam, "Alangkah gagahnya orang itu, kenapa aku selalu membuat orang lain bergantung kepadaku," kata sang perampok.

BERTEMU RAJA
Sa’di melanjutkan perjalanan hingga ke hutan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan rombongan Raja yang hendak berburu dengan pengawalnya. Sang Raja memerintahkan para pembesar istana agar menginap di sebuah gubuk petani. "Baginda, apakah engkau tidak takut kehilangan wibawa, jika menginap di tempat seperti ini?" sergah salah seorang pengawal. Sang raja pun terdiam sesaat lamanya.

Seorang petani pemilik gubuk itu berkata, "Baginda raja tidak akan kehilangan martabat. Justru aku-lah yang memperoleh kehormatan karena baginda sudi singgah di gubuk hamba."

Rupanya Sa’di memperhatikan dialog hamba dan tuannya itu. Lalu ia berkata, "Sungguh engkau amat terpuji wahai sang raja jika menghormati petani ini." Mendengar ucapan itu sang raja melotot, seolah tidak senang dengan ucapan Sa’di. Dengan kerdipan mata, dua orang pengawal raja mengacungkan senjatanya hendak meringkus Sa’di.

Mendapati bahaya di hadapannya, Sa’di justru berpuisi, "Wahai raja, tidakkah wibawa paduka luntur, jika tersinggung dengan hamba hina seperti aku. Mendengar penuturan itu, sang raja termenung dan meminta untuk tidak mengganggu Sa’di. Berkat ucapan Sa’di itulah, akhirnya sang raja tidak jadi memurkai si petani. Justru sebuah jubah kehormatan dianugerahkan kepadanya.

HAUS ILMU
Sa’di adalah sufi yang haus ilmu dan gigih dalam memperjuangkan akidahnya. la pernah belajar di perguruan tinggi di Baghdad. la mempunyai ikatan dengan para sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah, mempunyai hubungan dekat dengan Syekh Syahabuddin Suhrawardi, pendiri Tarekat Suhrawardiyah serta Najmuddin Kubra, Sang "Pilar Masa", salah seorang sufi terbesar sepanjang masa.

Pengaruh sa’di terhadap kesusastraan Eropa diakui sangat besar. Tulisan-tulisannya merupakan salah satu acuan dasar bagi Gesta Romanorum, buku induk berbagai legenda dan alegori di Barat. Para sarjana (Barat) telah mencatat pengaruh-pengaruh Sa’di dalam kesusastraan, seperti dalam sastra Jerman.

Penerjemahan karya-karyanya kali pertama ditemukan di Barat pada abad ke-17. Akan tetapi, seperti kebanyakan karya sufi lainnya, maksud yang terkandung dalam karya Sa’di hampir tidak dipahami sama sekali oleh para pengkaji sastra.

Ajaran kesufian Sa’di lebih banyak terukir dalam sajak-sajak sastra, seperti dongeng-dongeng berisi nasihat, syair, dan analogi-analogi sufi.

Pada tatanan masyarakat, semua tulisan Sa’di merupakan suatu kontribusi yang besar terhadap pemantapan etika. Namun, di antara para pengulas sastra Barat, hanya Profesor Codrington yang memahaminya lebih dalam.

Salah satu buah pemikiran sufinya adalah ketika ia menguraikan kedalaman makna pengetahuan batiniah (esoteris). Menurutnya, dimensi kedalaman hati ini tidak dapat dipahami seperti menyantap hidangan di atas piring.

Demikian pula tentang ketekunan dalam menjalankan hidup bertapa secara berlebih-lebihan. Kali pertama seorang calon murid harus dijelaskan tentang fungsi kehidupan mengasingkan diri yang sebenarnya. Kebutuhan mengasingkan diri dari dunia hanya berlaku dalam keadaan-keadaan tertentu.

Para pertapa, padang pasir atau gunung-gunung adalah tempat-tempat yang harus digunakan para sufi dalam menghabiskan seluruh hidupnya. Mereka sebenarnya tidak bisa melihat. seutas benang dalam hamparan karpet. "Aku menghadap meja (makan), karena sudah begitu lapar," begitu kata Sa’di melukiskan kesederhanaan keinginan jasmani dan keluhuran budi.

Sumber : Nurani 206, 02-08 Desember 2004

 

May 27, 2006

Sya’wanah, Sufi Wanita dari Irak

Filed under: Kisah Inspiratif

Sya’wanah sufi wanita ini, hidupnya lebih suka menangis dari pada tersenyum. Bahkan, jika disebutkan ada orang menyebut asma Allah. la juga memerintahkan jamaah pengajian untuk menangis. Dengan menangis orang itu telah banyak dosa.

