Si Tukang Batu
-Pencerahan Mengembalikan Kita
ke Jati Diri Kita yang Alamiah
Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Hsihu, Formosa, 10 Juli 1995
Di sini pernah hidup seorang tukang batu yang sangat rajin. Setiap hari ia memecah batu menjadi bagian-bagian kecil dan membuat berbagai macam barang dengan batu itu atau menjualnya. Sekalipun hari sangat panas sekali di Miaoli, ia tak pernah berhenti bekerja. Ia tak henti-hentinya bekerja, menggunakan sebuah palu yang sangat besar dan memecah batu-batu itu menjadi bagian yang kecil. Batu-batu ini kemudian digunakan oleh orang untuk membuat jalan, tempat dimana mereka duduk di dalam ruang meditasi, dan juga di setiap tempat dimana batu-batu kerikil dibutuhkan. Ini adalah hasil dari kerjanya.
Tukang batu ini mewarisi pekerjaan ini dari kakek buyutnya, dan kemudian dari kakeknya dan kemudian dari ayahnya. Jadi, ada beberapa generasi tukang batu di dalam keluarganya. Ia adalah seorang yang rajin dan kuat. Kadang-kadang ia tidak berhenti bekerja saat makan siang karena ia ingin mendapatkan uang lebih untuk keluarganya; ia akan bekerja sampai larut malam, kemudian pulang ke rumah dan tidur. Begitulah.
Banyak dari teman-teman dan tetangganya iri akan kesehatan dan gaya hidupnya yang sangat bebas. Ia kelihatannya sangat santai dan tidak tergantung pada orang lain. Akan tetapi, sebaliknya laki-laki ini (namanya berarti “kuasa”) tidak merasa gembira dengan keadaannya, tetapi selalu berharap untuk dapat hidup seperti bangsawan, dengan gaya hidup mewah dan berkalangan atas. Jadi, ia sebenarnya tidak selalu bahagia.
Suatu hari, ia sedang memecah batu, mungkin di dekat Sungai Surgawi. Saat itu pagi hari dan matahari sedang terbit. Tiba-tiba, ia melihat gumpalan hitam menuju kearahnya, seperti awan besar. Dan di tengah-tengahnya muncul sebuah kereta kencana yang besar dan indah sekali. Di atas kereta itu duduk seorang petinggi raja yang gemuk dan besar badannya. Ia memiliki begitu banyak pengawal yang menjaganya dan begitu banyak kuda yang mengelilinginya dan ia tampak sangat luar biasa, penuh kemegahan seperti seorang raja.
Perubahan yang Ajaib
Saat melihat kejadian ini, si tukang batu terperanjat, mulutnya terbuka lebar dan matanya membelalak, dan ia merasa sangat sedih. Di relung hatinya, ia tiba-tiba berharap dan berkata, “Saya berharap, saya bisa menjadi pejabat tinggi yang mulia, pejabat raja yang hebat.” Dan tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar seperti suara petir dari puncak gunung: “Bum!” Karena raja gunung telah mendengar doa tukang batu itu dan mengabulkannya. Lalu dalam sekejap si tukang batu berubah menjadi seorang pejabat tinggi. Ia berubah menjadi seorang perdana menteri, dan segala sesuatu yang pernah ia inginkan menjadi kenyataan. Ia memiliki uang, istana besar, para pengawal dan tanah yang sangat luas. Semua orang menghormatinya; kemana pun ia pergi, orang-orang membungkuk sedalam-dalamnya dan tidak berani menatapnya. Dan ia akan mengibaskan debu ke arah mereka dan mereka tetap gembira; mereka tidak berani berkata apapun.
Si tukang batu sangat bangga sekali dengan dirinya. Setiap hari ia harus berkeliling, mengurus negara bagi raja dan memberi laporan kepada raja sekembalinya. Dan saat ia memasuki istana, ia harus berlutut dan bersujud di hadapan raja. Ia juga harus memakai pakaian resmi seorang pejabat, yang sangat tebal dan penuh dengan segala macam batu berharga seperti intan dan mutiara. Jadi, pakaian itu sangat berat. Selain itu, ia harus memakai topi, yang juga dipenuhi dengan batu berharga, emas dan perak, yang sesuai dengan jabatannya. Setiap saat ia membungkuk hormat, punggungnya sakit, dan ia berusaha menahan pinggangnya; kalau tidak, pinggangnya akan patah. Jadi, ia merasa sangat tertekan, tetapi ia tidak pernah berani menanggalkan pakaian resminya.
