Ilmu Padi

January 10, 2006

DO’A MUSTAJAB

Filed under: Religi

DO’A MUSTAJAB

“Dan Tuhanku berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku

niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari

menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam

dalam keadaan hina dina.”

(QS. al-Mu’min/40:60)

***

Syaqiq Al-Balkha meriwayatkan, pada suatu hari Ibrahim Bin Adham -seorang ulama sufi sedang menelusuri pasar Bashrah. Orang-orangpun berkerumun mengitarinya ingin mena-nyakan masalah agama kepadanya. Mereka bertanya tentang firman Allah SWT; UD’UNI ASTAJIB LAKUM. (Berdo’alah kalian kepada-Ku, pasti Aku kabulkan). Mereka berkata; “Kami sudah cukup lama berdo’a, tapi do’a itu tidak terkabul juga.” Mendengar penuturan mereka, Ibrahim Bin Adham berkata; “Hati kalian telah mati dari sepuluh hal, (1) Kalian meyakini Allah SWT, tapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya, (2) Kalian membaca Kitab Allah, namun kalian tidak mengamalkannya, (3) Kalian mengaku memusuhi iblis, namun kalian mengikuti jejaknya, (4) Kalian mengaku mencintai Rasul, namun kalian meninggalkan atsar dan Sunnahnya, (5) Kalian mengaku mencintai surga, namun kalian tidak beramal untuk surga, (6) Kalian mengaku takut neraka, namun kalian tidak berhenti dari dosa, (7) Kalian mengaku bahwa maut pasti tiba, namun kalian tidak mempersiapkan diri, (8) Kalian sibuk membicarakan cela orang lain, namun kalian melupakan cela diri sendiri, (9) Kalian me-nikmati rizqi Allah, namun kalian tidak mensyukuri-nya, (10) Kalian mengubur orang mati, namun kalian tidak mengambil pelajaran darinya.” 1

Demikianlah nasehat Ibrahim Bin Adham yang sarat hikmah dan ilmu tentang pertanyaan yang sering kita ungkapkan sehubungan dengan do’a-do’a kita yang tidak terkabul. Dia memberikan satu pedoman berdo’a yang menekankan bahwa dikabulkannya do’a seseorang sangat dipengaruhi oleh akhlaq dan amal shalihnya sehari-hari.

Pada dasarnya firman Allah SWT di atas me-rupakan kebenaran dan kepastian yang tidak bisa disangkal, namun diperjelas lagi oleh beberapa Hadits yang mengemukakan tentang syarat dan faedah do’a, sehingga pengabulan do’a seorang hamba kepada Allah SWT sangat ditentukan oleh terpenuhinya beberapa ketentuan yang telah Dia gariskan. Seperti juga diisyaratkan dalam firman-Nya; “Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan), sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada o-rang-orang yang berbuat baik.” 2

Ayat ini memberikan penjelasan bahwa do’a harus dibarengi dengan sikap batin yang penuh harap dan berserah diri kepada Allah, dan perbuatan baik (ihsan) akan mendekatkan rahmat-Nya dengan terkabulnya do’a. Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda; “Tiada seorang muslim di atas bumi berdo’a melainkan pasti diterima dan terhindar dari malapetaka, asalkan dia tidak ber-do’a akan suatu dosa atau untuk memutuskan silaturrahmi.” Kemudian seorang shahabat berkata; “Kalau demikian, kami akan memperbanyak do’a kepada Allah.” Nabi menjawab; “Sesungguhnya Allah amat banyak karunia-Nya.” 3 Riwayat lain menambahkan; “Atau do’a tersebut ditangguhkan pengabulannya.” 4

Maka, bila diperhatikan penjelasan-penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa do’a seorang muslim akan dikabulkan jika memenuhi ketentuan Allah dan pengabulannya itu bisa dengan tiga cara

Pertama; Allah mengabulkan do’anya secara langsung begitu selesai dia sampaikan sesuai de-ngan permohonannya.

Kedua, ditunda sampai Allah menghendaki untuk mengabulkannya pada saat dia sangat membutuhkan, misalnya ketika tertimpa bahaya yang tidak disangka-sangka.

Ketiga, ditangguhkan sampai datang Hari Kiamat sebagai catatan amalnya yang dapat menyelamatkannya dari api neraka serta meringankan mizan kejelekannya.”5

Kedudukan dan Fungsi Do’a

Adalah sunnatullah, kehidupan manusia di dunia ini sarat dengan cobaan dan pengalaman pahit. Tidak jarang kita mengalami kegagalan dan keputusasaan akibat terbuai hawa nafsu dan perasaan bersalah yang berlarut-larut. Kadangkala problema hidup tersebut dapat di atasi dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Jika masalah itu belum juga terselesaikan, biasanya kita meminta pertolongan kepada sesama untuk meringankan beban tadi. Namun, setelah meminta pertolongan orang lain masih juga belum teratasi, maka pada saat inilah biasanya kita memohon kekuatan Allah Yang Maha Penolong. Demikianlah sifat manusia menjalani kehidupannya di dunia. Hal ini disinyalir Allah SWT dalam firman-Nya; “Allah hendak mem-berikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” 6

Karena sifat lemah inilah, tidak sedikit manusia yang terseret ke dalam lembah dosa dan tergoda oleh kehidupan dunia yang fana. Maka, bagi me-reka yang telah terjerumus mengikuti hawa nafsunya, Allah SWT memberi jalan bagi mereka untuk mengakui kelemahannya tetapi juga tidak berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah, sebagaimana firman-Nya; “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa-mu. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 7

