Ilmu Padi

June 29, 2006

Bibi Hayati, Sufi dari Iran

Filed under: Kisah Inspiratif

Ibu RT yang Sufi

Sejak gadis Bibi Hayati lebih mencintai ketenangan, apalagi ketika diperkenalkan dengan sorang sufi oleh kakaknya. Pada akhirnya ia menikah dengan guru sufinya. Perkawinan guru dan murid inilah yang kemudian melahirkan generasi sufi.

KEGEMARANNYA akan tarekat semakin menjadi-jadi setelah Rawnaq memperkenalkan kepada guru sufi (mursyid) Nur Ali Syah dari Tarekat Nikmatullah. Bila dibanding dengan gadis seusianya, Hayati lebih mencintai ketenangan dan kesunyian untuk menemukan momen-momen kontemplatif yang dicarinya.

Rupanya ada cahaya spiritual yang muncul dari Nur Ali Syah, yang membuat perubahan pada diri Hayati. Rentetan kegiatan sampai kepada baiat untuk masuk dalam Tarekat Nikmatullah.

Kisah sufi Bibi Hayati, si pemuja cinta hidup dari awal abad 19 sampai pertengahannya. Ia lahir dari keluarga bangsawan di Kota Bam, Provinsi Kerman, Persia Tenggara (kini Iran). Sejak kecil Bibi Hayati diasuh oleh saudara laki-lakinya Rawnaq Ali Syah. Berkat Rawnaq, Bibi Hayati menjadi gadis kecil yang cemerlang. Bakat seni terutama sastra/puisi sudah tampak. Karena keluarganya juga tertarik soal kesufian, maka masalah tasawuf ini dikaitkan juga dengan sastra puisi.

Hubungan murid dan mursyid akhirnya memancarkan daya tarik sebagai insan manusia. Sang guru ataupun sang murid saling tertarik dan melesatlah panah asmara dan jatuh dalam buaian cinta manusiawi. Nur Ali Syah akhirnya meminang Hayati. Justru pernikahan ini menjadikan banyak inspirasi baik sebagai seorang penyair, maupun sebagai seorang sufi. Buah cinta ini membuahkan anak yang diberi nama Tuti.

SYAIR SUFI
Sebagai seorang ibu ia harus praktis untuk mengatur sebuah rumah tangga. Inilah ciri khas Bibi Hayati yang ditawarkannya artinya harus seimbang, harmonis, dunia yang adil bagi alam spiritual dan kemanusiaan. Dunia laki-laki adalah dunia keberanian. Keterlibatan Hayati dalam Tarekat Nikmatullah ya karena suaminya itu. la ikut menata organisasi apalagi ia seorang wanita yang cakap.

Organisasi berjalan baik dan wacana yang baik masuk. Lewat kemampuannya berekspresi dan berapresiasi secara puistis, Hayati memberikan ruang-ruang perenungan teman, dan anggota tarekat untuk lebih mengenal cinta yang utuh. Sebuah cinta yang hadir dari kesadaran untuk mencari kesempurnaan.

Suaminya sendiri kemudian melihat keterlibatan terlalu jauh di tarekat akan mengganggu kreativitas puisi-puisi (syair-syairnya). Syair sufi yang meletup-letup akan sia-sia jika tidak dicatat dalam memoar. Nur Ali menganjurkan agar Hayati menjadi pengarang saja sehingga syair yang dihasilkan utuh dan serpihan yang hilang itu bisa terkumpul.

Untung saja Hayati mendengarkan saran Nur Ali sehingga banyak diwan-diwan (ontologi-kumpulan puisi) yang tercipta.

Kata-kata Hayati tentang suaminya, “Suatu saat raja makrifat itu, sang pembimbing dalam ranah dan jiwa, berucap dengan bibirnya yang berhias permata, di tengah-tengah percakapan kami dan mengatakan, “Jika engkau mesti menghiasi dirimu, engkau harus menjadi penyelam di lautan retorika, memecahkan bait-bait tiram yang berisi mutiara di dalamnya, sampai kau bungkus dirimu dengan jubah berhiaskan mutiara.”

GENERASI SUFI
Diwan yang diciptanya jika dikaji boleh dikatakan sempurna. Pengarangnya menguasai ilmu eksoterik dan esoterik (makrifat). Dia berpegang pada prinsip lahiriah agama, maupun prinsip makrifat di jalan sufi. Bahkan oleh beberapa pihak di kemudian hari watak, dan sifat-sifatnya yang paling cocok menjadi pasangan hidup sang wali quthub.

Dalam mendidik anaknya, rupanya sastra dan sufi masih kental diterapkannya. Anak perempuannya memiliki watak peka seperti ibunya namun juga tegas seperti ayahnya. Namun karena kedekatannya dengan ibunya, maka syair-syair sufi mampu pula dicipta oleh Tuti. Bahkan, karya anak Hayati ini mampu mengungkapkan mistik yang pelik.

Sang anak akhirnya menikah di tahun 1831 dengan Surkh Ali Syah, murid sang ayah. Pernikahan dengan pria asal Hamadan ini menghasilkan anak bernama Sayyid Reza, dan kelak menjadi syaikh dari tarekat Nikmatullah yang terkenal. Sayiid Reza (cucu Bibi Hayati) punya anak Muhammad Said Khusychasm, seorang syaikh yang terkenal di kalangan Nikmatullah. Jadi, Bibi Hayati melahirkan generasi sufi mulai dari anak, cucu dan buyutnya.

Demikianlah anak cucu Bibi Hayati itu lahir dan melengkapi Tarekat Nikmatullah. Dalam kesetiaan dan kedamaian cinta kasih, Bibi Hayati hadir melalui hari-harinya di sana. Hingga suatu saat di pertengahan tahun 1853, Allah SWT memanggilnya pulang keharibaan-Nya.

