Narsis atau Sekedar Ekspresif
Kedekatan ilmu pengetahuan pada kehidupan sehari-hari semakin menggembirakan. Berbagai istilah yang semula hanya digunakan secara eksklusif oleh para ilmuwan, kini menjadi kosa kata yang digunakan sehari-hari. Sebut saja, kata analgesik, saat ini lebih sering digunakan untuk menyebut obat penghilang rasa nyeri. Dan belakangan ini, yang lagi hot digunakan dalam percakapan adalah "narsis", potongan dari istilah narsisme dari bidang ilmu psikologi dan psikiatri.
Perempuan, lelaki, dewasa, atau remaja, kerap menggunakan kata tersebut. Umumnya kata itu digunakan untuk menyebut sebuah perilaku yang condong menunjukkan rasa cinta pada diri sendiri. Seorang remaja yang memotret dirinya, dengan mudah diberi label narsis, oleh teman-temannya. Bahkan seorang perempuan yang membeli sehelai blus relatif mahal untuk diri sendiri, secara ringan berkata; "narsis ya aku!"
Kata narsis berasal dari mitologi Yunani yang mengisahkan seorang pemuda tampan bernama Narcissus. Ia sangat senang berkaca di danau, mengagumi ketampanannya. Suatu ketika Echo, peri penguasa air melihatnya, dan jatuh cinta. Echo mengungkapkan cinta pada Narcissus, namun ditolak. Narcissus merasa jauh lebih elok dibandingkan sang peri. Echo marah, dan mengutuk Narcissus tak bisa jatuh cinta pada orang lain, kecuali pada bayangan dirinya yang dilihat di atas air danau. Narcissus memang semakin terpukau memandang bayangannya, tapi ia kesepian, dan berubah menjadi setangkai bunga, yang saat ini dikenal dengan nama Narcissus dan sering ditemui tumbuh di tepi danau.
Sigmund Freud, bapak ilmu jiwa menguraikan dalam tulisannya bahwa narsis mengacu pada NPD (Narcissistic Personality Disorder), sebutan untuk mengenali kondisi yang mengarah pada gangguan karakter individu yang menunjukkan kesombongan, egoisme dan kecintaan yang berlebihan pada diri sendiri. Namun, istilah tersebut dapat juga dikenakan pada kelompok sosial tertentu yang mengarah pada sikap membenarkan keburukan anggotanya.
So, masih relakah Anda mengatai diri sendiri narsis? Tak masalah jika Anda memang ingin jujur mengakui kekurangan diri. Namun jika tindakan Anda hanya karena menyayangi diri sendiri atau bersikap ekspresif, sebaiknya tidak dilakukan. Karena setiap kata mengandung kekuatan yang dapat mendorong kita mewujudkannya!
Sumber : http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=4388

perasaan dulu pernah denger ini di radio MQ deh..
Comment by farieh — February 13, 2007 @ 11:21 am
Wah keknya sy termasuk juga nih.. duh jad maluw
Comment by 'N — July 30, 2007 @ 1:49 pm