Sebut Asma Allah, Langsung Menangis
KARENA seringnya menangis, seorang sobatnya, Muaz bin Fadhl mengira akan buta. Namun sufi ini membantahnya dan tidak akan buta karena menangis. Atas ucapan temannya itu ia mengucapan, "Demi Allah, lebih baik bagiku menjadi buta di dunia ini karena air mataku daripada buta di akhirat karena api neraka," kata Sya’wana.

Sya’wanah, seorang sufi wanita yang lahir di Ubullah, tepi Sungai Tigris (kini Irak). Sufi wanita ini punya ciri khas, yakni sepanjang hari menangis. la pernah berucap bahwa tidaklah layak bagi mata yang tercegah dari melihat kekasihnya (Allah) serta sangat ingin melihatNya untuk tidak menangis.

Sedangkan menurut cerita Malik bin Zayqham. Ada seorang laki-laki dari Ubullah yang banyak tahu tentang Sya’wanah datang kepada Abu Katsir. Katanya, sufi wanita ini sepanjang hari menangis tanpa henti. Ketika Malik bertanya bagaimana Sya’wanah mulai menangis? Apa jawabnya, "Jika dia mendengar nama Allah disebut-sebut, maka air mata akan mengalir dari pelupuk matanya seperti hujan."

Malik pun kurang puas soal air mata ini. "Apakah air matanya keluar terutama dari sudut matanya yang dekat hidung, ataukah dari sudut matanya yang dekat pelipis?"

"Air matanya begitu berlimpah hingga aku tidak bisa mengatakan dari mana is keluar. Aku hanya bisa mengatakan bahwa manakala nama Allah disebut, maka matanya menjadi laksana bintang yang bersinar-sinar," ujar lelaki tetangga Sya’wanah itu.

Baik Malik maupun Abu Katsir ikut terharu atas cerita lelaki dari Ubullah itu. "Tangisnya itu dikarenakan kenyataan bahwa seluruh hatinya terbakar. Orang-orang mengatakan bahwa banyaknya air mata orang yang menangis tergantung pada besarnya api yang membakar hatinya," ujar Katsir.

AIR MATA DARAH
Hidupnya sederhana, bahkan tempatnya tinggalnya reyot. Hal ini menunjukkan kepapaan sebagai seorang sufi. Kesaksian bahwa Sya’wanah miskin dituturkan oleh Manbudh yang masih keponakannya. Kunjungan Manbud ini bersama temannya yang bernama Humam.

"Aku pergi dengan seorang teman ke Ubullah. Kami minta izin kepada Sya’wanah untuk bertamu kepadanya."

Setelah menerima kami di gubuknya yang reyot, di dalamnya kelihatan kepapaan di mana-mana. Temanku berkata kepada Sya’wanah, "Wahai, kalau saja engkau mau berbelas kasihan kepada dirimu sendiri dan mengurangi tangisanmu, niscaya lama kelamaan keadaanmu akan lebih baik dan engkau akan memperoleh apa yang engkau harapkan," ujar Manbudh.

Mendengar itu Sya’wanah menangis. la berkata, "Aku bersumpah demi Allah, aku ingin menangis sampai air mataku tak tersisa lagi. Setelah itu akan kucucurkan air mata darah sedemikian rupa hingga tak setetes pun lagi darah yang tinggal di dalam badanku."

JAMAAH PENGAJIAN
Apa yang diceritakan orang tentang Sya’wanah adalah soal tangis menangis. Ruh bin Sa’mah bersaksi bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun menangis sebanyak Sya’wanah. Sebagai sufi ia sering memberikan pengajian kepada kaum wanita. Di dalam forum pengajian ini pun Sya’wanah menganjurkan jamaahnya yang hadir bisa menangis. Jika ada yang tidak bisa menangis hendaklah ia mengasihani orang-orang yang menangis. Alasannya karena barangsiapa menangis di forum pengajian itu, karena sadar betapa jauh hawa nafsunya telah menyimpang dan melakukan banyak dosa kepada Allah. Juga karena paham betapa hawa nafsunya itu telah menjadikannya seorang pelanggar aturan Allah.

Sedang berdasarkan pengalaman Hasan bin Yahya, bahwa Sya’wanah bila menangis akan merangsang orang-orang lain untuk menangis juga.

