Ilmu Padi

April 6, 2006

Doa Seorang Suami

Filed under: Artikel

Suatu pagi seorang suami yang merasa kecapaian dalam hidupnya memanjatkan doa kepada Allah. "Ya, Allah kasihanilah aku. Aku bekerja membanting tulang, sementara istriku tinggal di rumah. Aku akan persembahkan apapun, asalkan Kau kabulkan satu permohonanku: ‘tukarlah aku menjadi istriku’. Ia enak-enak dirumah, dan aku ingin memberinya pelajaran betapa beratnya kehidupan seorang laki-laki". Tuhan mendengarkan doa tersebut, dan mengabulkannya.

Esoknya, mulailah ‘perempuan baru’ tersebut menjalankan kehidupan. Ia bangun dipagi buta, menyiapkan sarapan, membangunkan anak-anak, menyiapkan bekal suaminya, memasukkan cucian kotor ke mesin cuci, menyiapkan masakan hari ini, mengantarkan anak-anak. Sepulang dari sekolahanaknya mampir ke pom bensin, mengambil uang, membayar rekening listrik dan telpon, mengambil cucian suaminya di pelayanan laundry, dan cepat-cepat ke pasar untuk belanja.

Dengan cepat hari mencapai pukul 13:00 tengah hari. Ia membereskan tempat tidur, mengambil cucian tadi pagi dan menjemurnya, dan memasukkan sisanya ke mesin cuci, menyapu, mengepel rumah, menanak nasi, sebelum kemudian segera berangkat menjemput anak-anaknya dari sekolah, yang disambut oleh anak-anaknya dengan bersitegang.

Sesampai dirumah ia segera menyiapkan makan anak-anaknya. Dengan tergopoh-gopoh meniriskan kembali cuciannya yang sebenarnya telah kering, karena ternyata hari hujan selama ditinggal kesekolah. Sore hari ia membantu anak-anak mengerjakan PR. Ia sempat-sempatkan mengintip acara teve sambil tangannya menyetrika. Setelah itu ia menyiapkan makan malam keluarga, memandikan anak-anak, dan mengantarkannya tidur.

Pukul 21:00 malam, ia dengan badan lelah pergi tidur. Sudah tentu ada tugas lain, yang entah bagaimana caranya ia laksanakan dengan baik, sebelum benar-benar menikmati tidurnya.

Esok paginya ia berdoa sekali lagi kepada Allah: " Ya Allah,apa yang kubayangkan saat meminta-Mu mengabulkan permohonanku, tak sanggup kutanggungkan lagi. Aku menghiba-Mu, ya. Allah, kembalikan aku menjadi diriku, kumohon, ya, Allah."

Allah kembali mendengarkan doanya. Ia berkata: "Wahai, hambaKU, aku akan kembalikan keadaanmu semula. Tapi, ada hal kecil yang sedikit mengganggu, kau harus menunggu 9 bulan. Ingat, perbuatanmu sendiri telah membuatmu hamil sejak kemarin.

Dicopas dari : Doa Seorang Suami

March 10, 2006

Kenapa Wanita Mudah Menangis

Filed under: Artikel
Suatu ketika, ada seorang anak laki² yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?".

Ibunya menjawab, "Sebab,Ibu adalah seorang wanita, Nak".
"Aku tak mengerti" kata si anak lagi.

Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti…"

Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan. "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"

Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa² sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup,karena di kakinyalah kita menemukan surga.

 
Sumber : Kayaknya dari milis deh :D  

March 3, 2006

DEWA DEWI LANGIT

Filed under: Artikel

DEWA DEWI LANGIT
PENCIPTA SIANG DAN MALAM

Pada Zaman Khaos, di kekosongan yang dalam dan gelap, muncullah Gea, Dewa Bumi. Lalu berturut-turut muncul Uranus, Dewa Langit serta Eter, udara biru yang senantiasa menyelimuti dan memberi kehidupan di bumi. Sejak itulah kehidupan di bumi ini berlangsung.

Dari pernikahan Gea dan Uranus, lahir dua belas raksasa yang disebut Titan. Mereka amat kuat lagi perkasa. Lahir juga Siklopi, raksasa bermata satu serta tiga raksasa lainnya yang bertangan seratus. Namun ternyata Khronos, Titan yang paling perkasa sangat membenci ayahnya. Ia mengusir Uranus dari tahtanya. Sembari berlari, Uranus yang malang berteriak marah, “Khronos, akan tiba waktunya seperti ini! Kau akan diusir anakmu sendiri, bagai yang telah kau lakukan terhadapku!”.

Khronos memerintah dengan kejam. Bumi dan langit berduka. Tiap mengingat sumpah ayahnya, Khronos menjadi khawatir dan akhirnya dipenjaralah semua saudaranya di kegelapan bumi. Tak hanya itu, ia selalu menelan anak-anak yang lahir dari istrinya, Rhea.

Tiap kali Rhea meratap pilu, Khronos membentak, “”Diam kau! Aku hanyalah melindungi diri dari kekejaman anak yang akan mengusirku dari tahta. Jika anak itu kupenjara dalam perut ini, bagaimana mungkin ia akan mengusirku? Ha-ha-ha”

Rhea tak putus asa dan saat lahir anak laki-lakinya, Yupiter, wanita pemberani ini bohong pada suaminya. Diserahkannya batu besar, yang segera ditelan Khronos tanpa curiga sedikitpun. Bayi mungilnya disembunyikan di Pulau Kreta, Yunani.

Tahun-tahun pun berlalu, Yupiter tumbuh sehat, kuat dan tampan. Pemuda itupun menelusuri asal-usulnya. Setelah tahu, dengan bantuan Gea, Yupiter membebaskan saudara-saudaranya, diantaranya Pluto dan Neptunus. Peperangan melawan ayahnya yang jahat pun berlangsung puluhan tahun.

Akhirnya peperangan hebat antara anak dan ayah itu dimenangkan Yupiter.Dengan bijaksana, dikuasainya langit dan bumi. Yupiter pun adil, titahnya, “Neptunus kau kutugaskan untuk menguasai laut, dan kau Pluto, tugasmu menguasai kerajaan maut”.

Dari perkawinan Yupiter, lahirlah dewa-dewi yang besar peranannya baik di langit maupun di bumi. Di antaranya adalah Venus, Dewi Keindahan dan Mercurius, utusan para dewa.

Kehidupan di bumi berangsur-angsur membaik kembali. Matahari terbit dan menerangi bumi bergantian dengan sang malam sebagaimana adanya kini.

Bila malam tiba, Selene, Dewi Bulan dengan busana panjang berwarna putih, muncul mengendarai kereta yang ditarik sapi-sapi jantan bertanduk melengkung. Dalam keheningan malam, Selene yang cantik akan melayang mengarungi langit, diantara mega-mega. Ia memancarkan cahaya lembut keperakan ke bumi.

Saudara Selene, Eos, Dewi Fajar, bersama Astreus melahirkan bintang-bintang yang menghias langit di malam hari, juga Dewa-Dewa empat macam angin. Dewa Angin Timur, Dewa Angin Barat, Dewa Angin Utara dan Dewa Angin Selatan. Tiupan dari mulut para dewa ini mempengaruhi musim di bumi dan gelombang di lautan luas.

Bila malam hampir berakhir, Eos menjemput saudara laki-lakinya, Helios, Sang Dewa Matahari. Dengan busana bagai jaring-jaring halus berwarna kuning, pelan-pelan Eos menembus kegelapan malam. Tangan kirinya menjinjing pot berisi air dingin, sedangkan tangan kanannya tak henti menebarkan embun ke atas bumi. Itulah sebabnya, dedaunan, bebungaan dan padang rumput selalu berembun di pagi hari.

Usai menebar embun yang berkilau bak mutiara, Eos membuka gerbang istana emas Helios. Dewa Siang pun muncul berkereta dengan tarikan kuda-kuda bersayap. Saat Helios muncul di horison, perjalanan harian setiap makhluk dimulailah. Ia tebarkan cahaya ke sekitarnya, menghangatkan bumi dan memberi kehidupan kepada semua makhluk.

