Ilmu Padi

July 7, 2006

Boycott Sinetron

Filed under: Catatan

Sinetron di tv makin parah. Tidak mendidik. Mungkin bisa disebut perusak moral bangsa. Industri hiburan memang kejam. Entah berapa banyak yang menjalani hidup terinspirasi sinetron, menjalani hidup dengan patokan sinetron. Yang pada akhirnya membuat semuanya terbalik. Sinetron yang seharusnya mengambil ide dari kehidupan sehari-hari, sekarang malah menjadi patokan bagi masyarakat untuk menjalani hidup. Life… based on sinetron. 

Sebagai salah satu contoh adalah tetanggaku, 2 orang anaknya bisa dibilang penganut lifestyle ala sinetron. Beberapa hari lalu, salah satu anaknya yang masih SMP meminta sebuah mobil + supir. Tentu saja hal ini sulit dituruti oleh orangtuanya yang hanya sebagai guru SMEA swasta. Bukannya sadar dengan keadaan ekonomi keluarganya, anak tersebut malah mengatakan bahwa orangtuanya egois dan tidak sayang pada anak-anaknya. Entah berapa banyak anak yang seperti ini di tempat lain.

Mungkin tidak salah jika sinetron dianggap "kitab suci"-nya masyarakat jaman sekarang. Segala perilaku, tindak tanduk, gaya bicara, penampilan semuanya bersumber pada sinetron. Sangat mengerikan.

Yang menjadi tema dalam sinetron pasti tidak jauh dari masalah cinta, harta, pertengkaran. Termasuk hal-hal gaib, dukun, santet, hantu yang diatas namakan sinetron bertema religi.

Penulis naskah, produser + krunya serta stasiun tv tidak lagi memikirkan soal isi/materi sinetron yang ditayangkan. Akibatnya banyak sinetron yang  terkesan "asal buat". Hehehe…. Money oriented… bisa dimaklumi.

 

Aku jarang nonton sinetron. Kalaupun menonton itu hanya kebetulan. Wrong place–wrong time, misalnya sambil nunggu antrian di bank atau lagi makan di warung yang ada tv-nya. Dan secara pribadi, saat ini di rumah sedang menjalani program boikot sinetron. Terkesan ekstrim kan? Ah biarlah. Yang penting rumah tidak "dikotori" sinetron kelas rendahan. Toh, tanpa sinetron masih bisa hidup.

Memang, tidak semua sinetron mutunya jelek. Ada pula yang bagus. Tapi jumlahnya belum banyak. Seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami. 

Boikot sinetron tidak bersifat permanen koq. Sewaktu-waktu bisa dihentikan jika mutu tayangan makin bagus. 

 

 *thanks to Heru yang udah buatin logo boycott sinetron :D

5 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://oryza.blogsome.com/2006/07/07/boycott-sinetron/trackback/

  1. ryz,
    Ingat gak rencana THBB Indonesia mau bikin sinetron, ha ha ha ha ha ^.^

    Tapi emang, sama tuh pengalaman nonton sinetronnya, kalau lagi “terjebak” aja, he he he.

    Comment by kobo — July 7, 2006 @ 5:55 pm

  2. aku co-pas ya logo dan artikelnya di blog ku.. :D

    Comment by menjemput bidadari — July 7, 2006 @ 6:20 pm

  3. @Kobo
    Inget banget Kobo ^O^ (duh kangen pakai user rYzZzZz^O^ nih)

    Btw… asal jangan sering2 terjebak aja :p Bisa stress nanti, tv milik orang lain dilempar vas bunga.

    Comment by oryza — July 7, 2006 @ 6:21 pm

  4. eh, artikelnya mah gak jadi dunk..:D

    Comment by menjemput bidadari — July 7, 2006 @ 6:35 pm

  5. wah, bener banget ini..
    kalo saya perhatiin malah kesannya mendidik penonton untuk berpikir dengan perkataan hati yg negatif, dan ini sepertinya uda dipraktekkan dalam kehidupan sehari2 sehingga membuat orang (-) gt.. kira2 begitu deh.

    Comment by lipz — April 20, 2011 @ 12:10 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main