Kepergian Bibi Hayati menjadi berkah tersendiri bagi kalangan wanita. Apalagi pada awal tahun 1850-an pergerakan wanita di Iran tumbuh subur. Syair-syair Bibi Hayati pun bisa menjadi spirit, membahasakan realita kaumnya dalam kacamata kesufiannya.

Nurani 208 (16-22 Desember 2004)

June 22, 2006

Sya’wanah, Sufi Wanita dari Irak

Filed under: Kisah Inspiratif

Sebut Asma Allah, Langsung Menangis

Sya’wanah sufi wanita ini, hidupnya lebih suka menangis daripada tersenyum. Bahkan, jika disebutkan ada orang menyebut asma Allah, Ia juga memerintahkan jamaah pengajian untuk menangis. Dengan menangis orang itu telah banyak dosa.

KARENA seringnya menangis, seorang sobatnya, Muaz bin Fadhl mengira akan buta. Namun sufi ini membantahnya dan tidak akan buta karena menangis. Atas ucapan temannya itu ia mengucapan, “Demi Allah, lebih baik bagiku menjadi buta di dunia ini karena air mataku daripada buta di akhirat karena api neraka,” kata Sya’wana.

Sya’wanah, seorang sufi wanita yang lahir di Ubullah, tepi Sungai Tigris (kini Irak). Sufi wanita ini punya ciri khas, yakni sepanjang hari menangis. la pernah berucap bahwa tidaklah layak bagi mata yang tercegah dari melihat kekasihnya (Allah) serta sangat ingin melihat-Nya untuk tidak menangis.

Sedangkan menurut cerita Malik bin Zayqham. Ada seorang laki-laki dari Ubullah yang banyak tahu tentang Sya’wanah datang kepada Abu Katsir. Katanya, sufi wanita ini sepanjang hari menangis tanpa henti. Ketika Malik bertanya bagaimana Sya’wanah mulai menangis? Apa jawabnya, “Jika dia mendengar nama Allah disebut-sebut, maka air mata akan mengalir dari pelupuk matanya seperti hujan.”

Malik pun kurang puas soal air mata ini. “Apakah air matanya keluar terutama dari sudut matanya yang dekat hidung, ataukah dari sudut matanya yang dekat pelipis?”

“Air matanya begitu berlimpah hingga aku tidak bisa mengatakan dari mana ia keluar. Aku hanya bisa mengatakan bahwa manakala nama Allah disebut, maka matanya menjadi laksana bintang yang bersinar-sinar,” ujar lelaki tetangga
Sya’wanah itu.

Baik Malik maupun Abu Katsir ikut terharu atas cerita lelaki dari Ubullah itu.

“Tangisnya itu dikarenakan kenyataan bahwa seluruh hatinya terbakar. Orang-orang mengatakan bahwa banyaknya air mata orang yang menangis tergantung pada besarnya api yang membakar hatinya,” ujar Katsir.

AIR MATA DARAH
Hidupnya sederhana, bahkan tempatnya tinggalnya reyot. Hal ini menunjukkan kepapaan sebagai seorang sufi. Kesaksian bahwa Sya’wanah miskin dituturkan oleh Manbudh yang masih keponakannya. Kunjungan Manbud ini bersama temannya yang bernama Humam.

“Aku pergi dengan seorang teman ke Ubullah. Kami minta izin kepada Sya’wanah untuk bertamu kepadanya.”

Setelah menerima kami di gubuknya yang reyot, di dalamnya kelihatan kepapaan di mana-mana. Temanku berkata kepada Sya’wanah, “Wahai, kalau saja engkau mau berbelas kasihan kepada dirimu sendiri dan mengurangi tangisanmu, niscaya lama kelamaan keadaanmu akan lebih baik dan engkau akan memperoleh apa yang engkau harapkan,” ujar Manbudh.

Mendengar itu Sya’wanah menangis. Ia berkata, “Aku bersumpah demi Allah, aku ingin menangis sampai air mataku tak tersisa lagi. Setelah itu akan kucucurkan air mata darah sedemikian rupa hingga tak setetes pun lagi darah yang tinggal di dalam badanku.”

JAMAAH PENGAJIAN
Apa yang diceritakan orang tentang Sya’wanah adalah soal tangis menangis. Ruh bin Sa’mah bersaksi bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun menangis sebanyak Sya’wanah. Sebagai sufi ia sering memberikan pengajian kepada kaum wanita. Di dalam forum pengajian ini pun Sya’wanah menganjurkan jamaahnya yang hadir bisa menangis. Jika ada yang tidak bisa menangis hendaklah ia mengasihani orang-orang yang menangis. Alasanya karena barangsiapa menangis di forum pengajian itu, karena sadar betapa jauh hawa nafsunya telah menyimpang dan melakukan banyak dosa kepada Allah. Juga karena paham betapa hawa nafsunya itu telah menjadikannya seorang pelanggar aturan Allah.

Sedang berdasarakan pengalaman Hasan bin Yahya, bahwa Sya’wanah bila menangis akan merangsang orang-orang lain untuk menangis juga.

Meski memiliki kekerasan hati untuk menjauhi kehidupan duniawi, namun Sya’wanah tidak melupakan fitrahnya sebagai wanita. Suatu saat pula Allah menganugerahi seorang lelaki menjadi suaminya. Dari suaminya ini pula ia memperoleh anak lelaki. Setelah pernikahan dan punya anak, maka lengkap sudah hidup Sya’wanah, penuh keseimbanghan lahir batin.

Apalagi ia bersama suaminya sempat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. Ia ibarat wali wanita yang haus akan cinta Allah, bergelimang kesedihan dan air mata. Ada salah satu kalimat yang cukup menyayat bagi orang-orang yang jadi penghayat tasawuf yaitu, “Tuhanku, Engkau tahu bahwa orang yang haus akan cinta-Mu tak akan pernah terpuaskan.”