Begitu malam mendekat, Dewa Helios menghilang, bergantian dengan Dewi Selene. Para Dewa ini bekerja tanpa mengenal lelah. Konon, masyarakat Yunani sangat menghormati dan menghargai kerja keras para dewanya. Khususnya para dewa yang menjadikan adanya siang dan malam.

Sumber : Tessa-thbb

March 2, 2006

Kelahiran Athena

Filed under: Artikel

Kelahiran Athena
Zeus mempunyai istri bernama Metis, tapi si Oracle Gaea meramalkan bahwa nanti anak pertamanya akan jadi perempuan tapi anak keduanya akan menjadi laki-laki yang akan menjadi lebih hebat daripada ayahnya. Zeus sayang istrinya tapi tidak bisa mengambil resiko sebesar itu. Maka suatu hari Zeus menelan Metis. Berbulan-bulan setelah itu, Zeus merasa sakit kepala, lalu dia memanggil si tuhan pandai-besi, Haphaestus dan menyuruhnya untuk membelah kepala Zeus dan mengambil benda yang menyakitkan di kepala Zeus. maka Haphaestus pun membelah kepala Zeus dan dari kepalanya, Athena keluar, sudah besar, dan membawa perisai dan tombak. Kata Zeus ” Kamu anak favoritku. Namamu Athena, tuhan peperangan. Kamu boleh menggunakan senjata dan petirku. ” Maka Athena pun tersenyum dan melaksanakan tugasnya menjadi tuhan peperangan.

Sumber : Vidia-thbb

March 1, 2006

Perang Troya (lanjutan)

Filed under: Artikel

TErnyata tidak mudah untuk sampai di Troy, pasukan Yunani mendarat pertamakali di Mysia. Menurut Herodotus, orang-orang Yunani menganggap bahwa Helen diculik oleh orang-orang Teuthranians, sehingga walaupun orang Teuthranians menyangkal, tetap saja pasukan Yunani menduduki kota mereka.
Yunani berhasil, tetapi tetap saja mereka menderita kerugian yang cukup besar oleh perlawanan Telephus, raja Teuthranians, dan akhirnya, tetap tidak menemukan Helen. Telephus, dalam perang tersebut dilukai oleh Achilles.

Karena tidak tahu harus kemana lagi, orang yunani pun kembali ke yunani.

Perang Troya mungkin tidak terjadi kalau saja Telephus tidak pergi ke Yunani dengan harapan menyembuhkan luka-lukanya.
Telephus mendapat ramalan bahwa dia hanya bisa disembuhkan oleh orang yang melukainya, yaitu Achilles. Achilles pun setuju, lalu Telephus memberitahu orang Yunani bagaimana caranya mencapai Troy.

Odysseus, yang dikenal karena keluwesannya, dan Menelaus, dikirim sebagai duta ke Priam. Mereka meminta Helen dan harta yang dicuri agar dikembalikan. Priam menolah, lalu Odysseus dan Menelaus kembali ke armada kapal Yunani dan mengumumkan bahwa perang tak dapat dihindarkan.

Selama sembilan tahun, perang terjadi di Troy dan juga di daerah-daerah sekitar Troy. Orang yunani menyadari bahwa Troy dipasok oleh kerajaan2 di sekitarnya, sehingga Yunani juga menaklukkan kerajaan2 tersebut.

Selain menghancurkan perekonomian Troy, pertempuran ini juga memberikan kepada Yunani banyak keuntungan, seperti supplai, dan juga wanita.
Yunani memenangkan banyak pertempuran, dan pahlawan Troya, Hector, gugur, demikian juga dengan sekutu Troy, Penthesilea. Namun demikian, tetap saja pasukan Yunani tidak dapat menembus dinding pelindung kota Troya.
Patroclus terbunuh, dan tak lama kemudian, Achilles dibunuh oleh Paris.

Helenus, anak raja Priam, ditangkap oleh Odysseus. Seorang peramal, kata Helenus, mengakatan bahwa Troy tidak akan jatuh ketangan pasukan Yunani kecuali :

a) Pyrrhus, anak Achilles, ikut bertempur,
b) Busur dan anak panak milik Hercules digunakan oleh pasukan Yunani untuk melawan pasukan Troya,
c) Kerangka Pelops, pahlawan Eleian yang terkenal, dibawa ke Troy, dan
d) Palladium, patung Athena, dicuri dari Troy.

Phoenix membujuk Pyrrhus untuk berperang. Philoctetes mendapatkan busur dan anak panah milik Hercules, tetapi dia ditinggalkan oleh pasukan Yunani di Lemnos karena dia digigit ular dan lukanya berbau tak sedap.
Philoctetes mulanya menolak, tetapi berhasil dibujuk untuk bergabung dengan pasukan Yunani.
Kerangka Pelops diperoleh dan Odysseus menyusup ke pertahanan pasukan Troya dan mencuri Palladium.

Odysseus yang pintar (ada yang bilang dia dibantu oleh Athena), berusaha mencari cara untuk masuk ke kota Troy, lalu ia memerintahkan untuk membuat sebuah kuda kayu raksasa. Di dalamnya haruslah ada ruang kosong, sehingga bisa digunakan untuk menyembunyikan tentara.

Epeius yang membuat patung kuda kayu tersebut, dan begitu selesai, sejumlah tentara Yunani masuk ke dalamnya, termasuk Odysseus. Lalu seluruh armada kapal Yunani berpura-pura meninggalkan pantai Troya.

Seorang prajurit, Sinon, ditinggalkan. Saat orang Troya datang mengagumi patung kuda tersebut, Sinon berpura-pura marah pada orang Yunani dan mengatakan bahwa dia ditinggalkan mereka. Dia meyakinkan orang Troya bahwa patung kuda tersebut aman dan akan membawa keberuntungan pada kerajaan Troy.

Hanya dua orang, Laocoon dan Cassandra, yang menentang membawa patung tersebut ke dalam kota, tetapi perkataan mereka diabaikan. Orang-orang Troya merayakan apa yang mereka kira sebagai kemenangan, dan membawa patung kuda tersebut ke dalam kota.

Malam itu, setelah hampir seluruh penduduk Troy tertidur ataupun mabuk, Sinon mengeluarkan prajurit Yunani dari dalam kuda, dan mereka pun membantai orang-orang Troya. Priam dibunuh sewaktu dia menuju altar Zeus dan Cassandra diturunkan dari patung Athena dan diperkosa.

Setelah perang, Polyxena, anak perempuan Priam, dikorbankan di kuburan Achilles and Astyanax, anak Hector, juga dikorbankan, menandai berakhirnya perang.

Aeneas, seorang pangeran Troy, berhasil lari dari
pembantaian. (kisahnya diceritakan dalam epic Aeneid karya Virgil)
Banyak yang mengatakan bahwa Aeneas adalah satu-satunya pangeran Troya yang selamat, tetapi pernyataan ini bertentangan dengan cerita bahwa Andromache menikah dengan Helenus, saudara kembar Cassandra, setelah perang berakhir.
Menelaus, yang telah berniat untuk membunuh istrinya yang tak setia, akhirnya terbujuk oleh kecantikan dan rayuan Helen, sehingga dia membiarkan Helen tetap hidup.

-selesai-

Sumber : Kobo-thbb

February 28, 2006

Perang Troya

Filed under: Artikel

Asal mulanya adalah perkawinan antara Peleus dan Thetis, seorang dewi laut. Peleus dan Thetis tidak mengundang Eris, dewi perselisihan (goddess of discord), ke pesta perkawinan mereka, sehingga Eris marah. Dalam keadaan marah, Eris datang ke pesta itu dan melemparkan sebutir APEL EMAS, lalu kata Eris, apel tersebut adalah milik “yang tercantik”.

