Ilmu Padi

February 11, 2006

Cara Menggunakan Kemarahan

Filed under: Artikel

Cara Menggunakan Kemarahan

Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai
Harvard University, Boston, USA
27 Oktober 1989 (asal dalam bahasa Inggris)

Pertama-tama, kita harus mengenali hakekat dari kemarahan dan kebencian yang timbul agar bisa mengatasi sifat demikian. Kemarahan dan kebencian hanyalah suatu cara untuk tujuan perlindungan. Adakalanya Anda merasa terancam oleh pendapat orang lain, gaya hidup ataupun tingkah laku mereka. Hal-hal seperti itu bisa saja mengusik sifat keakuan, harga diri, tubuh, atau pikiran Anda, sehingga timbullah kemarahan dan rasa benci dalam diri Anda.

Kebencian (hatred) adalah suatu kata yang terlalu keras. Saya tidak begitu suka menggunakannya, karena sebenarnya apa yang terjadi adalah rasa sebal (resent), bukan benar-benar benci. Kebencian lebih dalam maknanya. Sering kita merasa sebal pada orang lain apabila kita menghadapi ancaman terhadap kenyamanan kita. Sehingga, jangan terlalu menyalahkan diri Anda bila Anda menjadi marah. Cukup dengan menyelidiki darimana sumber kemarahan itu muncul dan apakah Anda berada di sisi yang benar atau sisi yang salah. Adakalanya Anda berhak menunjukkan sedikit sifat kemarahan guna melindungi diri Anda. Pertanyaannya bukanlah menghentikan sifat marah, tapi mengenali kapan Anda mesti menunjukkan sedikit kemarahan dan kapan tidak perlu menunjukkannya. Kendalikan sifat tersebut dan gunakanlah secara bijaksana untuk kepentingan Anda, bukan menghapusnya sama sekali.

Saya mempunyai cerita pendek tentang seekor ular. Itu adalah ular yang amat besar dan sadis. Ular itu tinggal di suatu lobang pohon, dan dia suka sekali memakan ayam dan menggigit orang sehingga orang-orang di desa tersebut merasa takut pada ular itu. Suatu hari, seorang yogi agung melewati tempat tersebut, kemudian duduk di dekat pohon itu dan bermeditasi. Ular itu merasakan perubahan dalam dirinya dan kedamaian yang luar biasa. Kemudian ular itu bertanya pada sang yogi, bagaimana dapat meredam sifat sadisnya, sifat-sifat jahatnya, dan bagaimana agar bisa menjadi seekor ular yang baik hati. Sang yogi mengajarkannya lima sila: jangan menyakiti orang, harus makan vegetarian, jangan berbohong, jangan melakukan ini dan itu, jangan berjudi….., yah bagaimanapun ular itu tidak tahu sama sekali tentang judi. Jadi, hal yang paling penting untuk diketahuinya adalah jangan menyakiti orang lain. Ular itu berkata, “Mulai hari ini, aku akan berlatih meditasi, makan vegetarian, aku tidak akan memakan ayam lagi, dan juga aku tidak akan menggigit orang lagi!”

Hingga suatu hari, sang yogi harus pergi beberapa hari. Dia berpesan pada ular itu, untuk tetap tinggal di rumah, berlatih meditasi, dan tunggu dia pulang. Kebetulan, anak-anak desa lewat dan melihat ular tersebut sekarang duduk dengan amat tenang dalam meditasi dan samadhi, sehingga mereka merasa tidak takut lagi padanya. Mereka ingin membalas dendam karena sebelumnya mereka amat takut padanya. Lalu, mereka mengambil batu dan melemparkannya. Ular itu tidak melakukan apapun. Gurunya tidak mengatakan padanya bahwa dia tidak boleh marah, tapi jangan menyakiti orang lain. Maksudnya jangan menunjukkan sifat kekejaman sama sekali. Ahimsa berarti tanpa kekerasan. Sehingga ular itu tetap diam dan coba untuk bermeditasi lagi, namun anak-anak itu menendangnya, menarik ekornya, dan menggulungnya dalam bentuk lingkaran. Ular itu menjadi pusing. Kemudian mereka melemparkannya ke dahan pohon serta memukulnya, dan melakukan segala kekerasan kepadanya.

Seluruh badannya biru legam, hitam dan biru; dan ular itu berbaring dalam keadaan sekarat. Sang yogi pulang dan bertanya, “Apa yang terjadi padamu?” Ular itu menjawab, “Ini gara-gara lima sila tersebut - tanpa kekejaman.” Sang yogi amat kaget, “Apa, tanpa kekejaman?” Ular itu kemudian menjelaskan lebih lanjut, “Guru mengajariku untuk tidak boleh kejam, jadi kemarin anak-anak ke sini, menarik ekorku, dan menyambit batu padaku. Aku tidak bereaksi sama sekali, jadi mereka meneruskan permainannya. Sekarang aku sekarat!” Gurunya berkata, “Kamu benar-benar bodoh. Aku tidak mengatakan bahwa kamu tidak boleh mendesis. Kamu boleh mendesis untuk menghalau orang.”

Itulah bedanya antara memiliki Kebijaksanaan dengan tidak memiliki Kebijaksanaan. Bila kita tidak memiliki Kebijaksanaan, belum tercerahkan, kita akan dikendalikan oleh emosi kita sendiri. Bila kita memiliki Kebijaksanaan dan pencerahan, kita dapat menggunakan emosi tersebut guna menyesuaikan dengan situasi dan kepentingan kita. Bukanlah berarti bahwa kita harus menghilangkan sama sekali emosi kita, kita hanya perlu mengenali bagaimana menggunakan emosi tersebut. Ini seperti halnya sepucuk pistol yang berada di tangan orang baik. Dia dapat menembak di tempat yang dikehendakinya, dia tidak akan menembak sembarangan dan membunuh orang seenaknya. Nah, jika Anda ingin memiliki daya-pengendali dan Kebijaksanaan ini, Anda harus memiliki pencerahan. Dan cara untuk mencapai pencerahan adalah melalui Guru yang berpengalaman. Sama seperti halnya apabila Anda ingin belajar bahasa Inggris. Anda harus menemui seorang guru bahasa Inggris yang berpengalaman, hanya itu yang perlu dilakukan. Saya dapat menawarkannya kepada Anda.

Sumber : Kemarahan

February 10, 2006

Cerita Tentang Seekor Kucing Vegetarian

Filed under: Artikel

Cerita Tentang Seekor Kucing Vegetarian

Diceritakan oleh Saudari Sepelatihan
Taipei, Formosa

Dapatkah seekor kucing menjadi vegetarian? Kebanyakan dokter hewan akan berkata, “Tidak mungkin. Saya tidak pernah mendengar hal seperti itu. Bagi kucing, lebih baik mati dari pada menjadi vegetarian!” Tetapi Saudari Liu punya seekor kucing yang sangat luar biasa, bernama “Bighead (si Kepala Besar)” yang sangat ketat bervegetarian, menolak untuk menyentuh makanan apa saja yang berbau daging, bahkan juga “daging” vegetarian. Di bawah ini adalah cerita yang menarik dari kucing yang luar biasa ini.

Tuhan pasti telah mengatur agar saudari Liu bertemu dengan Bighead. Setelah diinisiasi, saudari Liu tidak memelihara binatang sebab dia harus bervegetarian dan tidak suka akan bau binatang. Kemudian pada suatu hari, dia pindah ke rumah yang baru. Setelah memindahkan barang-barang, dia menemukan seekor kucing liar yang badannya kecil dan kurus kering di tangga apartemennya, dan untuk beberapa hari dia memberikan susu dan biskuit pada kucing itu.