Suatu hari, saat ia masih berusaha bertahan dalam situasi ini demi kejayaan, kekayaan dan kekaguman orang-orang di sekelilingnya, sang raja mengirimnya ke suatu tempat yang sangat jauh sekali untuk mengurus masalah negara. Dan untuk sampai ke tempat itu, ia harus melalui padang gurun yang sangat luas, dan luar biasa panasnya. Tetapi ia tidak bisa menanggalkan pakaian resminya karena jabatan yang disandangnya. Kemana pun ia pergi, ia harus seperti seorang menteri yang ternama dan tidak ada pilihan lain. Hari sungguh panas sekali, dan ia hampir mati di sana. Kemudian topinya terasa tiga kali lebih berat dari biasanya. Ia juga berkeringat, bajunya basah dan membuatnya terasa lebih berat dari biasanya. Maka ia kemudian berpikir, “Oh Tuhan, menjadi perdana menteri sungguh, sungguh mengerikan. Saya tidak mau menjadi perdana menteri lagi. Saya pikir, saya akan begitu saja mati di sini! Saya pikir, saya lebih baik menjadi seorang raja. Jika saya bisa menjadi raja, itu akan lebih baik. Saya tidak perlu mengalami penderitaan di padang gurun seperti ini, dan saya tidak akan mendapat perintah dari siapa pun. Saya bisa melakukan apa yang saya inginkan, dan akan mempunyai banyak istri. Jadi, wow! Itu akan menyenangkan, menjadi seorang raja. Saya ingin menjadi raja. Saya hanya ingin menjadi raja, tidak ada lagi lainnya; saya ingin menjadi seorang raja, oke?”
Harapan Menjadi Raja Terpenuhi
Dan kemudian tanpa terduga, ia mendengar suara “Bum!” lainnya yang sangat keras, dan kemudian si raja gunung, sahabatnya, dewa gunung, mengabulkan doanya. Maka si tukang batu berubah menjadi seorang raja yang memerintah sebuat negara yang besar, dan mempunyai kekayaan yang berlimpah dan istri yang banyak. Dan setiap orang berlutut di hadapannya dan melakukan setiap keinginannya.
Maka ia merasa gembira untuk sementara waktu. Akan tetapi, masa bulan madu berlalu dan ia harus bekerja sampai larut malam karena banyaknya laporan dari berbagai menteri dan pimpinan-pimpinan provinsi dan gubernur negara bagian yang datang menghadapnya setiap hari. Setiap hari ia harus mendiskusikan masalah negara sampai larut malam dengan begitu banyak menteri-menterinya. Maka ia kemudian tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Ia mencemaskan pekerjaannya, masalah-masalah negara dan urusan penting lainnya yang berhubungan dengan masalah negara yang tidak bisa ia selesaikan seketika dan dengan damai.
Dengan masalah-masalah yang tak pernah berhenti, baik di dalam dan di luar negaranya, ia tidak bisa tidur nyenyak, ia tidak bisa makan dan ia tidak bisa bergembira dengan semua istri cantik yang dimilikinya. Ia begitu murung bahkan untuk melihat mereka sekali pun. Saat kalian sedih, kalian tidak akan bisa menikmati apa pun. Jadi, ia tidak bisa makan; ia bahkan tidak bisa menikmati makanan yang ia inginkan, dan ia tidak bisa bergembira dengan perempuan-perempuan yang selalu diinginkannya. Ia menjadi amat murung dan hanya terbenam dalam pekerjaan, kecemasan dan khawatir akan tekanan seluruh rakyat, musuh, teman, dan setiap orang yang menginginkan sesuatu darinya. Karena ia adalah seorang raja, orang yang paling berkuasa, hanya satu-satunya, setiap orang datang kepadanya dengan masalah mereka, baik di dalam maupun di luar, dan dengan demikian ia mulai merasa bahwa jabatannya sebagai raja bukanlah sebuah berkah melainkan sebuah hukuman baginya. Ia merasa sangat lelah dan lesu.
