Ilmu Padi

July 10, 2006

Ending Pertandingan yang Tidak Menarik

Filed under: Catatan

Pertandingan final PD Prancis vs Italy ternyata endingnya tidak menarik. Siapapun pemenangnya tidak jadi masalah. Bagiku yang terpenting adalah suguhan permainan yang bagus dan cantik. Hehehe… Itu terjadi sebelum Zizou diusir dari lapangan hijau.

Meskipun sejak semula yang aku jagoin adalah Argentina dan Italia, tetapi aku kagum dengan permainan indah milik Prancis di PD kali ini. Apa karena ada Zizou yang mampu menghidupkan pertandingan ya?

Bagiku pertandingan sepak bola akan menarik bila ada yang mampu menghidupkan pertandingan. Baik dari lawan maupun tim yang aku jagoin. Dan Zizou-lah orangnya. Dia mampu menghidupkan aura pertandingan sehingga menjadi menarik untuk ditonton. Ibarat sebuah percakapan, jika orang-orang yang berkumpul di situ tidak ada yang dapat mencairkan kebekuan, maka bisa dipastikan keakraban satu sama lain sukar terwujud (kalau di YM conference orangnya adalah Ruslan emoticon). Nah di pertandingan sepakbola pun hampir sama. Hehehe… dari awal hingga akhir PD, nampaknya Zizou-lah satu-satunya pemain dalam PD yang mampu menghidupkan aura pertandingan. Kalau orang yang hanya mementingkan kemenangan-kekalahan akan sulit melihat aura tersebut.

<belum selesai, sori harus kerja dulu. Kalau ngga malas, nanti dilanjut lagi emoticon>

July 7, 2006

Komentar Kakek Atmonadi

Filed under: Catatan

Ini dia niy komentar kakek Atmonadi (foundernya MyQ yang beberapa waktu lalu sempat menghilang selama 2 tahun. Tapi sekarang udah balik lagi koq )

Yah, itulah cucuku ketika manusia mulai terhipnotis oleh GHOST IN THE MACHINE acara2 TV yang tidak mendidik. Segalanya bisa terjadi. TV ternyata cuma sekedar alat manipulasi massa saja yang mengiming-imingi khayal dan angan2 yg tidak mendidik. TV pada khirny ahanya menjadi pengejawantahan YAKJUJ DAN MAKJUJ sebagai khayal dan angan yang datangdari tempat tertinggi.

Sip deh, makasih banyak tanggapannya, kakek :D

Komentar teman

Filed under: Catatan

Ini adalah komentar salah satu teman lewat YM, setelah baca tulisan Boycott Sinetron   emoticon

teman (7/7/2006 12:55:20 PM): sekarang mo Boycott Sinetron
teman (7/7/2006 12:55:23 PM):
ryzzz4 (7/7/2006 12:55:42 PM):
teman (7/7/2006 12:56:25 PM): kalo hidayah gimana?
teman (7/7/2006 12:56:35 PM): <<< suka nonton
ryzzz4 (7/7/2006 12:56:38 PM): sama aja
ryzzz4 (7/7/2006 12:56:46 PM): sama2 sinetron
teman (7/7/2006 12:57:34 PM): <<< gak pernah minta beliin keranda
ryzzz4 (7/7/2006 12:57:46 PM):
ryzzz4 (7/7/2006 12:57:56 PM): masa’ siy
teman (7/7/2006 12:58:34 PM): sering nonton Hidayah tapi gak pernah minta mati
ryzzz4 (7/7/2006 12:58:39 PM):
ryzzz4 (7/7/2006 12:58:47 PM): syukurlah
teman (7/7/2006 12:58:55 PM):
ryzzz4 (7/7/2006 12:58:58 PM):

Boycott Sinetron

Filed under: Catatan

Sinetron di tv makin parah. Tidak mendidik. Mungkin bisa disebut perusak moral bangsa. Industri hiburan memang kejam. Entah berapa banyak yang menjalani hidup terinspirasi sinetron, menjalani hidup dengan patokan sinetron. Yang pada akhirnya membuat semuanya terbalik. Sinetron yang seharusnya mengambil ide dari kehidupan sehari-hari, sekarang malah menjadi patokan bagi masyarakat untuk menjalani hidup. Life… based on sinetron. 