Bahkan salah satu muridnya yang setia menyatakan bahwa sejak dia bertemu dengan gurunya itu, maka berkat berkah wali perempuan yang kharismatik itu dia tak pernah lagi cenderung mencari kenikmatan dunia, dan tak pernah lagi dia meremehkan sesama muslim.

Nurani 207 (09-15 Desember 2004)

June 15, 2006

Syekh Sa’di Asy-Syirazi, Sufi dari Persia

Filed under: Kisah Inspiratif

Tundukkan Perampok dengan Puisi
Dengan puisi yang menyentuh kalbu, membuat seorang berandal tidak jadi merampok Syekh Sa’di Asy-Syirazi. Berkat puisinya pula seorang raja tidak jadi memurkai seorang petani.

SA’DI dikenal sebagai tokoh sufi yang suka berkelana. Saat ia melakukan perjalanan ke Saudi Arabia, ia berjumpa dengan seorang perampok. Ditatapnya perampok itu yang hendak memukul dan memaksanya untuk menyerahkan barang bawaannya.

Dengan santun ia melantunkan puisinya, “Sang singa tidak akan memakan sisa-sisa anjing. Sekalipun ia harus mati kelaparan di sarangnya. Biarlah tubuhmu menderita kelaparan. Janganlah merendah karena mengharap bantuan.”

Alangkah terkejutnya sang perampok. Ia pun balik bertanya, “Kenapa engkau tidak takut denganku?” Dengan tenang Sa’di menjawab, “Wahai tuan, tidakkah engkau bisa berbuat sesukamu kepadaku.” Seperti tersentuh jiwanya, sang perampok terdiam dan membiarkan Sa’di berlalu menyusuri padang pasir seraya bergumam, “Alangkah gagahnya orang itu, kenapa aku selalu membuat orang lain bergantung kepadaku,” kata sang perampok.

BERTEMU RAJA
Sa’di melanjutkan perjalanan hingga ke hutan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan rombongan Raja yang hendak berburu dengan pengawalnya. Sang Raja memerintahkan para pembesar istana agar menginap di sebuah gubuk petani. “Baginda, apakah engkau tidak takut kehilangan wibawa, jika menginap di tempat seperti ini?” sergah salah seorang pengawal. Sang raja pun terdiam sesaat lamanya.

Seorang petani pemilik gubuk itu berkata, “Baginda raja tidak akan kehilangan martabat. Justru aku-lah yang memperoleh kehormatan karena baginda sudi singgah di gubuk hamba.”

Rupanya Sa’di memperhatikan dialog hamba dan tuannya itu. Lalu ia berkata, “Sungguh engkau amat terpuji wahai sang raja jika menghormati petani ini.” Mendengar ucapan itu sang raja melotot, seolah tidak senang dengan ucapan Sa’di. Dengan kerdipan mata, dua orang pengawal raja mengacungkan senjatanya hendak meringkus Sa’di.

Mendapati bahaya di hadapannya, Sa’di justru berpuisi, “Wahai raja, tidakkah wibawa paduka luntur, jika tersinggung dengan hamba hina seperti aku. Mendengar penuturan itu, sang raja termenung dan meminta untuk tidak mengganggu Sa’di. Berkat ucapan Sa’di itulah, akhirnya sang raja tidak jadi memurkai si petani. Justru sebuah jubah kehormatan dianugerahkan kepadanya.

HAUS ILMU
Sa’di adalah sufi yang haus ilmu dan gigih dalam memperjuangkan akidahnya. Ia pernah belajar di perguruan tinggi di Baghdad. Ia mempunyai ikatan dengan para sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah, mempunyai hubungan dekat dengan Syekh Syahabuddin Suhrawardi, pendiri Tarekat Suhrawardiyah serta Najmuddin Kubra, Sang “Pilar Masa”, salah seorang sufi terbesar sepanjang masa.

Pengaruh Sa’di terhadap kesusastraan Eropa diakui sangat besar. Tulisan-tulisannya merupakan salah satu acuan dasar bagi Gesta Romanorum, buku induk berbagai legenda dan alegori di Barat. Para sarjana (Barat) telah mencatat pengaruh-pengaruh Sa’di dalam kesustraan, seperti dalam sastra Jerman.

Penerjemahan karya-karyanya kali pertama ditemukan di Barat pada abad ke-17. Akan tetapi, seperti kebanyakan karya sufi lainnya, maksud yang terkandung dalam karya Sa’di hampir tidak dipahami sama sekali oleh para pengkaji sastra.

Ajaran kesufian Sa’di lebih banyak terukir dalam sajak-sajak sastra, seperti dongeng-dongeng berisi nasihat, syair, dan analogi-analogi sufi.

Pada tatanan masyarakat, semua tulisan Sa’di merupakan suatu kontribusi yang besar terhadap pemantapan etika. Namun, di antara para pengulas sastra Barat, hanya Profesor Codrington yang memahaminya lebih dalam.

Salah satu buah pemikiran sufinya adalah ketika ia menguraikan kedalaman makna pengetahuan batiniah (esoteris). Menurutnya, dimensi kedalaman hati ini tidak dapat dipahami seperti menyantap hidangan di atas piring.

Demikian pula tentang ketekunan dalam menjalankan hidup bertapa secara berlebih-lebihan. Kali pertama seorang calon murid harus dijelaskan tentang fungsi kehidupan mengasingkan diri yang sebenarnya. Kebutuhan mengasingkan diri dari dunia hanya berlaku dalam keadaan-keadaan tertentu.

Para pertapa, padang pasir atau gunung-gunung adalah tempat-tempat yang harus digunakan para sufi dalam menghabiskan seluruh hidupnya. Mereka sebenarnya tidak bisa melihat seutas benang dalam hamparan karpet. “Aku menghadap meja (makan), karena sudah begitu lapar,” begitu kata Sa’di melukiskan kesederhanaan keinginan jasmani dan keluhuran budi.