Meski memiliki kekerasan hati uhtuk menjauhi kehidupan duniawi, namun Sya’wanah tidak melupakan fitrahnya sebagai wanita. Suatu saat pula Allah menganugerahi seorang lelaki menjadi suaminya. Dari suaminya ini pula ia memperoleh anak lelaki. Setelah pernikahan dan punya anak, maka lengkap sudah hidup Sya’wanah, penuh keseimbanghan lahir batin.

Apalagi ia bersama suaminya sempat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. la ibarat wali wanita yang haus akan cinta Allah, bergelimang kesedihan dan air mata. Ada salah satu kalimat yang cukup menyayat bagi orangorang yang jadi penghayat tasawuf yaitu, "Tuhanku, Engkau tahu bahwa orang yang haus akan cinta-Mu tak akan pernah terpuaskan."

Bahkan salah satu muridnya yang setia menyatakan bahwa sejak dia bertemu dengan gurunya itu, maka berkat berkah wali perempuan yang kharismatik itu dia tak pernah lagi cenderung mencari kenikmatan dunia, dan tak pernah lagi dia meremehkan sesama muslim.

Sumber : Nurani 207, 09-15 Desember 2004

 

May 26, 2006

Lagi-lagi Belanja Buku…. Hiks

Filed under: Catatan, Buku

Hari ini beli buku lagi. Ini dia daftarnya

  • Sang Mahasiswa dan sang Wanita
  • The heart of Islam (beli buku ini gara2 tertarik ama diskon-nya 50% Lagian terbitan Mizan. Insya Allah tidak akan kecewa ama isinya)
  • Tip & Trik Macromedia Flash 5.0 (Flash benar2 bikin saya pusing. Nyari2 tutorialnya di internet tapi koq belum ngerti2 juga siy. hiks..)
  • Pengembangan Sistem Online Help (hehehe… sejak dulu bercita2 pengen bikin file help untuk ebook buatan sendiri)
  • Dua Kotbah dari iman (ini tentang dialognya om Umberto Eco, hiks sayangnya terbitan Jalasutra. Huh…)
  • Rifa’at sang penebus (bukunya naquib mahfouz)
  • Kalah dan Menang (buku sastra Indonesia lama)
  • Gitanyali (sastra indo lama juga)
  • Unggah-ungguhing Basa Jawi (pengen belajar menyelami bahasa jawa. huehehehe…) 

May 25, 2006

Muadzah, Sufi Wanita dari Irak

Filed under: Kisah Inspiratif

Setelah suami dan anaknya meninggal dunia di medan perang, Muadzah tidak bersedih. Tetapi ia bersedih jika pada malam harinya tidak bisa menjalankan salat malam hingga fajar menyingsing. Karena ia menginginkan surga.

Malu bila Tidak Salat Malam
SEBAGAI Sufi di zaman Irak (Abbasiyah), maka Muadzah juga melakukan kegiatan seperti puasa di siang hari, salat malam, berzikir, dan mengurangi tidur malam. Ketika anak lelakinya beranjak dewasa, maka sang anak meminta izin untuk berangkat berperang melawan kekufuran. Sang ayah tidak tega, sekalian berjihad untuk mengiringi anaknya ke medan laga. Namun, keluarga Muadzah ini tidak beruntung. Kedua-duanya (anak dan suami) Muadzah gugur dalam peperangan.

Sufi wanita Muadzah nama aslinya Ummu ash-Shahbah. la putri ulama Abdullah al-Adawi dari kota Basrah, Irak Selatan. Tidak sebagaimana sufi wanita lainnya, Muadzah berkeluarga dan punya anak laki-laki. Bahkan, sufi ini menganggap pernikahan adalah puncak kehidupan yang akan membawa manusia bahagia. "Dengan menikah seseorang telah menjalankan salah satu sunah Rasulullah SAW," jelasnya.

Selama suami dan anaknya maju ke medan laga, Muadzah selalu berdoa tak pernah berhenti, baik ketika menjalankan salat wajib, ataupun ketika menjalankan salat sunah. "Ya Allah, selamatkanlah suami dan anaknya," pintahnya.

Namun, Allah menghendaki lain. Kedua orang kesayangan itu malah meninggal dunia di medan peperangan. Awal cerita meninggalnya suami dan anak Muadzah, adalah dua hari setelah pertempuran antara umat Islam dengan nonmuslim, suami dan anak Muadzah terbunuh. Tak lama kemudian seorang sahabat membawa berita sedih ke Muadzah."

