Muadzah, Sufi Wanita dari Irak
Setelah suami dan anaknya meninggal dunia di medan perang, Muadzah tidak bersedih. Tetapi ia bersedih jika pada malam harinya tidak bisa menjalankan salat malam hingga fajar menyingsing. Karena ia menginginkan surga.
Malu bila Tidak Salat Malam
SEBAGAI Sufi di zaman Irak (Abbasiyah), maka Muadzah juga melakukan kegiatan seperti puasa di siang hari, salat malam, berzikir, dan mengurangi tidur malam. Ketika anak lelakinya beranjak dewasa, maka sang anak meminta izin untuk berangkat berperang melawan kekufuran. Sang ayah tidak tega, sekalian berjihad untuk mengiringi anaknya ke medan laga. Namun, keluarga Muadzah ini tidak beruntung. Kedua-duanya (anak dan suami) Muadzah gugur dalam peperangan.
Sufi wanita Muadzah nama aslinya Ummu ash-Shahbah. la putri ulama Abdullah al-Adawi dari kota Basrah, Irak Selatan. Tidak sebagaimana sufi wanita lainnya, Muadzah berkeluarga dan punya anak laki-laki. Bahkan, sufi ini menganggap pernikahan adalah puncak kehidupan yang akan membawa manusia bahagia. "Dengan menikah seseorang telah menjalankan salah satu sunah Rasulullah SAW," jelasnya.
Selama suami dan anaknya maju ke medan laga, Muadzah selalu berdoa tak pernah berhenti, baik ketika menjalankan salat wajib, ataupun ketika menjalankan salat sunah. "Ya Allah, selamatkanlah suami dan anaknya," pintahnya.
Namun, Allah menghendaki lain. Kedua orang kesayangan itu malah meninggal dunia di medan peperangan. Awal cerita meninggalnya suami dan anak Muadzah, adalah dua hari setelah pertempuran antara umat Islam dengan nonmuslim, suami dan anak Muadzah terbunuh. Tak lama kemudian seorang sahabat membawa berita sedih ke Muadzah."
Suami dan anakmu telah sahid. Mudah-mudahan kamu tidak bersedih," kata pria yang berjubah putih yang barusan turun dari kuda itu.
Kabar Sedih
Mendapat kabar yang begitu menyedihkan ini membuat Muadzah tetap tabah. "Terima kasih atas kabar ini. Semoga Allah menerima suami dan anakku sebagai sahid," jawabnya. Berita kematian keluarga sufi ini menyebar ke seluruh pelosok. Para wanita pun berduyun-duyun mendatangi dan menghibur Muadzah. Namun, Muadzah bukanlah wanita yang mengurung diri dengan kesedihan. Dengan tabah dan tawakal ia berujar kepada wanita-wanita itu." Selamat datang, jika kalian datang untuk menghiburku dan apabila hanya untuk tujuan lainnya, maka pergilah sebagaimana kalian datang tadi."
Betapa malunya wanita-wanita itu, ternyata Muadzah sangat lapang jiwanya untuk melepas kepergian orang-orang yang dikasihinya. Sejak kepergian orang yang dicintainya itu, Muadzah menjalani hidupnya dengan rasa malu pada diri sendiri. Keberanian anak dan suaminya melecut jiwanya bahwa ia belum sempurna sebagai manusia di mata Allah. Sikap ini membuatnya semakin merenung, menyendiri dan semakin intensif menjaga malam-malamnya agar tidak terlelap tidur. Sedangkan pada pagi hingga sore harinya ia jalani dengan berpuasa.
Kegiatan tersebut dilakukan oleh Muadzah hingga selama 40 tahun. Sejak peristiwa meninggal suami dan anaknya, ia tidak pernah mendongakkan kepala ke atas langit. Dalam diamnya, ia menekur pandangan matanya ke bawah ke dalam jiwa yang paling dalam, dan tiada henti-hentinya menyebut asma Allah. Sampai-sampai rakyat Basrah menjulukinya sebagai wanita yang tak pernah merebahkan kepalanya, kecuali waktu yang menuntaskannya yakni kematian.
Salat Malam
Wanita ini semakin menaruh perhatian pada bangun di malam hari, menyendiri, berpuasa, dan berzikir. Dalam usianya yang semakin uzur dari hari ke hari semakin menarik diri dari kehidupan dunia, dan memilih kehidupan menyediri. Ia tidak pernah makan di siang hari, dan tidak pernah tidur di malam hari. Begitulah perumpamaan hidupnya.
Para sahabatnya mengkhawatirkan dengan kondisi ini. "Tidakkah engkau akan menyakiti diri sendiri dengan keadaan ini. Puasa setiap hari?" kata salah satu sahabatnya.
"Tenanglah sahabat, tidak ada sakit di dalam tubuhku. Tidak ada ruginya apa yang kukerjakan ini. Sebaliknya aku hanya menjauhkan tidur di malam hari sampai siang tiba, dan berhenti makan selama siang hari untuk makan di malam hari," jawab Muadzah.
Para sufi di zaman Irak ini, seperti halnya Muadzah benar-benar sangat ingin mendapatkan ganjaran surga di akhirat, dan sangat takut akan siksa neraka. Untuk itu Muadzah bisa melakukan salat sampai 600 rakaat sehari semalam, dan ia sering mengatakan. "Aku heran pada mata yang tertidur, akankah ia tahu, berapa lama ia akan terpejam saat di kubur nanti."
Sumber : Nurani 209, 23-29 Desember 2004

allahu akbar !!
sungguh saya malu pd diri sy sndri yg hanya bs melihat dunia tnpa mlihat khidupan akhirat,allahu akbar semoga kisah sufi ini bisa menjadi motifasi bagi diri saya utk melihat khidupan yg akan sy jalani nnti.insya allah
Comment by ayu — June 18, 2007 @ 1:23 am