Sifat manusia lainnya adalah berkeluh kesah dan tamak. Firman Allah SWT: ”Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah lagi kikir. Apa-bila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecu-ali orang-orang yang mengerjakan shalat.” 8

Dari ketiga sifat di atas, akan timbul beberapa karakter manusia dalam menyikapi problema kehidupan. Ada manusia yang selalu optimis dan selalu berserah diri hanya kepada Allah, ada juga manusia yang berputus asa dan menyombongkan diri di hadapan Allah SWT dengan tidak mau memohon kepada-Nya karena merasa dirinya kuat. Padahal Allah SWT sangat mengecam hamba-Nya yang membanggakan diri dan tidak mau berdo’a kepada-Nya, sebagai mana firman-Nya dalam Hadits Qudsi: ”Barang siapa yang tidak berdo”a kepada-Ku, niscaya Aku murka kepadanya.” 9

Berdasarkan alasan inilah, berdo’a merupakan suatu kewajiban sekaligus merupakan kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam menjalani kehidupannya, lebih-lebih ketika ditimpa kesusahan, kesulitan dan malapetaka. Namun, tidak sedikit juga manusia yang berdo’a hanya pada saat ditimpa musibah saja dan bila kesulitan itu telah berlalu, mereka lupa akan nikmat Allah serta me-ninggalkan do’anya sama sekali. Firman Allah SWT; “Dan apabila manusia itu ditimpa kesulitan, dia memohon pertolongan kepada Tuhannya de-ngan kembali kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kesulitan yang pernah dimohonkan kepada Allah untuk menghilangkannya sebelum itu…” 10

Maka, sudah selayaknya manusia memahami hakikat dan fungsi do’a, agar tidak terjerumus men-jadi orang-orang yang menyombongkan diri dan melebihi batas-batas Allah SWT. Karena sikap se-perti ini amatlah tercela di hadapan Allah. Do’a hanya dijadikan tempat pelarian untuk mendapatkan jalan keluar saja, bukan sebagai kebutuhan utama dalam kehidupannya. Padahal sebuah Ha-dits menyebutkan sabda Rasulullah SAW: “Do’a itu adalah ibadah.” 11 Artinya, selama hayat dikan-dung badan, kewajiban berdo’a tersebut merupakan salah satu dari tugas manusia yaitu ber-ibadah kepada Allah SWT.12

Karenanya, kita dituntut untuk berdo’a kepada Allah dalam keadaan apapun sebagai bukti ke-taatan kita kepada-Nya, disamping pengakuan kita akan ke-Maha Rahiman-Nya mencurahkan kasih sayang kepada hamba-Nya yang menengadahkan tangan memohon pertolongan-Nya. Sebuah sya’ir Arab menyebutkan, ALLAHU YAGHDLABU IN TARAKTA SU-ALIHI… WA BANI ADAM HINA YUS-ALU YAGHDLABU… (Allah akan murka bila kamu tidak memohon kepada-Nya… Tetapi manusia akan marah bila ia diminta pertolongan… )

Sumber : Doa

December 23, 2005

Mengintip Seksualitas Serat Centhini …

Filed under: Beauty, Artikel

Mengintip Seksualitas Serat Centhini …
20 Mei 2005 08:28:20

Bicara soal seks dan seksualitas, mungkin lebih mengenal Kama Sutra dari India daripada Serat Centhini, karya sástra Jawa kuno yang dirilis di awal abad ke-19. Padahal “manual” versi lokal ini dipercaya jauh lebih lengkap dan “menantang”.

Tak ada yang bisa memungkiri, urusan seks selalu saja menarik. Entah dengan bisik-bisik di antara kaum lelaki di warung kopi, atau di antara kaum perempuan di sela-sela arisan ibu-ibu se-RT. Kadang juga dibicarakan secara terbuka tapi terbatas, seperti di ruang seminar atau kesempatan formal lainnya.

Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar. Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun manual (panduan), atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala.

Beberapa manual kuno yang pernah ada, bisa kita sebut misalnya Ars Amatoria (The Art of Love) karya penyair Romawi, Publius Ovidius Naso (43 SM - 17 M). Atau Kama Sutra karya Vatsyayana dari India, yang ditaksir hidup di zaman Gupta (sekitar abad ke 1 - 6 M). Keduanya, bukan melihat seks sebagai subjek penelitian medis dan ilmiah, melainkan sebagai sex manual.

Di akhir abad ke- 19 dan awal abad ke-20, neurolog dan pakar psikoanalisis asal Austria, Sigmund Freud (1856 - 1939), mengembangkan sebuah teori tentang seksualitas yang didasarkan pada studinya terhadap para kliennya.

Nun jauh di sana, di tanah JaWa pada awal abad ke-19 muncul pula sebuah karya sastra yang terkenal hingga kini, yaitu Serat Centhini (nama resminya Suluk Tembangraras). Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V.

Serat Centhini yang terdiri atas 722 tembang (lagu Jawa) itu antara lain memang bicara soal seks dan seksualitas. Justru karena itulah serat ini menjadi termasyhur, bahkan di kalangan para pakar dunia.

Seorang kontributor sebuah surat kabar Prancis, Elizabeth D. Inandiak, misalnya, telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Prancis dengan judul Les Chants de l’ile a dormir debout le Livre de Centhini (2002).

Blak-blakan

* Meski kebudayaan Jawa di masa kejayaan keraton bersifat represif-feodalistik, demikian tulis Otto Sukatno CR dalam Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa (Bentang, 2002), dalam bidang seksual ternyata sangat jauh dari apa yang kita bayangkan.

Masalah seksualitas muncul dalam ekspresi seni, terutama sastra dan tari. Dalam Serat Centhini, misalnya, masalah seksual ternyata menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling. “Ini sangat berlawanan dengan etika sosial Jawa yang bersifat puritan dan ortodoks,” tulis Sukatno.