Suami dan anakmu telah sahid. Mudah-mudahan kamu tidak bersedih," kata pria yang berjubah putih yang barusan turun dari kuda itu.

Kabar Sedih
Mendapat kabar yang begitu menyedihkan ini membuat Muadzah tetap tabah. "Terima kasih atas kabar ini. Semoga Allah menerima suami dan anakku sebagai sahid," jawabnya. Berita kematian keluarga sufi ini menyebar ke seluruh pelosok. Para wanita pun berduyun-duyun mendatangi dan menghibur Muadzah. Namun, Muadzah bukanlah wanita yang mengurung diri dengan kesedihan. Dengan tabah dan tawakal ia berujar kepada wanita-wanita itu." Selamat datang, jika kalian datang untuk menghiburku dan apabila hanya untuk tujuan lainnya, maka pergilah sebagaimana kalian datang tadi."

Betapa malunya wanita-wanita itu, ternyata Muadzah sangat lapang jiwanya untuk melepas kepergian orang-orang yang dikasihinya. Sejak kepergian orang yang dicintainya itu, Muadzah menjalani hidupnya dengan rasa malu pada diri sendiri. Keberanian anak dan suaminya melecut jiwanya bahwa ia belum sempurna sebagai manusia di mata Allah. Sikap ini membuatnya semakin merenung, menyendiri dan semakin intensif menjaga malam-malamnya agar tidak terlelap tidur. Sedangkan pada pagi hingga sore harinya ia jalani dengan berpuasa.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Muadzah hingga selama 40 tahun. Sejak peristiwa meninggal suami dan anaknya, ia tidak pernah mendongakkan kepala ke atas langit. Dalam diamnya, ia menekur pandangan matanya ke bawah ke dalam jiwa yang paling dalam, dan tiada henti-hentinya menyebut asma Allah. Sampai-sampai rakyat Basrah menjulukinya sebagai wanita yang tak pernah merebahkan kepalanya, kecuali waktu yang menuntaskannya yakni kematian.

Salat Malam
Wanita ini semakin menaruh perhatian pada bangun di malam hari, menyendiri, berpuasa, dan berzikir. Dalam usianya yang semakin uzur dari hari ke hari semakin menarik diri dari kehidupan dunia, dan memilih kehidupan menyediri. Ia tidak pernah makan di siang hari, dan tidak pernah tidur di malam hari. Begitulah perumpamaan hidupnya.

Para sahabatnya mengkhawatirkan dengan kondisi ini. "Tidakkah engkau akan menyakiti diri sendiri dengan keadaan ini. Puasa setiap hari?" kata salah satu sahabatnya.

"Tenanglah sahabat, tidak ada sakit di dalam tubuhku. Tidak ada ruginya apa yang kukerjakan ini. Sebaliknya aku hanya menjauhkan tidur di malam hari sampai siang tiba, dan berhenti makan selama siang hari untuk makan di malam hari," jawab Muadzah.

Para sufi di zaman Irak ini, seperti halnya Muadzah benar-benar sangat ingin mendapatkan ganjaran surga di akhirat, dan sangat takut akan siksa neraka. Untuk itu Muadzah bisa melakukan salat sampai 600 rakaat sehari semalam, dan ia sering mengatakan. "Aku heran pada mata yang tertidur, akankah ia tahu, berapa lama ia akan terpejam saat di kubur nanti."
 

Sumber : Nurani 209, 23-29 Desember 2004

 

May 24, 2006

Bibi Hayati, Sufi Wanita dari Iran

Filed under: Kisah Inspiratif

Sejak gadis Bibi Hayati lebih mencintai ketenangan, apalagi ketika diperkenalkan dengan sorang sufi oleh kakaknya. Pada akhirnya ia menikah dengan guru sufinya. Perkawinan guru dan murid inilah yang kemudian melahirkan generasi sufi.

Ibu RT yang SUFI
KEGEMARANNYA akan tarekat semakin menjadi-jadi setelah Rawnaq memperkenalkan kepada guru sufi (mursyid) Nur Ali Syah dari Tarekat Nikmatullah. Bila dibanding dengan gadis seusianya, Hayati lebih mencintai ketenangan dan kesunyian untuk menemukan momen-momen kontemplatif yang dicarinya.

Rupanya ada cahaya spiritual yang muncul dari Nur Ali Syah, yang membuat perubahan pada diri Hayati. Rentetan kegiatan sampai kepada baiat untuk masuk dalam Tarekat Nikmatullah.