Sumber : Nurani 206 (02-08 Desember 2004)

June 8, 2006

Uais Al-Qarni, Sufi dari Yaman

Filed under: Kisah Inspiratif

Bikin Penasaran Khalifah Ali dan Umar

Rasulullah SAW berpesan kepada sahabatnya Ali dan Umar untuk meminta doa kepada Uais Al-Qarni sehingga keduanya penasaran untuk mencari Uais. Mengapa demikian? Karena pada hari kebangkitan nanti Uais akan memberikan syafaat kepada sejumlah manusia.

Sebelum wafat Nabi Muhammad SAW berpesan kepada kedua sahabatnya, Ali dan Umar untuk mencari dan meminta doa kepada Uais Al-Qarni. Pesan Nabi SAW itu kelak pada hari kebangkitan nanti Uais akan memberikan syafaat kepada sejumlah manusia sebanyak domba Rabi’ah dan Mudhar.

Sejak itulah kedua sahabat Nabi ini dalam setiap kesempatan selalu berusaha mencari Uais Al-Qarni. Nampaknya, untuk mencari Uais sulitnya bukan main, bahkan Ali dan Umar mencarinya di banyak negara Islam yang tersebar di jazirah Arab. Kedua sahabat ini tidak mengenal lelah.

Bahkan sampai saat kematian Khalifah Abu Bakar dan diteruskan ke Khalifah Umar sebagai Amirul Mukminin, kedua sahabat ini masih belum menemukan sosok yang dimaksud oleh Nabi tersebut. Padahal Nabi sudah memberikan ciri-ciri Uais. Orangnya berperawakan sedang, rambutnya lebat, dan ada tanda putih pada bahu kiri dan telapak tangannnya.

Pada suatu hari Umar dan Ali menemui rombongan haji dari Yaman. Dari rombongan haji tersebut Umar dan Ali mendapatkan informasi bahwa Uais Al-Qarni tinggal seorang diri di padang pasir. Ia hidup sendirian bahkan ia dianggap gila. Keduanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan sosok manusia istimewa itu. Memang benar, Uais tinggal di tempat terpecil di desa sunyi. Di sanalah Umar dan Ali dapat bertemu dengan orang yang dicarinya.

NASIHAT UAIS
Setelah bertemu dengan Uais, Umar tidak sabar langsung ingin mengetahui tentang siapa sebenarnya Uais ini. Uais mempersilakan Umar dan Ali memeriksa badannya. Ternyata tanda putih di bahu kiri dan telapak tangan orang ini persis seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah. Kemudian Umar berkata, “Kami berdua berkesimpulan Anda adalah Uais, berikan pelajaran dan doakan kami!” pinta Umar.

“Saya tidak pernah mendoakan khusus kepada seseorang, tetapi mendoakan kepada seluruh kaum muslimin. Siapakah Anda berdua?” balik tanya Uais.

“Beliau adalah Umar bin Khattab Amiril Mukminin dan aku adalah Ali bin Abi Thalib,” kata Ali sembari menunjuk Umar.

“Ajarilah kami wahai hamba Allah!” pinta Umar.

“Carilah rahmat-Nya dengan taat dan mengikuti dengan penuh harap dan takut kepada-Nya,” jawab Uais.

“Terima kasih atas pelajaran yang amat berharga ini. Kami telah menyediakan seperangkat pakaian dan uang untuk Anda. Kami harap Anda menerima,” kata Umar sambil menyodorkan hadiah yang dibawanya.

“Terima kasih Amiril Mukminin, saya tidak menolak, tetapi tidak membutuhkan hadiah itu. Upah saya sebagai penggembala kambing hanya empat dirham, dan itu saja sudah berkelebihan. Hingga sisanya kuserahkan kepada ibuku,” tolak Uais dengan penuh kesopanan.’

MEMBELA KEBENARAN
Ia juga seorang tokoh sufi besar pada zaman tabi’in, sebagai zahid ia sangat sederhana, taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya serta orangtuanya. Di siang hari ia bekerja, dan mulut serta hatinya selalu penuh dengan zikir, pada malam hari diisinya dengan salat.

Ia memang tak pernah bertemu dengan Rasulullah, namun rohaninya selalu berhubungan. Sehingga, Rasulullah berwasiat kepada Umar dan Ali agar meminta doa Uais. la selalu dalam keadaan lapar dan hanya mempunyai pakaian yang melekat di badannya. Dalam keadaan seperti itu, ia terus berdoa. “Ya Allah janganlah Engkau siksa aku karena ada yang mati kelaparan dan janganlah Engkau siksa aku karena ada yang mati kedinginan”.

Dirinya selalu bersama Allah dan orang yang lemah. la bisa merasakan bagimana derita orang-orang lemah, dan membuat dirinya seperti mereka sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah. Berita tentang kedudukan Uais yang istimewa di mata Rasulullah langsung segera menyebar di berbagai negara Islam sehingga orang-orang Yaman memuliakannya.

Dalam perjalanan hidupnya. Uais Al-Qarni tidak hanya menyendiri dan mengasingkan diri dari manusia. Ketika perang Shiffin ia berada di garis depan dengan Ali bin Abi Thalib membela kebenaran. Tatkala kaum muslimin membuka daerah-daerah Romawi, ia ikut memperkuat barisan Islam. Namun, dalam perjalanan ia terserang penyakit dan meninggal pada 39 H.

Sumber : Nurani 205 (25 November-01 Desember 2004)

May 30, 2006

Gila

Filed under: Kisah Inspiratif

Betapa indah dan manis
Di telinga kalbuku
Engkau seorang pencinta?
Berlakulah gila, gila!