Saudari Liu mengajar Bahasa Inggris di rumah, dan suatu hari sebelum kelas dimulai, kucing itu mengikuti muridnya masuk ke dalam apartemennya. Tetapi, saudari Liu yang selalu menjaga kebersihan rumahnya, tidak mau memelihara binatang itu dan mengeluarkannya. Pada malam itu, beberapa saudara sepelatihan datang ke rumah saudari Liu untuk meditasi kelompok, dan seorang dari mereka mengusulkan agar saudari Liu memelihara kucing yang tak berdaya itu. Pada hari berikutnya, ketika saudari Liu melihat kucing itu di tangga, dia membuka pintu dan berkata pada si kucing, “Jika kamu ingin tinggal bersama saya, kamu harus menjadi vegetarian seperti saya.” Kemudian saudari Liu mulai menghitung dari satu sampai sepuluh dan dia memutuskan akan menutup pintu jika si kucing kecil itu tidak masuk ke dalam rumah sebelum dia selesai menghitung. Tetapi ketika dia menghitung sampai delapan, si kucing dengan perlahan berjalan masuk dan mulai saat itu menjadi anggota keluarga saudari Liu.

Apa yang sebenarnya dimakan oleh Bighead? Saya yakin semuanya ingin tahu tentang itu! Bighead makan ketimun, tunas alfalfa, pepaya, buah kesemak, apel, pir, seledri, kubis, tomat, serat daging vegetarian, biskuit, dan bahkan pothos rebus (potted golden pothos). Dia terutama sangat suka akan ketimun, tunas alfalfa dan makanan asam manis. Bahkan sekarang dia mendapat hal-hal baru dalam daftar makanannya! Hal lain yang menarik dari kucing ini adalah dia memilih makanan yang ringan. Dia menolak makanan vegetarian yang menyerupai daging. Luar biasa! Kita tahu bahwa kucing tidak punya gigi geraham, lalu bagaimana Bighead mengunyah makanan? Saudari Liu mengunyah makanan itu duluan dan kemudian menempatkan sepotong kecil, yang tidak lebih besar dari kacang ijo, di telapak tangannya dan memberi makan pada si kucing. Setiap kali makan akan menghabiskan waktu sekitar satu jam. Pada permulaan, Bighead belum dapat mengontrol rahangnya dengan baik dan giginya menggarut jari saudari Liu, tetapi sekarang kucing pandai itu telah belajar bagaimana menjilat makanan tanpa melukai majikannya. Dari sini kita tahu kalau binatang pun punya perasaaan dan sangat berpengertian.

Ketika Saudari Liu membawa Bighead ke dokter hewan untuk pertama kalinya, kucing itu mengambil sikap bertahan dan galak. Setelah tiga kali berkunjung, kucing itu menjadi jinak, tenang dan sangat bekerja sama. Pada mulanya dokter hewan itu tidak percaya kalau kucing dapat menjadi vegetarian, tetapi kemudian dia tertawa dan berkata kalau Bighead akan segera menjadi “tercerahkan,” dan melalui insiden ini dia mulai mengenal ajaran Guru. Di bawah pemeliharaan yang teliti, kucing tak berbulu ini mulai mempunyai bulu lagi dan karena berdiet vegetarian, dia tidak berbau seperti halnya binatang lainnya.

Bighead adalah seekor kucing spiritual “Quan Yin”. Dia berjalan dengan tenangnya di antara para inisiat yang datang untuk bermeditasi bersama, dan setelah bermeditasi, seorang saudara sepelatihan mendapatkan Bighead duduk tak bergerak pada lututnya, sepertinya dia sedang bermeditasi. Ketika para inisiat bersiap-siap untuk pulang setelah sesi meditasi selesai, kucing itu duduk di bantal dari setiap orang selama beberapa saat, supaya mendapatkan berkah. Bighead juga adalah weker dari saudari Liu. Setiap pagi, si kucing membangunkan saudari Liu untuk mengingatkan dia akan saat meditasi!

Sejak Bighead mulai makan makanan vegetarian, dia menjadi jinak dan bertingkah laku menyenangkan, yang membuatnya menjadi terkenal di antara para dewasa dan anak-anak. Tetapi dia juga sensitif. Dia menyembunyikan diri jika ada orang asing yang datang, tetapi keluar dengan segera untuk menyambut para inisiat. Ketika murid saudari Liu datang, dia bersembunyi, tetapi ketika anak-anak inisiat datang ke rumah saudari Liu, dia bermain dengan mereka dan membiarkan mereka mengelus tubuhnya. Kucing yang sangat menyenangkan!

Bighead tinggal dengan gembira dan bebas di rumah saudari Liu, dimana dia menikmati meluncur di lantai yang bersih dan berjungkirbalik ketika dia berada sendirian di rumah. Saudari Liu telah belajar tentang kebajikan, cinta dan kesabaran dari Bighead, dan sekarang mengerti kalau binatang pun mempunyai aspek kerohanian, yang berbeda hanyalah mereka menggunakan bahasa yang berlainan. Bighead adalah suatu bukti nyata bahwa binatang peliharaan dapat menjadi vegetarian, yang membuat mereka lebih sehat dan memiliki bulu yang lebih indah. (Silahkan melihat rujukan pada “Diet Vegetarian Menyelamatkan Anjing,” Majalah News No. 134.) Apakah kalian ingin mencoba gaya hidup saudari Liu? Mungkin binatang peliharaan kalian akan menjadi kucing atau anjing vegetarian yang berbahagia.

Sumber : kucing vegetarian

February 7, 2006

Penulis Cerpen

Filed under: Artikel

Rabu, 09 Oktober 2002
Penulis Cerpen
Punya Imajinasi, Kreatif, dan Cerdik Membaca Lingkungan

Setiap orang pasti memiliki jalan cerita. Namun, tidak setiap anak manusia menorehkan pengalaman jalan cerita hidupnya lewat tulisan berbentuk cerita pendek (cerpen). Lebih sedikit lagi, tidak semua orang menjadikan aktivitas menulis cerpen sebagai profesi hidup. Padahal, penghasilan seorang penulis cerpen cukup lumayan untuk dijadikan sandaran hidup.

Bayangkan. Apabila berhasil menggelitik decak kagum redaktur media massa, karya seorang cerpenis dihargai dengan bayaran cukup besar. Sebuah cerpen mendapat harga antara Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu apabila berhasil dimuat pada media massa. ‘’Jumlah besar kecilnya bayaran sangat tergantung pada media mana yang dituju,'’ tandas Asma Nadia, penulis cerpen kawakan.

Reward (penghargaan) seorang penulis cerpen tak cukup sampai di situ. Sang cerpenis dapat pula memanjangkan tulisan cerita menjadi sebuah cerita bersambung yang diterbitkan secara berkala. Bayaran untuk ini lebih besar lagi. ‘’Bila lolos dari penilaian redaksi, cerita bersambung biasanya diterbitkan dalam 20 epidose,'’ ujar Asma. ‘’Setiap episode, cerpenis akan mendapatkan bayaran sebesar Rp 200 ribu'’.

Selanjutnya karya seorang penulis cerpen dapat dijadikan buku dalam bentuk antalog yang bersanding dengan karya-karya cerpenis terkenal. Atau, sang penulis cerpen juga dapat mengumpulkan karyanya lalu dijadikan sebuah buku berupa kumpulan cerpen. ‘’Setiap cerpenis mendapat 10 persen dari harga buku yang terjual,'’ ungkap Asma yang telah menghasilkan sekitar 60 karya yang tersebar di sejumlah media massa.