Sebagai salah satu contoh adalah tetanggaku, 2 orang anaknya bisa dibilang penganut lifestyle ala sinetron. Beberapa hari lalu, salah satu anaknya yang masih SMP meminta sebuah mobil + supir. Tentu saja hal ini sulit dituruti oleh orangtuanya yang hanya sebagai guru SMEA swasta. Bukannya sadar dengan keadaan ekonomi keluarganya, anak tersebut malah mengatakan bahwa orangtuanya egois dan tidak sayang pada anak-anaknya. Entah berapa banyak anak yang seperti ini di tempat lain.

Mungkin tidak salah jika sinetron dianggap "kitab suci"-nya masyarakat jaman sekarang. Segala perilaku, tindak tanduk, gaya bicara, penampilan semuanya bersumber pada sinetron. Sangat mengerikan.

Yang menjadi tema dalam sinetron pasti tidak jauh dari masalah cinta, harta, pertengkaran. Termasuk hal-hal gaib, dukun, santet, hantu yang diatas namakan sinetron bertema religi.

Penulis naskah, produser + krunya serta stasiun tv tidak lagi memikirkan soal isi/materi sinetron yang ditayangkan. Akibatnya banyak sinetron yang  terkesan "asal buat". Hehehe…. Money oriented… bisa dimaklumi.

 

Aku jarang nonton sinetron. Kalaupun menonton itu hanya kebetulan. Wrong place–wrong time, misalnya sambil nunggu antrian di bank atau lagi makan di warung yang ada tv-nya. Dan secara pribadi, saat ini di rumah sedang menjalani program boikot sinetron. Terkesan ekstrim kan? Ah biarlah. Yang penting rumah tidak "dikotori" sinetron kelas rendahan. Toh, tanpa sinetron masih bisa hidup.

Memang, tidak semua sinetron mutunya jelek. Ada pula yang bagus. Tapi jumlahnya belum banyak. Seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami. 

Boikot sinetron tidak bersifat permanen koq. Sewaktu-waktu bisa dihentikan jika mutu tayangan makin bagus. 

 

 *thanks to Heru yang udah buatin logo boycott sinetron :D

July 3, 2006

Janji

Filed under: Artikel

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, "berapa lama lagi kamu baca koran itu? tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan." Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan nasi susu ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect". Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, "Boleh ayah. Akan saya makan nasi susu ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta…(agak ragu2 sejenak)….akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya."

Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?" Aku menjawab, "Oh pasti sayang". Sindu tanya sekali lagi, "betul nih ayah?" "Ya, pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "janji" kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang." Sindu menjawab, "jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya,dia mendekatiku dengan mata penuh harap. Dan semua perhatian (aku ,istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin.

Istriku spontan berkata, "permintaan gila, anak perempuan dibotakin,tidak mungkin!" Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: "Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak." Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain," kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu, "tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untukmengerti perasaan kami." Sindu dengan menangis berkata, "ayah sudah melihat bagaimana Menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji
Untuk memenuhi permintaan saya kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala )untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri." Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "Janji kita harus ditepati." Secara serentak istri dan ibuku berkata, "apakah aku sudah gila?"

"Tidak," jawabku, "kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidakakan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri." "Sindu permintaanmu akan kami penuhi." Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin ,aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." Yang mengejutkanku Ternyata kepala anak laki-laki itu botak. Aku berpikir mungkin "botak" model Jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, "anak anda, Sindu, benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia."

Wanita itu berhenti sejenak ,nangis tersedu-sedu, "bulan lalu Harish tidak masuk sekolah,karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek/dihina oleh teman-teman sekelasnya.

Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk
mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish.

Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia." Aku berdiri terpaku dan aku menangis. Malaikat kecilku telah mengajarkanku tentang kasih.