Kisah sufi Bibi Hayati, si pemuja cinta hidup dari awal abad 19 sampai pertengahannya. la lahir dari keluarga bangsawan di Kota Bam, Provinsi Kerman, Persia Tenggara (kini Iran). Sejak kecil Bibi Hayati diasuh oleh saudara laki-lakinya Rawnaq Ali Syah. Berkat Rawnaq, Bibi Hayati menjadi gadis kecil yang cemerlang. Bakat seni terutama sastra/puisi sudah tampak. Karena keluarganya juga tertarik soal kesufian, maka masalah tasawuf ini dikaitkan juga dengan sastra puisi.

Hubungan murid dan mursyid akhirnya memancarkan daya tarik sebagai insan manusia. Sang guru ataupun sang murid saling tertarik dan melesatlah panah asmara dan jatuh dalam buaian cinta manusiawi. Nur Ali Syah akhirnya meminang Hayati. Justru pernikahan ini menjadikan banyak inspirasi baik sebagai seorang penyair, maupun sebagai seorang sufi. Buah cinta ini membuahkan anak yang diberi nama Tuti.

SYAIR SUFI
Sebagai seorang ibu ia harus praktis untuk mengatur sebuah rumah tangga. Inilah ciri khas Bibi Hayati yang ditawarkannya artinya harus seimbang, harmonis, dunia yang adil bagi alam spiritual dan kemanusiaan. Dunia laki-laki adalah dunia keberanian. Keterlibatan Hayati dalam Tarekat Nikmatullah ya karena suaminya itu. la ikut menata organisasi apalagi ia seorang wanita yang cakap.

Organisasi berjalan baik dan wacana yang baik masuk. Lewat kemampuannya berekspresi dan berapresiasi secara puistis, Hayati memberikan ruang-ruang perenungan teman, dan anggota tarekat untuk lebih mengenal cinta yang utuh. Sebuah cinta yang hadir dari kesadaran untuk mencari kesempurnaan.

Suaminya sendiri kemudian melihat keterlibatan terlalu jauh di tarekat akan mengganggu kreativitas puisi-puisi (syair-syairnya). Syair sufi yang meletup-letup akan sia-sia jika tidak dicatat dalam memoar. Nur Ali menganjurkan agar Hayati menjadi pengarang saja sehingga syair yang dihasilkan utuh dan serpihan yang hilang itu bisa terkumpul.

Untung saja Hayati mendengarkan saran Nur Ali sehingga banyak diwan-diwan (ontologi kumpulan puisi) yang tercipta.

Kata-kata Hayati tentang suaminya, "Suatu saat raja makrifat itu, sang pembimbing dalam ranah dan jiwa, berucap dengan bibirnya yang berhias permata, di tengah-tengah percakapan kami dan mengatakan, "Jika engkau mesti menghiasi dirimu, engkau harus menjadi penyelam di lautan retorika, memecahkan bait-bait tiram yang berisi mutiara di dalamnya, sampai kau bungkus dirimu dengan jubah berhiaskan mutiara."

GENERASI SUFI
Diwan yang diciptanya jika dikaji boleh dikatakan sempurna. Pengarangnya menguasai ilmu eksoterik dan esoterik (makrifat). Dia berpegang pada prinsip lahiriah agama, maupun prinsip makrifat di jalan sufi. Bahkan oleh beberapa pihak di kemudian hari watak, dan sifat-sifatnya yang paling cocok menjadi pasangan hidup sang wali quthub.

Dalam mendidik anaknya, rupanya sastra dan sufi masih kental diterapkannya. Anak perempuannya memiliki watak peka seperti ibunya namun juga tegas seperti ayahnya. Namun karena kedekatannya dengan ibunya, maka syair-syair sufi mampu pula dicipta oleh Tuti. Bahkan, karya anak Hayati ini mampu mengungkapkan mistik yang pelik.

Sang anak akhirnya menikah di tahun 1831 dengan Surkh Ali Syah, murid sang ayah. Pernikahan dengan pria asal Ramadan ini menghasilkan anak bernama Sayyid Reza, dan kelak menjadi syaikh dari tarekat Nikmatullah yang terkenal. Sayyid Reza (cucu Bibi Hayati) punya anak Muhammad Said Khusychasm, seorang syaikh yang terkenal di kalangan Nikmatullah. Jadi, Bibi Hayati melahirkan generasi sufi mulai dari anak, cucu dan buyutnya.

