Ilmu Padi

June 25, 2006

Ten Things We Waste

Filed under: Milis, English
Ten Things We Waste
(Br. Mukhtar, based on a lesson of Ibn Qayyim al-Jawziyyah)
 


1.   –Our Knowledge–  Wasted by not taking action with it.

 

2.  –Our Actions–  Wasted by committing them with out sincerity.

 

3.  –Our Wealth–  Wasted by using on things that will not bring us ajr.
                We waste our money, our status, our authority, on things which have no
benefit in this life or in akhirah.

 

4.  –Our Hearts–  Wasted because they are empty from the love of Allah,
and the feeling of longing to go to Him, and a feeling of peace and
contentment.  In it’s place, our hearts are filled with something or
someone else.

 

5.  –Our Bodies–  Wasted because we don’t use them in ibadah and service
of Allah

 

6.  –Our Love– Our emotional love is misdirected, not towards Allah, but
towards something/someone else.

 

7.  –Our Time–  Wasted, not used properly, to compensate for that which
has passed, by doing what is righteous to make up for past deeds

 

8.  –Our Intellect–  Wasted on things that are not beneficial, that are
detrimental to society and the individual, not in contemplation or
reflection.

 

9.  –Our Service–  Wasted in service of someone who will not bring us
closer to Allah, or benefit in dunyaa

 
10. –Our Dhikr–  Wasted, because it does not effect us or our hearts.

June 18, 2006

Wanita … Mutiara yang Terpelihara

Filed under: Milis

Aldakwah.org–Wahai saudariku, Allah telah memuliakanmu dan mengangkat tinggi kedudukanmu, Ia menginginkan dirimu terpelihara dan terjaga dari tangan-tangan jahat yang ingin menjerumuskanmu ke lembah kehinaan dan memanfaatkan kelemahanmu, oleh karena itu, Ia menetapkan hukum dan peraturan yang dapat menjamin jati dirimu sebagai seorang wanita, karena engkau bukanlah laki-laki dan laki-laki juga bukanlah dirimu, Allah SWT berfirman:

"? dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan?"(QS. 3:36)

Allah memang menghendaki menciptakan ciptaan-Nya terdiri dari jenis laki-laki dan wanita, Ia berfirman:

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah". (QS. 51:49)

Keduanya diciptakan Allah dengan sifat dan karakter yang berbeda untuk saling melengkapi satu sama lain bukan saling berhadapan dan bersaing dalam kehidupan, wilayah peranmu berbeda dengan saudara kandungmu itu, semua itu Allah lakukan semata-mata demi menjadikanmu manusia yang terhormat, berwibawa dan mulia. Wahai saudariku, aku ingin mengajakmu merenungkan beberapa hukum yang Ia syariatkan untukmu demi memelihara kemulian jatidirimu sebagai wanita.

Pertama, Allah menghalalkan kepadamu memperhias diri dengan perhiasan dari emas dan sutra murni yang Ia haramkan bagi kaum laki-laki, Rasulullah bersabda: "Kedua perhiasan ini (emas dan sutra murni) diharamkan bagi laki-laki dan dihalalkan bagi wanita" (HR. Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib a.). Ia halalkan semua ini untukmu demi menjaga kecantikanmu dan sifatmu yang lembut.

Kedua, Sebaliknya, Allah mengharamkan segala sesuatu yang dapat menghilangkan
sifat kewanitaanmu yang halus dan lembut itu baik dalam berpakaian, bertingkah
dan perilaku yang menyerupai laki-laki, demikian juga laki-laki diharamkan
menyerupai wanita dalam pakaian, gerak dan tingkah laku, karena hal itu tidak
sesuai dengan jiwa dan tabiatnya. Rasulullah` bersabda:

"Allah melaknati laki-laki memakai pakaian wanita dan wanita memakai pakaian
laki-laki" (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah ra.)