Bayaran seorang penulis cerpen memang cukup besar. Namun demikian, menjadi cerpenis handal tidak gampang. Ada dua jalur yang dapat ditapaki seseorang yang ingin merajut karier sebagai cerpenis. Pertama, seseorang dapat merintis profesi penulis cerpen melalui jenjang pendidikan resmi, yakni melalui kuliah di fakultas sastra.

Kedua, dia dapat belajar menulis cerpen secara otodidak. ‘’Dan bagusnya, dua cara itu mesti ditempuh sehingga bisa dipadankan antara teori dengan pengalaman,'’ ucap cerpenis yang memiliki dua anak ini.

Terlepas dari jalur mana yang ditempuh, ada syarat utama yang mesti dimiliki oleh seorang cerpenis. Yaitu, mencintai bahasa dan budaya membaca. ‘’Dengan kecintaan tersebut, sang cerpenis mampu mengeksplorasi bahasa sehingga tidak miskin kata,'’ tegas Asma yang telah menciptakan 16 buku sejak dua tahun lalu.

Aktivitas diskusi pun menjadi syarat utama lainnya. Melalui kegiatan sharing<.I> pemikiran ini, sang penulis cerpen dapat berbagi pengalaman sehingga menemukan ide-ide baru. ‘’Dalam suatu diskusi, karya cerpenis bisa mendapat berbagai masukan yang membangun,'’ imbuh Asma yang menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Profesi penulis cerpen merupakan profesi yang dilakukan secara freelance<.I>. Artinya, tidak selamanya karya seorang cerpenis dimuat di media massa sesuai harapan. Karena itu, motivasi sangat dibutuhkan sekali oleh para penulis cerpen untuk tetap konsisten melayangkan karyanya ke sejumlah media massa. ‘’Jadikan aktivitas menulis cerpen sebagai sebuah ibadah,'’ saran Asma. ‘’Dengan itu, cerpenis tidak akan putus asa ketika karyanya tidak dimuat di media massa'’.

Membaca riwayat pengalaman hidup cerpenis terkenal dapat pula dijadikan sarana untuk memotivasi diri. Selain itu bergabung dengan komunitas kepenulisanm dapat juga dijadikan ajang untuk memotivasi diri. ‘’Anggota komunitas dapat membantu kita memotivasi diri,'’ tandas Asma. ‘’Sesama anggota bisa saling memberikan bantuan teknis, seperti meminjamkan komputer'’.

Ada hal penting yang mesti diketahui oleh seorang calon cerpenis. Menulis cerpen ternyata bukanlah sebuah bakat. Terbukti, banyak cerpenis besar yang lahir bukan dari orang tua seorang cerpenis. ‘’Kemampuan menulis cerpen bisa dibentuk dan dipelajari,'’ kata Asma yang ternyata jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB). ‘’Yang terpenting, seorang cerpenis mesti memiliki daya imajinasi, kreativitas, serta kemampuan membaca lingkungan.'’ c16 ( )

 

Sumber : Republika 

February 6, 2006

[tips kepenulisan] BELAJAR MENULIS PADA AL-QUR’AN

Filed under: Artikel

[tips kepenulisan] BELAJAR MENULIS PADA AL-QUR’AN

tips kepenulisan
BELAJAR MENULIS PADA AL-QUR’AN
penulis : Mohammad Fauzil Adhim
makalah Gebyar FLP 2005
Tokyo - Komaba, 3 Desember

—————————————————-

Betul sekali. Saya seorang muslim, karena itu kebiasaan dasar yang harus saya miliki agar bisa berislam dengan baik adalah membaca dan menyampaikan ilmu melalui tulisan. Ayat yang pertama turun menyuruh kita membaca. Bukan shalat atau berpuasa! Allah menurunkan ayat-ayat pertamanya juga dengan menggunakan kata bertutur yang menarik, dan kalau engkau ingin mengajak orang kepada Islam sistematika ini harus engkau perhatikan. Allah memperkenalkan diri-Nya dengan menggunakan kata “rabb”. Bukan Allah. Rabb artinya Tuhan. Kalau ditelisik lagi berkait dengan tauhid rububiyah, meyakini bahwa yang menciptakan dan merawat alam semesta seisinya adalah tuhan. Tuhan yang mana? Nanti dululah. Yang jelas Tuhan Yang Maha Menciptakan, Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Begitu seterusnya sampai akhirnya Allah tunjukkan bahwa rabb yang dimaksud adalah Allah, satu-satunya yang layak menjadi al-ilah (tuhan yang disembah dan dipatuhi).

Kalau engkau punya waktu sejenak saja untuk mempelajari sistematika turunnya wahyu, akan engkau dapati pelajaran-pelajaran berharga yang luar biasa. Belum lagi kalau kita mempelajari tafsirnya, semakin banyak yang tergali dan semakin terbentang petunjuk yang bisa kita dapatkan. Begitu juga jika engkau mau meluangkan waktu sejenak untuk menyimak stilistika Al-Qur’an, bertumpuk pelajaran psikologi komunikasi yang akan engkau dapatkan.

Maaf, saya menggunakan kata bertumpuk karena kerap saya jumpai kita memperoleh banyak pelajaran melalui berbagai seminar yang digelar, tapi hanya kita tumpuk saja; di meja atau di otak kita. Bukan kita gunakan untuk menggerakkan diri kita sehingga melahirkan kekuatan dahsyat yang luar biasa.

Ah, saya ingin bincang-bincang sejenak tentang ini. Satu syaratnya, engkau percaya bahwa surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an semuanya mengajak kepada iman dan taqwa, mendekati surga dan menjauhi neraka, menggemarkan berbuat baik dan menjauhi perbuatan maksiat yang menyebabkan dosa, mempercayai adanya hari kiamat dan surga yang kekal abadi serta pengadilan yang tak seorang pun bisa lari (termasuk koruptor yang sekarang masih terlindungi, juga nggak bisa lari). Engkau percaya ini? Kalau percaya, mari kita teruskan. Kalau tidak, sampai jumpa di lain kesempatan.

Yupp, naam. Benar sekali setiap surat dalam Al-Qur’an selalu mengajak kepada iman dan amal shaleh serta mensucikan tauhid dan membersihkan diri dari syirik? Tapi periksa judul surat dalam Al-Qur’an! Berapa yang berhubungan dengan tauhid? Hanya sekitar sepuluh persen. Tepatnya? Coba kita hitung.

Mari kita periksa nama surat-surat permulaan dalam Al-Qur’an. Ah, ya…. Betul sekali. Al-Faatihah –The Opening—sesuai namanya menjadi pembuka. Surat kedua Al-Baqarah, Sapi Betina, tetapi bukan tentang peternakan sapi. Struktur surat ini juga unik. Jika engkau ingin bikin tulisan persuasif, alur penuturan surat ini bisa engkau tiru. Ingat hasil penelitian tentang persepsi terhadap sifat orang, kan? Itu lho penelitian eksperimental Solomon E. Asch tentang bagaimana rangkaian kata sifat menentukan persepsi orang. Jika saya ceritakan kepadamu bahwa calon isterimu cerdas, rajin, lincah, kritis, kepala batu dan dengki, engkau akan membayangkan dia sebagai orang yang “bahagia”, humoris, dan “mudah bergaul”. Tetapi jika engkau membalik rangkaian kata itu mulai dari dengki, kepala batu dan seterusnya, kesanmu tentang dia segera berubah. Menurut Solomon E. Asch, kata yang engkau dengar pertama kali akan mengarahkan pada penilaian selanjutnya. Kata “kritis” pada rangkaian pertama mempunyai konotasi positif; pada rangkaian kedua, negatif. Pengaruh kata pertama ini, kata Jalaluddin Rakhmat dalam buku Psikologi Komunikasi (o ya, saya kutip penelitian Asch dari buku Kang Jalal ini), kemudian terkenal sebagai primacy effect. Dalam beberapa kesempatan, saya penelitian eksperimental Asch ini saya ulang dan hasilnya… hampir semua sama, kecuali ketika saya cobakan pada ustadz-ustadz Hidayatullah (mereka memelototi cukup lama sebelum memutuskan).

