Ilmu Padi

June 15, 2006

Syekh Sa’di Asy-Syirazi, Sufi dari Persia

Filed under: Kisah Inspiratif

Tundukkan Perampok dengan Puisi
Dengan puisi yang menyentuh kalbu, membuat seorang berandal tidak jadi merampok Syekh Sa’di Asy-Syirazi. Berkat puisinya pula seorang raja tidak jadi memurkai seorang petani.

SA’DI dikenal sebagai tokoh sufi yang suka berkelana. Saat ia melakukan perjalanan ke Saudi Arabia, ia berjumpa dengan seorang perampok. Ditatapnya perampok itu yang hendak memukul dan memaksanya untuk menyerahkan barang bawaannya.

Dengan santun ia melantunkan puisinya, “Sang singa tidak akan memakan sisa-sisa anjing. Sekalipun ia harus mati kelaparan di sarangnya. Biarlah tubuhmu menderita kelaparan. Janganlah merendah karena mengharap bantuan.”

Alangkah terkejutnya sang perampok. Ia pun balik bertanya, “Kenapa engkau tidak takut denganku?” Dengan tenang Sa’di menjawab, “Wahai tuan, tidakkah engkau bisa berbuat sesukamu kepadaku.” Seperti tersentuh jiwanya, sang perampok terdiam dan membiarkan Sa’di berlalu menyusuri padang pasir seraya bergumam, “Alangkah gagahnya orang itu, kenapa aku selalu membuat orang lain bergantung kepadaku,” kata sang perampok.

BERTEMU RAJA
Sa’di melanjutkan perjalanan hingga ke hutan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan rombongan Raja yang hendak berburu dengan pengawalnya. Sang Raja memerintahkan para pembesar istana agar menginap di sebuah gubuk petani. “Baginda, apakah engkau tidak takut kehilangan wibawa, jika menginap di tempat seperti ini?” sergah salah seorang pengawal. Sang raja pun terdiam sesaat lamanya.

Seorang petani pemilik gubuk itu berkata, “Baginda raja tidak akan kehilangan martabat. Justru aku-lah yang memperoleh kehormatan karena baginda sudi singgah di gubuk hamba.”

Rupanya Sa’di memperhatikan dialog hamba dan tuannya itu. Lalu ia berkata, “Sungguh engkau amat terpuji wahai sang raja jika menghormati petani ini.” Mendengar ucapan itu sang raja melotot, seolah tidak senang dengan ucapan Sa’di. Dengan kerdipan mata, dua orang pengawal raja mengacungkan senjatanya hendak meringkus Sa’di.

Mendapati bahaya di hadapannya, Sa’di justru berpuisi, “Wahai raja, tidakkah wibawa paduka luntur, jika tersinggung dengan hamba hina seperti aku. Mendengar penuturan itu, sang raja termenung dan meminta untuk tidak mengganggu Sa’di. Berkat ucapan Sa’di itulah, akhirnya sang raja tidak jadi memurkai si petani. Justru sebuah jubah kehormatan dianugerahkan kepadanya.

HAUS ILMU
Sa’di adalah sufi yang haus ilmu dan gigih dalam memperjuangkan akidahnya. Ia pernah belajar di perguruan tinggi di Baghdad. Ia mempunyai ikatan dengan para sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah, mempunyai hubungan dekat dengan Syekh Syahabuddin Suhrawardi, pendiri Tarekat Suhrawardiyah serta Najmuddin Kubra, Sang “Pilar Masa”, salah seorang sufi terbesar sepanjang masa.

Pengaruh Sa’di terhadap kesusastraan Eropa diakui sangat besar. Tulisan-tulisannya merupakan salah satu acuan dasar bagi Gesta Romanorum, buku induk berbagai legenda dan alegori di Barat. Para sarjana (Barat) telah mencatat pengaruh-pengaruh Sa’di dalam kesustraan, seperti dalam sastra Jerman.

Penerjemahan karya-karyanya kali pertama ditemukan di Barat pada abad ke-17. Akan tetapi, seperti kebanyakan karya sufi lainnya, maksud yang terkandung dalam karya Sa’di hampir tidak dipahami sama sekali oleh para pengkaji sastra.

Ajaran kesufian Sa’di lebih banyak terukir dalam sajak-sajak sastra, seperti dongeng-dongeng berisi nasihat, syair, dan analogi-analogi sufi.

Pada tatanan masyarakat, semua tulisan Sa’di merupakan suatu kontribusi yang besar terhadap pemantapan etika. Namun, di antara para pengulas sastra Barat, hanya Profesor Codrington yang memahaminya lebih dalam.

Salah satu buah pemikiran sufinya adalah ketika ia menguraikan kedalaman makna pengetahuan batiniah (esoteris). Menurutnya, dimensi kedalaman hati ini tidak dapat dipahami seperti menyantap hidangan di atas piring.

Demikian pula tentang ketekunan dalam menjalankan hidup bertapa secara berlebih-lebihan. Kali pertama seorang calon murid harus dijelaskan tentang fungsi kehidupan mengasingkan diri yang sebenarnya. Kebutuhan mengasingkan diri dari dunia hanya berlaku dalam keadaan-keadaan tertentu.

Para pertapa, padang pasir atau gunung-gunung adalah tempat-tempat yang harus digunakan para sufi dalam menghabiskan seluruh hidupnya. Mereka sebenarnya tidak bisa melihat seutas benang dalam hamparan karpet. “Aku menghadap meja (makan), karena sudah begitu lapar,” begitu kata Sa’di melukiskan kesederhanaan keinginan jasmani dan keluhuran budi.

Sumber : Nurani 206 (02-08 Desember 2004)

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://oryza.blogsome.com/2006/06/15/syekh-sadi-asy-syirazi-sufi-dari-persia-2/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main