Judul : The Name of The Rose
Pengarang : Umberto Eco
Penerbit : Jalasutra
Cetakan : II, 2004
Tebal : xiiv+731
Di Usia senjanya, Adso dari Melk mengenang satu minggu bersejarah di bulan November, tahun 1327. Bersama William dari Baskerville ia tiba di sebuah biara pada suatu tempat di tengah pegunungan Apenina. Misi William adalah menjadi penengah antara delegasi Paus Yohanes XXII dan Michael dari Cesena, yang direncanakan akan bertemu di sana. Tujuan pertemuan ini adalah untuk memastikan jalan yang aman bagi Michael menuju dan kembali dari istana Paus di Avignon, tempat di mana ia berharap bisa memperoleh persetujuan atas berbagai reformasi gereja.
Ketika tiba di biara tersebut, William menerima pula tugas kedua yaitu menyelidiki kematian misterius Adelmo, yang jasadnya baru ditemukan di luar tembok biara. Sang Kepala Biara, Abo, ingin mengetahui bagaimana dan kenapa Adelmo mati, bukan hanya karena ia kuatir akan keselamatan para biarawan di sana, namun juga karena ia tidak ingin delegasi Paus, yang dipimpin oleh inkuisitor Kardinal Bertrand del Pogetto dan Bernard Gui, memanfaatkan dugaan pembunuhan sebagai alasan untuk menyelidiki biara tersebut.
Meski berbagai upaya dilakukan William, misteri kematian itu masih belum terpecahkan ketika para delegasi dari pertemuan tersebut tiba. Bahkan, misterinya menjadi semakin membingungkan. Dua orang biarawan lagi mati: Venantius ditemukan dengan kepala terendam dalam tong darah babi, dan Berengar tenggelam dalam bak mandi. Kemudian Severinus, tabib yang pernah mengobati William, terbunuh di pagi hari ketika pertemuan tersebut dimulai, dan Malachi mati tak lama kemudian.
Seperti yang ditakutkan Kepala Biara, kedua inkuisitor Paus itu memanfaatkan kejadian-kejadian ini untuk kemudian mendapati bahwa Abo telah menyembunyikan biarawan-biarawan yang pernah menjadi pengikut Fra Dolcino, seorang terpidana bidah. Bernard Gui yakin bahwa Salvatore dan Remigio, keduanya bekas pengikut Dolcinian, masih tetap melakukan bidah dan bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan tersebut. Pada saat berlangsung pengadilan singkat atas kasus itu, ia pun menegaskan bahwa Michael dari Cesena tak akan dapat memperoleh dukungan atas pandangan-pandangan reformisnya, dan Gereja tak butuh para reformis yang menantang hegemoninya.
Maka misi pertama William, yakni untuk menjamin keselamatan Michael jika ia mengunjungi Paus, telah gagal, dan Abo memecatnya pula dari misi keduanya. Karena para inkuisitor telah memperoleh temuan-temuannya, ia kuatir apa pun yang ditemukan William hanya akan merusak reputasi biara itu lebih jauh lagi dan konsekuensinya adalah kedudukannya sendiri. Tak mempedulikan perintah Abo, William melanjutkan penyelidikannya, terdorong kecintaannya akan pengetahuan dan mungkin juga karena gengsi intelektual tertentu. Beberapa jam setelah Abo memecatnya dari kasus tersebut, William berhasil memecahkan misterinya.
Ketika muda, Jorge dari Burgos meninggalkan biara dan pulang ke kampung halamannya di Spanyol guna mendapatkan kitab-kitab untuk disimpan di perpustakaan biara. Di antara kitab-kitab yang dibawanya kembali terdapat satu-satunya salinan kitab kedua dari karya Aristoteles Poetics, yang membahas tentang komedi, sementara kitab pertamanya membahas tentang tragedi. Menganggap tertawa sebagai bidah yang paling berbahaya, Jorge mengunci kitab tersebut jauh dalam bagian yang paling tak terjangkau dari perpustakaan biara yang berlabirin, tempat kitab tersebut tersimpan selama puluhan tahun.
Namun, Berengar, pembantu penjaga perpustakaan, menemukan kitab tersebut dan membujuk Adelmo untuk memuaskan syahwatnya sebagai bayaran atas kesempatan untuk mempelajari karya langka tersebut. Terdorong perasaan bersalah atas dosa perzinaannya, Adelmo bunuh diri dengan melompat dari atas tembok biara. Venantius dan Berengar juga telah membunuh diri mereka sendiri, dapat dikatakan demikian, karena Jorge telah membubuhkan racun pada lembaran-lembaran halaman kitab tersebut demi menjamin kelangsungan rahasianya. Ketika orang yang membaca menjilat jarinya agar lebih mudah membalik lembaran halaman yang agak lembab, ia terkena racunnya. Karena Berengar membawa kitab tersebut bersamanya ketika ia berlari ke pemandian di dekat herbarium untuk mencari ramuan penawar racunnya, Malachi, kaki-tangan Jorge, harus membunuh Severinus untuk memperoleh kembali kitab tersebut. Lantas, dikuasai rasa ingin tahunya, Malachi pun tewas di tangan lembaran-lembaran maut itu.
Meskipun William menemukan kitab tersebut dan dengan tepat menelusuri aksi-aksi pembunuhan yang melibatkan Jorge dan beberapa orang lainnya, kemenangannya hanyalah sementara. Ketimbang membiarkan orang lain membaca karya Aristoteles itu, Jorge menelan halaman-halaman beracun itu. Selanjutnya pergumulan terjadi di dalam perpustakaan, Jorge memukul jatuh lentera Adso, dan segenap biara tersebut akhirnya musnah tertelan api.