Satu lagi. Jika engkau menghadapi orang yang membantah pendapatmu, atau ingin menyampaikan gagasan kepada orang lain, mulailah dari yang positif dan menimbulkan hasrat untuk mencapainya. Bukan hal-hal negatif yang ingin kita jauhi, sebab otak kita cenderung bekerja lebih efektif pada pesan-pesan positif. Komentar “Masakanmu enak sekali hari ini. Kalau garamnya dikurangi sedikit, pasti lebih enak” insya-Allah akan segera membuat isterimu tersenyum lebar selebar-lebarnya. Tetapi tidak demikian ketika engkau mengatakan, “Lain kali kalau kasih garam jangan terlalu banyak. Pasti masakanmu akan lebih enak lagi.” Apalagi kalau engkau berkata, “Kamu itu tahu bedanya gula dengan garam nggak, sih? Bikin masakan kok terlalu asin?”

Bisa merasakan bedanya ketiga kalimat tadi? Saya harap engkau dapat merasakan. Kalau tidak, cobalah. Kalau sulit, mungkin engkau belum menikah. “Oh, tidak. Saya sudah menikah,” barangkali ada yang protes begitu. Kalau benar sudah menikah, ada satu pertanyaan buatmu, “Seberapa baik engkau mengenal isterimu sehingga sulit merasakan perbedaan akibat dari ketiga kalimat yang mungkin paling sering engkau ungkapkan?”

Baiklah, saya tidak berpanjang-panjang dengan ini. Kita bukan sedang berbicara pernikahan (maafkan saya kalau contoh yang saya berikan berbau pernikahan). Saya paparkan contoh-contoh tersebut untuk mengajak melihat kekuatan pendekatan positif. Gaya bertutur Al-Baqarah begitu. Pertama, menyebut golongan muttaqin, berlanjut dengan menyebut iman dan golongan orang-orang beruntung (muflihun) yang secara keseluruhan menunjukkan ciri orang-orang mukmin. Kedua, menyebut golongan orang-orang kafir dan munafik. Sesudah itu menginjak bagian berikutnya, mulai memasuki ayat-ayat yang berisi perintah. Sebagaimana bagian sebelumnya, bagian ini juga dimulai dengan perintah bagi orang-orang yang beriman, lalu diikuti dengan tantangan bagi orang-orang musyrik; balasan bagi orang-orang yang beriman, perumpamaan dalam Al-Qur’an dan hikmah-hikmahnya, bukti-bukti keesaan Allah, penciptaan manusia dan penguasaannya di muka bumi, lalu berlanjut dengan peringatan kepada Bani Israel. Berikutnya masih panjang, tetapi engkau bisa memeriksa langsung Al-Qur’an yang ada di tanganmu.

Coba perhatikan, misalnya, surat Al-Ikhlash. Surat ini membantah perkataan manusia bahwa Tuhan beranak dan diperanakkan. Tapi lihat, bagaimana Al-Qur’an memulai bantahannya? Pertanyaan positif. Bukan bantahan yang bersifat negasi. Pada kalimat ketiga baru Allah ‘Azza wa Jalla menggunakan kalimat negatif. Lengkapnya, mari kita perhatikan: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Esa//Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu//Tidaklah Dia beranak dan tidaklah Dia diperanakkan//Dan tidaklah ada seorang pun yang setara dengan Dia//”. (QS. Al-Ikhlash: 1-4).

To make the story short, ada beberapa hal yang kita pelajari. Pertama, tulisan yang islami dan kita maksudkan untuk berdakwah secara keseluruhan harus berisi hal-hal yang baik. Sedangkan cara mengkomunikasikan sangat berkait dengan pembaca sasaran (target readers). Tulisan yang islami tidak mesti bertabur dengan dalil dan kalimat-kalimat yang bisa bikin pening orang apabila belum akrab. Kita mulai dari hal-hal yang pembaca lebih mudah menerima.

Kedua, selalu pertimbangkan judul yang hidup, menggugah, romantis dan sesuai dengan konteks zamannya. Kalau mau mengajak anak-anak ABG yang biasa nongkrong di kafe-kafe mall untuk berjilbab, bikinlah judul “Suer! Gue Cantik Banget”. Bukan “Urgensi Hijab bagi Ukhti Muslimah” (awas, mereka bisa lari terbirit-birit). Rasulullah saw. bilang, “Mudahkan dan janganlah engkau mempersulit. Gembirakanlah dan jangan engkau buat mereka lari.” Ini prinsip komunikasi dan sekaligus sikap dakwah. Maka, mulailah buku “Suer! Gue Cantik Banget” dari hal-hal positif yang dekat dengan dunia mereka (Thanks God You Make Me Pretty, Are You Pretty Enough, The Real Beauty –kalau engkau setuju dengan pembagian bab ini—baru memasuki bab yang bertutur tentang kenapa mereka harus berjilbab, misalnya dengan judul bab “Beautiful Forever”).

Kitab para ulama terdahulu banyak yang menggunakan judul indah dan romantis. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis buku dengan judul yang sangat indah Raudhatul Muhibbin. Taman Orang-orang Jatuh Cinta. Bukan “Rambu-rambu Islam bagi Orang yang Sedang Jatuh Cinta”. Ihya ‘Ulumuddin (Menghidupkan ‘Ilmu-‘ilmu Agama) merupakan kitab fenomenal Imam Al-Ghazali. Judulnya hidup dan positif. Bukan Rudud ala Abathil. Bantahan terhadap Pendapat-pendapat yang Sesat. Emm… saya bukan menolak kitab yang sangat berharga ini. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa judul semacam Rudud ala Abathil biasanya sulit menjadi karya fenomenal dan legendaris.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, buku Mbak Asma Nadia berjudul Jangan Jadi Muslimah Nyebelin rasanya akan lebih menggugah minat baca (dan beli) kalau menggunakan judul positif. Saudara-saudara kita yang masih pacaran, setidaknya masih menyimpan sebuah nama di hatinya dengan perasaan yang amat mendalam, tidak akan menyentuh buku “Islam Menolak Pacaran”, kecuali kalau mereka sudah ada keinginan untuk bertaubat. Sementara buku Wanita Mengapa Merosot Akhlaknya, rasanya hanya para murabiyyah yang akan bergegas membaca buku tersebut. Bukan mutarabi. Apalagi yang masih muter-muter.

Ketiga, biasakan menggunakan pendekatan positif. Sebuah Cerpen atau bahkan novel yang baik tidak mutlak membutuhkan tokoh antagonis yang bikin eneg. Ingat penelitiannya David McClelland. Tulisan yang secara keseluruhan inspiring good ‘menggugah inspirasi yang baik”, jauh lebih bergizi bagi jiwa daripada kisah yang suddenly good. Habis mabuk-mabukan, susah dinasehati, kacau balau hidupnya, lalu secara spontan berubah jadi orang baik tanpa kita bisa mempelajari prosesnya.

Uff! Masih banyak sekali yang perlu kita perbincangkan. Al-Qur’an memang tak akan pernah habis kalau kita mau menggali dan menggali terus. Apalagi kalau yang menggali sangat akrab dengan Al-Qur’an dan memiliki ilmu tafsir yang memadai. Kedua hal ini, belum ada pada saya. Karena itu, cukup sekian dulu, ya. Insya-Allah saat dialog bisa kita sambung.

Haik!!!