Hera, Athena dan Aphrodite, kemudian memperebutkan apel tersebut.
Lalu Zeus mengatakan, Paris, pangeran dari negeri Troy yang dinyatakan sebagai laki-laki paling tampan di dunia, akan bertindak sebagai jurinya.

Kemudian, Hermes mendatangi Paris dan memberitahukannya keputusan Zeus tersebut. Paris pun setuju.

Lalu, ketiga dewi tadi menjanjikan berbagai hal agar Paris memilih dirinya. Hera menjanjikan Paris akan diberikan kekuatan, sedangkan Athena menjanjikan akan memberikan kekayaan. Aphrodite, si dewi cinta, menjanjikan akan memberikan wanita tercantik di dunia.

Dasar cowok… si Paris itu akhirnya memilih Aphrodite, dan Aphrodite menjanjikan bahwa Helena, istri Menelaus, akan menjadi istri Paris. PAris kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke Sparta untuk mendapatkan Helena.

Dua orang peramal kembar, Cassandra dan Helenus mencoba membujuknya untuk membatalkan niatnya, demikian juga dengan ibu Paris, Hecuba. Tapi PAris tidak mau mendengar nasehat mereka.

Di Sparta, Menelaus, suami Helen, menyambut Paris seperti seorang tamu kehormatan. Tetapi, saat Menelaus meninggalkan Sparta untuk menghadiri suatu pemakaman, Paris langsung menculik Helena (yang kemungkinan ikut dengan sukarela.. abis kan Parisnya tertampan di dunia, hihihihi) dan juga melarikan sebagian besar kekayaan Menelaus.

Di Troy, Helena dan Paris menikah.

Menelaus, lalu marah besar waktu tahu bahwa Paris sudah menculik Helen. Lalu Menelaus memanggil semua pelamar2 Helen (sebelum menikah dengan Menelaus, Helen sudah dilamar oleh banyak laki-laki), karena para pelamar tersebut sudah membuat sumpah bahwa mereka akan selalu membantu suami Helen untuk mempertahankan kehormatan Helen.

Banyak dari para ex-pelamar tersebut yang tidak ingin pergi perang. Odysseus berpura-pura jadi gila, tetapi trik nya diketahui oleh Palamedes.
Achilles, walaupun bukan salah seorang ex-pelamar, diajak juga karena peramal Calchas sudah menyatakan bahwa Troy tidak dapat dikalahkan kecuali Achilles ikut berperang.

Salah satu cerita yang paling menarik adalah tentang Cinyras, raja Paphos, di Cyprus, yang merupakan salah seorang ex-pelamar Helen. Dia tidak ingin ikut berperang, tetapi memberikan 50 kapal perang, yangsalah satunya dikomando oleh anaknya. Ternyata, 49 kapal lainnya adalah kapal palsu yang terbuat dari tanah liat dengan boneka pelaut dari tanah liat. Kapal-kapal palsu tersebut langsung hancur waktu tiba di laut.

PAsukan Yunani bergabung, dibawah perintah Agamemmnon, di Aulis. Tetapi ternyata, Agamemmnon membunuh salah seekor rusa keramat milik Diana dan juga bermulut besar, sehingga Diana marah dan menghentikan angin, sehingga armada kapal Yunani tidak bisa berangkat.

Peramal Calchas menyatakan bahwa Iphigenia, anak Agamemnon, harus dikorbankan agar armada tersebut bisa bergerak. Hal ini dilakukan, lalu armada perang Yunani pun berangkat untuk menyerbu Troya.

==== Bersambung ====

Sumber : Kobo-thbb

February 27, 2006

Buku-buku Yang Membunuh

Filed under: Artikel

Buku-buku Yang Membunuh

Sebuah buku bahkan bisa mengilhami lima pembunuhan berantai dan 40 pembantaian.

8 Desember 1980. Malam musim dingin di Manhattan sudah tua. Jarum waktu menunjuk pukul 23.00. Sebuah sedan limusin berhenti di depan Dakota. Itu bukan nama kota, tapi sebuah apartemen luks tempat orangorang berduit tinggal; orang-orang seperti penumpang limusin itu.

Dari dalam mobil mewah keluar pria berusia 40 tahun. Ia berjalan menuju apartemennya. Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan mobil, empat tembakan membelah malam.

Pria itu—John Lennon—jatuh mandi darah. Dengan mobil polisi ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Roosevelt, namun itu tak berguna. Lennon pergi dan gagal merayakan Natal tahun itu.

Tak jauh dari darah yang menggenang, seorang pria duduk di atas trotoar. Dengan bantuan sinar lampu jalanan, dengan tangan yang bertabur bubuk mesiu, ia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. The Catcher in the Rye, judulnya. J.D. Salinger, pengarangnya.

Buku yang dibelinya dari sebuah toko buku di Fifth Avenue itu sudah mulai lusuh. Bukan karena tua. Baru beberapa hari lalu ia membelinya, setelah yang lama hilang ketika ia berlibur ke Hawaii.

Pria itu, Mark Chapman, amat suka dengan sampulnya yang didominasi merah dan huruf kuning. Menurutnya, warna itu sangat dramatis dan cocok. Tapi ia lebih suka isinya. Begitu sukanya hingga ia baca berkali-kali tanpa bosan.

Chapman yakin buku itu diciptakan untuknya. Ia yakin Holden Caulfield, tokoh utama novel itu, adalah dirinya. Bahkan Chapman sempat ingin mengganti namanya menjadi Holden Caulfield. Untuk menghidupkan fantasinya, pria berkacamata itu juga pernah menapaktilasi jalanan New York yang dilalui Holden pada malam-malam dingin menjelang Natal.

Tak cuma itu, saudara. Chapman juga percaya, kisah hidupnya akan menjadi pelengkap, menjadi bab terakhir The Catcher. Di halaman depan, Chapman menulis: “This is my statement. Holden Caulfield —The Cather in the Rye.”

Malam itu, malam dibunuhnya musisi rock terbesar, novel yang terbit pertama kali pada 1945 itu memang tak ditulis ulang, tapi seorang tengah membacanya perlahan, dengan tekun, seperti sedang merapal kitab suci. Ia yakin, apa yang baru saja dilakukannya adalah sebuah drama yang luput ditulis oleh Salinger.

Salinger—di luar bahasa kasar yang membuat novel itu dilarang selama beberapa tahun—tentu tidak bermaksud mengilhami siapapun untuk membunuh atau berbuat kasar. Hal yang sama juga pasti tidak dilakukan oleh Anthony Fawcett saat menulis One Day At A Time. Tapi toh kedua buku itu menggerakkan Chapman untuk membunuh Lennon.

Chapman seorang psycho? Tentu, banyak yang percaya itu. Pasti ada yang tak beres pada otak seorang yang membunuh karena membaca sebuah novel. Tapi Chapman tak sendiri. Nun ribuan kilometer dari New York, lima belas tahun setelah Lennon terkapar oleh peluru Chapman, sebuah pembunuhan yang lebih keji terjadi. Juga karena sebuah novel.

Di stasiun bawah tanah Tokyo, pada awal musim semi, dua belas orang tewas dan lima ribu orang terluka. Sebuah sekte kiamat bernama Aum Shinrikyo meledakkan gas sarin di sana. Mereka melakukan ini bukan karena ajaran kitab suci yang disalahpahami, seperti halnya Azahari dan kawan-kawan saat meledakkan bom bunuh diri, tapi karena amat terpengaruh oleh serial novel Foundation buah pena Isaac Asimov.

Novel itu menggambarkan alam raya menjelang kehancuran sebuah kekaisaran. Saat itu hanya Foundation, sebuah kelompok rahasia pimpinan Hari Seldon, yang mampu menyelamatkan peradaban sebelum hilang di era kegelapan. Pengikut Seldon, yang merupakan para ilmuwan itu, memeluk agama baru.