Masalah seksual dalam serat itu diungkapkan dalam berbagai versi dan kasus. “Misalnya, menyangkut masalah pengertian, sifat, kedudukan dan fungsinya, etika dan tata cara bermain seks, gaya persetubuhan, dan lain-lain,” ungkap Sukatno. Bahkan seks juga dibicarakan dalam kaitannya dengan penikmatan hidup atau pelampiasan hasrat hedonisme (sebuah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kebaikan tertinggi atau satu-satunya kebaikan dalam kehidupan).

Sukatno memberi contoh, dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal “ulah asmara” yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi.

Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana pratingkahing cumbana (gaya persetubuhan) serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya.

Terungkap juga ternyata perempuan tidak selamanya bersikap lugu, pasif dalam masalah seks sebagaimana stereotipe pandangan Jawa yang selama ini kita terima. Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal mereka selalu digambarkan pasrah, nrima kepada lelaki.

Hal itu tampak dalam Centhini V (Dhandhanggula). Di ruang belakang di rumah pengantin perempuan pada malam menjelang hari H perkawinan antara Syekh Amongraga dan Nike Tembangraras, para perempuan tua-muda sedang duduk-duduk sambil ngobrol. Ada yang membicarakan pengalamannya dinikahi lelaki berkali-kali, pengalaman malam pertama, serta masalah-masalah seksual lainnya yang membuat mereka tertawa cekikikan.

Salah satu percakapan itu misalnya seperti ini, “Nyai Tengah menjawab sambil bertanya, Benar dugaanku, Ni Daya, dia memang sangat kesulitan, napasnya tersengal. Saya batuk saja, eh lepas Mak bul mudah sekali lepasnya. Tak pernah kukuh di tempatnya. Susahnya sangat terasa, karena meski besar seakan mati.” Disambut dengan tawa cekikikan.

Tipe Perempuan

* Seperti diungkap oleh Franz Magnis Suseno dalam Etika Jawa, yang dikutip Sukatno, adalah fakta bahwa hubungan seksual dalam masyarakat Jawa hanya diizinkan dalam rangka perkawinan.

Masyarakat Jawa tidak mengenal masalah seksual sebagai wahana pelampiasan nafsu hedonistik, penikmatan terhadap hidup. Namun, pada kenyataannya tidaklah demikian. “Adanya sistem budaya katuranggan jelas merupakan penyangkalan terhadap hal itu,” ungkap Sukatno.

Dalam sejumlah karya sastra Jawa maupun karya tulis lainnya, seperti primbon, soal katuranggan banyak diungkapkan, termasuk dalam Serat Centhini. Dalam kaitannya dengan perempuan, katuranggan dapat diartikan sebagai watak, sifat, atau tanda-tanda berdasarkan penampakan lahiriahnya.

Dalam budaya katuranggan, terdapat beberapa ciri perempuan yang menjadi idealitas lelaki untuk dijadikan istri. Tipe-tipe perempuan demikian, di antaranya disebut guntur madu, merica pecah, tasik madu, sri tumurun, puspa megar, surya surup, menjangan ketawan, amurwa tarung, atau mutyara.

Sebagai gambaran, perempuan bertipe surya sumurup itu perempuan yang memiliki dua lapis bibir yang berwarna merah jambu. Sorot matanya kebiru-biruan. Ada sinom (rambut yang tumbuh di dahi) yang menggumpal. Kedua alisnya nanggal sepisan (laksana bulan sabit). Perempuan seperti ini menjadi idaman kaum lelaki karena memiliki kesetiaan tak diragukan lagi. Lebih dari itu, ungkap Sukatno, ia tipe perempuan yang serasi dalam bermain asmara, sehingga dapat mencapai derajat marlupa (orgasme) bersama-sama.

Ekspresi budaya katuranggan ini juga terungkap, misalnya dalam Kitab Primbon Lumanakim Adammakna. Disebutkan, seperti Sukatno, ciri perempuan yang menggairahkan secara seksual antara lain, bertubuh kecil, wajahnya merah bersemu biru manis, rambut hitam panjang, sinom menggumpal. Atau, bertubuh kecil, pandangan dan wajahnya nguwung (agak melengkung), kulit kuning bersemu hijau, sinom menggumpal. Atau, bertubuh tinggi langsing, badan mbambang (padat berisi), roman mukanya galak, dan rambutnya panjang. Masih banyak lagi ciri perempuan menggairahkan lainnya.

Seperti diungkap Sukatno, tentu saja tidak semua tipe perempuan cocok dengan tipe ideal seperti itu. Masih ada tipe-tipe lain yang merupakan tipe campuran dari sebagian atau keseluruhan wacana keluruhan tiap-tiap tipenya. Memang rumit dan kompleks, karena seks, tidak bisa dinilai hanya dari segi penampilan lahiriahnya semata.

Jamu dan tatakarama

* Ritualisasi seksual juga diungkapkan dalam Serat Centhini, termasuk soal tata krama dalam melakukan hubungan seksual antarsuami-istri.

Dalam berhubungan, misalnya, harus empan papan. Maksudnya, mengetahui situasi, tempat, dan keadaan, tidak tergesa-gesa, dan juga merupakan keinginan bersama.

Selain mendasarkan diri pada tata krama menurut budaya Jawa, tata krama ini juga mendasarkan diri pada hadis Nabi Muhammad SAW. Misalnya, sebelum melakukan hubungan seksual, seyogianya mandi terlebih dahulu. Setelah itu berdandan dan memakai wewangian. Sebelum mulai, berdoa lebih dulu dengan mengucapkan syahadat.