Demikianlah anak cucu Bibi Hayati itu lahir dan melengkapi Tarekat Nikmatullah. Dalam kesetiaan dan kedamaian cinta kasih, Bibi Hayati hadir melalui hari-harinya di sana. Hingga suatu saat di pertengahan tahun 1853, Allah SWT memanggilnya pulang keharibaan-Nya.

Kepergian Bibi Hayati menjadi berkah tersendiri bagi kalangan wanita. Apalagi pada awal tahun 1850-an pergerakan wanita di Iran tumbuh subur. Syair-syair Bibi Hayati pun bisa menjadi spirit, membahasakan realita kaumnya dalam kacamata kesufiannya.

Sumber : Nurani 208, 16-22 Desember 2004

 

May 23, 2006

Nafisah, Sufi Wanita dari Mesir

Filed under: Kisah Inspiratif

BEGITU khusuknya dalam beribadah, doanya dikabulkan oleh Allah. Karena itulah, seorang pejabat langsung sadar sehingga memberi hadiah kepada Nafisah. Dan, hadiah itu diberikan kepada fakir miskin. Bahkan, ia meninggal dalam keadaan puasa.

Doa Nafisah Bikin Sadar Penjabat Pemerintah
Soal ibadah, Nafisah sangat disiplin, zuhud. Mulai puasa dan siang malam salat tahajud. la adalah wanita kaya raya. Dengan kekayaannya itu ia suka berbuat baik terhadap orang-orang yang ditimpa musibah, orang-orang sakit yang kebanyakan miskin. la lahir pada tahun 145 H. Dilihat dari nasabnya, ia keturunan kelima (putri) dari Rasulullah SAW dari jalur Fatimah dan Hasan. Sejak lahir sampai remaja berada di Makkah. Nafisah menikah dengan Ishaq bin Jakfar Al-Shadiq. Punya anak Qasim dan Ummu Kultsum, namun keduanya tidak memberinya keturunan.

Ketika pindah ke Mesir ia berjumpa dengan ulama fikih, Syafii. Keduanya saling bertukar pikiran dan kadang-kadang salat bersama di bulan Ramadan. Dari Nafisah-lah Syafii banyak memperoleh hadis-hadis Nabi SAW yang kemudian dibukukannya. Karena hubungan yang demikian erat, maka ketika Syafii wafat, jenazahnya digotong ke rumah Nafisah, kemudian sufi wanita ini menyalatinya Bahkan, karena kagumnya akan kepandaian Syafii, Nafisah membangun rumah dekat makam Syafii, yang dikenal sebagai pendiri sebuah mazhab yang beraliran moderat.

Sebagai sufi, ia sering diminta pertolongan orang lain agar mendoakan agar selamat. Misalnya, ada seseorang yang mau dianiaya oleh seorang pejabat Mesir. Buron ini, kemudian meminta suaka kepada Nafisah. Sang Sufi ini pun dengan senang berdoa untuknya dari kemudian mengatakan bahwa dia boleh pergi sambil berpesan, "Allah akan memberi tabir mata orang yang zalim sehingga tidak bisa melihatmu."

HADIAH DARI PEJABAT
Doa Nafisah dikabulkan Allah. Pejabat yang mencarinya tidak melihat si buronan walaupun berada di depannya. Ketika seorang pengawal memberitahu bahwa yang dicari berada di depannya, si pejabat malah kebingungan. la baru sadar setelah sang pengawal bercerita, kalau buronan yang dicarinya itu didoakan oleh seorang sufi wanita bernama Nafisah. Doanya agar Allah memberi tabir pada mata pejabat zalim.

"Kalau begitu, kezalimanku telah mencapai tingkat sedemikian rupa hingga karena doa manusia saja Allah telah menutupi mataku dari melihat orang yang terzalimi! Ya Allah, aku bertobat kepada-Mu," ujarnya sambil merasa malu.

Sebagai rasa terima kasih, pejabat yang dermawan itu mengirim uang 100.000 dirharn kepada Nafisah. Uang itu diambilnya kemudian dibagikan kepada fakir miskin sampai habis. Nafisah tidak mengambil sepeser pun. Ketika pembantu wanitanya meminta uang untuk rnembeli makanan untuk berbuka puasa, Nafisah malah menyuruh wanita itu membawa benang agar dijual di pasar.

Dari hasil penjualan itu, uangnya dibelikan roti untuk buka puasa bersama kawan-kawan Nafisah. Jadi, jelas uang pemberian (hadiah) dari pejabat itu tidak dipergunakan untuk perutnya sendiri melainkan untuk perut si miskin yang tiap hari kelaparan.

