Ilmu Padi

May 7, 2006

7 Hari Kepergian Pramoedya Ananta Toer

Filed under: Buku

Mendambakan Pemimpin Muda

Minggu, 7 Mei 2006
Tujuh hari sudah sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer menghembuskan nafas terakhir dalam usia 81 tahun, tepatnya pada Minggu (30/4) lalu di rumahnya bilangan Utan Kayu, Jakarta Timur. Berita meninggalnya sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 ini, menjadi perhatian dunia, yang seakan ikut menangis kehilangan seorang calon nominasi penerima hadiah Nobel.

"Saya lihat di internet, hampir semua surat kabar terkemuka mancanegara menulis berita kepergian Pram. Antara lain, Washington Post, New York Times, dan kantor berita terkenal seperti AFP, AP, Reuter, termasuk BBC London juga mengulas karyanya," papar Eka Budianta, sastrawan yang sangat dekat dengan almarhum.

Sejak Pram dirawat di RS St Carolus hingga dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakata Pusat, sepertinya pers Indonesia, baik media cetak maupun elektronik tidak mau kebobolan berita tentang kepergian sastrawan kondang ini. Berbeda di zaman Orde Baru, nama Pramoedya merupakan alergi bagi pers nasional. Sebagai mantan tapol/napol yang pernah dipenjara di Pulau Buru, Pram dikenal aktif dalam organisasi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dalam buku "Mendengar Pramoedya" yang ditulis Eka Budianta dan diluncurkan pada HUT ke-80 Pram, 6 Februari 2005 lalu, Eka mengungkapkan, seorang karyawan universitas di Yogyakarta dihukum 8 tahun penjara ketika mengadakan diskusi tentang buku "Bumi Manusia" karya Pram. "Padahal seluruh dunia mengakui karya Pram yang telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa," ujar konsultan pembangunan dan kolumnis majalah Trubus itu.

Sebelum meninggal, Pram menulis dua pesan kepada Eka. Pertama, perhatikan materi geografi Tanah Air sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Kedua, adakan Kongres Pemuda agar muncul sosok pemuda yang siap tampil menjadi pemimpin. Anak muda, kata Pram, adalah mahkota setiap bangsa yang paling dicintai. Tak heran, banyak kalangan anak muda melayat dan hadir ke pemakaman Pram.

"Sekarang kita tunggu dengan berdebar-debar setelah Pram meninggal, apakah dukungannya itu surut atau makin maju. Kita tidak tahu sejak 2-3 tahun terakhir ini, banyak pendukung Pram yang sangat peduli pada kemanusiaan," ujar Eka yang rajin berdiskusi dengan almarhum.

Eka menilai, Pram adalah orang yang paling mencintai Indonesia secara tulus. Eka pernah bertanya: "Pram, apakah perlu kita memikirkan begitu serius tempat-tempat lain di luar yang kita ketahui."

Pram menjawab, "Papua, Aceh dan tempat-tempat lain, saya pikirkan senti demi senti."

Itulah sebabnya Pram bisa membuat Ensiklopedi Indonesia yang lengkap, dikerjakan sendiri. Namun kepergian Pram masih menyisakan tugas yang terbengkalai menulis Kamus Geografi Indonesia.

Semasa hayatnya, Pram menulis lebih dari 50 buku, dan sejumlah cerpen serta artikel lainnya. Salah satu karyanya yang tercatat sebagai novel besar adalah "Bumi Manusia", tetapi dilarang beredar. Menurut Eka, tidak ada satu pun novel di Indonesia dan Asia Tenggara yang bisa menandingi novel tersebut, khususnya dari segi isi dan penggalian informasi. Nyatanya, banyak di antara karya Pram, termasuk yang dilarang terbit, memperoleh penghargaan dari luar negeri. Di antaranya Ramon Magsaysay (19 Juli 1995). Namun ada yang protes, antara lain Mochtar Lubis (alm), penandatangan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang juga pernah penerima hadiah yang sama. (Manikebu lahir 17 Agustus 1963, kemudian dibubarkan oleh Presiden Soekarno lewat pengumuman di RRI, 18 Mei 1964).

Eka pernah bertanya kepada Mochtar Lubis atas penolakan itu. Jawab Mochtar, ia menyesalkan panitia tidak melihat masa lalu Pram yang pernah mengganyang orang-orang Manikebu.