Ketiga, Allah melindungi kelemahanmu dan menempatkanmu selalu dalam naungan
laki-laki, Ia tidak menuntutmu mencari penghidupan untuk memenuhi kebutuhanmu
atau kebutuhan orang lain, tetapi kaum laki-lakilah yang Ia wajibkan memenuhi
semua kebutuhan hidupmu, karena Ia tak ingin engkau bergulat dalam kehidupan
demi sesuap nasi agar engkau tak terhina. Jika engkau seorang gadis, ayahmu dan
saudara laki-lakimulah yang memenuhi kebutuhanmu, jika engkau seorang ibu,
anakmu yang laki-laki yang dituntut menjamin kebutuhan hidupmu dan jika engkau
seorang istri, suamimu yang harus bertanggung jawab atas semua kebutuhanmu, lalu
jika tak ada seorangpun diantara mereka yang menjamin kebutuhan hidupmu maka
Allah mewajibkan kepada pemerintah memenuhi semua hajat hidupmu yang asasi.

Keempat, Allah memerintahkan kepadamu menjaga pandanganmu terhadap lawan jenismu
agar syetan tidak menjerumuskanmu kedalam kubangan yang hina. Allah lberfirman:

"Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan
mereka?" (QS. 24:31)

Kelima, Allah memerintahkan kepadamu menjaga tubuhmu dari pelecehan
tangan-tangan jahil dan penghinaan mata-mata yang usil dengan membalutnya dengan
pakain mulia keculai muka dan telapak tanganmu. Allah berfirman:

"?dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak
dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka?"(QS.
24:31)

Keenam, Allah memerintahkan kepadamu tidak menampakan perhiasanmu yang tersembunyi seperti rambut, leher, betis dan lengan tanganmu kecuali kepada suamimu, dan orang-orang yang termasuk mahram bagimu. Allah berfirman yang artinya: "?dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…" (QS. 24:31)

Ketujuh, Allah memerintahakan kepadamu berjalan dengan santai dan berbicara dengan nada rendah sehingga engkau nampak berwibawa dan terhormat. Allah berfirman:

"?Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…" (QS. 24:31)

"?Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya?"(QS. 33:32)

Kedelapan, Allah memerintahkan kepadamu menghindari segala sesuatu yang dapat menarik perhatian kaum laki-laki kepada dirimu dan tergoda dengan penampilanmu dengan mengikuti prilaku kaum jahiliyah pertama atau kaum jahiliyah abad ini. Rasulullah ` bersabda:

"Wanita yang memakai pafum lalu keluar dari rumahnya agar orang-orang mencium aromanya adalah penzina" (HR. Abu Daud)

Kesembilan, Allah melarangmu berduaan dengan laki-laki selain suami dan mahrammu agar syetan tidak menjatuhkanmu ke jurang kehinaan. Rasulullah bersabda:

"Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita dan janganlah pula ia pergi kecuali didampingi mahramnya" (Muttafaqun’alaih) Saudariku, jika engkau renungkan semua perintah Allah ini dengan hati nurani yang jernih dan jujur, maka engkau akan mendapatkan bahwa Allah sungguh telah menempatkan dirimu bagaikan intan mutiara yang tersimpan di tempat yang terjaga yang tidak boleh dijamah oleh tangan orang yang di hatinya ada penyakit, engkau adalah makhluk mulia dan terhormat di dalam Islam.

June 17, 2006

Meneladani Allah Yang Mahaluas

Filed under: Milis

Ingin jadi orang bijak, ingin bahagia dan mulia, maka luaskanlah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kalau kita kaya dengan ilmu maka dunia dengan sendirinya akan menghampiri kita.

Al-Waasi’ adalah satu sifat Allah yang tercantum dalam asma’ul husna, yang artinya adalah Allah Yang Mahaluas. Kata Al-Waasi’ tersusun dari huruf wau, syin, dan ‘ain. Setiap kata yang tersusun dari huruf-huruf ini menjadi antonim dari sempit atau sulit. Dari sini lahir makna-makna seperti "kaya", "mampu", "luas", "meliputi", "langkah panjang", dan sebagainya.