Sumber : flp jepang

February 5, 2006

Merangsang Inspirasi dengan Menajamkan Visi

Filed under: Artikel

Merangsang Inspirasi dengan Menajamkan Visi
January 9th, 2006 oleh tukang_situs

[tips kepenulisan]
Penulis : Mohamad Fauzil Adhim
Sumber : Dunia Kata
Penerbit : DAR! Mizan - Remaja

Apa sih, yang kamu inginkan dari menulis? Apa yang pernah kamu bayangkan tentang tulisanmu? Sebuah perubahan cara pandang? Sebuah peristiwa emosi ketika pembaca diaduk-aduk perasaannya, lalu merenungkan sejenak perjalanan hidupnya? Atau sebuah tulisan yang sekadar menjadi pembunuh waktu luang?

Apa manfaat yang kamu hasratkan dari setiap tulisanmu? Dan, apa manfaat yang ingin sekali kamu berikan kepada pembaca melalui setiap tulisanmu?

Antara lain, inilah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang perlu kau jawab untuk merumuskan visi. Seperti kata Philip Kotler, visi merupakan an ideal standard of excellence (standar ideal kesempurnaan) yang ingin kita raih. Ia memberi gambaran ideal dan mendorong kita untuk mencapainya.

Sebagian orang merumuskan visi dengan sangat jelas dan tertulis, sebagian lain berusaha selalu menuliskan, karena dengan ini, kita akan lebih mudah merasakan visi itu setiap kali bertindak, dan sebagian lainnya menghayati sebuah visi yang sangat kuat meskipun tidak menuliskannya dengan jelas. Tiga M, perusahaan yang terkenal dengan produk-produk kantor itu, meraih prestasinya yang cemerlang dengan visi perusahaan dalam bentuk cerita strategis sehingga para karyawan dan pengambil keputusan lebih mudah membayangkan gambaran ideal yang harus diraih.

Apakah visi itu harus kita tulis? Nggak sih. Yang penting, kita bisa merasakan sehingga timpul sense of importance. Kita jadi peka apa pentingnya menulis. Kita juga peka sekali apa yang penting untuk kita tulis, serta bagaimana menuliskannya. Seperti diterangkan oleh Philip Kotler dan kawan-kawannya, visi yang kuat akan membangkitkan kepekaan terhadap tujuan dan arah. Kita peka banget kalau tulisan kita mulai melenceng dari tujuan. Secara perlahan, kita juga akan peka bagaimana tiap-tiap kata memiliki kekuatan yang berbeda untuk mengantarkan kita pada tujuan menulis. Kita jadi lebih peka terhadap lapis-lapis makna dari tulisan kita.

Tidak hanya itu. Visi yang kuat akan menggerakkan kita untuk menulis dengan antusias! Dan, sejarah orang-orang besar — termasuk di dalamnya sejarah penulis-penulis besar — adalah sejarah antusiasme yang luar biasa!

Sumber : flp jepang

February 4, 2006

Kiat Menulis Resensi Buku

Filed under: Artikel

Kiat Menulis Resensi Buku

Kiat Menulis Resensi Buku
sumber: Republika.co.id

Menulis resensi atau kritik buku sebenarnya nggak sulit. Kalau mau, kamu juga bisa. Nah, berikut ini ada beberapa tips agar kamu piawai menulis resensi.
* Tulisan resensi yang menggambarkan sinopsis harus sesuai dengan isi buku. Banyak peserta yang terdaftar dalam kompetisi ini ternyata kurang memahami isi buku sehingga sinopsis mereka berbeda dengan isi buku.

* Ketajaman analisa. Setelah memahami isi buku, kamu harus bisa menilai apakah isi buku bermanfaat atau tidak ? Jika memang bagus, beri penjelasan di mana letak sisi bagus itu. Begitu pun sebaliknya. Di samping itu, kamu harus pula menguasai pengetahuan lain sebagai bahan pembanding isi buku yang hendak kamu kritisi itu, termasuk di dalamnya menyikapi masalah yang ditampilkan buku tersebut.

Asal kamu tahu, prosentase terbesar kriteria penilaian ada pada ketajaman analisa. Di sini, kamu harus bisa mengaitkan masalah lain yang ada dengan masalah yang diangkat buku itu. Dari sini, gagasan kamu dan isi buku mengenai masalah yang sama, bisa bertemu. Tentu saja kamu bisa mengungkapkan ketidaksetujuan atas gagasan penulis buku yang bersangkutan. Pada saat yang sama, kamu juga harus menawarkan argumen untuk mendukung pendapatmu.

* Gunakan bahasa yang terstruktur, lugas, dan jelas sehingga memudahkan pembaca memahami maksud kamu. Melalui bahasa semacam itu, kamu bisa menulis ulang isi atau materi yang terkandung dalam buku, kemudian mengkritisi isinya jika ada yang dinilai kurang tepat. Selain itu, penulis resensi juga harus memiliki kemampuan memahami isi buku secara benar.

* Terakhir, hindari penggunaan kalimat yang panjang dan bertele-tele. Kalimat panjang bisa mengaburkan pesan yang akan disampaikan. Jangan lupa, pilih kata-kata yang tepat untuk merangkai tulisan resensimu. Dengan cara ini, niscaya pembaca akan gampang memahami maksud kamu. Tidak sulit, kan? Oke deh, selamat mencoba. berbagai sumber/cho

Sumber : flp jepang

February 3, 2006

Menulis Resensi Buku

Filed under: Artikel

Menulis Resensi Buku

Berikut tips menulis resensi buku (cuma intinya):
1. Bahas intisari buku tsb secara singkat. Kalau bisa, bandingkan dengan buku sejenis.
2. Tonjolkan beberapa bab yang dianggap sangat penting dicermati, juga secara singkat.
3. Jelaskan sedikit tentang diri/identitas penulisnya, kelebihannya apa, latar belakangnya bagaimana, dsb.
4. Berikan penilaian ttg manfaat buku tsb. Nilai juga cara penulisannya dan gaya bahasanya.
5. Ada kelebihan lain atau tidak, misalnya bagian pengantar dari ahli ttu, indeks, footnote, kepustakaan, dsb.
6. Kalau mau dikirim ke media, jangan lebih dari 2 halaman komputer. Tambahi juga dengan scanning kavernya (jangan fotokopi, harus asli).

Dikutip dari email bang Victor Silaen

Blognya Mikha

February 2, 2006

Sekolah Menulis “Mengikat Makna” Via E-Mail

Filed under: Artikel

Sekolah Menulis “Mengikat Makna” Via E-Mail

Penulis: Hernowo

Hanya ada dua warisan abadi yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita. Salah satunya adalah akar, dan yang lainnya adalah sayap.

HODDING CARTER

Membaca dan menulis adalah dua keterampilan dasar (basic skill) yang dapat membantu seseorang untuk menjadikan proses belajarnya efektif. Di samping itu, riset-riset otak mutakhir dewasa ini telah menunjukkan pelbagai manfaat nyata dari kegiatan membaca dan menulis terhadap pertumbuhan dan perkembangan diri.

Sebagai contoh, seorang neurolog, Dr. Edward Coffey, yang bekerja di Henry Ford Health System, membuktikan bahwa seseorang yang dapat menjalankan kebiasaan membaca dengan baik akan terhindar dari penyakit pikun di hari tua. Menurut Dr. Coffey, kegiatan membaca dan menulis dapat menumbuhkan dendrit (salah satu komponen neuron atau sel-sel saraf otak).