Karya Inspiratif
Kritikus sastra HB Jassin memberi catatan pada novelet "Keluarga Gerilya" karya Pram dalam cetakan ke-3 (1952), bahwa buku ini adalah suatu analisa jiwa revolusi yang murni dan merupakan suatu dokumentasi manusia Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.

Ditegaskan Jassin, buku ini menggambarkan ketelitian observasi dan pengetahuan Pram mengenai kesejarahan, semangat zaman, keadaan di front, jalannya pertempuran, dan cara tentara Belanda melakukan hukuman mati terhadap pahlawan pejuang kita dan sebagainya. Disimpulkan Jassin, "Keluarga Gerilya" adalah suatu pustaka yang bernilai sastra.

Dalam buku "Apa dan Siapa" (disusun majalah "Tempo), dalam catatan tentang sosok HB Jassin, novel "Bumi Manusia" dinilai tidak mengandung hal-hal yang melanggar hukum. Pelarangan terhadap buku itu, menurut Jassin, lebih banyak karena ditulis oleh bekas tokoh Lekra. (Bersama 19 seniman lainnya, Jassin ikut menandatangani Manikebu).

Cerpenis kondang Hamsad Rangkuti (63 tahun) menilai, Pram adalah sastrawan besar Indonesia. Cerpen-cerpen dan novelnya sangat inspiratif hingga mampu memberikan inspirasi kepada pengarang. "Saya tidak melihat karyanya mengandung politik, walaupun orangnya politik. Karangannya bercerita tentang manusia," ujar Hamsad yang mengaku sudah membaca karya Pram sejak di bangku SMP.

Lain halnya cerpenis Gerson Poyk (75 tahun), salah seorang penandatangan Manikebu, justru mengingatkan perlunya berhati-hati atas tumbuhnya bibit-bibit berbahaya dalam novel Pram yang sepertinya menebarkan kebencian terhadap militer, kebencian terhadap orang kaya dan sebagainya. Ini dibuktikan dengan mengalunnya lagu "Internationale" yang dilantunkan anak-anak muda ketika pemakaman Pram. Terlepas dari itu, Gerson berpendapat bahwa dugaan ini masih perlu didiskusikan dan diteliti secara mendalam.

Sejak duduk di bangku SMP, Gerson sudah membaca karya Pram. Di antaranya yang cukup menarik perhatian Gerson adalah saat Pram mengusulkan supaya kapal angkatan laut membawa sastrawan keliling Indonesia untuk mengenal tanah airnya. "Saya sangat tertarik dan itulah sebabnya saya suka keliling Indonesia," ujar Gerson sambil tersenyum.

Dunia berduka karena kepergian Pram. Segores tinta emas pun telah digoreskan Pram di blantika sastra Indonesia. "Mengarang adalah tugas nasional bagi saya. Akibat dari pengalaman yang panjang, maka saya katakan, mengarang adalah profesi. Saya hidup dan mau karena mengarang dan saya konsekuen terhadap akibat yang saya peroleh," kata Pram dalam buku "Mendengar Pramoedya". Selamat jalan Pram! (Susianna)

April 11, 2006

Dibawah Lindungan Ka’bah 2

Filed under: Buku

Novel kedua Hamka (= Haji Abdul Malik Karim Amarullah) ini pertama kali diterbitkan Balai Pustaka (1983) hingga cetakan VI. Setelah cetakan VII sampai cetakan terakhir ini diterbitkan penerbit Bulan Bintang. "Dengan mengambil tempat bermainnya sebagian cerita di negeri Arab dan dengan memajukan falsafah keislaman, roman Di Bawah Lindungan Kabah ini menjadi suatu roman yang bercorak dan beraliran keislaman." Demikian pendapat H.B. Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei 1 (Gramedia, 1985; hlm. 46). Walaupun dalam soal kemurungan, Di Bawah Lindungan Kabah, masih terasa tak berbeda jauh dengan karya pertamanya, Dijemput Mamaknya (1930). Namun, dalam napas keislaman, DI Bawah Lindungan Kabah jauh lebih kuat dan bernas. Di samping itu, latar tempat kejadian di Mekah itu, ternyata juga sangat mendukung suasana murung dan kepedihan jiwa tokoh utamanya, Hamid.

Jika dibandingkan dengan cerpen panjang Al-Manfaluthi, Al-Yatim, novel Di Bawah Lindungan Kabah pun, tampak–sedikit-banyak– terpengaruh Pula oleh karya pengarang Mesir itu (lihat juga ulasan pada ringkasan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sungguhpun demikian, di dalamnya masih tampak jelas kritik Hamka terhadap adat perkawinan serta sikap para orang tua, yang mengaku islam, tetapi sebenarnya tidak berjiwa Islam.