Allah adalah Dzat Yang Mahaluas. Luasnya kekuasaan Allah sungguh tidak terbatas, meliputi semua yang ada di langit dan di bumi. Allah Mahaluas Keagungan-Nya, sehingga Ia kuasa memuliakan siapa saja yang Ia kehendaki tanpa berkurang kemuliaan-Nya. Allah Mahaluas rezeki-Nya, sehingga Ia mampu memberikan karunia kepada semua makhluk tanpa berkurang sedikit pun kekayaan-Nya. Allah Mahaluas ilmu-Nya, sehingga Ia mengetahui segala sesuatu tentang ciptaan-Nya sampai hal sekecil-kecilnya. Ia mengetahui lintasan hati setiap manusia. Ia mengetahui jalannya seekor semut hitam yang merayap di batu hitam saat tengah malam yang kelam.

Ternyata, luas-Nya Allah itu berbeda dengan luasnya manusia. Luasnya dalam pandangan manusia selalu dibatasi ukuran. Lapangan sepakbola itu luas, namun bisa dihitung dalam meter. Seorang profesor pasti memiliki ilmu yang luas, namun luasnya ilmu profesor pasti berbatas dan hanya pada satu segi. Luas dalam pandangan Allah tidak dibatasi ukuran atau dimensi waktu. Ia laitsa kamitslihi syai’un; tidak bisa diserupai makhluk. Intinya, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini ada dalam genggaman Allah. Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di alam ini.

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari sifat Allah ini? Kita layak meniru sifat Allah ini dengan meluaskan ilmu, pengetahuan, dan wawasan dengan banyak menyimak, membaca, dan bergaul dengan para ulama. Makin luas ilmu kita, akan makin bijak pula kita, makin mudah menghadapi hidup, dan makin paham pula kita akan arah hidup. Keluasan ilmu dan pengetahuan akan memudahkan kita menyikapi masalah dengan cara tepat. Ingin jadi orang bijak, ingin bahagia dan mulia, maka luaskanlah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kalau kita kaya dengan ilmu maka dunia dengan sendirinya akan menghampiri kita.

Dengan meneladani sifat Al-Waasi’ ini, kita pun harus belajar mengubah sudut pandang kita dalam hidup. Jangan memandang harta di atas segalanya. Harta memang rezeki dari Allah, tapi itu adalah tingkatan yang paling rendah. Kekayaan ilmu, kekayaan hati yang bersumber dari kekayaan iman jauh lebih tinggi di atas harta. Karena itu, kita jangan bangga dengan sesuatu yang rendah. Bukankah penjahat pun diberikan harta.

Yang tak kalah penting, kita pun harus memiliki keluasan hati. Suasana hati akan menentukan bahagia tidaknya hidup kita. Sehingga kita harus melatihnya agar senantiasa lapang. Berlatih untuk tidak mudah tersinggung, tidak mendramatisasi masalah, mudah memaafkan, dan menyadari bahwa yang dilakukan orang lain tidak akan selalu sesuai dengan kehendak kita, adalah sebagian cara untuk mendapatkan kelapangan hati. Makin luas sebuah lapangan, makin sulit terjadi gesekan. Ilustrasinya, di lapangan yang luas kita tidak takut dengan seekor tikus, kecoa, atau ular. Namun, akan beda rasanya jika kita bersama hewan-hewan tersebut di kamar kecil.

Rumusnya "2B2L" dapat pula dijadikan formula untuk menciptakan keluasan hati, terutama saat bergaul dengan orang lain. "B" pertama bijak terhadap kekurangan dan kesalahan, "B" kedua adalah berani mengakui kelebihan dan jasa orang lain. "L" pertama adalah melupakan jasa atau kebaikan diri. Dan "L" kedua adalah mampu melihat kekurangan dan kesalahan diri. Wallahu a’lam.
( KH Abdullah Gymnastiar )

June 16, 2006

Pentingnya Hidup Sederhana

Filed under: Milis

Pentingnya Hidup Sederhana
KH Abdullah Gymnastiar

Dengan hidup sederhana; tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita, dan untuk beramal saleh menolong sesama.