Seorang psikolog, Dr. James W. Pennebaker, dalam penelitiannya juga membuktikan bahwa menulis secara bebas—tanpa memperhatikan lebih dahulu aturan kebahasaan—untuk mengeluarkan apa saja yang ada di dalam diri, dapat mengurangi stres. Bahkan, seorang ahli linguistik, Dr. Stephen D. Krashen, lewat penelitiannya, juga menunjukkan bahwa menulis dapat membantu memecahkan problem-problem kedirian seseorang.

Kami menyadari bahwa menjalankan kegiatan membaca dan menulis pada era Internet seperti saat ini tidaklah mudah. “Musuh-musuh” kegiatan membaca dan menulis muncul secara luar biasa agresifnya—televisi 24 jam yang tidak hanya terpancar lewat 2 atau 3 saluran, game-game mengasyikkan yang menyebar lewat ponsel atau Internet, dan juga minimnya teladan membaca dan menulis di tengah masyarakat.

Kami—lewat Sekolah Menulis via E-mail—ingin mencoba mengajak siapa saja untuk membangun suasana yang kondusif bagi diri-diri mereka agar siapa saja dapat menjalankan kebiasaan membaca dan menulis. Kami menamakan sekolah menulis ini “Mengikat Makna” (atau dalam istilah lain: “Pelatihan Quantum Reading dan Quantum Writing”) untuk menunjukkan bahwa kegiatan membaca dan menulis perlu dijalankan bersama setiap hari. Membaca baru efektif jika dilanjutkan dengan menuliskan apa yang dibaca; dan menulis baru menyenangkan (tidak banyak kendala) jika didahului oleh kegiatan membaca buku yang banyak dan beragam.

Bagaimana Kurikulum dan Mekanismenya?

Sekolah menulis ini dirancang selesai dalam tempo satu semester. Dalam alokasi waktu, satu semester ini biasanya memakan waktu sekitar 4 hingga 4,5 bulan efektifnya. Dalam alokasi waktu seperti ini diharapkan, tulisan yang masuk dapat mencapai, minimal, 100 tulisan. Kami yakin, apabila setiap peserta dapat membaca dan menulis setiap hari, dan tulisannya mencapai jumlah 100 lebih, ada kemungkinan besar, pembiasaannya ini dapat menjadi fondasi-kuat untuk dilanjutkan sendiri dalam kehidupan yang lebih luas dan menantang.

Apakah hal terakhir ini dapat memiliki jaminan tinggi? Kami memang tidak dapat menjanjikan secara pasti. Namun, kami yakin bahwa 100 tulisan yang kemudian diciptakan setiap hari dalam waktu yang sangat terjaga dan terpola akan membuahkan hal-hal yang memberdayakan. Sekali lagi, dalam pelatihan ini, setiap peserta tidak hanya menulis. Mereka juga perlu membaca dalam arti luas. Mereka dapat membaca teks lewat, terutama, buku, dan kemudian majalah, koran, publikasi lain, dan juga informasi yang disebar oleh Internet, atau “membaca” informasi yang disebar televisi dan radio, serta “membaca” kehidupan sehari-hari mereka.

Apa yang dibacanya kemudian “diikat” atau dituliskan sebanyak minimal satu halaman spasi tunggal. Proses pembacaan dan pengikatan ini berlangsung dari hari Senin hingga Jumat. Hari Sabtu dan Minggu untuk digunakan membaca hasil tulisan Senin-Jumat, dan mengevaluasi (dibantu oleh orangtuanya) hal-hal penting yang tersimpan di dalam tulisan yang sudah jadi. Di ujung hari Minggu diharapkan ada satu tulisan sebagai kesimpulan atau rencana melakukan perbaikan selama sepekan. Hasil tulisan Minggu ini dikirim pada Senin pagi.

Tulisan yang dikirim Selasa adalah tulisan yang mengisahkan hal-hal yang dialami pada hari Senin—apakah itu tentang buku yang dibaca, informasi yang ditangkapnya, atau tentang kehidupan diri yang mengesankan yang diciptakannya selama bergaul dengan lingkungan luasnya. Tulisan yang dikirim Rabu adalah tulisan yang merekam pengalaman Selasa, Kamis untuk Rabu, Jumat untuk Kamis, dan Sabtu untuk Jumat. Sabtu dan Minggu untuk evaluasi dan dituliskan pada Minggu di ujung, dan dikirim pada Senin pagi.

Tulisan yang akan dibuat diharapkan dapat didahului dengan pembuatan “mind mapping” (yaitu proses memetakan pikiran lebih dahulu lewat gambar dan teks). Bisa jadi, ada para peserta yang langsung menulis. Ini tidak apa-apa. Namun, kami menganjurkan sekali untuk berlatih menggunakan “mind mapping” untuk mendeteksi pikiran dan hal-hal lain yang dialaminya, serta memetakan lebih dahulu materi yang ingin ditulis. Metode “mind mapping” menjadi penting lantaran metode ini memfungsikan kedua belahan otak, yaitu otak kanan dan otak kiri. Lewat bantuan metode ini pula, biasanya, kebuntuan dan kejenuhan menulis dapat teratasi. Sekali lagi, apabila ini dapat dibiasakan secara perlahan-lahan, ada kemungkinan kegiatan membaca dan menulis dapat dilaksanakan secara menyenangkan.

Untuk hasil-hasil “mind mapping” yang dibuat oleh para peserta, tidak usah dikirimkan ke sekolah menulis. “Mind mapping” bersama tulisan-tulisan awal dapat disimpan di komputer (sebagai file digital) dan juga dalam bentuk cetakan. Pendokumentasian ini menjadi penting karena inilah portofolio sejati. Inilah rekaman hari ke hari perjalanan seseorang. Inilah peta-batin yang merupakan harta karun seseorang yang, kelak, dapat dijadikan “alat” untuk menentukan ke mana kira-kira karier seseorang diarahkan.

Tulisan-tulisan yang dikirimkan akan dibaca dan kemudian diberi catatan oleh instruktur di sekolah menulis ini. Tulisan-tulisan tersebut akan direspons pada hari itu juga apabila instruktur memiliki kesempatan untuk membuka kiriman e-mail. Karena warnet telah menjamur di setiap kota, proses membalas kiriman e-mail itu menjadi bukan kendala besar. Nah, karena instruktur akan memberikan respons atas e-mail yang masuk, diharapkan setiap kali tulisan selesai dan siap dikirimkan, para peserta perlu menyertakan pertanyaan. Kirimkan pertanyaan bersama hasil tulisan selembar kuartonya.

Mohon juga respons dari instruktur atas tulisan yang dibuat oleh para peserta kemudian dapat dibaca dan dibahas. Menurut Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, dalam Quantum Learning, inti belajar adalah interaksi. Interaksi yang mengkuantum (membuat lejitan luar biasa) adalah interaksi yang dapat mengubah potensi yang tersimpan atau tersembunyi di dalam diri seseorang, menjadi pancaran semangat, kebahagiaan, dan kegembiraan, serta keunggulan dan keunikan. Jadi, respons dari instruktur adalah semacam interaksi positif yang diharapkan dapat memberdayakan para peserta pelatihan di sekolah menulis ini.

Tujuan Sekolah Menulis

Pertama, mendorong seorang peserta di sekolah ini untuk mengalahkan “musuh-musuh” membaca dan menulis yang datang baik dari luar dan dari dalam dirinya. “Musuh-musuh” membaca dan menulis yang datang dari dalam diri, antara lain, adalah kemalasan, ketidakpercayaan diri, kebosanan, dan semacamnya. Bagaimana “musuh-musuh” membaca dan menulis dapat ditaklukkan? Sekolah menulis ini mengusulkan dengan cara membiasakan diri membaca dan menulis. Jadi, tujuan paling penting dari sekolah ini adalah si peserta dapat secara berani mencoba menerjuni kegiatan membaca dan menulis ini setiap hari.

