Ilmu Padi

May 27, 2006

Sya’wanah, Sufi Wanita dari Irak

Filed under: Kisah Inspiratif

Sya’wanah sufi wanita ini, hidupnya lebih suka menangis dari pada tersenyum. Bahkan, jika disebutkan ada orang menyebut asma Allah. la juga memerintahkan jamaah pengajian untuk menangis. Dengan menangis orang itu telah banyak dosa.

Sebut Asma Allah, Langsung Menangis
KARENA seringnya menangis, seorang sobatnya, Muaz bin Fadhl mengira akan buta. Namun sufi ini membantahnya dan tidak akan buta karena menangis. Atas ucapan temannya itu ia mengucapan, "Demi Allah, lebih baik bagiku menjadi buta di dunia ini karena air mataku daripada buta di akhirat karena api neraka," kata Sya’wana.

Sya’wanah, seorang sufi wanita yang lahir di Ubullah, tepi Sungai Tigris (kini Irak). Sufi wanita ini punya ciri khas, yakni sepanjang hari menangis. la pernah berucap bahwa tidaklah layak bagi mata yang tercegah dari melihat kekasihnya (Allah) serta sangat ingin melihatNya untuk tidak menangis.

Sedangkan menurut cerita Malik bin Zayqham. Ada seorang laki-laki dari Ubullah yang banyak tahu tentang Sya’wanah datang kepada Abu Katsir. Katanya, sufi wanita ini sepanjang hari menangis tanpa henti. Ketika Malik bertanya bagaimana Sya’wanah mulai menangis? Apa jawabnya, "Jika dia mendengar nama Allah disebut-sebut, maka air mata akan mengalir dari pelupuk matanya seperti hujan."

Malik pun kurang puas soal air mata ini. "Apakah air matanya keluar terutama dari sudut matanya yang dekat hidung, ataukah dari sudut matanya yang dekat pelipis?"

"Air matanya begitu berlimpah hingga aku tidak bisa mengatakan dari mana is keluar. Aku hanya bisa mengatakan bahwa manakala nama Allah disebut, maka matanya menjadi laksana bintang yang bersinar-sinar," ujar lelaki tetangga Sya’wanah itu.

Baik Malik maupun Abu Katsir ikut terharu atas cerita lelaki dari Ubullah itu. "Tangisnya itu dikarenakan kenyataan bahwa seluruh hatinya terbakar. Orang-orang mengatakan bahwa banyaknya air mata orang yang menangis tergantung pada besarnya api yang membakar hatinya," ujar Katsir.

AIR MATA DARAH
Hidupnya sederhana, bahkan tempatnya tinggalnya reyot. Hal ini menunjukkan kepapaan sebagai seorang sufi. Kesaksian bahwa Sya’wanah miskin dituturkan oleh Manbudh yang masih keponakannya. Kunjungan Manbud ini bersama temannya yang bernama Humam.

"Aku pergi dengan seorang teman ke Ubullah. Kami minta izin kepada Sya’wanah untuk bertamu kepadanya."

Setelah menerima kami di gubuknya yang reyot, di dalamnya kelihatan kepapaan di mana-mana. Temanku berkata kepada Sya’wanah, "Wahai, kalau saja engkau mau berbelas kasihan kepada dirimu sendiri dan mengurangi tangisanmu, niscaya lama kelamaan keadaanmu akan lebih baik dan engkau akan memperoleh apa yang engkau harapkan," ujar Manbudh.

Mendengar itu Sya’wanah menangis. la berkata, "Aku bersumpah demi Allah, aku ingin menangis sampai air mataku tak tersisa lagi. Setelah itu akan kucucurkan air mata darah sedemikian rupa hingga tak setetes pun lagi darah yang tinggal di dalam badanku."

JAMAAH PENGAJIAN
Apa yang diceritakan orang tentang Sya’wanah adalah soal tangis menangis. Ruh bin Sa’mah bersaksi bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun menangis sebanyak Sya’wanah. Sebagai sufi ia sering memberikan pengajian kepada kaum wanita. Di dalam forum pengajian ini pun Sya’wanah menganjurkan jamaahnya yang hadir bisa menangis. Jika ada yang tidak bisa menangis hendaklah ia mengasihani orang-orang yang menangis. Alasannya karena barangsiapa menangis di forum pengajian itu, karena sadar betapa jauh hawa nafsunya telah menyimpang dan melakukan banyak dosa kepada Allah. Juga karena paham betapa hawa nafsunya itu telah menjadikannya seorang pelanggar aturan Allah.

Sedang berdasarkan pengalaman Hasan bin Yahya, bahwa Sya’wanah bila menangis akan merangsang orang-orang lain untuk menangis juga.

Meski memiliki kekerasan hati uhtuk menjauhi kehidupan duniawi, namun Sya’wanah tidak melupakan fitrahnya sebagai wanita. Suatu saat pula Allah menganugerahi seorang lelaki menjadi suaminya. Dari suaminya ini pula ia memperoleh anak lelaki. Setelah pernikahan dan punya anak, maka lengkap sudah hidup Sya’wanah, penuh keseimbanghan lahir batin.

Apalagi ia bersama suaminya sempat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. la ibarat wali wanita yang haus akan cinta Allah, bergelimang kesedihan dan air mata. Ada salah satu kalimat yang cukup menyayat bagi orangorang yang jadi penghayat tasawuf yaitu, "Tuhanku, Engkau tahu bahwa orang yang haus akan cinta-Mu tak akan pernah terpuaskan."

Bahkan salah satu muridnya yang setia menyatakan bahwa sejak dia bertemu dengan gurunya itu, maka berkat berkah wali perempuan yang kharismatik itu dia tak pernah lagi cenderung mencari kenikmatan dunia, dan tak pernah lagi dia meremehkan sesama muslim.

Sumber : Nurani 207, 09-15 Desember 2004

 

<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main