Ingin bersatu dengan-Nya
Asingkanlah egomu
Jika engkau memang setia
Cinta dan tulus kepada-Nya

Bakarlah egomu
Terbanglah ke api cinta
Laksana seekor laron
Wahai kalbu, jangan gila

(Putri Zubaydah)

May 29, 2006

Ruh

Filed under: Kisah Inspiratif

Ruh-ruh manusia
Bagaikan tentara
Diatur dalam barisan
Mereka saling mengenal

Jika di dunia kenal
Di akhirat menjadi teman
Jika di dunia tak kenal
Mereka saling ingkar

Di surga Aden
atau di surga dunia
Ruh-ruh itu mencari
Kiblat pusat hati

(Ibnu Zayd)

May 28, 2006

Syekh Sa’di Asy-Syirazi, Sufi dari Persia

Filed under: Kisah Inspiratif

Dengan puisi yang menyentuh kalbu, membuat seorang berandal tidak jadi merampok Syekh Sa’di Asy-Syirazi. Berkat puisinya pula seorang raja tidak jadi memurkai seorang petani.

Tundukkan Perampok dengan Puisi
SA’DI dikenal sebagai tokoh sufi yang suka berkelana. Saat ia melakukan perjalanan ke Saudi Arabia, ia berjumpa dengan seorang perampok. Ditatapnya perampok itu yang hendak memukul dan memaksanya untuk menyerahkan barang bawaannya.

Dengan santun ia melantunkan puisinya, "Sang singa tidak akan memakan sisa-sisa anjing. Sekalipun ia harus mati kelaparan di sarangnya biarlah tubuhmu menderita kelaparan. Janganlah merendah karena mengharap bantuan."

Alangkah terkejutnya sang perampok. la pun balik bertanya, "Kenapa engkau tidak takut denganku?" Dengan tenang Sa’di menjawab, "Wahai tuan, tidakkah engkau bisa berbuat sesukamu kepadaku." Seperti tersentuh jiwanya, sang perampok terdiam dan membiarkan Sa’di berlalu menyusuri padang pasir seraya bergumam, "Alangkah gagahnya orang itu, kenapa aku selalu membuat orang lain bergantung kepadaku," kata sang perampok.

BERTEMU RAJA
Sa’di melanjutkan perjalanan hingga ke hutan. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan rombongan Raja yang hendak berburu dengan pengawalnya. Sang Raja memerintahkan para pembesar istana agar menginap di sebuah gubuk petani. "Baginda, apakah engkau tidak takut kehilangan wibawa, jika menginap di tempat seperti ini?" sergah salah seorang pengawal. Sang raja pun terdiam sesaat lamanya.

Seorang petani pemilik gubuk itu berkata, "Baginda raja tidak akan kehilangan martabat. Justru aku-lah yang memperoleh kehormatan karena baginda sudi singgah di gubuk hamba."

Rupanya Sa’di memperhatikan dialog hamba dan tuannya itu. Lalu ia berkata, "Sungguh engkau amat terpuji wahai sang raja jika menghormati petani ini." Mendengar ucapan itu sang raja melotot, seolah tidak senang dengan ucapan Sa’di. Dengan kerdipan mata, dua orang pengawal raja mengacungkan senjatanya hendak meringkus Sa’di.

Mendapati bahaya di hadapannya, Sa’di justru berpuisi, "Wahai raja, tidakkah wibawa paduka luntur, jika tersinggung dengan hamba hina seperti aku. Mendengar penuturan itu, sang raja termenung dan meminta untuk tidak mengganggu Sa’di. Berkat ucapan Sa’di itulah, akhirnya sang raja tidak jadi memurkai si petani. Justru sebuah jubah kehormatan dianugerahkan kepadanya.

HAUS ILMU
Sa’di adalah sufi yang haus ilmu dan gigih dalam memperjuangkan akidahnya. la pernah belajar di perguruan tinggi di Baghdad. la mempunyai ikatan dengan para sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah, mempunyai hubungan dekat dengan Syekh Syahabuddin Suhrawardi, pendiri Tarekat Suhrawardiyah serta Najmuddin Kubra, Sang "Pilar Masa", salah seorang sufi terbesar sepanjang masa.

Pengaruh sa’di terhadap kesusastraan Eropa diakui sangat besar. Tulisan-tulisannya merupakan salah satu acuan dasar bagi Gesta Romanorum, buku induk berbagai legenda dan alegori di Barat. Para sarjana (Barat) telah mencatat pengaruh-pengaruh Sa’di dalam kesusastraan, seperti dalam sastra Jerman.

Penerjemahan karya-karyanya kali pertama ditemukan di Barat pada abad ke-17. Akan tetapi, seperti kebanyakan karya sufi lainnya, maksud yang terkandung dalam karya Sa’di hampir tidak dipahami sama sekali oleh para pengkaji sastra.

Ajaran kesufian Sa’di lebih banyak terukir dalam sajak-sajak sastra, seperti dongeng-dongeng berisi nasihat, syair, dan analogi-analogi sufi.

Pada tatanan masyarakat, semua tulisan Sa’di merupakan suatu kontribusi yang besar terhadap pemantapan etika. Namun, di antara para pengulas sastra Barat, hanya Profesor Codrington yang memahaminya lebih dalam.

Salah satu buah pemikiran sufinya adalah ketika ia menguraikan kedalaman makna pengetahuan batiniah (esoteris). Menurutnya, dimensi kedalaman hati ini tidak dapat dipahami seperti menyantap hidangan di atas piring.

Demikian pula tentang ketekunan dalam menjalankan hidup bertapa secara berlebih-lebihan. Kali pertama seorang calon murid harus dijelaskan tentang fungsi kehidupan mengasingkan diri yang sebenarnya. Kebutuhan mengasingkan diri dari dunia hanya berlaku dalam keadaan-keadaan tertentu.

Para pertapa, padang pasir atau gunung-gunung adalah tempat-tempat yang harus digunakan para sufi dalam menghabiskan seluruh hidupnya. Mereka sebenarnya tidak bisa melihat. seutas benang dalam hamparan karpet. "Aku menghadap meja (makan), karena sudah begitu lapar," begitu kata Sa’di melukiskan kesederhanaan keinginan jasmani dan keluhuran budi.