Meski cerita Asimov ini berlatar belakang Romawi kuno, anggota Aum Shinrikyo melihat banyak kesamaan antara masyarakat Romawi itu dan masyarakat Jepang modern. Shoko Asahara, sang pemimpin, mengatakan berkali-kali bahwa peradaban akan segera runtuh, dan hanya yang percaya pada ajaran barunya yang selamat. Seperti Seldon, ia juga menggaet sejumlah ilmuwan dari berbagai bidang. Ia berusaha mewujudkan fiksi menjadi nyata.

Dalam sebuah wawancara, Hideo Murai, ketua para ilmuwan sekte itu, mengatakan bahwa tujuan Aum adalah untuk menyelamatkan manusia, seperti yang tecermin dalam Foundation. Aum bahkan menggunakan serial Foundation sebagai cetak biru rencana jangka panjang mereka. Kelompok ini menarik minat para ilmuwan muda yang rajin membaca novel fiksi ilmiah. Asahara yang buta itu menganggap dirinya sebagai Seldon dan Aum adalah Foundation.

Chapman terpengaruh secara emosional, Aum terpengaruh secara ideologi, tapi ada juga yang menjadikan novel sebagai buku panduan. Adalah Timothy McVeigh yang menjalankan dengan tepat aksi teror yang diceritakan dalam The Turner Diaries. McVeigh menggunakan novel itu sebagai pembimbing untuk meledakkan gedung federal di Oklahoma, AS. Seratus enam puluh delapan orang tewas karenanya.

Saat McVeigh ditangkap, polisi menemukan The Turner Diaries di mobilnya. “Aku” dalam novel itu meledakkan kantor pusat FBI dengan truk bom yang berisi amonium nitrat dan bensin. Cara inilah yang dipakai oleh McVeigh untuk meledakkan gedung federal itu. Temanteman McVeigh mengaku diminta olehnya untuk membaca novel karangan pemimpin National Alliance yang, seperti Hitler, mengelu-elukan supremasi kulit putih. Ia menggarisbawahi sejumlah kalimat di buku itu, termasuk, “tujuan dari serangan-serangan kita kini adalah untuk memberi dampak psikologis, bukan pada kerusakan yang serta merta.”

McVeigh bukan satu-satunya pengebom yang terinspirasi oleh novel. Ada juga Theodore John Kaczynski, Ph.D., yang mengirimkan sejumlah bom surat dalam rentang 18 tahun. Tiga orang tewas dan 29 lainnya terluka akibat aksi ini. Ia kemudian tertangkap pada 1996 dan dijatuhi hukuman mati.

Kaczynski mendapatkan ide dan inspirasi untuk melakukan teror ini dari sebuah novel berjudul The Secret Agent, karangan Joseph Conrad. Para agen federal bahkan harus mendatangkan ilmuwan pemerhati karya-karya Conrad untuk dapat mengerti dan mengetahui isi tempurung kepala sang doktor. Ya, maklum saja, Kaczynski telah khatam buku itu puluhan kali.

The Secret Agent adalah novel yang terbit pada 1907, tentang seorang teroris bernama Verloc yang melakukan sejumlah pemboman di London. Verloc adalah seorang provokator dari negara asing. Tak jelas negara mana, tapi kemungkinan Rusia yang dimaksud. Tak terbayangkan, bagaimana sebuah novel mampu mengilhami seorang jenius untuk membunuh selama hampir dua dasawarsa. Luar biasa.

Tapi, sesungguhnya, yang lebih dahsyat adalah novel The Collector karya John Fowles yang terbit untuk pertama kalinya pada 1963. Bayangkan, novel itu sudah menginspirasi, sedikitnya, lima pembunuhan berantai dan 40 pembantaian. Berbeda dengan novel-novel di atas, The Collector memang bercerita tentang pembunuh yang sakit jiwa. Dia adalah Frederick Clegg, seorang pria yang hobinya mengumpulkan kupu-kupu. Clegg jatuh cinta pada Miranda Grey, seorang mahasiswi fakultas seni yang menurutnya sangat cantik.

Singkat cerita, teman kita ini mendapat rezeki nomplok dan membeli rumah di tengah padang. Sendiri dan kesepian, Clegg ingin ditemani Grey. Tapi apa daya, Clegg tak bisa menyatakan cintanya. Seperti layaknya seorang psycho, ia adalah penyendiri yang gagap bermasyarakat. Ia lebih akrab dengan kupu-kupu dibanding wanita. Akhirnya, cara itulah yang ia pakai. Grey diculik dan dijadikan salah satu “koleksinya”.

Grey kemudian meninggal dunia karena pnemonia di lantai bawah tanah yang lembab, tempat orang menyimpan anggur. Karena kematian itu, Clegg awalnya ingin bunuh diri. Namun ia memilih untuk melakukan hal lain yang lebih “cerdas”: menculik gadis lain untuk dijadikan koleksi.

Cerita ini menginspirasi banyak pembunuhan. Yang paling menarik perhatian adalah pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang bekas prajurit Angkatan Laut Amerika, Leonard Lake dan Charles Ng. Lake sebenarnya yang paling terinspirasi oleh The Collector, namun mereka melakukan skenario dalam novel itu bersama pada pertengahan 1980-an.

Mereka menyewa kabin di Wilseyville, 150 mil timur San Francisco. Di kabin itu keduanya membuat bunker dengan dua ruang. Ruang luar adalah tempat mereka menyimpan senjata. Ada tulisan “Operation Miranda” pada dindingnya. Miranda yang dimaksud tentunya adalah Miranda Grey dalam novel itu. Ruang dalam adalah ruang tertutup untuk menyekap dan mengubur 25 perempuan yang mereka culik dan bunuh.

Dalam buku harian Lake tertulis begini: “Ah, The Collector. Benarkah sudah hampir 20 tahun aku membawa-bawa fantasi ini? Dan Miranda? Betapa tepat? Sanderaku yang cantik di masa depan. Aku berada di jalanku untuk menjadi ‘pahlawan’, untuk menjadi gila. Aku tak ragu bahwa kami telah mengkompensasi ketidakmampuan yang kami miliki sejak fajar sejarah merekah. Sedih sungguh. Tapi, bagaimana kita bisa mati jika kita tak pernah hidup?”

Paparan di atas tentu saja tidak digelontorkan untuk mengatakan bahwa novel-novel itu “berbahaya”. Ada jutaan pembaca lain yang tidak membunuh setelah membaca novel-novel tersebut. Artinya, ada hal lain di luar teks novel itu yang membuat para pembunuh membantai korbannya.Namun novel memungkinkan pembaca untuk masuk ke dalamnya, menjadi bagian darinya. Hubungan antara novel dan pembacanya lebih karib dari hubungan film dan penontonnya.

Seperti ditulis oleh Goenawan Mohammad, ada imajinasi yang berperan untuk memvisulisasikan novel yang kita baca. Berbeda dengan film yang visualisasinya sudah tersedia, saat membaca novel pembaca sendiri yang menciptakan visual tokoh dan setting kejadian dalam otaknya, dengan bantuan imajinasi. Bisa jadi yang kita bayangkan adalah orang lain, tapi bisa juga diri kita sendiri. Bisa jadi imajinasi pembaca sekadarnya, bisa jadi juga berlebihan. Reaksi pembaca, memang, akhirnya tergantung sejauh mana keterkaitan pembaca dengan apa yang dibacanya. Tapi novel selalu membentangkan jalan bagi kita untuk “menciptakan” dunia sendiri, dunia yang kita khayalkan dengan bantuannya.

”Yang benar-benar meng-KO-ku adalah buku yang, saat kau selesai membacanya, kau berharap pengarang yang menulisnya adalah teman karibmu dan kau dapat meneleponnya kapan pun kau mau. Tapi itu tak sering terjadi.” Demkian Holden dalam The Catcher in the Rye.