PERTAHANKAN PUASA
Menjelang ajal, Nafisah sedang berpuasa dan orang-orang menyarankan agar dia membatalkan puasanya. la menolak dengan mengatakan, "Alangkah anehnya saran kalian ini? Selama 30 tahun ini aku bercita-cita hendak menghadap Tuhanku dalam keadaan berpuasa. Apakah sekarang aku harus membatalkan puasaku? Tidak…, tidak mungkin!" Lalu, Nafisah membaca surat Al-An’am. Ketika sampai pada ayat 127, yang artinya: "Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang mereka kerjakan." Maka, ia pun mengembuskan napas terakhir.
Ketika dia meninggal dunia (th 208 H) seluruh Mesir diliputi suasana duka yang sangat mendalam. Suara ratapan dan tangisan terdengar di setiap rumah. Doa dipanjatkan dan ucapan duka diungkapkan. Sejumlah besar manusia mengantar pemakamannya yang belum terjadi selama itu di Mesir. Nafisah dikuburkan di rumahnya di Darbissiba’ Maraghah, suatu tempat terkenal dekat Kairo.

Pihak keluarga menghendaki agar jenazah Nafisah dimakamkan di pemakaman Baqi, Madinah. Maksudnya agar berkumpul dengan makam-makam para ahlul bait yang letaknya di sisi timur Masjid Nabawi. Tetapi, penduduk Mesir meminta Ishak (suami Nafisah) agar dimakamkan saja di negerinya sehingga bisa mengambil berkahnya. Namun, Ishak berkeras akan membawanya ke Madinah.

Ishak akhirnya luluh juga hatinya, dan membatalkan rencananya itu setelah bermimpi melihat Rasulullah SAW dan bersabda, "Ya Ishak, janganlah engkau menolak permintaan penduduk Mesir itu karena rahmat turun atas mereka berkat dirinya". Akhirnya Ishak hanya berangkat bersama kedua orang putranya saja menuju ke Madina.

Sumber : Nurani 198, 29 September - 5 Oktober 2004

 

May 22, 2006

Tuhfah, Sufi Wanita dari Irak

Filed under: Kisah Inspiratif

Begitu taatnya kepada Allah, akhirnya Tuhfah dianggap gila oleh majikannya. Sehingga, ia dimasukkan di RS jiwa. Tiba-tiba seorang sufi ingin menebusnya, tapi majikan Tuhfah yang semula menjual harga tinggi, akhirnya malah tidak menjual. Bahkan, mereka akhirnya menjalankan ibadah haji bersama-sama sampai meninggal dunia.

Budak Yang Sufi
SUFI wanita, Tuhfah, hidup sezaman dengan sufi Sari al-Saqati (sekitar tahun 250 H/853 M). Tuhfah seorang budak yang tidak mengenal tidur maupun makan, sepanjang hari menangis serta merintih dalam mengabdi kepada Allah. Akhirnya ketika keadaan sudah demikian gawat untuk ditangani keluarga majikannya. Mereka pun mengirim ke rumah sakit jiwa.

Sufi yang banyak bercerita tentang Tuhfah adalah Sari al-Saqati. Menurut al-Saqati, dia pergi ke rumah sakit karena kesumpekan hati nya. Di suatu kamar, ia mendapati seorang gadis hanya saja kedua kakinya dirantai Air matanya berlinangaan sepanjang hari ia selalu melantunkan syair.

Ketika ingin tahu identitas gadis itu, seorang perawat mengatakan ia seorang budak yang gila dan bernama Tuhfah. la dikirim oleh seseorang yang rupanya majikannya. Ketika perawat itu menerangkan kepada al-Saqati perihal dirinya. la pun berlinang matanya.

Tuhfah berkata, "Tangisanmu ini, lahir dari pengetahuanrnu tentang sifat-sifat Allah. Bagaimana jadinya jika engkau benar-benar mengenal-Nya sebagaimana dibutuhkan oleh makrifat hakiki?" Setelah berkata begitu Tuhfah pingsan satu jam. Sesudah itu ia bersyair kembali.

Saqati menganggap, Tuhfah sebagai saudara. Ketika Saqati bertanya siapa yang memenjarakan (maksudnya mengirim) ke rumah sakit ini?" Orang-orang yang iri dan dengki," jawabnya. Mendengar jawaban itu, Saqati menganjurkan kepada petugas rumah sakit itu agar Tuhfah dilepas saja dan membiarkan ia pergi ke mana saja. Melihat gelagat itu Tuhfah bereaksi.