Studi terhadap Di Bawah lindungan Kabah, antara lain, pernah dilakukan, Soebani (FS UGM, 1972), Hashim Lambak (FS unas, 1980), Ismail Bin Ibrahim (FS Unas, 1983), Mohd. Nasohah Haji Sanip (FS Uinas, 1978), Sabar Jakaria (FS Unas, 1973) yang semuanya merupakan penelitian skripsi sarjana muda. Adapun FX Djoko Sarwono (FS UGM, 1990) melihat struktur novel itu dengan novel Atheis dan Gairah untuk Hidup dan untuk Mati dalam skripsi sarjananya yang menggunakan pendekatan intertekstualitas.

Sumber : Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern, Grasindo, Jakarta

April 10, 2006

[Buku Sastra] Di bawah Lindungan Ka’bah

Filed under: Buku

Pengarang : Hamka
Penerbit : Bulan Bintang
Tahun : 1938; Cetakan XIII, 1978

Tanpa memberi tahu siapa pun, Hamid meninggalkan kampungnya menuju Siantar,
Medan. Kepergiannya kali ini bukan lagi untuk menuntut ilmu di sekolah, seperti yang ia lakukan beberapa tahun yang lalu. Hamid, ibarat orang sudah "jatuh tertimpa tangga pula". Setelah Haji Jafar, orang yang selama ini banyak menolongnya, berpulang ke Rahmatullah, tak lama kemudian ibu kandung yang dicintainya menyusul pula ke alam baka. Hamid kini tinggal sebatang kara. Ayahnya telah meninggal ketika ia berusia empat tahun. Dalam kemalangannya itu, mamak Asiah dan anaknya, Zainab, tetap menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Oleh karena itu, Mak Asiah begitu yakin terhadap Hamid untuk dapat membujuk Zainab agar mau dikawinkan dengan saudara dari pihak mendiang suaminya. Dengan berat hati, Hamid mengutarakan maksud itu walaupun yang sebenarnya, ia sangat mencintai Zainab. Namun, karena Zainab anak orang kaya di kampung itu, ia tak berani mengutarakan rasa cintanya itu.

Setibanya di Medan, Hamid sempat menulis surat kepada Zainab. Isi surat itu mengandung arti yang sangat dalam tentang perasaan hatinya. Namun, apa mau dikata, ibarat bumi dengan langit; rasanya tak mungkin keduanya dapat bersatu. Meninggalkan kampung halamannya berikut orang yang dicintainya adalah salah satu jalan terbaik. Begitu menurut pikiran Hamid.

Dari Medan, Hamid meneruskan perjalanan ke Singapura dan akhirnya sampailah ia di tanah suci, Mekah. Di Mekah ia tinggal pada seorang Syekh, yang pekerjaannya menyewakan tempat bagi orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji.

Telah setahun Hamid tinggal di kota suci itu. Pada musim Haji, banyaklah orang datang dari berbagai penjuru. Tanpa diduganya, teman sekampungnya, menyewa pula tempat Syekh itu. Orang yang baru datang itu bernama Saleh, suami Rosna, yang hendak menuntut ilmu agama di Mesir setelah ibadah haji selesai.

Dari pertemuan yang tak disangka-sangka itu, ternyata banyak sekali berita dari kampung halaman-terutama berita tentang Zainab yang sejak ditinggalkan Hamid dan tidak jadi dikawinkan dengan saudara ayahnya itu, kini senang dalam keadaan sakit-sakitan. Hamid sangat senang hatinya mendengar kabar itu, tetapi ia harus menyelesaikan ibadah hajinya yang tinggal beberapa hari. la bermaksud segera pulang ke kampung. Sementara itu Saleh, teman Hamid, segera mengirim surat kepada istrinya. Surat Saleh diterima istrinya yang segera pula memberitahukannya kepada Zainab. Alangkah senang hati Zainab mengetahui bahwa orang yang dicintainya ternyata masih ada. Namun, penyakit yang diderita Zainab makin hari makin parah. Dengan segala kekuatan tenaganya ia menulis surat untuk orang yang dikasihinya (hlm. 71).

Surat yang dikirim Zainab diterima Hamid. Namun, rupanya isi surat itu sangat mempengaruhinya. Dua hari setelah itu, bersamaan dengan keberangkatan para jemaah haji ke Arafah guna mengerjakan wukuf, kesehatan Hamid terganggu. Walaupun demikian, Hamid tetap menjalankan perintah suci itu.