Masyarakat Jawa juga mengenal kalender seksual. “Ini berkaitan dengan masalah rasa perempuan, yang berhubungan dengan organ genital seksualnya. Satu asumsi bahwa setiap hari organ genital seksual yang sensitif pada perempuan selalu berpindah tempat, sesuai dengan tinggi rendahnya Bulan — ini berdasar pada kalender Jawa. Dengan mendasarkan pada kalender seksual, pasangan dapat mencapai puncak kepuasan secara bersama-sama,” tulis Sukatno.

Selain diungkap mengenai tata cara, etika, dan ritualisasi, dalam Serat Centhini II (Pupuh Asamaradana) diulas pula bentuk-bentuk serta pose hubungan seksual yang seharusnya dilakukan. Semua itu dimaksudkan agar pasangan dapat mencapai kepuasan bersama-sama.

“Hubungan seksual tidak hanya sekadar pemuasan nafsu lelaki maupun perempuan, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan perasaan cinta kasih, proses prokreasi, dan seks sekaligus sebagai wahana ibadah,” ungkap Sukatno.

Dalam Serat Centhini IV (Pupuh Balabak) dijelaskan dengan gamblang posisi berhubungan seksual sebagaimana ajaran Jawa. Dalam melakukan penetrasi, misalnya, harus tetap pula melihat tipe perempuan pasangannya. Maka kemudian ada gaya kadya galak sawer (patukannya laksana ular galak); lir ngaras gandane sekar (seperti meraba baunya bunga); lir bremana ngisep sekar (laksana kumbang mengisap madu); lir lumaksana pinggire jurang (ibarat berada di tepi jurang); baita layar anjog rumambaka (seperti kapal layar turun ke tengah laut) dan sebagainya.

Dalam masyarakat Jawa lalu dikenal pula berbagai resep jalu usada (pengobatan seksual) agar lelaki jadi perkasa. Misalnya, untuk mencegah agar air mani tidak encer sehingga dapat memperoleh keturunan, seperti dijumpai dalam Serat Centhini VII (Pupuh Dhandhanggula). Resepnya berupa merica sunti dan cabe wungkuk tujuh buah, garam lanang, arang kayu jati, gula aren seperempat. Semua bahan itu dipipis hingga lembut di tengah halaman pada saat siang hari. Sesudah itu dibentuk seperti kapsul.

Jamu berbentuk mirip kapsul itu ditelan sambil membaca mantra, “Sang dewa senjata akas-akas, kurang bagaluwih akase, kurang baga akukuh, ora ana patine.” Enggak ada matinye! (intisari)

Sumber : Kompas

December 6, 2005

Arjuna dan Sang Bidadari

Filed under: MyQuran.org

Namanya Arjuna, persis nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan. Tapi ia tak tampan, tak gagah. Apalagi digila-gilai oleh wanita. Arjuna yang ini hanya seorang penjual ulat sebagai pakan burung yang penghasilannya tidak menentu. Tinggalnya di sebuah rumah sederhana dengan ibundanya yang sudah berusia 70 tahunan. Sejak usia 2 tahun Arjuna menderita lumpuh. Penyebabnya adalah demam yang sangat tinggi yang kemudian merusak syarafnya.

Arjuna kini sudah 40 tahun dan tetap lumpuh. Ia pun masih tetap ulet menjalankan profesinya. Sejak beberapa waktu yang lalu ia mempunyai kegemaran baru, suka mengikuti pengajian dari masjid ke masjid. Dari pengembaraannya itu akhirnya ia jatuh cinta pada sebuah masjid di sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kyai yang masih muda dan berkharisma.

Pagi itu Arjuna tampak rapi dan wangi. Ia menggunakan baju terbaiknya, sebuah baju koko berwarna putih yang dimintanya pada sang ibu untuk disetrika licin-licin. Ia sudah siap menuju pengajian di pondok pesantren. Jaraknya lumayan, dari Jl. Pendawa Dalam, Bandung, ke daerah Gegerkalong Girang. Apalagi bagi seseorang yang tak berfisik sempurna seperti Arjuna, jarak itu terasa lebih dari sekedar lumayan.

Arjuna merangkak di depan rumahnya, lalu dengan suara cadelnya berteriak memanggil becak di ujung jalan. Sang tukang becak pun tanggap dengan panggilan Arjuna. Ia mafhum, Arjuna pasti akan pergi ke pondok pesantren.

Arjuna duduk manis di dalam becak, hingga sampai ke jalan besar. Di jalan besar, sang tukang becak membantu memanggilkan taxi. Satu taxi lewat, taxi berikutnya juga, dan berikutnya, lalu berikutnya. Arjuna tetap duduk manis di dalam becak, tersenyum. Keringat mengucur di tubuh sang tukang becak yang tampak sedikit kesal tidak satu pun taxi yang mau berhenti.

Membawa Arjuna sebagai penumpang taxi memang berbeda. Sang sopir taxi harus rela membantu menggendongnya. Maka tak heran kalau tak semua sopir taxi mau. Tapi Allah selalu memberikan pertolongan-Nya. Sebuah taxi meluncur pelan dan berhenti. Sampai di pondok pesantren Arjuna disambut oleh beberapa orang jemaah. Ia sama sekali tak dipandang sebelah mata. Justru banyak orang yang sayang padanya, termasuk sang kyai.

Ceramah pun dimulai. Seperti kali yang lalu. kali ini Arjuna tak mampu membendung air matanya. Semangatnya membara. Bukan hanya itu bahkan bergejolak. Bagai sebuah handphone yang perlu di-charge, inilah saat-saat Arjuna menge-charge jiwanya. Total biaya Rp.50.000,- yang harus ia keluarkan untuk pulang pergi ke pondok pesantren, serasa tak ada harganya dibanding dengan setrum yang menyulut dirinya. Ajuna jadi lebih semangat bekerja, lebih semangat mengumpulkan uang untuk bisa datang ke pengajian.