Sumber : Nurani 206, 02-08 Desember 2004

 

May 27, 2006

Sya’wanah, Sufi Wanita dari Irak

Filed under: Kisah Inspiratif

Sya’wanah sufi wanita ini, hidupnya lebih suka menangis dari pada tersenyum. Bahkan, jika disebutkan ada orang menyebut asma Allah. la juga memerintahkan jamaah pengajian untuk menangis. Dengan menangis orang itu telah banyak dosa.

Sebut Asma Allah, Langsung Menangis
KARENA seringnya menangis, seorang sobatnya, Muaz bin Fadhl mengira akan buta. Namun sufi ini membantahnya dan tidak akan buta karena menangis. Atas ucapan temannya itu ia mengucapan, "Demi Allah, lebih baik bagiku menjadi buta di dunia ini karena air mataku daripada buta di akhirat karena api neraka," kata Sya’wana.

Sya’wanah, seorang sufi wanita yang lahir di Ubullah, tepi Sungai Tigris (kini Irak). Sufi wanita ini punya ciri khas, yakni sepanjang hari menangis. la pernah berucap bahwa tidaklah layak bagi mata yang tercegah dari melihat kekasihnya (Allah) serta sangat ingin melihatNya untuk tidak menangis.

Sedangkan menurut cerita Malik bin Zayqham. Ada seorang laki-laki dari Ubullah yang banyak tahu tentang Sya’wanah datang kepada Abu Katsir. Katanya, sufi wanita ini sepanjang hari menangis tanpa henti. Ketika Malik bertanya bagaimana Sya’wanah mulai menangis? Apa jawabnya, "Jika dia mendengar nama Allah disebut-sebut, maka air mata akan mengalir dari pelupuk matanya seperti hujan."

Malik pun kurang puas soal air mata ini. "Apakah air matanya keluar terutama dari sudut matanya yang dekat hidung, ataukah dari sudut matanya yang dekat pelipis?"

"Air matanya begitu berlimpah hingga aku tidak bisa mengatakan dari mana is keluar. Aku hanya bisa mengatakan bahwa manakala nama Allah disebut, maka matanya menjadi laksana bintang yang bersinar-sinar," ujar lelaki tetangga Sya’wanah itu.

Baik Malik maupun Abu Katsir ikut terharu atas cerita lelaki dari Ubullah itu. "Tangisnya itu dikarenakan kenyataan bahwa seluruh hatinya terbakar. Orang-orang mengatakan bahwa banyaknya air mata orang yang menangis tergantung pada besarnya api yang membakar hatinya," ujar Katsir.

AIR MATA DARAH
Hidupnya sederhana, bahkan tempatnya tinggalnya reyot. Hal ini menunjukkan kepapaan sebagai seorang sufi. Kesaksian bahwa Sya’wanah miskin dituturkan oleh Manbudh yang masih keponakannya. Kunjungan Manbud ini bersama temannya yang bernama Humam.

"Aku pergi dengan seorang teman ke Ubullah. Kami minta izin kepada Sya’wanah untuk bertamu kepadanya."

Setelah menerima kami di gubuknya yang reyot, di dalamnya kelihatan kepapaan di mana-mana. Temanku berkata kepada Sya’wanah, "Wahai, kalau saja engkau mau berbelas kasihan kepada dirimu sendiri dan mengurangi tangisanmu, niscaya lama kelamaan keadaanmu akan lebih baik dan engkau akan memperoleh apa yang engkau harapkan," ujar Manbudh.

Mendengar itu Sya’wanah menangis. la berkata, "Aku bersumpah demi Allah, aku ingin menangis sampai air mataku tak tersisa lagi. Setelah itu akan kucucurkan air mata darah sedemikian rupa hingga tak setetes pun lagi darah yang tinggal di dalam badanku."

JAMAAH PENGAJIAN
Apa yang diceritakan orang tentang Sya’wanah adalah soal tangis menangis. Ruh bin Sa’mah bersaksi bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun menangis sebanyak Sya’wanah. Sebagai sufi ia sering memberikan pengajian kepada kaum wanita. Di dalam forum pengajian ini pun Sya’wanah menganjurkan jamaahnya yang hadir bisa menangis. Jika ada yang tidak bisa menangis hendaklah ia mengasihani orang-orang yang menangis. Alasannya karena barangsiapa menangis di forum pengajian itu, karena sadar betapa jauh hawa nafsunya telah menyimpang dan melakukan banyak dosa kepada Allah. Juga karena paham betapa hawa nafsunya itu telah menjadikannya seorang pelanggar aturan Allah.

Sedang berdasarkan pengalaman Hasan bin Yahya, bahwa Sya’wanah bila menangis akan merangsang orang-orang lain untuk menangis juga.

Meski memiliki kekerasan hati uhtuk menjauhi kehidupan duniawi, namun Sya’wanah tidak melupakan fitrahnya sebagai wanita. Suatu saat pula Allah menganugerahi seorang lelaki menjadi suaminya. Dari suaminya ini pula ia memperoleh anak lelaki. Setelah pernikahan dan punya anak, maka lengkap sudah hidup Sya’wanah, penuh keseimbanghan lahir batin.

Apalagi ia bersama suaminya sempat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. la ibarat wali wanita yang haus akan cinta Allah, bergelimang kesedihan dan air mata. Ada salah satu kalimat yang cukup menyayat bagi orangorang yang jadi penghayat tasawuf yaitu, "Tuhanku, Engkau tahu bahwa orang yang haus akan cinta-Mu tak akan pernah terpuaskan."

Bahkan salah satu muridnya yang setia menyatakan bahwa sejak dia bertemu dengan gurunya itu, maka berkat berkah wali perempuan yang kharismatik itu dia tak pernah lagi cenderung mencari kenikmatan dunia, dan tak pernah lagi dia meremehkan sesama muslim.