Sekembalinya Hamid dari Arafah, suhu badannya semakin tinggi. Apalagi di Arafah, udaranya sangat panas. Hamid tak mau menyentuh makanan sehingga hadannya menjadi lemah. Pada saat yang sama, surat dari Rosna diterima Saleh yang menerangkan bahwa Zainab telah wafat. Kendati Hamid dalam keadaan lemah, ia mengetahui hahwa ada surat dari kampungnya. Firasatnya begitu kuat pada berita surat yang disembunyikan Saleh. Hamid menanyakan isi surat itu. Dengan berat hati Saleh menerangkan musibah kematian Zainab. "O, jadi Zainab telah dahulu dari kita?" tanyanya pula (hlm. 77).

Ketika akan berangkat ke Mina, Hamid tak sadarkan diri. Temannya, Saleh, terpaksa mengupah prang Badui untuk membawa Hamid ke Mina. Dari situ mereka menuju Masjidil Haram-kemudian mengelilingi Kabah sehanyak tujuh kali. Tepat di antara pintu Kabah dengan Batu Hitam, kedua prang Badui itu diminta berhenti. Hamid mengulurkan tangannya, memegang kiswah sambil memanjatkan dua yang panjang: "Ya Rabbi, Ya Tuhanku, Yang Maha Pengasih dan Penyayang!" Semakin lama suara Hamid semakin terdengar pelan. Sesaat kemudian, Hamid menutup matanya untuk selama-lamanya.

Sumber : Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern, Grasindo : Jakarta

March 27, 2006

Aku Musa, Engkau Fir’aun

Filed under: Catatan, Buku

Judul : Aku Musa Engkau Fir’aun (Aulad Haratina episode Jabal)
Pengarang : Najib Mahfouz
Penerbit : Tarawang
Cetakan : I, September 2000
Tebal : viii+192 halaman

Beli buku ini karena beberapa alasan. Yang pertama adalah karena pengarangnya yaitu Naguib (Najib) Mahfouz, merupakan salah satu penulis favoritku. Dan alasan yang kedua adalah karena tertarik dengan review pada sampul belakangnya, yang mengatakan bahwa novel ini sempat dilarang penerbitannya oleh Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir.

Novel ini akhirnya diterbitkan oleh Daarul-Adab di Beirut dan dalam setahun (yaitu pada tahun 1985) mengalami cetak ulang sebanyak lima kali. Aulad Haratina sempat dicekal karena jalinan ceritanya yang mirip dengan kisah para Nabi.

Aku musa, Engkau Fir’aun adalah episode ke dua dari Novel panjang Aulad Haratina. Aulad Haratina diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Philip Steward dengan judul The Children of Our Quarter pada tahun 1981. Ada 5 judul dalam novel panjang ini, yaitu Adham, Jabal, Irfah, Rifa’ah dan Qasim.

Meski tidak membaca kisah ini dari awal (Adham), tapi tidak terlalu susah mengikuti jalan ceritanya.

Membaca novel ini, mengingatkan aku pada kisah Nabi Musa. Sangat mirip. Dengan tokoh utama yang bernama Jabal, seorang pemuda dari suku Hamdan yang miskin dan terpinggir. Jabal diasuh oleh keluarga Al-Afandi yang kaya raya.

Meskipun hidup dalam kemewahan, tetapi Jabal tidak melupakan asal usulnya. Ia tidak tahan dengan perlakuan Al-Afandi yang sewenang-wenang terhadap Hamdan. Ia pun akhirnya meninggalkan rumah karena merasa batinnya terusik melihat Klan Hamdan "diinjak-injak" oleh Al-Afandi.

Jabal memutuskan tinggal bersama klan Hamdan. Tetapi suatu hari, secara tidak sengaja Jabal membunuh orang karena ingin menyelamatkan seorang pemuda. Atas persetujuan Hamdan, akhirnya Jabal pun pergi meninggalkan desa.

Jabal pun menggembara dan bertemu dengan Al-Balqity seorang pawang ular. Ia menikah dengan putri kedua Al-Balqity. Tetapi kenangan akan klan Hamdan yang tertindas membuat hati Jabal tidak tenang. Ia lalu memutuskan kembali ke desanya untuk menuntut keadilan.

Menurutku, novel ini sangat bagus. Terjemahannya pun enak dibaca. Sekarang jadi penasaran dengan kelanjutan kisah Aulad Haratina. Naguib Mahfouz memang pengarang yang top deh. Two thumbs for him.