Arjuna sekarang jadi rajin ibadah malam. Sifat pemarahnya mulai hilang, jadi lebih sabar dan optimis. Pelan-pelan keinginan itu muncul. Suatu keinginan yang sama sekali tak pernah berani untuk ia mampirkan walau sekilas di kepalanya.

“Ibu, Arjuna kepingin kawin!” Suara cadel Arjuna bagai geledek yang memecah kesunyian malam di telinga sang ibu.

“Arjuna enggak mimpi kan?” sang ibu bertanya sambil menguncangkan tubuh Arjuna yang tergolek lemah di tempat tidur.

” Eh ibu, Arjuna mah bangun. Ini enggak mimpi. Sungguhan, Arjuna kepingin kawin.”

Sang ibu menelan ludahnya beberapa kali, miris. “Jang, kamu teh mau kawin sama siapa?”

“Nggak tau. Tapi Arjuna sudah minta sama Allah.”

Mata sang ibu hampir-hampir tak kuat membendung air mata yang hendak tumpah. “Bener atuh, kalau memohon ya sama Allah.”

Sang ibu bingung apa yang harus ia lakukan. Menghibur Arjuna dan membangun mimpi-mimpi indah yang kosong melompong. Atau membuatnya melek melihat kondisi cacatnya. Tapi itu sama saja artinya dengan menghempaskannya ke jurang dalam. Sang ibu cuma bisa menyerahkan pada Allah, apapun kehendak-Nya.

Malam purnama. Arjuna baru saja selesai sholat tahajud. Ia merenungi keinginannya yang mulai menjadi azzam. Pikirannya berkecamuk. “Tapi, kalau nanti punya istri pasti biaya akan bertambah. Sekarang saja hidup sudah pas-pasan. Ah, rejeki kan sudah diatur oleh Allah, tinggal kita yang harus ikhtiar. Tapi, mau nikah sama siapa. Eh, iya ya. Siapa yang mau sama saya yang jalan aja mesti merangkak, mau ke mana-mana mesti digotong. Ah, itu kan sama juga, jodoh sudah diatur sama Allah. Tinggal ikhtiar saja. Besok saya akan bilang sama Pak Kyai, minta dicarikan istri.”

“Pak Kyai, saya kepingin kawin!”

Pak Kyai itu pun kaget tak beda seperti ekspresi sang ibu ketika mendengar ucapan Arjuna. Dengan sabar Kyai berkata, “Wah bagus itu. Menikah kan sunnah Rasulullah, apalagi kalau niatnya untuk ibadah.”

“Iya, iya, saya kepingin kawin karena kepingin ibadah. Kepingin punya anak-anak yang normal dan berjuang di jalan Allah.”

“Arjuna mau menikah dengan siapa?”

“Saya ingin minta dicarikan sama Pak Kyai.”

Pak Kyai pun menggaruk-garuk kepalanya. Bukan amanah yang ringan. Sudah berkali-kali ia mempertemukan jodoh diantara santri-santrinya. Diantaranya ada juga yang tidak sekali langsung jadi. Itu pun santri-santri yang normal, tapi Arjuna…?!

Sang Kyai bukan mengecilkan arti Arjuna. Semua orang sudah ditentukan takdirnya oleh Allah. Dan tak akan tahu takdirnya bagaimana kecuali dengan berusaha. Tapi usaha yang harus dilakukan untuk mencari istri untuk Arjuna bukan perkara mudah. Tapi Allah berkehendak lain. Sang Kyai akhirnya menemukan sang gadis.

Gadis itu normal, juga sholehah. Ia salah satu jamaah yang kerap mengikuti pengajian Kyai. Kyai mengucap syukur yang tiada tara, karena akhirnya gadis itu mengucapkan kesediaannya menikah dengan Arjuna.

Ina, gadis itu, jelas-jelas tahu Arjuna yang akan dinikahinya berfisik tak sempurna. Sangat jauh dari gambaran tokoh Arjuna yang ada di lirik lagu.

“Kenapa Ina mau menikah dengan Arjuna?” tanya sang Kyai. “Ina sudah tahu apa resikonya? Apa yang akan dihadapi di kemudian hari?”

“Niat saya cuma ingin mencari keridhoan Allah. Saya ingin menjadi bidadari di syurga nantinya,” kata sang gadis dengan mantap.

Pagi hari di bulan Agustus 2002 itu seakan bersinar lebih cerah dari biasanya bagi Arjuna. Sebelum berangkat, ia menangis. Bukan sedih, justru kebahagiaan luar biasa yang tak terbendung. Suatu keajaiban yang tak pernah ia bayangkan akan terwujud. Mulanya hanya sebuah keinginan, lalu menjadi tekad, dan kini menjadi nyata. Allah mengabulkan permohonannya.

Terbata-bata Arjuna mengucapkan ijab kabul. Bukan karena grogi, tapi karena memang ia kesulitan mengucapkan kata-kata. Dua ratus pasang mata ikut berlinangan airmata, tak kuasa menahan haru yang tiba-tiba menyeruak. Arjuna menyerahkan mas kawin berupa 23 gram emas kepada istrinya. Lalu Arjuna bersujud di hadapan ibunya, menangis tersedu-sedu.