Sumber : Nurani 207, 09-15 Desember 2004

 

May 25, 2006

Muadzah, Sufi Wanita dari Irak

Filed under: Kisah Inspiratif

Setelah suami dan anaknya meninggal dunia di medan perang, Muadzah tidak bersedih. Tetapi ia bersedih jika pada malam harinya tidak bisa menjalankan salat malam hingga fajar menyingsing. Karena ia menginginkan surga.

Malu bila Tidak Salat Malam
SEBAGAI Sufi di zaman Irak (Abbasiyah), maka Muadzah juga melakukan kegiatan seperti puasa di siang hari, salat malam, berzikir, dan mengurangi tidur malam. Ketika anak lelakinya beranjak dewasa, maka sang anak meminta izin untuk berangkat berperang melawan kekufuran. Sang ayah tidak tega, sekalian berjihad untuk mengiringi anaknya ke medan laga. Namun, keluarga Muadzah ini tidak beruntung. Kedua-duanya (anak dan suami) Muadzah gugur dalam peperangan.

Sufi wanita Muadzah nama aslinya Ummu ash-Shahbah. la putri ulama Abdullah al-Adawi dari kota Basrah, Irak Selatan. Tidak sebagaimana sufi wanita lainnya, Muadzah berkeluarga dan punya anak laki-laki. Bahkan, sufi ini menganggap pernikahan adalah puncak kehidupan yang akan membawa manusia bahagia. "Dengan menikah seseorang telah menjalankan salah satu sunah Rasulullah SAW," jelasnya.

Selama suami dan anaknya maju ke medan laga, Muadzah selalu berdoa tak pernah berhenti, baik ketika menjalankan salat wajib, ataupun ketika menjalankan salat sunah. "Ya Allah, selamatkanlah suami dan anaknya," pintahnya.

Namun, Allah menghendaki lain. Kedua orang kesayangan itu malah meninggal dunia di medan peperangan. Awal cerita meninggalnya suami dan anak Muadzah, adalah dua hari setelah pertempuran antara umat Islam dengan nonmuslim, suami dan anak Muadzah terbunuh. Tak lama kemudian seorang sahabat membawa berita sedih ke Muadzah."

Suami dan anakmu telah sahid. Mudah-mudahan kamu tidak bersedih," kata pria yang berjubah putih yang barusan turun dari kuda itu.

Kabar Sedih
Mendapat kabar yang begitu menyedihkan ini membuat Muadzah tetap tabah. "Terima kasih atas kabar ini. Semoga Allah menerima suami dan anakku sebagai sahid," jawabnya. Berita kematian keluarga sufi ini menyebar ke seluruh pelosok. Para wanita pun berduyun-duyun mendatangi dan menghibur Muadzah. Namun, Muadzah bukanlah wanita yang mengurung diri dengan kesedihan. Dengan tabah dan tawakal ia berujar kepada wanita-wanita itu." Selamat datang, jika kalian datang untuk menghiburku dan apabila hanya untuk tujuan lainnya, maka pergilah sebagaimana kalian datang tadi."

Betapa malunya wanita-wanita itu, ternyata Muadzah sangat lapang jiwanya untuk melepas kepergian orang-orang yang dikasihinya. Sejak kepergian orang yang dicintainya itu, Muadzah menjalani hidupnya dengan rasa malu pada diri sendiri. Keberanian anak dan suaminya melecut jiwanya bahwa ia belum sempurna sebagai manusia di mata Allah. Sikap ini membuatnya semakin merenung, menyendiri dan semakin intensif menjaga malam-malamnya agar tidak terlelap tidur. Sedangkan pada pagi hingga sore harinya ia jalani dengan berpuasa.

Kegiatan tersebut dilakukan oleh Muadzah hingga selama 40 tahun. Sejak peristiwa meninggal suami dan anaknya, ia tidak pernah mendongakkan kepala ke atas langit. Dalam diamnya, ia menekur pandangan matanya ke bawah ke dalam jiwa yang paling dalam, dan tiada henti-hentinya menyebut asma Allah. Sampai-sampai rakyat Basrah menjulukinya sebagai wanita yang tak pernah merebahkan kepalanya, kecuali waktu yang menuntaskannya yakni kematian.

Salat Malam
Wanita ini semakin menaruh perhatian pada bangun di malam hari, menyendiri, berpuasa, dan berzikir. Dalam usianya yang semakin uzur dari hari ke hari semakin menarik diri dari kehidupan dunia, dan memilih kehidupan menyediri. Ia tidak pernah makan di siang hari, dan tidak pernah tidur di malam hari. Begitulah perumpamaan hidupnya.

Para sahabatnya mengkhawatirkan dengan kondisi ini. "Tidakkah engkau akan menyakiti diri sendiri dengan keadaan ini. Puasa setiap hari?" kata salah satu sahabatnya.

"Tenanglah sahabat, tidak ada sakit di dalam tubuhku. Tidak ada ruginya apa yang kukerjakan ini. Sebaliknya aku hanya menjauhkan tidur di malam hari sampai siang tiba, dan berhenti makan selama siang hari untuk makan di malam hari," jawab Muadzah.

Para sufi di zaman Irak ini, seperti halnya Muadzah benar-benar sangat ingin mendapatkan ganjaran surga di akhirat, dan sangat takut akan siksa neraka. Untuk itu Muadzah bisa melakukan salat sampai 600 rakaat sehari semalam, dan ia sering mengatakan. "Aku heran pada mata yang tertidur, akankah ia tahu, berapa lama ia akan terpejam saat di kubur nanti."
 

Sumber : Nurani 209, 23-29 Desember 2004

 

May 24, 2006

Bibi Hayati, Sufi Wanita dari Iran

Filed under: Kisah Inspiratif

Sejak gadis Bibi Hayati lebih mencintai ketenangan, apalagi ketika diperkenalkan dengan sorang sufi oleh kakaknya. Pada akhirnya ia menikah dengan guru sufinya. Perkawinan guru dan murid inilah yang kemudian melahirkan generasi sufi.