Semoga Allah Yang Mahakaya mengaruniakan kekayaan yang penuh berkah, dan melindungi kita dan tipu daya kekayaan yang menjadi fitnah.

Saudaraku, salah satu penyebab maraknya korupsi di negeri kita adalah kegemaran sebagian orang terhadap kemewahan dan menggejalanya pola hidup konsumtif. Memang, tantangan untuk tampil lebih (konsumtif) sangat terbuka di sekitar kita. Tayangan televisi sering membuat standar hidup melampaui kemampuan yang kita miliki. Iklan-iklan tidak semuanya memberikan keinginan primer, tapi juga yang sekunder dan tertier yang tidak terlalu penting. Tidak dilarang kita memiliki, tapi apakah yang kita miliki ini tergolong kemewahan atau tidak? Itulah yang harus kita pertanyakan.

Lalu apa kerugian hidup bermewah-mewah? Di zaman sekarang kemewahan bisa membawa bencana. Minimal dicurigai orang lain. Siksaan pertama dari kemewahan adalah ingin pamer, ingin diketahui orang lain. Siksaan kedua dari kemewahan adalah takut ada saingan. Pemuja kemewahan akan mudah dengkinya kepada yang punya lebih. Penyakit ketiga cemas, takut rusak, takut dicuri. Makin mahal barang yang dimiliki, kita akan semakin takut kehilangan.

Pentingnya hidup sederhana
Tampaknya, pola hidup sederhana harus dibudayakan kembali di masyarakat. Tak terkecuali di keluarga kita. Kalau orangtua memberikan contoh pada anak-anaknya tentang kesederhanaan, maka anak akan terjaga dari merasa diri lebih dari orang lain, tidak senang dengan kemewahan, dan mampu mengendalikan diri dari hidup bermewah-mewah.

Saudaraku, sederhana adalah suatu keindahan. Mengapa? Karena seseorang yang sederhana akan mudah melepaskan diri dari kesombongan dan lebih mudah meraba penderitaan orang lain. Jadi bagi orang yang merasa penampilannya kurang indah, perindahlah dengan kesederhanaan. Sederhana adalah buah dari kekuatan mengendalikan keinginan.

Dalam Islam, kaya itu bukan hal yang hina, bahkan dianjurkan. Perintah zakat bisa dipenuhi kalau kita punya harta, demikian pula perintah haji. Yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan. Dalam QS At-Takaatsur, Allah SWT dengan tegas mencela orang yang berlebih-lebihan. Memang kita harus kaya tapi tidak harus bermegah-megah. Beli apa saja asal perlu, bukan karena ingin. Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya. Beli semua yang kita mampu beli, asal manfaat. Kita harus punya, tapi bukan untuk pamer dan bermegah-megah, tapi untuk manfaat. Kita tidak dilarang punya barang apa saja, sepanjang barang yang dimiliki halal dan diperoleh dengan cara halal. Saya tidak mengajak untuk miskin, tapi mengajak agar kita berhati-hati dengan keinginan hidup mewah.

Satu hal yang penting, ternyata di negara manapun orang yang bersahaja itu lebih disegani, lebih dihormati daripada orang yang bergelimang kemewahan. Apalagi mewahnya tidak jelas asal-usulnya.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat sederhana, walaupun harta beliau sangat banyak. Rumahnya Rasul sangat sederhana, tidak ada singgasana, tidak ada mahkota. Lalu, untuk apa Rasulullah SAW memiliki harta? Beliau menggunakan harta tersebut untuk menyebarkan risalah Islam, berdakwah, membantu fakir miskin, dan memberdayakan orang-orang yang lemah.

Dari apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, kita harus kaya dan harus mendistribusikan kekayaan tersebut pada sebanyak-banyak orang, minimal untuk orang terdekat. Maka, bila kita memiliki uang dan kebutuhan keluarga telah terpenuhi, bersihkan dari hak orang lain dengan berzakat. Kalau masih ada lebih, maka siapkan untuk orangtua, mertua, sanak saudara yang lain, dst. Kakak-adik, keponakan, juga harus kita pikirkan. Kekayaan kita harus dapat dinikmati banyak orang.