Di hadapan para tamu, sang Kyai berkata, “Kita harus banyak belajar dari Arjuna, seseorang yang diberi ujian berupa kekurangan fisik dari Allah, namun tidak takut dan berani mengambil keputusan terhadap masa depannya. Arjuna adalah contoh seseorang yang berserah kepada Allah, yakin akan rejeki yang sudah ditetapkan-Nya. Semoga Allah memberkahi pasangan pengantin ini, menjadikannya sakinah, mawadah, warrahmah.” Doa sang Kyai ini pun di amini oleh para tamu walimah.

Arjuna memandangi istrinya penuh haru. Ina baru saja selesai mencuci baju. Arjuna senang sekali, kini ia tak lagi mencuci baju sendiri seperti ketika bujangan dahulu. Ina juga selalu merawat dengan penuh ikhlas dan telaten. Seorang gadis telah Allah kirim untuk menjadi pendampingnya di dunia. Arjuna berharap Ina juga akan menjadi bidadarinya di surga nanti. Insya Allah.

Sumber : MyQuran

November 30, 2005

Kalau Sudah Cinta…

Filed under: Milis, Religi

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya…

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, “Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri.”

Tapi lelaki itu malah menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi”

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, “Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.”

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati…terkembang dalam kata…terurai dalam laku…Kalau hanya dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata… Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjuntai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta ini hanya mungkin lahir dari pribadi yang punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pencinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta bersemi dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.

Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai menjadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.

Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii,
Kalau sudah pasti ada cinta disisimu
Semua kan jadi enteng
Dan semua yang ada diatas tanah
Hanyalah tanah jua

by Anis Matta
dari Majalah Tarbawi Edisi 119 Th.7/Syawal 1426 H/17 November 2005

Sumber : MyQuran.org

November 24, 2005

Insya Allah masuk Surga

Filed under: MyQuran.org

Tersebutlah sepasang pengantin baru yang lagi “hot-hotnya” menikmati indahnya cinta mereka. Mereka berdua bagaikan sepasang kupu-kupu yang selalu bercanda di setiap bunga yang mereka hinggapi. Maklumlah, sedekat apapun mereka sekarang, toh InsyaALLAH, ALLAH SWT sudah meridhoinya.

Sang istri berperawakan tinggi dan langsing, kulitnya putih dan wajahnyapun cantik rupawan dengan jilbab yang menutupi keindahan rambutnya yang hanya dia perlihatkan kepada suami tercintanya.

Sang suami berperawakan pendek dan gendut, dengan kulit yang hitam dan wajah yang… ya begitulah. Tapi karena dia seorang pengusaha sukses dan memang orang yang saleh, maka sang bidadari pun mau dipinangnya.

Suatu saat sang istri sedang berdiri di teras sebuah kamar hotel di pinggir pantai yang indah menikmati kebesaran ALLAH SWT lewat ciptaan-NYA yang berupa lautan biru. Sang suami pun memandanginya sambil tidak henti-hentinya mengucapkan syukur. Didekati sang istrinya, sambil memeluknya sang suami pun berkata…..

“Sayangku…., di sekian banyak perbuatan abang yang penuh dengan dosa, abang yakin, abang pernah melakukan sesuatu yang ALLAH senangi. Terbukti…., ALLAH memberikan hadian berupa istri secantik kamu.”

“Jikalau bukan karena ALLAH SWT, tak mungkinlah abang yang pendek, gendut, hitam dan culun ini dapat beristri seorang bidadari seperti kamu.” Sang suami pun merendah.

“Itulah mengapa, tak henti-hentinya abang bersyukur atas nikmat ini.” Katanya.

Lalu sang istri menanggapi….,

“Benar abang selalu bersyukur kehadirat ALLAH SWT?” Tanyanya.

“Benar sayangku.” Jawab sang suami.

“Jikalau begitu bang, InsyaALLAH kita berdua akan masuk syurga.” Sambung sang istri.

Sang suami heran dan langsung balik bertanya, “Kenapa kamu bisa berkata begitu sayang?”

“Sebab bukankah salah satu yang masuk syurga itu adalah orang yang sukur dan sabar?” Tanya sang Istri.

“Betul sayangku.” Jawab sang suami.

“Itulah bang, kenapa kita InsyaALLAh bakal masuk syurga. Abang bersyukur memiliki istri seperti saya dan saya pun bersabar memiliki suami seperti abang.” Jawab sang istri polos.

Sumber : MyQuran.org

November 12, 2005

Mengubah Cacian Jadi Kekaguman

Filed under: Milis

MENJADI besar tanpa penderitaan sekaligus cacian orang, itulah kemauan banyak sekali anak muda. Dan kalau memang kehidupan seperti itu ada, tentu ada terlalu banyak manusia yang juga menginginkannya. Sayangnya wajah kehidupan seperti ini tidak pernah ada. Sehingga jadilah cita-cita menjadi besar tanpa penderitaan hanya sebagai khayalan manusia malas yang tidak pernah mencoba.

Ini serupa dengan khayalan seorang sahabat Amerika yang bertanya: kenapa Yesus tidak lahir di Amerika di abad ke-21 ini? Rekan lainnya sesama Amerika menimpali sambil bercanda: memangnya ada wanita Amerika yang masih perawan? Namanya juga canda, tentu tidak disarankan untuk memikirkannya terlalu serius. Apalagi tersinggung. Namun bercanda atau tidak, serius atau sangat serius, kisah-kisah manusia kuat dan terhormat hampir semuanya berisi kisah-kisah penuh cacian sekaligus penderitaan. Sebutlah deretan nama-nama mengagumkan seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama. Semuanya dibikin kuat sekaligus terhormat oleh penderitaan.