Kedua, menunjukkan kepada para peserta tentang manfaat-manfaat membaca dan menulis yang dapat langsung diraih ketika mengalami sendiri kegiatan membaca dan menulis yang berkelanjutan dan terpola. Lewat buku-buku yang diciptakan oleh instruktur, dan juga lewat diskusi interaktif, diharapkan peserta dapat merasakan sendiri bahwa kegiatan membaca dan menulis yang dijalaninya ini, utamanya, adalah untuk memberdayakan diri terlebih dahulu. Apa ciri-ciri yang dapat menunjukkan bahwa si peserta sudah diberdayakan oleh kegiatan membaca dan menulis?

Ciri-ciri kegiatan membaca dan menulis yang dapat memberdayakan diri adalah (1) setelah membaca buku, si pembaca dapat menuliskan (”mengikat makna”) apa saja yang dibacanya; (2) lama-kelamaan si peserta baca-tulis dapat merasa lega atau plong setelah membuang apa pun yang menyesaki pikiran dan perasaan lewat menulis setiap hari; (3) ada perasaan senang dan bangga setelah melihat bahan-bahan tertulis yang dikumpulkannya yang terus membanyak dan membaik; (4) ada keterlibatan penuh dari si peserta terhadap buku yang dibacanya (buku yang dipilih adalah buku yang disenanginya) dan juga tulisan yang dibuatnya (ketika menulis, si penulis menggunakan kata ganti orang pertama [aku atau saya]); dan (5) setiap kali tulisannya dibaca sendiri, ada perasaan senang dan bangga, serta tulisan itu mencerminkan keunikannya.

Ketiga, diyakini oleh pengelola sekolah menulis ini bahwa apabila pembiasaan membaca dan menulis sudah terjalankan dengan benar, dan si peserta pelatihan ini mampu mengalami suka-duka membaca dan menulis yang direkam dan melibatkan dirinya secara total, tentulah si peserta akan mampu “melihat” dirinya yang berpotensi.

Nah, apabila pembiasaan sudah terjalankan, dan si peserta pelatihan di sekolah menulis dapat merasakan manfaat yang bisa dipetik dari pembiasaan itu, niscaya akan ada proses yang menunjukkan bahwa potensi unik peserta dapat muncul secara alamiah. Apabila seluruh proses membaca dan menulis benar-benar dapat memberdayakan diri si peserta (dapat memotivasi dan memberikan kepercayaan diri yang tinggi bahwa “aku bisa!”), ada kemungkinan besar pelejitan potensi diri terjadi. Inilah tujuan ketiga: lewat kegiatan membaca dan menulis yang berlandaskan konsep “mengikat makna”, insya Allah sia anak akan dapat melejitkan potensi dirinya.

Demikianlah sedikit “catatan” tentang sekolah menulis via e-mail ini. Semoga dapat memberikan alternatif dalam menjadikan seseorang tumbuh-berkembang dengan berlandaskan

Sumber : Sekolah Menulis

February 1, 2006

Meresensi Buku dalam Setting “Mengikat Makna”

Filed under: Artikel

Meresensi Buku dalam Setting “Mengikat Makna”

Penulis: Hernowo

Jika ada yang bertanya kepada saya–dan jawaban yang diharapkan dari saya sifatnya praktis, tidak filosofis–tentang apa sih arti “mengikat makna”, saya akan menjawab, “Mengikat makna’ adalah meresensi buku.” Cuma itu? Ya.

Ketika saya belum memiliki pengalaman menulis secara “fun”, saya banyak berlatih menulis dalam konteks meresensi buku. Dalam bahasa saya, ketika saya meresensi

Jika saya membaca buku, itu berarti saya sedang membaca pergulatan pemikiran pengarang buku tersebut. Saya, misalnya, mencermati dan menyeleksi benar mana tulisan si pengarang yang menarik perhatian saya. Apa kriteria menarik perhatian itu? Menarik perhatian yang saya maksud adalah apa-apa yang ditulis atau dirumuskan oleh si pengarang itu sangat cocok dengan keadaan diri saya–khususnya cocok (match) dengan pengalaman saya yang saya miliki.

Saya kumpulkan tulisan-tulisan si pengarang yang cocok dengan pengalaman saya, dan kemudian saya tuliskan kembali (pindah/salin) ke buku harian saya. Semakin banyak tulisan si pengarang yang saya kumpulkan, berarti buku yang dikarangnya itu mengasyikkan diri saya. Saya merasakan sekali, sewaktu saya menemukan rumusan si pengarang yang cocok dengan pengalaman diri saya, diri saya berkembang.

Berkembang? Ya. Ketika membaca buku, saya–sebagaimana diungkapkan oleh Ursula Le Guin–sebenarnya sedang membaca diri saya lewat pengalaman orang lain. Buku–merujuk ke Kuntowijoyo–adalah kumpulan “pengalaman batin” seseorang yang telah distrukturkan. Jika kita rajin membaca buku–tentu, buku yang saya maksud di sini adalah buku yang berisi pergulatan pemikiran si penulisnya–itu berarti kita rajin belajar dari pengalaman orang lain, termasuk (menurut saya) belajar dari pengalaman diri sendiri.

Nah, ketika saya membaca buku, karena di dalam diri saya sudah tersimpan pelbagai pengalaman batin, pengalaman batin saya lantas bersentuhan (tepatnya, berinteraksi) dengan pengalaman batin si penulis buku. Persentuhan yang akrab dan sangat intim akan membuat saya berada dalam keadaan yang “fun”–meski juga, kadang, ada semacam “ketegangan”. Bertemunya pengalaman saya dan pengalaman si penulis buku itulah yang membuat diri saya berkembang.

Ciri-ciri perkembangan diri yang saya alami, di antaranya, adalah saya jadi dapat mengoreksi sekaligus memperbaiki pengalaman saya. Saya jadi dapat membuat diri saya kaya raya akan “pengalaman batin”. Dan, ada kemungkinan, saya diteguhkan sebagai manusia karena saya menemukan bahwa, ternyata, pengalaman yang dituliskan oleh seorang penulis-sukses sama persis dengan pengalaman saya. Inilah manfaat-hebat dari membaca buku menurut saya.

Akhirnya, ketika saya mencuplik dan mengumpulkan tulisan-tulisan yang menarik perhatian saya dari sebuah buku, saya sebenarnya sedang mencuplik pengalaman saya dalam bahasa seorang penulis-sukses yang bukunya saya baca. Jika cuplikan yang saya kumpulkan cukup banyak, saya lalu dapat memetakan kandungan buku yang menarik bagi diri saya. Saya pun lantas mampu “mengikat” semua itu sesuai keinginan saya. Jadilah kemudian sebuah resensi buku yang sangat bermakna bagi diri saya.

Langkah meresensi buku yang barusan saya uraikan tersebut, biasa saya istilahkan sebagai teknik “menggunting dan merekatkan” (atau cutting and glueing–dalam bahasa Inggris pasaran yang sudah saya sesuaikan dengan keadaan diri saya). Ini merupakan cara meresensi buku yang dapat dilakukan oleh seorang pemula. Manfaat meresensi buku seperti ini adalah dapat memberikan peluang sangat besar kepada seseorang untuk berlatih menulis dengan bantuan “bahasa” orang lain. Inilah juga yang dapat membuat seseorang jadi melakukan kegiatan membaca buku secara efektif (ada efeknya terhadap pengembangan diri).