Semoga dengan hidup sederhana; tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah, untuk meningkatkan kemampuan kita, dan untuk beramal saleh menolong sesama. Amin.

June 13, 2006

Ribuan Rakyat AS Minati Al-Qur’an dan Islam

Filed under: Milis

Ribuan Rakyat AS Minati Al-Qur’an dan Islam
Dunia Islam Oleh : Redaksi 13 Jun 2005 - 10:00 pm

Pasca pelecehan di penjara Guantanamo, puluhan ribu warga Amerika Serikat (AS) tertarik mempelajari Al-Qur’an dan Islam. Pasaca 11 September lalu 11 ribu warga Amerika Latin pindah memeluk Islam lebih dari 10.000 warga Amerika Serikat (AS) menunjukkan minatnya untuk mempelajari Al-Qur’an dan Islam.

Perkembangan terbaru ini terjadi menyusul berita reaksi dan pengakuan pihak Pentagon bahwa Al-Qur’an telah dilecehkan para tentera AS di kamp tahanan Guantanamo, demikian tulis CAIR.

Permintaan terhadap Al-Qur’an itu makin besar setelah terjadinya demontrasi besar-besaran di seluruh negeri-negeri berpenduduk muslim saat terjadinya ‘pelecehan Al-Qur’an’ sebagaimana dilansir majalah Newsweek.

Kitab suci umat Islam yang kini didistribusikan itu adalah salinan Al-Qur’an terjemahkan bahasa Inggris oleh Abdullah Yusuf Ali dan diterbitkan oleh Amana Publications.

Pihak yang ikut berjasa menyebarluaskan Al-Qur’an itu tak lain adalah Council on American-Islamic Relations atau CAIR). CAIR adalah kelompok advokasi yang berbasis di Washington. Lembaga ini telah lama dikenal sebagai pembela hak-hak warga Muslim Amerika.

Bersama-sama dengan kiriman Al-Qur’an itu, CAIR juga menyertakan sepucuk surat turut yang menjelaskan bagaimana umat Islam dididik untuk menghormati dan menjaganya.

"Tuduhan palsu dan tidak berdasar ditujukan terhadap Al-Qur’an selama ini. Namun kini, inisiatif untuk meletakkan kitab suci datang secara langsung dari warga AS dan menggalakkan semua orang dari berbagai keyakinan untuk membongkar kebenaran Islam," ujar Direktur CAIR, Nihad Awad.

Semua Kalangan

Pasca 11 September, CAIR melakukan kampanye kepada warga Amerika untuk menjelaskan agama Islam yang sesungguhnya. Bukan sebagaimana yang mereka kenal lewat media-media AS yang kebanyakan didominasi kelompok Yahudi dan kerap mencitrakan negatif tentang Islam.

Kampanye CAIR ke seluruh warga Amerika tentang Islam dan Al-Qur’an, rupanya menarik perhatian rakyat AS dari bebagai kalangan yang akhirnya membuat minat mereka mempelajari Islam.

Mereka, diantaranya termasuk aparat kepolisian, pemimipin umat Kristen dan kalangan , akademik, demikian ujar CAIR.

"Saya ingin membacanya dalam bahasa Inggeris untuk diri sendiri dan melihat apa yang tertulis dan melihat jika saya dapat memahaminya," ujar seorang veteran perang Vietnam, Chuck Roth.

"Ia bukan kitab yang menganjurkan terorisme. Pandangan utama nya adalah kedamaian dalam masyarakat," ujar Arthur Ort, salah seorang warga AS yang telah mendapatkan salinan Al-Qur’an sebagaimana dipetik CAIR.

Hingga hari ini, CAIR telah mendistribusikan lebih dari 5000 salinan Al-Qur’an. Sebelumnya, melalui kampanyenya, CAIR menawarkan Al-Qur’an secara gratis dengan cara memesan lewat website www.explorethequran.org atau panggilan telepon bernomor (800) 78-ISLAM. "Dari hasil poling selama setahun, kesimpulan mengapa mereka curiga Islam karena faktor tidak memahali Islam," ujar salah seorang pejabat CAIR seperti dikutip Religion News Service.