Mandela menjadi kuat dan terhormat karena puluhan tahun dipenjara, disakiti serta diasingkan. Sekarang, ia tidak saja dihormati dan disegani namun juga menjadi modal demokrasi yang mengagumkan bagi Afrika Selatan. Gandhi besar dan menjulang karena terketuk amat dalam hatinya oleh kesedihan akibat diskriminasi dan penjajahan. Dan yang lebih mengagumkan, tatkala perjuangannya berhasil, ia menolak memetik buah kekuasaan dari hasil perjuangannya yang panjang, lama sekaligus mengancam nyawa.

Dalai Lama apa lagi. Di umur belasan tahun kehilangan kebebasan. Menginjak umur dua puluhan tahun kehilangan negara. Dan sampai sekarang sudah hidup di pengungsian selama tidak kurang dari empat puluh lima tahun. Setiap hari menerima surat sekaligus berita menyedihkan tentang Tibet. Lebih dari itu, negaranya Tibet sampai sekarang kehilangan banyak sekali hal akibat masuknya pemerintah Cina. Namun sebagaimana sudah dicatat rapi oleh sejarah, daftar-daftar kesedihan Dalai Lama ini sudah berbuah teramat banyak. Menerima hadiah nobel perdamaian di tahun 1989. Setiap kali berkunjung ke negara-negara maju disambut lebih meriah dari penyanyi rock yang terkenal. Karya-karyanya mengubah kehidupan demikian banyak orang. Sampai dengan julukan banyak sekali pengagumnya yang menyimpulkan kalau Dalai Lama hanyalah seorang living Buddha.

Hal serupa juga terjadi dengan tokoh wanita mengagumkan bernama Evita Peron. Belum berumur sepuluh tahun keluarganya berantakan karena ayahnya meninggal. Kemudian menyambung kehidupan dengan cara menjadi pembantu rumah tangga. Bosan jadi pembantu kemudian menjadi penyanyi bar. Dan bahkan sempat diisukan miring dalam dunia serba gemerlap ini. Pernikahannya dengan Juan Peron tidak mengakhiri penderitaan, malah menambah panjangnya aliran sungai air mata. Namun kehidupan Evita Peron demikian bercahaya. Tidak saja di Argentina ia bercahaya, di dunia ia juga bercahaya.

Salah satu guru meditasi mengagumkan di Amerika bernama Pema Chodron. Tidak saja bahasanya sederhana, pengungkapan idenya juga mendalam. Namun kekaguman seperti ini juga berawal dari kesedihan mendalam. Sebagaimana yang ia tuturkan dalam When Things Fall Apart, perjalanan kejernihan Pema Chodron mulai dengan sebuah kesedihan yang tidak terduga:

suaminya mengaku jatuh cinta pada wanita lain dan minta segera cerai. Bagi seorang wanita setia, tentu saja ini seperti petir di siang bolong. Namun betapa menyakitkan pun beritanya, hidup harus tetap berjalan.

Dari sinilah ia belajar meditasi dari Chogyam Trungpa. Dan ini juga yang membukakan pintu kehidupan yang mengagumkan belakangan. Sehingga di salah satu bagian buku tadi, Chodron secara jujur mengungkapkan kalau mantan suaminya yang di awal seperti mencampakkan hidupnya, ternyata seorang pembuka pintu kehidupan yang mengagumkan.

Cerita Thich Nhat Hanh lain lagi. Tokoh perdamaian asli Vietnam ini mengalami banyak sekali pengalaman getir ketika perang Vietnam. Kalau soal hampir mati, atau hampir diterjang peluru panas sudah biasa. Namun tatkala membawa misi perdamaian ke Amerika, ternyata pemerintah Vietnam melarangnya kembali ke Vietnam. Dan sejak puluhan tahun yang lalu Thich Nhat Hanh bermukim di Prancis. Dan penderitaan serta kesedihan-kesedihan yang mendalam ini juga yang membuat nama Hanh demikian dikenal dan menjulang. Pernah dinominasikan sebagai pemenang hadiah Nobel perdamaian, dihormati di banyak sekali negara, dan karya-karyanya lebih dari sekadar mengagumkan.

Daftar panjang tokoh-tokoh kuat sekaligus terhormat, yang dibuat besar oleh penderitaan dan cacian orang masih bisa diperpanjang. Namun semua ini sedang membukakan pintu kehidupan yang amat berguna: penderitaan dan cacian orang ternyata sejenis vitamin jiwa yang membuatnya jadi menyala. Ini mirip sekali dengan judul sebuah buku indah yang berbunyi: Pain, the Gift that Nobody Want. Rasa sakit, penderitaan, cacian orang hampir semua manusia tidak menghendakinya. Tidak saja lari jauh-jauh, bahkan sebagian lebih doa manusia memohon agar dijauhkan dari penderitaan, cacian sekaligus rasa sakit.

Namun daftar panjang kisah manusia seperti Dalai Lama, Pema Chodron sampai dengan Thich Nhat Hanh ternyata bertutur berbeda. Hanya manusia-manusia yang penuh kesabaran dan ketabahan untuk tersenyum di tengah cacian dan penderitaan, kemudian jiwanya menyala menerangi kehidupan banyak sekali orang.

Ternyata, penderitaan dan cacian orang - di tangan manusia-manusia sabar dan tabah - bisa menjadi bahan-bahan yang memproduksi kekaguman orang kemudian. Persoalannya kemudian, di tengah-tengah sebagian lebih wajah kehidupan yang serba instant, punyakah kita cukup banyak kesabaran dan ketabahan?

Sumber: Mengubah Cacian Jadi Kekaguman oleh Gede Prama

October 11, 2005

Berpikirlah Sejenak

Filed under: Milis

Tuhan yang Maha baik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya. Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak akan pernah mulai.

