Pasangan Jiwa Benarkah Ada?
Sebuah studi menyebutkan pemusatan terhadap diri sendiri bisa saja membunuh satu hubungan, tapi ini juga bisa menjadi landasan untuk mendapatkan hubungan yang memuaskan dan romantis, seperti yang dimuat di ‘Journal of Personality and Social Psychology’.
"Membiarkan pasangan berbaur dengan diri kita memberi keintiman perasaan seperti yang mereka temukan sebagai anggota keluarga, seorang yang serupa dengan mereka, serta tahu dan mengerti seperti apa mereka sebenarnya," kata Sandra L. Murray dari University of New York di Buffalo yang melakukan penelitian bersama keempat rekannya.
Dalam kompleksnya dunia hubungan, para peneliti menegaskan sikap egosentris bisa menguntungkan, yakni dengan memberi tanda pada perasaan bahwa ada seseorang yang merupakan pasangan jiwanya.
Untuk mendukung ide ini tim Murray mempelajari 105 paangan yang telah bersama setidaknya dua tahun. Juga 86 remaja yang sedang menjalin hubungan dekat. Partisipan menjawab pertanyaan tentang kualitas, nilai dan perasaan serta persepsi mereka tentang pasangan. Mereka juga menjawab pertanyaan tentang pemahaman dan kepuasan mereka kepada pasangan.
Secara umum partisipan merespon bahwa mereka merasakan beberapa hal yang sama dengan pasangannya. Begitu menikah kelompok egosentris merasa puas dengan hubungannya, begitu juga dengan pasangan mereka. Tak hanya itu para partisipan merasa pasangannya lebih memahami mereka.
Lebih lanjut studi ini mengatakan secara tidak langsung jika kita yakin telah menemukan pasangan jiwa kita, kita akan merasa bahagia, meskipun ada distorsi pada kenyataan yang tak kita ketahui. Terkadang kebahagiaan datang dari penerimaan kita bisa menerima khayalan romantis daripada melihat kenyataan yang murni (tanpa polesan), jadi sedikit kepalsuan atau menipu diri sendiri bukanlah sesuatu yang buruk. Pasangan jiwa itu ada jika kita meyakininya dalam pikiran kita. (newtimes/rit)
Sumber : KapanLagi
