DO’A MUSTAJAB
DO’A MUSTAJAB
“Dan Tuhanku berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku
niscaya akan Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari
menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam
dalam keadaan hina dina.”
(QS. al-Mu’min/40:60)
***
Syaqiq Al-Balkha meriwayatkan, pada suatu hari Ibrahim Bin Adham -seorang ulama sufi sedang menelusuri pasar Bashrah. Orang-orangpun berkerumun mengitarinya ingin mena-nyakan masalah agama kepadanya. Mereka bertanya tentang firman Allah SWT; UD’UNI ASTAJIB LAKUM. (Berdo’alah kalian kepada-Ku, pasti Aku kabulkan). Mereka berkata; “Kami sudah cukup lama berdo’a, tapi do’a itu tidak terkabul juga.” Mendengar penuturan mereka, Ibrahim Bin Adham berkata; “Hati kalian telah mati dari sepuluh hal, (1) Kalian meyakini Allah SWT, tapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya, (2) Kalian membaca Kitab Allah, namun kalian tidak mengamalkannya, (3) Kalian mengaku memusuhi iblis, namun kalian mengikuti jejaknya, (4) Kalian mengaku mencintai Rasul, namun kalian meninggalkan atsar dan Sunnahnya, (5) Kalian mengaku mencintai surga, namun kalian tidak beramal untuk surga, (6) Kalian mengaku takut neraka, namun kalian tidak berhenti dari dosa, (7) Kalian mengaku bahwa maut pasti tiba, namun kalian tidak mempersiapkan diri, (8) Kalian sibuk membicarakan cela orang lain, namun kalian melupakan cela diri sendiri, (9) Kalian me-nikmati rizqi Allah, namun kalian tidak mensyukuri-nya, (10) Kalian mengubur orang mati, namun kalian tidak mengambil pelajaran darinya.” 1
Demikianlah nasehat Ibrahim Bin Adham yang sarat hikmah dan ilmu tentang pertanyaan yang sering kita ungkapkan sehubungan dengan do’a-do’a kita yang tidak terkabul. Dia memberikan satu pedoman berdo’a yang menekankan bahwa dikabulkannya do’a seseorang sangat dipengaruhi oleh akhlaq dan amal shalihnya sehari-hari.
Pada dasarnya firman Allah SWT di atas me-rupakan kebenaran dan kepastian yang tidak bisa disangkal, namun diperjelas lagi oleh beberapa Hadits yang mengemukakan tentang syarat dan faedah do’a, sehingga pengabulan do’a seorang hamba kepada Allah SWT sangat ditentukan oleh terpenuhinya beberapa ketentuan yang telah Dia gariskan. Seperti juga diisyaratkan dalam firman-Nya; “Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan), sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada o-rang-orang yang berbuat baik.” 2
Ayat ini memberikan penjelasan bahwa do’a harus dibarengi dengan sikap batin yang penuh harap dan berserah diri kepada Allah, dan perbuatan baik (ihsan) akan mendekatkan rahmat-Nya dengan terkabulnya do’a. Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda; “Tiada seorang muslim di atas bumi berdo’a melainkan pasti diterima dan terhindar dari malapetaka, asalkan dia tidak ber-do’a akan suatu dosa atau untuk memutuskan silaturrahmi.” Kemudian seorang shahabat berkata; “Kalau demikian, kami akan memperbanyak do’a kepada Allah.” Nabi menjawab; “Sesungguhnya Allah amat banyak karunia-Nya.” 3 Riwayat lain menambahkan; “Atau do’a tersebut ditangguhkan pengabulannya.” 4
Maka, bila diperhatikan penjelasan-penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa do’a seorang muslim akan dikabulkan jika memenuhi ketentuan Allah dan pengabulannya itu bisa dengan tiga cara
Pertama; Allah mengabulkan do’anya secara langsung begitu selesai dia sampaikan sesuai de-ngan permohonannya.
Kedua, ditunda sampai Allah menghendaki untuk mengabulkannya pada saat dia sangat membutuhkan, misalnya ketika tertimpa bahaya yang tidak disangka-sangka.