Bahkan Matahari Mempunyai Masa-Masa Gelap
Kemudian, pada suatu hari, negara tetangga menyerbu negaranya, dan karena dikalahkan, maka ia harus melarikan diri dan bersembunyi. Ia tidak mempunyai makanan untuk dimakan selama pelariannya, dan ia begitu lelah dan merasa panas. Dengan musuh-musuh di dekatnya dan hidupnya yang terancam, ia mulai berpikir bahwa adalah sangat mengerikan menjadi seorang raja, benar-benar mengerikan! Adalah suatu kesalahan bahwa ia telah berharap menjadi seorang raja. Ia kemudian memandang ke atas dan melihat bahwa sang matahari sangat bebas dan sangat tinggi; tidak seorang pun sanggup menyentuhnya. Matahari bersinar dan sangat bagus! Maka ia berkata, “Oh, Tuhan! Menjadi Matahari; lebih baik menjadi Matahari. Saya ingin menjadi Matahari. Saya tidak suka menjadi seorang raja. Saya ingin menjadi Matahari.”
Dan demikianlah, “Bum!” ia berada di atas, dan mendapatkan dirinya berada di atas bumi, memancarkan kasih dan kehangatannya kepada semua yang ada di muka bumi. Ia sangat senang menganugerahkan berkatnya bagi semua makhluk hidup di dunia. Dan ia merasa sangat mulia, gembira karena ia pikir ia adalah yang tertinggi di muka bumi. Ia memandang ke bawah ke semua makhluk hidup dan merasa sangat mulia dan bahagia.
Maka ia menutup matanya dan bermeditasi sebentar dan kemudian tiba-tiba ia berkata, “Mengapa menjadi begitu gelap? Begitu gelap sehingga mata kebijaksanaannya terbuka dan ia berkata “Oh!” Ada awan besar di hadapannya, berani menutupinya! Dan ia kemudian mulai berjuang dan tidak bisa keluar darinya. Semuanya gelap sehingga juga menutupi mata kebijaksanaannya. (Gelak tawa) Ia tidak melihat apapun dan sangat marah, berkata, “Saya harus menjadi awan. Saya harus menjadi awan! Awan lebih hebat dari Matahari. Matahari tidak berguna.”
Tidak Berbahagia Menjadi Awan dan Gunung
Jadi kemudian, “Bum!” Kalian tahu apa lagi yang terjadi! (Gelak tawa) Orang yang tidak pernah puas itu mendapatkan kepuasan sekali lagi. Ia menjadi awan. Untuk sementara, ia menjadi bahagia. Ia menurunkan hujan bagi orang-orang, memusnahkan berbagai macam benda, dan kemudian memberkati tanah dengan membuat semua bunga-bunga tumbuh subur dengan air dari awannya. Ia membuat setiap orang bahagia, dan ia juga bahagia. Untuk sesaat ia merasa puas. Dan tiba-tiba, angin datang! Dirinya semakin berkurang sampai hampir tidak ada. Ia menjadi lebih kurus dan kurus, lebih kecil dan kecil, sampai seperti seutas benang, hanya berkeliaran, mencoba menyelamatkan dirinya. Dan kemudian ia menjadi sangat marah. Tapi, ia pikir bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia mungkin bisa menjadi besar lagi.
Akan tetapi, kemudian angin meniupnya melewati puncak gunung, dan gunung menangkapnya, seperti seseorang menarik baju kalian. Dan ia tertangkap di sana, tergantung di atas gunung, dan ia menjadi sakit hati, berkata, “Segala sesuatu datang dan pergi, tetapi gunung selalu berdiri di sana; tidak pernah hilang, tidak pernah termusnahkan, tidak sesuatu pun! Gunung selalu kuat. Oh! Saya berharap, saya adalah gunung! Saya harus menjadi gunung. Gunung adalah yang terbaik.” Maka, “Bum!” Suara itu datang kembali! Dan kalian tahu ia menjadi apa! ( J: “Gunung.” ) Sebuah gunung! Maka ia kembali menjadi sangat senang. Ia telah menjadi gunung. Tidak peduli hujan, angin, salju atau matahari - tidak sesuatupun yang bisa mengganggu gunung. Ia duduk seperti ini (Guru meluruskan sikunya ke arah luar menyerupai pamer kekuatan), seperti saya. (Gelak tawa) Ia merasakan bahwa gunung sangat hebat, dan mengangkat hidungnya ke atas. Ia merasa sangat hebat. Setiap hari ia melihat ke atas dan merasa bahwa ia sangat agung. (Gelak tawa)
Dan suatu hari, ia merasa sepertinya seseorang sedang menusuk kakinya dengan pisau atau paku atau sesuatu semacam itu, dan saat ia memandang ke bawah ia berkata, “Oh!” Ada seorang tukang batu sedang memecah batu dari kakinya di bawah sana. Tentu saja, ia menjadi sangat marah dan berteriak, “Beraninya engkau mencungkil kaki saya! Itu menyakitkan!” Tetapi tukang batu itu tidak peduli. Ia menggunakan palunya yang besar dan pahat yang tajam dan memecah batu, satu per satu, dan ia sangat menikmati pekerjaannya, sambil bernyanyi dan bersiul. Maka, wow! Ia kemudian menjadi lebih marah dan berkata, “W-a-a-h ha-ha, Saya harus menjadi tukang batu!” (Gelak tawa)
Sesudah Pencerahan, Kita Sungguh Memiliki Pikiran yang Biasa
Hal ini menyerupai kita. Kadang kala orang berkata, “Pikiran yang biasa adalah pikiran Buddha,” tetapi kita tidak mempercayainya. Kita tidak mengetahui apakah itu. Dan kita sesungguhnya tidak tahu sampai memperoleh pencerahan. Kita kemudian menjadi normal kembali. Kemudian kita tahu bahwa segala sesuatu adalah baik dan menyadari bahwa kita mengetahui apakah pikiran yang biasa itu. Sebelum itu, meskipun kita memilikinya, kita tidak mengetahuinya.