Sejak tahun 2003, CAIR terus melancarkan kampanye iklan dengan tujuan untuk menandingi apa yang mereka lihat sebagai retorika anti-Muslim yang meningkat di Amerika. Kampanye itu, dimaksudkan untuk menghadirkan gambaran Islam secara benar di AS.

Sebelumnya, pasca 11 September, tepatnya 23 Maret 2001 lalu, sebagaimana dikutip News Service, sekitar 15 ribu orang keturunan Amerika Latin telah berpindah memeluk Islam. Nampaknya, makin benci warga AS, makin gandrung pula pada kebenaran Islam. (rns/bh/cha/Hidayatullah.com)

June 12, 2006

ENTREPRENEURSHIP RASULULLAH

Filed under: Milis

ENTREPRENEURSHIP RASULULLAH

KH. Abdullah Gymnastiar

Sahabat-sahabat,
          Ternyata dalam kajian tentang Rasulullah, ada saat yang kurang kita bahas. Kebanyakan kita bahas adalah mulai dari umur 17 tahun sampai 20 tahun. Kita tahu mengenai beliau ketika umur 25 tahun tetapi dengan imej yang negatif, yaitu seorang pemuda menikahi janda kaya raya. Padahal kalau dilihat dari maharnya mencapai 20 ekor unta muda yang jika dihargai sekarang kurang lebih setengah milyar rupiah, Bayangkan saja.

          Hal lainnya yang amat jarang kita bahas adalah bagaimana Muhammad menjadi professional. Umat Islam sekarang menjadi babak belur, karena kita tidak mengerti bagaimana menjadi professional. Mengurus masjid kecil, wc bahkan sandal saja repot sekali. Hal yang perlu kita kembangkan adalah jiwa entrepreneur.

          Rasulullah sebagai bukti bahwa dengan memiliki jiwa entrepreneur maka orang akan mampu mengendalikan apa saja. Contohnya di Singapura yang merupakan negara pedagang walaupun mereka tidak mempunyai sumber daya.Taiwan, Jepang bahkan Korea hampir menguasai dunia.

          Rasulullah dilahirkan dalam keadaan yatim. Dalam usia enam tahun ibunya meninggal dalam perjalanan kembali dari Yatrib setelah menengok kuburan ayahnya. Usia 6tahun beliau sudah yatim-piatu dan tidak punya pegangan. Sampai usia 8 tahun 2 bulan dibina dan didik kakeknya Abdul Muthalib yang cukup berada.

          Di usia ini kakeknyawafat, setelah itu ia dalam perlindungan pamannya AbuThalib yang tidak sekaya kakeknya, mulai saat itulah pemuda kecil Muhammad menggembala kambing, mencari nafkah sendiri. Usia 12 tahun Rasul diajak pamannya dalam perjalanan dagang pertama kali ke Syria. Syria itu jaraknya ribuan kilometer.

          Bayangkan umur 12 tahun tidak pakai pesawat atau mobil!!!. Anak-anak kita umur12 tahun sedang malas-malasnya. Masa kecil kita bukan masa teruji, bukan masa tertempa. Semua dimudahkan oleh orang tua kita. Disini saya akan membahas kenapa kita ini menjadi warga yang looser.

Saudara-saudara Sekalian,
          Sepulang dari perjalanan dagang pertamanya, beliau begitu sering bisnis bahkan sampai ke seluruh JazirahArab sudah terkenal seorang professional muda bernama Muhammad. Di usia 25 tahun, beliau menikah dengan seorang konglomerawati bernama Khadijah. Setelah genap hampir sepuluh kali perjalanan dagang yang beliau tempuh, kalau setiap kali perjalanan dagang beliau mendapatkan untung dua ekor unta betina.