Ketiga, ditangguhkan sampai datang Hari Kiamat sebagai catatan amalnya yang dapat menyelamatkannya dari api neraka serta meringankan mizan kejelekannya.”5
Kedudukan dan Fungsi Do’a
Adalah sunnatullah, kehidupan manusia di dunia ini sarat dengan cobaan dan pengalaman pahit. Tidak jarang kita mengalami kegagalan dan keputusasaan akibat terbuai hawa nafsu dan perasaan bersalah yang berlarut-larut. Kadangkala problema hidup tersebut dapat di atasi dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Jika masalah itu belum juga terselesaikan, biasanya kita meminta pertolongan kepada sesama untuk meringankan beban tadi. Namun, setelah meminta pertolongan orang lain masih juga belum teratasi, maka pada saat inilah biasanya kita memohon kekuatan Allah Yang Maha Penolong. Demikianlah sifat manusia menjalani kehidupannya di dunia. Hal ini disinyalir Allah SWT dalam firman-Nya; “Allah hendak mem-berikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” 6
Karena sifat lemah inilah, tidak sedikit manusia yang terseret ke dalam lembah dosa dan tergoda oleh kehidupan dunia yang fana. Maka, bagi me-reka yang telah terjerumus mengikuti hawa nafsunya, Allah SWT memberi jalan bagi mereka untuk mengakui kelemahannya tetapi juga tidak berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah, sebagaimana firman-Nya; “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa-mu. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 7
Sifat manusia lainnya adalah berkeluh kesah dan tamak. Firman Allah SWT: ”Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah lagi kikir. Apa-bila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecu-ali orang-orang yang mengerjakan shalat.” 8
Dari ketiga sifat di atas, akan timbul beberapa karakter manusia dalam menyikapi problema kehidupan. Ada manusia yang selalu optimis dan selalu berserah diri hanya kepada Allah, ada juga manusia yang berputus asa dan menyombongkan diri di hadapan Allah SWT dengan tidak mau memohon kepada-Nya karena merasa dirinya kuat. Padahal Allah SWT sangat mengecam hamba-Nya yang membanggakan diri dan tidak mau berdo’a kepada-Nya, sebagai mana firman-Nya dalam Hadits Qudsi: ”Barang siapa yang tidak berdo”a kepada-Ku, niscaya Aku murka kepadanya.” 9
Berdasarkan alasan inilah, berdo’a merupakan suatu kewajiban sekaligus merupakan kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam menjalani kehidupannya, lebih-lebih ketika ditimpa kesusahan, kesulitan dan malapetaka. Namun, tidak sedikit juga manusia yang berdo’a hanya pada saat ditimpa musibah saja dan bila kesulitan itu telah berlalu, mereka lupa akan nikmat Allah serta me-ninggalkan do’anya sama sekali. Firman Allah SWT; “Dan apabila manusia itu ditimpa kesulitan, dia memohon pertolongan kepada Tuhannya de-ngan kembali kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kesulitan yang pernah dimohonkan kepada Allah untuk menghilangkannya sebelum itu…” 10
Maka, sudah selayaknya manusia memahami hakikat dan fungsi do’a, agar tidak terjerumus men-jadi orang-orang yang menyombongkan diri dan melebihi batas-batas Allah SWT. Karena sikap se-perti ini amatlah tercela di hadapan Allah. Do’a hanya dijadikan tempat pelarian untuk mendapatkan jalan keluar saja, bukan sebagai kebutuhan utama dalam kehidupannya. Padahal sebuah Ha-dits menyebutkan sabda Rasulullah SAW: “Do’a itu adalah ibadah.” 11 Artinya, selama hayat dikan-dung badan, kewajiban berdo’a tersebut merupakan salah satu dari tugas manusia yaitu ber-ibadah kepada Allah SWT.12
Karenanya, kita dituntut untuk berdo’a kepada Allah dalam keadaan apapun sebagai bukti ke-taatan kita kepada-Nya, disamping pengakuan kita akan ke-Maha Rahiman-Nya mencurahkan kasih sayang kepada hamba-Nya yang menengadahkan tangan memohon pertolongan-Nya. Sebuah sya’ir Arab menyebutkan, ALLAHU YAGHDLABU IN TARAKTA SU-ALIHI… WA BANI ADAM HINA YUS-ALU YAGHDLABU… (Allah akan murka bila kamu tidak memohon kepada-Nya… Tetapi manusia akan marah bila ia diminta pertolongan… )
Sumber : Doa