 

Sumber : Era Baru

July 2, 2006

Shopaholic

Filed under: Catatan

APAKAH ANDA SEORANG ‘SHOPAHOLIC’?

Pikirkan pernyataan-pernyataan berikut ini dengan membubuhkan "Benar" atau "Salah" pada masing-masingnya.
1. Ketika saya merasa tertekan, biasanya saya belanja.
2. Saya menghabiskan banyak uang untuk barang yang tidak saya miliki namun tidak saya butuhkan.
3. Saya merasa gila saat saya berbelanja tapi setelah itu saya tidak terlalau peduli akan barang yang saya beli.
4. Saya memiliki banyak pakaian yang tidak pernah saya pakai dan sejumlah perkakas/alat yang tidak terhitung jumlahnya dan saya tidak pernah menggunakannya.
5. Saya sering merasa sembrono/gila-gilaan dan lepas kontrol ketika saya berbelanja.
6. Saya sering berbohong kepada teman-teman dan keluarga tentang uang yang saya habiskan.
7. Saya merasa sangat kacau dan terganggu dengan kebiasaan berbelanja yang saya lakukan
8. Setelah belanja gila-gilaan, saya kadang merasa hilang orientasi dan tertekan.
9. Sekalipun saya merasa sangat bingung tertang hutang-hutang saya, saya tetap berbelanja.
10. Kegiatan berbelanja saya bnayak disebakan masalah hubungan dengan diri sendiri atau pun dengan orang lain.

Apakah Anda menjawab "benar" sebanyak empat kali atau lebih dari pernyataan-pernyataan di atas? Jika ya, tampaknya Anda memiliki masalah yang serius dengan nafsu belanja.
Jika kebanyakan jawaban Anda atas pernyataan kuis ini "Benar", mungkin Anda membutuhkan lebih dari sekedar tips-tips yang sifatnya ekonomis untuk mengendalikan pengeluaran Anda. Jika pola belanja Anda mulai mengganggu kehidupan Anda, pertimbangkan untuk mendatangi seorang psikolog. Dia akan membantu Anda untuk mencari tahu mengapa kebiasaan belanja Anda sangat sulit dikendalikan.
Shopaholic biasanya digolongkan sebagai "penyimpangan obsesif-kompulsif" yang dapat disembuhkan dengan bantuan psikolog. Dengan kesabaran, ketekunan serta bantuan dari pihak professional, seorang shopaholic dapat kembali mengendalikan hidupnya.

APAKAH ‘SHOPAHOLIC’ ITU?

Beberapa tahun terakhir ini, shopaholic atau compulsive shopper telah menjadi perhatian berbagai program televisi dan majalah perempuan. Mereka juga telah menjadi topik perbincangan psikologi pop. Meski media massa menggunakan istilah dengan agak "serampangan", sebenarnya seorang shopaholic sering merasa terasing, sangat ketakutan, dan kehilangan kendali diri.

Tidak diragukan lagi, kita hidup dalam masyarakat yang sangat "gemar belanja". Kita hidup berdasar pada kekayaan yang kita miliki dan banyak dari kita hidup dalam belitan hutang. Banyak orang, berapapun penghasilannya, memandang belanja sebagai sebuah hobi. Mereka menghabiskan akhir pekan dengan berbelanja, menghabiskan uang untuk barang-barang yang tidak mereka miliki, dan sering menyesali perbuatannya di kemudian hari. Apakah ini menunjukkan bahwa mereka bermasalah? Belum tentu.

Seorang shopaholic belanja di luar kendali. Mereka akan terus-menerus belanja meskipun telah jauh terbenam dalam hutang. Mereka akan belanja saat tertekan secara emosional, dan menggunakan belanja sebagai mekanisme bertahan hidup. Mereka tidak berhenti belanja karena mereka sungguh-sungguh menemukan kenikmatan dalam belanja. Mereka membeli barang-barang karena mereka merasa HARUS. Seorang shopaholic adalah seseorang yang lepas kendali.


Sumber : Shopaholic 

Previous<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main