Sinetron di tv makin parah. Tidak mendidik. Mungkin bisa disebut perusak moral bangsa. Industri hiburan memang kejam. Entah berapa banyak yang menjalani hidup terinspirasi sinetron, menjalani hidup dengan patokan sinetron. Yang pada akhirnya membuat semuanya terbalik. Sinetron yang seharusnya mengambil ide dari kehidupan sehari-hari, sekarang malah menjadi patokan bagi masyarakat untuk menjalani hidup. Life… based on sinetron.
Sebagai salah satu contoh adalah tetanggaku, 2 orang anaknya bisa dibilang penganut lifestyle ala sinetron. Beberapa hari lalu, salah satu anaknya yang masih SMP meminta sebuah mobil + supir. Tentu saja hal ini sulit dituruti oleh orangtuanya yang hanya sebagai guru SMEA swasta. Bukannya sadar dengan keadaan ekonomi keluarganya, anak tersebut malah mengatakan bahwa orangtuanya egois dan tidak sayang pada anak-anaknya. Entah berapa banyak anak yang seperti ini di tempat lain.
Mungkin tidak salah jika sinetron dianggap "kitab suci"-nya masyarakat jaman sekarang. Segala perilaku, tindak tanduk, gaya bicara, penampilan semuanya bersumber pada sinetron. Sangat mengerikan.
Yang menjadi tema dalam sinetron pasti tidak jauh dari masalah cinta, harta, pertengkaran. Termasuk hal-hal gaib, dukun, santet, hantu yang diatas namakan sinetron bertema religi.
Penulis naskah, produser + krunya serta stasiun tv tidak lagi memikirkan soal isi/materi sinetron yang ditayangkan. Akibatnya banyak sinetron yang terkesan "asal buat". Hehehe…. Money oriented… bisa dimaklumi.
Aku jarang nonton sinetron. Kalaupun menonton itu hanya kebetulan. Wrong place–wrong time, misalnya sambil nunggu antrian di bank atau lagi makan di warung yang ada tv-nya. Dan secara pribadi, saat ini di rumah sedang menjalani program boikot sinetron. Terkesan ekstrim kan? Ah biarlah. Yang penting rumah tidak "dikotori" sinetron kelas rendahan. Toh, tanpa sinetron masih bisa hidup.
Memang, tidak semua sinetron mutunya jelek. Ada pula yang bagus. Tapi jumlahnya belum banyak. Seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami.
Boikot sinetron tidak bersifat permanen koq. Sewaktu-waktu bisa dihentikan jika mutu tayangan makin bagus.
*thanks to Heru yang udah buatin logo boycott sinetron