Jika langkah pertama meresensi buku–dengan teknik “cutting and glueing”–sudah berkali-kali dilewati, saya kemudian mendorongnya untuk meningkatkan kadar kegiatan meresensi buku ke langkah yang lebih tinggi. Langkah selanjutnya ini saya sebut sebagai teknik “focusing” atau memusatkan perhatian pada satu hal yang ada di dalam buku yang menarik perhatiannya. Dia, misalnya, dapat memusatkan perhatian pada sosok pengarang atau penulisnya.

Bagaimana latar belakang pendidikan si penulis? Mengapa dia menulis buku ini dan bukan itu? Apakah ada keistimewaannya? Apakah ada yang dapat dipelajari dari pengalamannya menulis? Jika seseorang dapat meresensi sosok penulisnya, tentulah orang itu sekaligus dapat belajar bagaimana menjadi penulis yang berhasil–sebagaimana buku dan penulisnya dia pilih sendiri untuk dibaca. Atau, selain itu semua, dia kemudian dapat memetik hikmah dari kekayaan pengalaman luar biasa yang dimiliki si penulis.

Tak hanya sosok penulisnya yang dapat disorot lewat teknik “focusing”. Seorang peresensi buku juga dapat memperhatikan secara cermat dan saksama tentang desain sampul buku, jika dia memang suka dan punya pengalaman dalam bidang rancang-merancang sampul. Atau, dia juga dapat fokus pada bagaimana buku itu diorganisasikan, dirancang bab-babnya, atau dibangun oleh si penulis. Seorang peresensi yang menggunakan teknik “focusing” akan sangat terbantu dalam meresensi buku jika dia memahami dengan baik anatomi buku–apa saja sih komponen-komponen penting pembangun buku.

Teknik tertinggi dalam meresensi buku saya sebut sebagai teknik “comparing”. Akan lebih bagus jika orang yang ingin menggunakan teknik ketiga ini sudah melewati (atau sudah berlatih secara cukup lama dengan) kedua teknik sebelumnya–”cutting and glueing” dan “focusing”. Kenapa? Sebab, kedua teknik sebelum teknik “comparing” ini akan mempertajam dan memuluskan penggunaan teknik “comparing”. Dalam bahasa yang sederhana, teknik ketiga ini bisa disebut sebagai teknik membandingkan.

Karena membandingkan, maka yang dia baca tidak hanya satu buku yang ingin diresensi, tetapi juga buku lain, baik buku dengan tema sejenis yang ditulis oleh penulis berbeda atau buku berbeda yang ditulis oleh penulis yang sama. Dalam teknik membandingkan, yang perlu “diikat” oleh seorang peresensi jadi cukup banyak dan terukur. Dan sewaktu seorang peresensi meggabung-gabungkan apa-apa yang mau “diikat”, dia perlu menganalisis lebih jeli dan, itu tadi, terukur.

Bagaimana bentuk-bentuk hasil resensi dengan menggunakan tiap-tiap teknik tersebut? Tentu, saya tak akan mencontohkannya. Saya juga tak akan menunjukkan bahwa hasil yang satu akan lebih baik dari hasil yang lain. Saya sedang tidak berbicara soal hasil. Saya hanya ingin seseorang dapat memanfaatkan kegiatan baca-tulis untuk “mengikat makna” hidupnya–baik lewat buku yang dibacanya maupun lewat medium yang lain.

Setelah saya berlatih “mengikat makna” lewat proses meresensi buku, saya kemudian merasakan bahwa semakin lama saya bergaul dengan banyak buku, semakin lama pula kemampuan menulis saya mencuat-hebat. Lama-lama saya pun jatuh cinta pada buku dan kegiatan membaca buku. Lho kok? Ya, saya jatuh cinta lantaran buku benar-benar mengayakan diri saya dan membuat saya dapat mendeteksi diri saya yang terus-menerus berubah.

Pada akhirnya, proses “mengikat makna” saya perpanjang dan perlebar ke mana-mana. Tak hanya buku yang saya resensi. Saya melanjutkan proses “mengikat makna” dalam konteks apa saja. Pokoknya jika saya bersentuhan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri saya, saya langsung menuliskannya. Misalnya, saya tiba-tiba memperoleh sesuatu yang bermanfaat dari menonton film, mendengarkan musik, atau, bahkan, ketika melihat diri saya sendiri, langsung saja hal-hal yang bermanfaat itu cepat-cepat saya sikat–eh, “ikat”!

Ya, akhirnya, saya mempersepsi bahwa menulis (atau “mengikat makna”) itu dapat membantu saya dalam mengenali pikiran, perasaan, dan apa pun yang bergejolak di dalam diri saya. Karena saya merasakan manfaatnya bagi diri saya sendiri, saya pun kemudian berjanji kepada diri saya bahwa saya akan melakukan “mengikat makna” setiap hari. Dan itulah yang kemudian saya sebut sebagai–sekaligus saya jajakan ke mana-mana agar siapa saja mau–menulis catatan harian (diary).

“Kita membaca buku untuk mencari tahu tentang diri kita sendiri. Apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan oleh orang lain–entah hal-hal itu nyata atau imajiner–merupakan petunjuk yang sangat penting terhadap pemahaman kita mengenai apa sebenarnya diri kita dan bisa menjadi seperti apakah diri kita ini,” ujar Ursula Le Guin.

Semoga bermanfaat. (Bandung, 29 Januari 2004)

Sumber : Mengikat Makna

January 30, 2006

Tahun Baru Cina 2

Filed under: Artikel

Pantang larang dan perlakuan ketika sambutan Tahun Baru Cina

Pembersihan rumah

Seluruh kawasan rumah mesti dicuci sebelum tibanya tahun baru. Pada malam tahun baru, semua penyapu, berus dan semua jenis alat mencuci di simpan di tempat yang selamat. Menyapu dan mengemas tidak patut dilakukan pada hari tahun baru, kerana mengikut kepercayaan masyarakat Cina, nasib baik akan disapu bersama dengan sampah-sampah tersebut. Selepas tahun baru, lantai rumah akan disapu, bermula dari pintu ke tengah rumah dan diletak di penjuru. Sampah-sampah yang disapu itu tidak akan dibuang sehinggalah hari ke 5 perayaan.

Ambil yang jernih, buang yang keruh

Bermain mercun pada malam Tahun Baru adalah satu cara untuk mengucapkan selamat tinggal kepada tahun yang akan ditinggalkan, dan meraikan ketibaan tahun baru. Pada satu ketika di tengah malam tahun baru, semua pintu dan tingkap mesti dibuka untuk membenarkan tahun yang lama pergi.

Aktiviti di Tahun Baru

Semua hutang sepatutnya telah dibayar pada ketika ini. Semua orang perlu menjaga perlakuan masing-masing pada ketika ini. Dilarang sama sekali menggunakan perkataan-perkataan kotor yang membawa maksud sial dan tidak baik. Merujuk kepada tahun yang lepas pun dilarang pada hari tahun baru kerana segala-segalanya mestilah maju ke depan dan tidak boleh memandang ke belakang lagi.

Dilarang sama sekali menangis pada tahun baru, kerana dikhuatiri orang tersebut akan menangis sepanjang tahun tersebut.

Kebersihan dan penampilan diri

Pada hari tahun baru, dilarang sama sekali mencuci rambut, kerana perlakuan ini akan mengakibatkan orang tersebut mambasuh pergi segala nasib baik untuk tahun baru itu. Pakaian merah digalakkan untuk dipakai. Merah dianggap warna cerah dan terang, yang memungkinkan pemakainya memperolehi masa depan yang terang. Dipercayai bahawa, cara pemakaian pada tahun baru menentukan nasib seseorang itu pada tahun tersebut. Kanak-kanak, saudara-mara rapat dan orang yang belum berkahwin diberi angpau untuk masa depan yang cerah.

Sumber : Tahun Baru Cina 2

Previous<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main