Qaris Tajudin dari berbagai sumber

Sumber : Buku-buku yang membunuh thbb

February 22, 2006

The Queen of Expression

Filed under: Artikel

Cosmo’s Guide to be The Queen of Expression

Sindiran pedas berselimut kata-kata semanis madu dari seorang teman membuat hati Anda perih bak diiris sembilu. Tapi yang lebih menyedihkan, Anda tak kuasa mengungkapkan atau membalas keberatan atas kekejaman kata-kata yang keluar dari bibirnya. Lain waktu, Anda kembali “menikmati” kedongkolan yang nyaris sama. Kali ini, oknum penyebab kekesalan adalah si dia yang masih juga tak bisa bersikap tegas kepada wanita-wanita yang berharap cinta darinya. Meski amarah sudah di puncak kepala, lagi-lagi, Anda pilih diam dan menyambutnya dengan pelukan selebar daun pintu. Si dia tak boleh tahu Anda cemburu. Entah marah, cemburu, bahkan rasa takut, Anda selalu menutupi semua perasaan itu dengan sempurna. Anda tak pernah berniat mengungkapkan apa pun yang Anda rasakan di dalam sana, meski dorongan untuk itu besar sekali. Yang jadi pertanyaan, salahkah Anda bersikap demikian?

Menurut Dra. Endang Parahyanti, M.Psi, Psikolog, pilihan seseorang untuk memendam rasa marah, cemburu, atau rasa takut ketimbang mengekspresikannya, biasanya disebabkan pengaruh eksternal yaitu takut menyinggung perasaan orang lain, atau khawatir terlihat lemah di mata orang lain. Ini juga berkaitan erat dengan budaya atau tata cara tempat dia dibesarkan. Pasalnya, di beberapa budaya, rasa marah, cemburu dan takut, pantang diekspresikan agar tak mendapat label negatif. Sebenarnya, memendam perasaan atau emosi tidaklah manusiawi karena pasti ada yang dikorbankan, baik diri sendiri atau orang lain. Tidak menyuarakan perasaan bisa membuat beban semakin lama kian menumpuk. Dan ketika beban itu luber, bisa dipastikan hasilnya akan lebih merugikan.

To the point saja ya, ekpresikan perasaan Anda! Anda bisa kok mengungkapkan semua yang Anda rasa tanpa menyinggung perasaan apalagi melanggar hak orang lain. Misalnya, antrian Anda dipotong tanpa permisi. Daripada ngamuk dan malah dikira orang Anda menderita sakit jiwa, lebih baik ungkapkan keberatan Anda dengan cara sopan dan tegas. Coba simak beberapa tips Cosmo bagaimana cara terbaik mengekspresikan diri. Percaya deh, jika dilakukan dengan cara yang tepat, mengungkapkan perasaan hati akan memperkuat rasa percaya diri dan membuat Anda putus pertemanan dengan depresi.

Cosmo’s way to…

Let Out Your Huff
Tak pernah ada yang bilang bahwa hidup ini mudah. Begitu banyaknya problem membuat Anda kerap sulit menikmatinya. Yang jadi masalah, saat merasa marah, Anda pilih bungkam dan memendamnya. Tanpa disadari, kekesalan yang bertumpuk dan terpendam membuat Anda tertekan dan kelihatan 10 tahun lebih tua! Seringnya, Anda berkhayal asyik juga kalau bisa meng-K.O si Biang masalah dengan tinju ala Rocky. Tapi sayangnya, itu tak menyelesaikan masalah karena rasa dongkol tetap bercokol di dalam hati.

Solve the problem: Emosi meluap yang tak diekspresikan tentu akan memengaruhi diri Anda. Suatu saat, perasaan negatif yang Anda pendam tanpa pelepasan yang sehat pasti akan “tumpah”. Dikhawatirkan, tumpahan ini akan membuat orang lain di sekitar Anda menjadi “basah” alias ikut kena getahnya. Jadi, cobalah mengekspresikan kekesalan atau kekecewaan dengan cara yang sehat. Pikirkan dulu kata-kata yang ingin Anda ucapkan. Gunakan nada suara yang tegas, tapi tak emosional. Jika yang membuat kesal adalah orang di masa lalu Anda, tuliskan saja rasa marah Anda. Setelah itu, bakar. Biarkan amarah Anda lenyap bersama abu.

Cosmo’s way to…

Expose your emotional side
Anda takut menangis karena khawatir dianggap lemah. Mungkin hal itu Anda dapat dari pengajaran orang tua semasa kecil dulu. Akhirnya, Anda tumbuh dengan rasa bangga karena cap sebagai pribadi yang keras kepala, keras hati. Anda enggan menonton komedi romantis karena tak mau meneteskan air mata. Padahal, menurut Endang Parahyanti, sikap seperti itu adalah sikap orang yang tak berani jujur alias pembohong tulen. Anda juga akan jadi pribadi yang tak menyenangkan karena sibuk membungkus diri dalam kepura-puraan.

Lupakan olahraga-olahraga atau kegiatan menantang keberanian lain yang Anda gunakan untuk membuktikan ketangguhan Anda. Karena memang bukan itu ukuran yang layak Anda pakai. Selama Anda tak bisa mengakui kelemahan diri sendiri, memaklumi dan bersikap selayaknya manusia biasa, Anda bukanlah pribadi hebat!

Solve the problem:
Akuilah, Anda adalah seorang manusia, bukan robot. Tak perlu berakting cool jika hati Anda sebenarnya lembut dan mudah tersentuh. Jangan pedulikan orang-orang yang akan menganggap Anda lemah hanya karena Anda punya hati. Asal Anda tahu, mereka yang memiliki kelembutan hati justru orang-orang tangguh yang sejati. Yakinkan hati bahwa si dia bakal berbunga-bunga mendengar Anda kerap merindukannya. Jangan takut ibu tersayang bakal tertawa saat Anda mengucapkan betapa Anda mencintainya. Sepanjang segala bentuk emosi diluapkan dengan terkendali, tak perlu takut bakal menimbulkan masalah.

Sumber : Queen of Expression

February 20, 2006

Islam, Simbol, dan Valentine’s Day

Filed under: Artikel

Jakarta, 15 Februari 2006

Islam, Simbol, dan Valentine’s Day

Oleh Anick HT

Adalah seorang Valentine, pastor di zaman Kaisar Claudius II di Roma, abad III. Secara diam-diam, ia menentang sang Kaisar yang dengan otoritasnya menghapuskan sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak zaman Romawi Kuno. Seperti kebanyakan tradisi kuno lainnya, perayaan untuk menghormati Dewa Lupercus itu diawali dengan upacara yang disebut dengan Lupercilia setiap 15 Februari. Upacara ini awalnya diadakan untuk mengusir serigala ganas yang sering muncul di sekitar kota Roma.

Salah satu persembahan mereka adalah mengadakan sebuah festival yang salah satu acaranya adalah tradisi bernama name drawing, terutama diperuntukkan bagi anak-anak muda yang masih lajang.

Festival diawali dengan menulis semua nama gadis di kota Roma pada kertas kecil dan dimasukkan ke dalam wadah kaca besar. Setelah itu, setiap lelaki lajang di Roma mengambil lembaran kertas tersebut secara acak. Nama gadis yang tertera di kertas pilihan mereka otomatis akan menjadi kekasih mereka.

Ketika Kaisar Claudius II memerintah, sang kaisar kesulitan mencari pemuda untuk dijadikan pasukan karena para lelaki di Roma lebih memilih tinggal dan berkumpul bersama orang-orang yang mereka cintai. Karena itu, sang kaisar kemudian melarang pemuda-pemuda Roma untuk menikah atau bertunangan, dan menghapus tradisi name drawing itu.

Pastor Valentine, dengan prinsip cinta kasih yang dianutnya, secara diam-diam tetap menikahkan pasangan-pasangan muda yang ingin menikah. Baginya, kasih sayang antar-manusia harus dilindungi. Cinta harus dirayakan. Baginya, kebijakan Sang Kaisar melarang pernikahan adalah melawan manusia dan kemanusiaan. Apalagi kepentingan Kaisar adalah kepentingan perang yang penuh kebencian dan pertumpahan darah.