Mulailah sekarang… mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya. Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.

Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak memiliki kesenangan. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya. Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya. Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah…. hati seorang wanita .

Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya. Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya. Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.

Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi Jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain… tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu. Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah.

Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa melihat keduanya.

Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar, orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.

Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta. Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.

Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah. Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.

Kamu tak bisa mengubah masa lalu…. tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan.

Bila Kamu mengisi hati kamu….. dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri. Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.

October 10, 2005

“Papa, baca yang keras ya…”

Filed under: Milis

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dia bawa pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekati, berdiri tepat di sampingnya, sambil memegang buku cerita baru.

Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica, “Pa, liat!” Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kaca matanya. Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi “Wah, buku baru ya, Jes?”

“Ya, Papa” Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. “Bacain Jessi dong, Pa,” pinta Jessica lembut.

“Wah Papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh,” sanggah Budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan di depannya.

Jessica bengong. Tapi ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu “Pa, Mama bilang, Papa mau baca untuk Jessi.”

Budi mulai agak kesal, “Jes, Papa sibuk, sekarang Jessi suruh Mama baca ya?”

“Pa, Mama cibuk terus. Nih, Papa liat gambarnya, lucu-lucu.”

“Lain kali Jessica. Sana! Papa lagi banyak kerjaan!” Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi. Menit demi menit berlalu, Jessica menarik napas panjang dan tetap di situ, berdiri di tempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi.

“Pa…, gambarnya bagus. Papa pasti suka…”

“Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!” Budi membentaknya dengan keras.

Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya. “Iya, Pa. Lain kali ya, Pa?” Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya, ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah. “Pa, kalau Papa ada waktu, Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa denger….”

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, Buku cerita Peri imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras “Buukk..!!”

Beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabok yang melajukan kendaraannya dengan kencang di depan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil terentak beberapa meter. Dalam keadaan yang begitu panik, ambulance didatangkan secepatnya,. Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih “Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang Papa-Mama.” Darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.

Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak dia penuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan Budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali, “…Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa dengar…” Kata-kata Jessi itu mengiang kembali.

Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi. Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil. Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras. Tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras. Ia terus membacanya dengan keras-keras, halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. “Jessi, dengar Papa baca ya…”

Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi “Jessi, Papa mohon ampun, Nak. Papa sayang Jessi..” Seakan setiap kata dalam bacaan
itu begitu menggores lubuk hatinya. Tak kuasa menahan sakit itu, Budi bersujud dan menangis…, memohon satu kesempatan lagi untuk belajar mencintai.

October 9, 2005

Separuh Harta

Filed under: Milis

Suatu hari ada seorang kaya raya yang sangat menyayangi harta bendanya
itu. Dalam keadaan sekarat ia memanggil istri dan anaknya untuk
memberikan pesan terakhir.
Suami: “Kalian tentu tahu betapa aku sangat mencintai hartaku yang amat
banyak itu, bukan? Karenanya aku berpesan kepada kalian, jika aku mati
nanti, tolong kuburkan separuh dari hartaku itu bersama-sama dengan
jenasahku”
Lalu orang kaya itupun meninggal.
Sang anak berpikir. Separuh dari harta ayahnya itu sangat banyak dan
kalau dikuburkan tentu tidak akan ada gunanya. Sementara jika tidak
dikuburkan, harta itu bisa digunakan untuk memuaskan segala keinginan sang
anak dan ibunya.
Maka pada saat penguburan ayahnya, sang anak mengeluarkan selembar cek
sambil berkata “Ayah, jumlah sebagian harta ayah sudah saya tulis dalam
cek ini. Silahkan nanti ayah cairkan sendiri di surga, ya!”

October 8, 2005

Kejarlah Allah Dan Jangan Kejar SyurgaNya - Milis MyQ

Filed under: Milis, Religi

Kejarlah Allah Dan Jangan Kejar SyurgaNya

Kejarlah Tuhan , dan jangan kejar SyurgaNya
Tuan Syurga lebih utama daripada SyurgaNya
Carilah Tuhan dan jangan cari fadilatnya
Dapat Tuhan, Dapatlah segala-galanya

Cari Tuhan kerana kita hendak
memperhambakan diri kepadaNya
Cari Syurga atau fadilatnya ertinya
hendak membesarkan nikmat Tuhan

Mengapa hendak membesarkan diri kepada makhluk?
Memperhambakan diri kepada Khaliq bukankah yang lebih utama?
Jika mengejar fadilat , rasa bertuhan tidak ada.
Jika rasa bertuhan tidak ada, rasa kehambaan pun tidak ada.

Sedangkan fungsi hamba
hendak melahirkan rasa kehambaan
Kalau rasa kehambaan tidak ada,
mazmumah tidak akan dapat dimusnahkan!

Kerana itulah orang yang beribadah
Kerana Syurga atau Fadilat
Perangainya tidak berubah
Bahkan adakalanya ibadahnya itulah
yang menyuburkan mazmumahnya

Mengapa beribadah kerana Syurga dan Fadilat?
Syurga dan Fadilat adalah hak Tuhan
yang memang telah ditentukan olehNya

Carilah Tuhan
Dapat Tuhan, syurga dan Fadilatnya pun dapat sama
Kerana itulah syurga dan fadilat tak perlu difikirkan

Mencari Syurga atau Fadilat
Syurga atau Fadilat belum dapat
Tuhan sudah tentu tak dapat

Yang hendak kita cintai adalah Tuhan
Kerana Dia pencipta kita
Bukan Syurga atau Fadilat yang kita cintai
Betulkan semula fungsi ibadah kita
Agar matlamat ibadah itu tepat pada sasarannya.

Previous<<<<< >>>>>>

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main