SAQATI BERDOA
Mendadak seseorang muncul di rumah sakit. Menurut seorang perawat, dia adalah majikan Tuhfah. Siapa yang memberi tahu, kalau budaknya yang gila itu sudah bersama al-Saqati, seorang syaikh. la sangat gembira dan mengatakan barangkali Sufi yang datang itu bisa menyembuhkan budaknya. la mengaku bahwa dirinya yang mengirim ke rurnah sakit. Seluruh hartanya sudah ludes untuk membiayai pengobatannya. Katanya budak itu dibeli dengan harga 20.000 dirham.

Saqati tertarik rnembeli karena ketrampilannya sebagai penyanyi, sementara alat musik yang sering ia pakai adalah harpa. la seorang sufi wanita yang begitu kuat cintanya kepada Allah.

Mendengar kisah itu Saqati kemudian dengan berani menawar berapa saja uang yang diminta jika sang majikan menjualnya. Sang majikan menukas, "Wahai Saqati, engkau benar seorang sufi, tetapi engkau sangat fakir, tidak bakalan bisa menebus harga Tuhfah," tukasnya.

Benar apa yang dikatakan majikan Tuhfah. Kala menawar, Saqati tak memiliki uang sedirham pun. Saqati pulang dengan hati menangis. Tekadnya untuk membeli Tuhfah begitu besar dan menggebu-gebu, namun apa dikata, uang pun ia tak mengantungi. Kemudian ia berdoa, "Ya Allah, Engkau mengetahui keadaan lahiriah dan batiniahku. Hanya dalam rahmat dan anugerah-Mu aku percayakan diriku. Janganlah Engkau hinakan diriku kini!"

Selesai berdoa tiba-tiba pintu diketuk orang. Saqati pun membuka pintu. Didapati seseorang yang mengaku bernama Ahmad Musni dengan membawa empat orang budak yang memanggul pundi-pundi. Musni mendengar suara gaib, agar ia membawa lima pundi-pundi ke rumah Sari Al Saqati, supaya sufi fakir itu memperoleh kebahagiaan untuk membeli Tuhfah. Itulah salah satu karomah yang dimiliki al-Saqati

HAJI BERSAMA
Mendengar cerita Musni itu, Saqati langsung sujud sukur, dilanjutkan dengan salat malam, dan bangun sampai pagi. Ketika matahari sepenggalah, Saqati mengajak Musni ke rumah sakit. Majikan Tuhfah yang mengejeknya itu sudah
berada di rumah sakit lebih dahulu. Ketika hendak dibayar berapa saja harga yang diminta, majikan itu malah mengelak, "Tidak Tuan, sekiranya Anda memberiku seluruh dunia ini untuk mernbelinya, aku tidak mau menerimanya. Aku telah membebaskan Tuhfah. la henar-benar bebas untuk mengikuti kehendak Allah," tuturnya.

Mendengar kata-kata majikan itu, Ahmad Musni yang memberi Saqati lima pundi-pundi ikut menangis. Musni menangis karena terharu kepada majikan itu yang sudah meninggalkan duniawi, melepaskan hartanya seperti dirinya juga." Betapa agung berkah yang diberikan Tuhfah, kepada kita bertiga ini" ujar Musni sambil menatap Sari Al Saqati dan majikan Tuhfah.

Ketiga orang itu pun kini berperilaku seperti sufi. Ketiganya pergi haji ke Makkah Dalam perjalanan Baghdad-Makkah Musni meninggal dunia Ketika sampai di Baitullah dan keduanya thawaf, Ketika saqati memberi tahu, bahwa Musni sudah meninggal Tuhfah berkomentar, "Di surga ia akan menjadi tetanggaku, Belum ada seorang pun yang melihat nikmat yang diberikan kepadanya".

Ketika Saqati memberi tahu bahwa majikannya juga melaksanakan haji bersamanya, Tuhfah hanya berdoa sebentar, sesudah itu ia roboh di samping Kakbah. Ketika majikannya datang dan melihat Tuhfah sudah tak bernyawa, ia sangat sedih dan roboh di sampingnya. Saqati kemudian memandikan, mengkafani, menyalati dan menguburkan Tuhfah dan majikannya. Saqati selesai berhaji pulang sendirian ke Irak.

Sumber : Nurani 199, 6 - 12 Oktober 2004

 

<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main