Ulahnya itulah yang kemudian menyeretnya ke altar eksekusi mati. Ia mati 14 Februari 269 M dengan meninggalkan sepucuk surat cinta kepada seorang anak sipir penjara. Untaian cinta pada surat itulah yang membuat orang belakangan menahbiskan tanggal matinya sebagai Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day).

Belakangan valentine’s day menjadi momentum yang mendunia. Hampir di seluruh negara, hari itu menjadi saat berbagi kasih dengan sesama dirayakan. Di Mesir atau sebagian negara Arab, misalnya, meski sebagian ulama melarangnya, masyarakat merayakan apa yang disebut mereka sebagai ‘id al-hubb dan syamm al-nasim itu.

Islam dan Cinta
Cerita asal muasal valentine’s day ini menarik. Bukan hanya karena ia mengenalkan kita pada satu masa yang bagi kita sekarang ini hanya bisa dibayangkan layaknya dongeng. Bukan hanya karena cerita ini seheroik dan sedramatis Romeo and Juliet. Ia juga menarik karena justru kisah itulah yang kemudian menjadi dasar dan amunisi penyikapan terhadap perayaan Valentine.

Sebagian kalangan Islam dengan tegas mengharamkan umatnya turut merayakan Hari Kasih Sayang itu, karena merayakannya berarti mengamini ajaran Romawi Kuno, sekaligus ajaran Kristen. Merayakannya berarti mengiyakan akidah lain di luar Islam.

Bagi mereka, valentine’s day adalah simbol kekristenan. Dan simbol merepresentasikan substansi. Karena itu merayakannya berarti merayakan kekristenan. Di samping menganggap bahwa valentine’s day adalah bid’ah yang tidak ada dasar legitimasinya dalam Islam, argumen pengharaman ini terutama mendasarkan pada hadis riwayat al-Tirmidzi: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” Bagi sebagian ulama lain, hadis larangan meniru atau tasyabbuh ini adalah hadis yang menjustifikasi larangan taqlid (meniru sesuatu tanpa tahu esensinya). Sangat tidak produktif jika kita memakai hadis ini untuk melarang segala hal yang datang dari luar. Padahal juga, Nabi menyuruh kita untuk “mencari ilmu sampai ke China”, yang notabene bukan negara Islam. Bukankah dengan demikian Nabi menyuruh kita untuk “meniru” orang China?

Mereka lupa, Islam tidak lahir di ruang kosong. Islam tidak berawal dari titik nol. Di samping melahirkan orisinalitas dan otentisitasnya sendiri, Islam juga merebut simbol-simbol yang sudah ada sebelumnya, lalu mengisinya dengan esensi Islam, untuk tidak mengatakan “mengislamisasi” simbol-simbol itu.

Mereka lupa bahwa Islam merebut Ka’bah yang tadinya adalah simbol pemujaan berhala. Mereka lupa bahwa menara masjid berasal dari manarah (tempat menyalakan api), simbol pemujaan kaum Majusi. Mereka lupa bahwa sebelum Islam datang, puasa adalah tradisi kekristenan.

Mereka juga lupa bahwa Islam simbolik dan formalis seperti itulah yang justru membuah Muhammad Abduh dengan terpaksa harus berkata: “Saya menemukan Islam di Paris, meski tidak ada orang Islam di sana. Dan saya tidak menemukan Islam di Mesir, meski banyak orang Islam di sini.”

Lebih jauh dari itu, mereka lupa bahwa prinsip cinta, kasih dan sayang (rahman dan rahim) yang menjadi semangat valentine’s day, juga adalah prinsip Islam yang harus selalu diprioritaskan, ketimbang prinsip kebencian dan permusuhan.

Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta pada sesama. Dalam Islam, cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus dan sakral.

Islam memandang cinta kasih sebagai rahmat. Maka seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai sesamanya laksana dia mencintai dirinya sendiri (HR. Muslim).

Bahkan, “sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna buat kehidupan sesamanya”, dan cinta sering kali menjadikan seorang mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (QS. al-Hasyr: 9).

Di mata Islam, mencinta dan dicinta itu adalah “risalah” suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Dalam konteks ini, tidak ada salahnya merayakan valentine’s day.

Fakta bahwa valentine’s day identik dengan hura-hura dan pergaulan bebas, itu adalah soal lain yang merupakan konstruksi sosial belakangan, yang bagi sebagian kalangan justru mengaburkan esensi sesungguhnya. Ia sama sekali tidak bisa menjadi alasan pengharaman. Justru jika kita mampu menangkap semangat asali valentine’s day, cinta kasih antar sesama, wajib bagi kita untuk menggunakan momentum ini menjadi bagian dari misi sosial Islam.

Rasanya, Islam akan lebih berharga jika semangat mencintai dan berbagi ditebarkan, sementara semangat membenci dan memusuhi dimusnahkan. Rasanya, kemajuan peradaban Islam justru terjadi ketika Islam menjadi korpus terbuka yang siap berkompromi dengan kebaruan. Rasanya, Islam akan mampu mewujudkan misi rahmatan li al-’alamin jika setiap umatnya menjadi bagian dari laskar cinta ala Ahmad Dhani:

Wahai, jiwa-jiwa yang tenang/Berhati-hati lah dirimu/Kepada hati hati yang penuh dengan/Kebencian yang dalam

Karena, sesungguhnya iblis/ada dan bersemayam/Di hati yang penuh dengan benci/di hati yang penuh dengan prasangka.

Laskar Cinta/Sebarkanlah benih-benih cinta/Musnahkanlah virus-virus benci/Virus yang bisa rusakkan hati/Dan busukkan hati

Laskar Cinta/Ajarkanlah ilmu tentang cinta/Karena cinta adalah hakikat/Dan jalan yang terang bagi semua umat manusia

Jika kebencian meracunimu kepada/kaum umat yang lainnya/Maka sesungguhnya iblis/sudah berkuasa atas dirimu

Maka jangan pernah berharap/Aku akan mengasihi menyayangi/Manusia-manusia yang penuh benci/seperti kamu.

Sumber : uin valentine’s day

February 12, 2006

Si Tukang Batu

Filed under: Artikel

Si Tukang Batu

-Pencerahan Mengembalikan Kita

ke Jati Diri Kita yang Alamiah

Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Hsihu, Formosa, 10 Juli 1995

Di sini pernah hidup seorang tukang batu yang sangat rajin. Setiap hari ia memecah batu menjadi bagian-bagian kecil dan membuat berbagai macam barang dengan batu itu atau menjualnya. Sekalipun hari sangat panas sekali di Miaoli, ia tak pernah berhenti bekerja. Ia tak henti-hentinya bekerja, menggunakan sebuah palu yang sangat besar dan memecah batu-batu itu menjadi bagian yang kecil. Batu-batu ini kemudian digunakan oleh orang untuk membuat jalan, tempat dimana mereka duduk di dalam ruang meditasi, dan juga di setiap tempat dimana batu-batu kerikil dibutuhkan. Ini adalah hasil dari kerjanya.

Tukang batu ini mewarisi pekerjaan ini dari kakek buyutnya, dan kemudian dari kakeknya dan kemudian dari ayahnya. Jadi, ada beberapa generasi tukang batu di dalam keluarganya. Ia adalah seorang yang rajin dan kuat. Kadang-kadang ia tidak berhenti bekerja saat makan siang karena ia ingin mendapatkan uang lebih untuk keluarganya; ia akan bekerja sampai larut malam, kemudian pulang ke rumah dan tidur. Begitulah.

Banyak dari teman-teman dan tetangganya iri akan kesehatan dan gaya hidupnya yang sangat bebas. Ia kelihatannya sangat santai dan tidak tergantung pada orang lain. Akan tetapi, sebaliknya laki-laki ini (namanya berarti “kuasa”) tidak merasa gembira dengan keadaannya, tetapi selalu berharap untuk dapat hidup seperti bangsawan, dengan gaya hidup mewah dan berkalangan atas. Jadi, ia sebenarnya tidak selalu bahagia.