Yang disebut cara normal orang pada umumnya menjalani hidup mereka, bukanlah pikiran biasa. Pikiran biasa yang sesungguhnya adalah yang damai, tenang, yang menerima segala sesuatu yang datang padanya dan bereaksi terhadap segala sesuatu dengan seperlunya saja. Tidak ada keinginan, tidak ada penolakan dan tidak ada pemberontakan apa pun. Itu adalah pikiran biasa. Akan tetapi, cara orang menjalani hidup mereka sehari-hari, bukanlah apa yang dimaksud dengan pikiran biasa.
Maka berhati-hatilah agar kalian tidak salah paham antara tingkatan pikiran yang tidak tercerahkan dengan yang tercerahkan, yang tercerahkan dengan yang super-tercerahkan, dan super-tercerahkan dengan tidak-tercerahkan. Sesudah kita menjadi sangat tercerahkan, kita mulai berhenti berbicara. Pada mulanya, ketika kita belum begitu tercerahkan, kita berbicara banyak; kita mengetahui segala sesuatu. Kita tahu apa artinya “Buddha”, Nirwana, samsara, karma, transmigrasi - segala sesuatu. Kita tahu semua perkataan utama dari semua agama. Kita mengetahui itu semuanya.
Kemudian, setelah kita cukup tercerahkan, kita berbicara lebih banyak lagi tapi kata-kata kita lebih mengandung inti sari. Perkataan kita lebih bermakna daripada sebelumnya karena kita memiliki pengertian yang lebih dalam dari arti kata-kata yang sering kita ucapkan sebelumnya, tetapi tidak tahu arti yang sesungguhnya. Jadi, ada dua tingkatan bicara. Tingkatan bicara yang disebutkan terakhir adalah lebih bermakna dan jujur karena itu datang dari realisasi diri kita sendiri. Lalu, setelah tingkatan bicara ini, kita mulai menjadi diam. Kita tidak ingin berbicara lagi. Jadi, tentu saja kalian heran mengapa saya bicara (Guru tertawa.) - karena kalian ingin supaya saya berbicara.
Tidak berbicara bukanlah berarti berdiam diri sepanjang hari. Karena, jika seseorang tidak berbicara, bukan berarti ia sedang diam. Dan jika seseorang menghentikan segala kegiatannya, bukan berarti ia sedang tenang. Jadi berbicara ataupun tidak berbicara bukanlah hal luar; itu berasal dari dalam. Pada saat itu, kalian berbicara tetapi kalian tahu bahwa tidaklah perlu untuk berbicara. Kalian berbicara karena diminta oleh orang lain atau hanya untuk menjadi seperti orang normal umumnya atau untuk membuat orang lain berbahagia. Atau kalian hanya berbicara karena berbicara ataupun tidak berbicara adalah sesuatu yang sama bagi kalian. Itu bukanlah pembicaraaan yang penuh antusias; itu bukanlah lagi pembicaraan yang mengesankan lagi, seperti halnya kita ingin membuat seseorang beralih kepada kepercayaan kita maupun segala sesuatu yang serupa itu. Itu adalah sangat biasa dan sangat normal. Jadi, begitulah. Itu adalah cerita si tukang batu. Sangat menakjubkan, bukan? Itu persis seperti kita.
Sumber: Tukang Batu