March 24, 2006

Resume Belanja Buku Bulan Maret

Filed under: Catatan, Buku

Bulan Maret ini, Oryza "main" ke toko buku sebanyak 4 kali yaitu pada tanggal 2, 15, 16, dan 23 Maret. Berikut ini adalah daftar "dosa" (buku yang dibeli) itu

  • The Amber Room
  • The Crystal Garden
  • Norwegian Wood
  • Liu Hulan
  • Mechanical Cat
  • Kantor Detektif Wanita no. 1
  •  Lajja
  • Jatuhnya sang Imam
  • Aku Musa Engkau Firaun
  • Harafisy
  • Pilar
  • Jeritan Lirih
  • Fateless
  • Mandy (Misteri bunga Magnolia)
  • Kisah Klan Otori 1
  • Kisah Klan Otori 2
  • Dyah Pitaloka
  • Narnia 1
  • Narnia 2
  • Narnia 3
  • Narnia 4
  • Narnia 5
  • Narnia 6
  • Narnia 7
  • The Lone Samurai
  • The Zahir
  • Sang guru Piano
  • The life of Pi
  • Unfortunate event 6
  • Unfortunate event 7
  • Unfortunate event 8
Hah??? Kapan bacanya???

March 23, 2006

Belanja Buku Bulan Maret part 4

Filed under: Catatan, Buku

Duh…. lagi lagi deh…. ke toko buku lagi Berikut ini daftar belanja buku hari ini

  • Sang guru Piano
  • The life of Pi
  • Unfortunate event 6
  • Unfortunate event 7
  • Unfortunate event 8
Cuma 5 buku koq

March 20, 2006

Belanja Buku Bulan Maret part 3

Filed under: Catatan, Buku

Ini Sebenarnya daftar belanja bulan buku tanggal 16 Maret. Tapi baru dipost sekarang. Ini dia daftarnya

  • Dyah Pitaloka
  • Narnia 1
  • Narnia 2
  • Narnia 3
  • Narnia 4
  • Narnia 5
  • Narnia 6
  • Narnia 7
  • The Lone Samurai
  • The Zahir
Yah nambah lagi deh… kapan bacanya???????????????

March 19, 2006

Komik-komik Lama

Filed under: Catatan, Buku

Tadi siang iseng-iseng bongkar gudang dan menemukan beberapa komik (manga) lama yang lolos dari tukang loak Berikut ini daftar komik yang aku temukan di gudang

  • Bidadari Merah 2, 3, 4
  • Bayang-bayang jingga 1, 2
  • Sejuta Pelangi 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9, 10
  • Silver Toe shoes 1, 2, 3
  • School 1, 2
  • Doraemon 10
  • Gold Fish 1, 2, 3, 4, 5
  • Miracle Girls 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
  • Little New York 1, 2
  • Sabbath Cafe 1, 2
  • Pop Corn 2, 3, 5, 6, 7, 11, 12
  • Pepermint Age 6
  • Asari Chan 3, 4, 5
  • Pank Ponk 4
  • Dragon Ball 22
  • Chystal Dragon 1, 2, 3, 5, 6, 7
  • Candy-candy 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9
  • Rai Thunder Jet
  • Ranma 1/2 (belum didata serinya)
  • —- Dan lain2 (nanti didata dulu deh) —-
Ternyata masih banyak ya komikku. Hihihihi…..

March 18, 2006

Belanja Buku Maret lagi

Filed under: Catatan, Buku

Dari pada Blog ngga diisi. hihihihi… Sebenarnya belanja bukunya pada tanggal 2 Maret 2006. Berikut ini daftar bukunya

  • Fateless
  • Mandy (Misteri bunga Magnolia)
  • Kisah Klan Otori 1
  • Kisah Klan Otori 2
Hehehehe… kapan bacanya ya. Nambah daftar dosa aja

 

March 15, 2006

Belanja Buku Bulan Maret

Filed under: Catatan, Buku

Tadi siang belanja buku di TogaMas DTC. Berikut ini adalah daftarnya

  • The Amber Room
  • The Crystal Garden
  • Norwegian Wood
  • Liu Hulan
  • Mechanical Cat
  • Kantor Detektif Wanita no. 1
  •  Lajja
  • Jatuhnya sang Imam
  • Aku Musa Engkau Firaun
  • Harafisy
  • Pilar
  • Jeritan Lirih
Huaa…. buanyakkkk…. kapan bacanya ya

Previous<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main