Suatu hari, ia sedang memecah batu, mungkin di dekat Sungai Surgawi. Saat itu pagi hari dan matahari sedang terbit. Tiba-tiba, ia melihat gumpalan hitam menuju kearahnya, seperti awan besar. Dan di tengah-tengahnya muncul sebuah kereta kencana yang besar dan indah sekali. Di atas kereta itu duduk seorang petinggi raja yang gemuk dan besar badannya. Ia memiliki begitu banyak pengawal yang menjaganya dan begitu banyak kuda yang mengelilinginya dan ia tampak sangat luar biasa, penuh kemegahan seperti seorang raja.

Perubahan yang Ajaib

Saat melihat kejadian ini, si tukang batu terperanjat, mulutnya terbuka lebar dan matanya membelalak, dan ia merasa sangat sedih. Di relung hatinya, ia tiba-tiba berharap dan berkata, “Saya berharap, saya bisa menjadi pejabat tinggi yang mulia, pejabat raja yang hebat.” Dan tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar seperti suara petir dari puncak gunung: “Bum!” Karena raja gunung telah mendengar doa tukang batu itu dan mengabulkannya. Lalu dalam sekejap si tukang batu berubah menjadi seorang pejabat tinggi. Ia berubah menjadi seorang perdana menteri, dan segala sesuatu yang pernah ia inginkan menjadi kenyataan. Ia memiliki uang, istana besar, para pengawal dan tanah yang sangat luas. Semua orang menghormatinya; kemana pun ia pergi, orang-orang membungkuk sedalam-dalamnya dan tidak berani menatapnya. Dan ia akan mengibaskan debu ke arah mereka dan mereka tetap gembira; mereka tidak berani berkata apapun.

Si tukang batu sangat bangga sekali dengan dirinya. Setiap hari ia harus berkeliling, mengurus negara bagi raja dan memberi laporan kepada raja sekembalinya. Dan saat ia memasuki istana, ia harus berlutut dan bersujud di hadapan raja. Ia juga harus memakai pakaian resmi seorang pejabat, yang sangat tebal dan penuh dengan segala macam batu berharga seperti intan dan mutiara. Jadi, pakaian itu sangat berat. Selain itu, ia harus memakai topi, yang juga dipenuhi dengan batu berharga, emas dan perak, yang sesuai dengan jabatannya. Setiap saat ia membungkuk hormat, punggungnya sakit, dan ia berusaha menahan pinggangnya; kalau tidak, pinggangnya akan patah. Jadi, ia merasa sangat tertekan, tetapi ia tidak pernah berani menanggalkan pakaian resminya.

Suatu hari, saat ia masih berusaha bertahan dalam situasi ini demi kejayaan, kekayaan dan kekaguman orang-orang di sekelilingnya, sang raja mengirimnya ke suatu tempat yang sangat jauh sekali untuk mengurus masalah negara. Dan untuk sampai ke tempat itu, ia harus melalui padang gurun yang sangat luas, dan luar biasa panasnya. Tetapi ia tidak bisa menanggalkan pakaian resminya karena jabatan yang disandangnya. Kemana pun ia pergi, ia harus seperti seorang menteri yang ternama dan tidak ada pilihan lain. Hari sungguh panas sekali, dan ia hampir mati di sana. Kemudian topinya terasa tiga kali lebih berat dari biasanya. Ia juga berkeringat, bajunya basah dan membuatnya terasa lebih berat dari biasanya. Maka ia kemudian berpikir, “Oh Tuhan, menjadi perdana menteri sungguh, sungguh mengerikan. Saya tidak mau menjadi perdana menteri lagi. Saya pikir, saya akan begitu saja mati di sini! Saya pikir, saya lebih baik menjadi seorang raja. Jika saya bisa menjadi raja, itu akan lebih baik. Saya tidak perlu mengalami penderitaan di padang gurun seperti ini, dan saya tidak akan mendapat perintah dari siapa pun. Saya bisa melakukan apa yang saya inginkan, dan akan mempunyai banyak istri. Jadi, wow! Itu akan menyenangkan, menjadi seorang raja. Saya ingin menjadi raja. Saya hanya ingin menjadi raja, tidak ada lagi lainnya; saya ingin menjadi seorang raja, oke?”

Harapan Menjadi Raja Terpenuhi

Dan kemudian tanpa terduga, ia mendengar suara “Bum!” lainnya yang sangat keras, dan kemudian si raja gunung, sahabatnya, dewa gunung, mengabulkan doanya. Maka si tukang batu berubah menjadi seorang raja yang memerintah sebuat negara yang besar, dan mempunyai kekayaan yang berlimpah dan istri yang banyak. Dan setiap orang berlutut di hadapannya dan melakukan setiap keinginannya.

Maka ia merasa gembira untuk sementara waktu. Akan tetapi, masa bulan madu berlalu dan ia harus bekerja sampai larut malam karena banyaknya laporan dari berbagai menteri dan pimpinan-pimpinan provinsi dan gubernur negara bagian yang datang menghadapnya setiap hari. Setiap hari ia harus mendiskusikan masalah negara sampai larut malam dengan begitu banyak menteri-menterinya. Maka ia kemudian tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Ia mencemaskan pekerjaannya, masalah-masalah negara dan urusan penting lainnya yang berhubungan dengan masalah negara yang tidak bisa ia selesaikan seketika dan dengan damai.

Dengan masalah-masalah yang tak pernah berhenti, baik di dalam dan di luar negaranya, ia tidak bisa tidur nyenyak, ia tidak bisa makan dan ia tidak bisa bergembira dengan semua istri cantik yang dimilikinya. Ia begitu murung bahkan untuk melihat mereka sekali pun. Saat kalian sedih, kalian tidak akan bisa menikmati apa pun. Jadi, ia tidak bisa makan; ia bahkan tidak bisa menikmati makanan yang ia inginkan, dan ia tidak bisa bergembira dengan perempuan-perempuan yang selalu diinginkannya. Ia menjadi amat murung dan hanya terbenam dalam pekerjaan, kecemasan dan khawatir akan tekanan seluruh rakyat, musuh, teman, dan setiap orang yang menginginkan sesuatu darinya. Karena ia adalah seorang raja, orang yang paling berkuasa, hanya satu-satunya, setiap orang datang kepadanya dengan masalah mereka, baik di dalam maupun di luar, dan dengan demikian ia mulai merasa bahwa jabatannya sebagai raja bukanlah sebuah berkah melainkan sebuah hukuman baginya. Ia merasa sangat lelah dan lesu.

Bahkan Matahari Mempunyai Masa-Masa Gelap

Kemudian, pada suatu hari, negara tetangga menyerbu negaranya, dan karena dikalahkan, maka ia harus melarikan diri dan bersembunyi. Ia tidak mempunyai makanan untuk dimakan selama pelariannya, dan ia begitu lelah dan merasa panas. Dengan musuh-musuh di dekatnya dan hidupnya yang terancam, ia mulai berpikir bahwa adalah sangat mengerikan menjadi seorang raja, benar-benar mengerikan! Adalah suatu kesalahan bahwa ia telah berharap menjadi seorang raja. Ia kemudian memandang ke atas dan melihat bahwa sang matahari sangat bebas dan sangat tinggi; tidak seorang pun sanggup menyentuhnya. Matahari bersinar dan sangat bagus! Maka ia berkata, “Oh, Tuhan! Menjadi Matahari; lebih baik menjadi Matahari. Saya ingin menjadi Matahari. Saya tidak suka menjadi seorang raja. Saya ingin menjadi Matahari.”

Dan demikianlah, “Bum!” ia berada di atas, dan mendapatkan dirinya berada di atas bumi, memancarkan kasih dan kehangatannya kepada semua yang ada di muka bumi. Ia sangat senang menganugerahkan berkatnya bagi semua makhluk hidup di dunia. Dan ia merasa sangat mulia, gembira karena ia pikir ia adalah yang tertinggi di muka bumi. Ia memandang ke bawah ke semua makhluk hidup dan merasa sangat mulia dan bahagia.