Ibu RT yang SUFI
KEGEMARANNYA akan tarekat semakin menjadi-jadi setelah Rawnaq memperkenalkan kepada guru sufi (mursyid) Nur Ali Syah dari Tarekat Nikmatullah. Bila dibanding dengan gadis seusianya, Hayati lebih mencintai ketenangan dan kesunyian untuk menemukan momen-momen kontemplatif yang dicarinya.

Rupanya ada cahaya spiritual yang muncul dari Nur Ali Syah, yang membuat perubahan pada diri Hayati. Rentetan kegiatan sampai kepada baiat untuk masuk dalam Tarekat Nikmatullah.

Kisah sufi Bibi Hayati, si pemuja cinta hidup dari awal abad 19 sampai pertengahannya. la lahir dari keluarga bangsawan di Kota Bam, Provinsi Kerman, Persia Tenggara (kini Iran). Sejak kecil Bibi Hayati diasuh oleh saudara laki-lakinya Rawnaq Ali Syah. Berkat Rawnaq, Bibi Hayati menjadi gadis kecil yang cemerlang. Bakat seni terutama sastra/puisi sudah tampak. Karena keluarganya juga tertarik soal kesufian, maka masalah tasawuf ini dikaitkan juga dengan sastra puisi.

Hubungan murid dan mursyid akhirnya memancarkan daya tarik sebagai insan manusia. Sang guru ataupun sang murid saling tertarik dan melesatlah panah asmara dan jatuh dalam buaian cinta manusiawi. Nur Ali Syah akhirnya meminang Hayati. Justru pernikahan ini menjadikan banyak inspirasi baik sebagai seorang penyair, maupun sebagai seorang sufi. Buah cinta ini membuahkan anak yang diberi nama Tuti.

SYAIR SUFI
Sebagai seorang ibu ia harus praktis untuk mengatur sebuah rumah tangga. Inilah ciri khas Bibi Hayati yang ditawarkannya artinya harus seimbang, harmonis, dunia yang adil bagi alam spiritual dan kemanusiaan. Dunia laki-laki adalah dunia keberanian. Keterlibatan Hayati dalam Tarekat Nikmatullah ya karena suaminya itu. la ikut menata organisasi apalagi ia seorang wanita yang cakap.

Organisasi berjalan baik dan wacana yang baik masuk. Lewat kemampuannya berekspresi dan berapresiasi secara puistis, Hayati memberikan ruang-ruang perenungan teman, dan anggota tarekat untuk lebih mengenal cinta yang utuh. Sebuah cinta yang hadir dari kesadaran untuk mencari kesempurnaan.

Suaminya sendiri kemudian melihat keterlibatan terlalu jauh di tarekat akan mengganggu kreativitas puisi-puisi (syair-syairnya). Syair sufi yang meletup-letup akan sia-sia jika tidak dicatat dalam memoar. Nur Ali menganjurkan agar Hayati menjadi pengarang saja sehingga syair yang dihasilkan utuh dan serpihan yang hilang itu bisa terkumpul.

Untung saja Hayati mendengarkan saran Nur Ali sehingga banyak diwan-diwan (ontologi kumpulan puisi) yang tercipta.

Kata-kata Hayati tentang suaminya, "Suatu saat raja makrifat itu, sang pembimbing dalam ranah dan jiwa, berucap dengan bibirnya yang berhias permata, di tengah-tengah percakapan kami dan mengatakan, "Jika engkau mesti menghiasi dirimu, engkau harus menjadi penyelam di lautan retorika, memecahkan bait-bait tiram yang berisi mutiara di dalamnya, sampai kau bungkus dirimu dengan jubah berhiaskan mutiara."

GENERASI SUFI
Diwan yang diciptanya jika dikaji boleh dikatakan sempurna. Pengarangnya menguasai ilmu eksoterik dan esoterik (makrifat). Dia berpegang pada prinsip lahiriah agama, maupun prinsip makrifat di jalan sufi. Bahkan oleh beberapa pihak di kemudian hari watak, dan sifat-sifatnya yang paling cocok menjadi pasangan hidup sang wali quthub.

Dalam mendidik anaknya, rupanya sastra dan sufi masih kental diterapkannya. Anak perempuannya memiliki watak peka seperti ibunya namun juga tegas seperti ayahnya. Namun karena kedekatannya dengan ibunya, maka syair-syair sufi mampu pula dicipta oleh Tuti. Bahkan, karya anak Hayati ini mampu mengungkapkan mistik yang pelik.

Sang anak akhirnya menikah di tahun 1831 dengan Surkh Ali Syah, murid sang ayah. Pernikahan dengan pria asal Ramadan ini menghasilkan anak bernama Sayyid Reza, dan kelak menjadi syaikh dari tarekat Nikmatullah yang terkenal. Sayyid Reza (cucu Bibi Hayati) punya anak Muhammad Said Khusychasm, seorang syaikh yang terkenal di kalangan Nikmatullah. Jadi, Bibi Hayati melahirkan generasi sufi mulai dari anak, cucu dan buyutnya.

Demikianlah anak cucu Bibi Hayati itu lahir dan melengkapi Tarekat Nikmatullah. Dalam kesetiaan dan kedamaian cinta kasih, Bibi Hayati hadir melalui hari-harinya di sana. Hingga suatu saat di pertengahan tahun 1853, Allah SWT memanggilnya pulang keharibaan-Nya.

Kepergian Bibi Hayati menjadi berkah tersendiri bagi kalangan wanita. Apalagi pada awal tahun 1850-an pergerakan wanita di Iran tumbuh subur. Syair-syair Bibi Hayati pun bisa menjadi spirit, membahasakan realita kaumnya dalam kacamata kesufiannya.

Sumber : Nurani 208, 16-22 Desember 2004

 

<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main