Maka ia menutup matanya dan bermeditasi sebentar dan kemudian tiba-tiba ia berkata, “Mengapa menjadi begitu gelap? Begitu gelap sehingga mata kebijaksanaannya terbuka dan ia berkata “Oh!” Ada awan besar di hadapannya, berani menutupinya! Dan ia kemudian mulai berjuang dan tidak bisa keluar darinya. Semuanya gelap sehingga juga menutupi mata kebijaksanaannya. (Gelak tawa) Ia tidak melihat apapun dan sangat marah, berkata, “Saya harus menjadi awan. Saya harus menjadi awan! Awan lebih hebat dari Matahari. Matahari tidak berguna.”

Tidak Berbahagia Menjadi Awan dan Gunung

Jadi kemudian, “Bum!” Kalian tahu apa lagi yang terjadi! (Gelak tawa) Orang yang tidak pernah puas itu mendapatkan kepuasan sekali lagi. Ia menjadi awan. Untuk sementara, ia menjadi bahagia. Ia menurunkan hujan bagi orang-orang, memusnahkan berbagai macam benda, dan kemudian memberkati tanah dengan membuat semua bunga-bunga tumbuh subur dengan air dari awannya. Ia membuat setiap orang bahagia, dan ia juga bahagia. Untuk sesaat ia merasa puas. Dan tiba-tiba, angin datang! Dirinya semakin berkurang sampai hampir tidak ada. Ia menjadi lebih kurus dan kurus, lebih kecil dan kecil, sampai seperti seutas benang, hanya berkeliaran, mencoba menyelamatkan dirinya. Dan kemudian ia menjadi sangat marah. Tapi, ia pikir bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia mungkin bisa menjadi besar lagi.

Akan tetapi, kemudian angin meniupnya melewati puncak gunung, dan gunung menangkapnya, seperti seseorang menarik baju kalian. Dan ia tertangkap di sana, tergantung di atas gunung, dan ia menjadi sakit hati, berkata, “Segala sesuatu datang dan pergi, tetapi gunung selalu berdiri di sana; tidak pernah hilang, tidak pernah termusnahkan, tidak sesuatu pun! Gunung selalu kuat. Oh! Saya berharap, saya adalah gunung! Saya harus menjadi gunung. Gunung adalah yang terbaik.” Maka, “Bum!” Suara itu datang kembali! Dan kalian tahu ia menjadi apa! ( J: “Gunung.” ) Sebuah gunung! Maka ia kembali menjadi sangat senang. Ia telah menjadi gunung. Tidak peduli hujan, angin, salju atau matahari - tidak sesuatupun yang bisa mengganggu gunung. Ia duduk seperti ini (Guru meluruskan sikunya ke arah luar menyerupai pamer kekuatan), seperti saya. (Gelak tawa) Ia merasakan bahwa gunung sangat hebat, dan mengangkat hidungnya ke atas. Ia merasa sangat hebat. Setiap hari ia melihat ke atas dan merasa bahwa ia sangat agung. (Gelak tawa)

Dan suatu hari, ia merasa sepertinya seseorang sedang menusuk kakinya dengan pisau atau paku atau sesuatu semacam itu, dan saat ia memandang ke bawah ia berkata, “Oh!” Ada seorang tukang batu sedang memecah batu dari kakinya di bawah sana. Tentu saja, ia menjadi sangat marah dan berteriak, “Beraninya engkau mencungkil kaki saya! Itu menyakitkan!” Tetapi tukang batu itu tidak peduli. Ia menggunakan palunya yang besar dan pahat yang tajam dan memecah batu, satu per satu, dan ia sangat menikmati pekerjaannya, sambil bernyanyi dan bersiul. Maka, wow! Ia kemudian menjadi lebih marah dan berkata, “W-a-a-h ha-ha, Saya harus menjadi tukang batu!” (Gelak tawa)

Sesudah Pencerahan, Kita Sungguh Memiliki Pikiran yang Biasa

Hal ini menyerupai kita. Kadang kala orang berkata, “Pikiran yang biasa adalah pikiran Buddha,” tetapi kita tidak mempercayainya. Kita tidak mengetahui apakah itu. Dan kita sesungguhnya tidak tahu sampai memperoleh pencerahan. Kita kemudian menjadi normal kembali. Kemudian kita tahu bahwa segala sesuatu adalah baik dan menyadari bahwa kita mengetahui apakah pikiran yang biasa itu. Sebelum itu, meskipun kita memilikinya, kita tidak mengetahuinya.

Yang disebut cara normal orang pada umumnya menjalani hidup mereka, bukanlah pikiran biasa. Pikiran biasa yang sesungguhnya adalah yang damai, tenang, yang menerima segala sesuatu yang datang padanya dan bereaksi terhadap segala sesuatu dengan seperlunya saja. Tidak ada keinginan, tidak ada penolakan dan tidak ada pemberontakan apa pun. Itu adalah pikiran biasa. Akan tetapi, cara orang menjalani hidup mereka sehari-hari, bukanlah apa yang dimaksud dengan pikiran biasa.

Maka berhati-hatilah agar kalian tidak salah paham antara tingkatan pikiran yang tidak tercerahkan dengan yang tercerahkan, yang tercerahkan dengan yang super-tercerahkan, dan super-tercerahkan dengan tidak-tercerahkan. Sesudah kita menjadi sangat tercerahkan, kita mulai berhenti berbicara. Pada mulanya, ketika kita belum begitu tercerahkan, kita berbicara banyak; kita mengetahui segala sesuatu. Kita tahu apa artinya “Buddha”, Nirwana, samsara, karma, transmigrasi - segala sesuatu. Kita tahu semua perkataan utama dari semua agama. Kita mengetahui itu semuanya.

Kemudian, setelah kita cukup tercerahkan, kita berbicara lebih banyak lagi tapi kata-kata kita lebih mengandung inti sari. Perkataan kita lebih bermakna daripada sebelumnya karena kita memiliki pengertian yang lebih dalam dari arti kata-kata yang sering kita ucapkan sebelumnya, tetapi tidak tahu arti yang sesungguhnya. Jadi, ada dua tingkatan bicara. Tingkatan bicara yang disebutkan terakhir adalah lebih bermakna dan jujur karena itu datang dari realisasi diri kita sendiri. Lalu, setelah tingkatan bicara ini, kita mulai menjadi diam. Kita tidak ingin berbicara lagi. Jadi, tentu saja kalian heran mengapa saya bicara (Guru tertawa.) - karena kalian ingin supaya saya berbicara.

Tidak berbicara bukanlah berarti berdiam diri sepanjang hari. Karena, jika seseorang tidak berbicara, bukan berarti ia sedang diam. Dan jika seseorang menghentikan segala kegiatannya, bukan berarti ia sedang tenang. Jadi berbicara ataupun tidak berbicara bukanlah hal luar; itu berasal dari dalam. Pada saat itu, kalian berbicara tetapi kalian tahu bahwa tidaklah perlu untuk berbicara. Kalian berbicara karena diminta oleh orang lain atau hanya untuk menjadi seperti orang normal umumnya atau untuk membuat orang lain berbahagia. Atau kalian hanya berbicara karena berbicara ataupun tidak berbicara adalah sesuatu yang sama bagi kalian. Itu bukanlah pembicaraaan yang penuh antusias; itu bukanlah lagi pembicaraan yang mengesankan lagi, seperti halnya kita ingin membuat seseorang beralih kepada kepercayaan kita maupun segala sesuatu yang serupa itu. Itu adalah sangat biasa dan sangat normal. Jadi, begitulah. Itu adalah cerita si tukang batu. Sangat menakjubkan, bukan? Itu persis seperti kita.

Sumber: Tukang Batu

Previous<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main