Subhanallah,
          Maka ketika meminang Siti Khadijah beliau memberi maskawin sebesar duapuluh ekor unta muda atau kurang lebih setengah milyar rupiah!!!. Mana ada pengusaha muda di Indonesia yang mau memberi mahar begitu besar kepada istrinya. Coba cari sekarang ada atau tidak di Indonesia seseorang yang sudah berani menikah dengan memberi mahar

setengah milyar. Paling top orang kaya itu seperangkat alat sholat.
          Jadi kita bisa membayangkan bagaimana dashyatnya Muhammad muda ini. Hal ini yang jarang kita pelajari, bagaimana etos kerja beliau padahal beliau tidak ada uang, tidak ada keahlian. Jadi saudara-saudara, jangan merasa malu lahir dari orang tua yang miskin,

Rasul bahkan tidak punya bapak.
          Jangan merasa berpendidikan rendah, Nabi saja tidak sekolah. Jangan merasa tidakpunya modal, Nabi tidak punya modal sama sekali. Tidak ada alasan. Kita itu paling hobi memperbanyak alasan. Padahal alasan memperjelas kelemahan kita.

          Jadi bangsa ini mau sesulit apapun, tidak ada pilihan bagi kita kecuali kita bangkit dengan semangat. Saya termasuk yang tidak mau pusing dengan keadaan sekarang kalau akhirnya akan melemahkan semangat . Situasi sesulit apapun, pilihannya cuma satu yaitu kita harus bangkit bersama-sama.

          Mengeluh, mencela tidak akan menyelesaikan masalah, kalau ada yang dapat terselesaikan dengan masalah, silakan saja mengeluh sepuasnya. Kalau ada yang bisa selesai dengan umpatan dan makian, silakan mengumpat. Kita tidak punya waktu, waktu kita terbatas. Satu - satunya pilihan adalah kita harus bangkit. Allah Maha Kaya, mau

seperti apa saja keadaanya, rezeki Allah tidak akan berkurang. Ini rumusnya yang akan kita coba bahas.
          Rekan-rekan sekalian, Para orang tua, jangan merasa sudah tua. Tenang saja kita masih punya anak cucu. Para kaum muda ini kesempatan bahwa kita sudah disiapkan sukses oleh Allah. Sudah diilhamkan potensi sholeh/bejat. Kita sebelum dilahirkan ke dunia sudah pernah bertarung dengan 150 juta pesaing yaitu sel sperma dan yang jadi menemui sel telur adalah kita. We are the winner. Kita pernah memasuki persaingan dan kita menang. Kenapa kalau sudah hidup jadi kalah??

          Jadi tekad harus kita canangkan dari sekarang. Kalau kita lihat sejarah, baru tahun 1984 ilmu wirausaha ini mulai dikembangkan, padahal Nabi Muhammad SAW sudah 1500 tahun yang lalu mencanangkan bahwa kita itu bisa kokoh dan kuat justru dengan kewirausahaan yang ada. Kuncinya ternyata semua wirausahawan sejati tergantung dari masa kecilnya.

          Masa kecil seseorang itulah yang menentukan kualifikasi enterpreneurship orang tersebut. Kalau masa kecilnya selalu dimanja, selalu ditolong maka bersiaplah menuai anak yang tidak berdaya. Para pengusaha kita sedikit yang masa kecilnya susah.

          Saudara-saudaraku, Bagi yang masih muda, jangan bercita-cita punya pekerjaan setelah lulus. Mulai sekarang kalau saya lulus, saya ingin membuat pekerjaan, tidak perlu melamar kemanapun. Langsung jadi direktur utama merangkap staf dan pegawai inti. Bangsa ini tidak akan selesai hari ini. Mulailah tanamkan jiwa enterpreneurship pada

anak-anak kita. Ingatlah padawaktu kita kecil, waktu belajar jalan, bediri sedikit sudah jatuh. Bangkit lagi, benjol berdarah dan apakah kita putus asa?, apakah kita mengeluh?.

          Potensi untuk berani bertindak sudah ada hanya orang tua yang dapat melemahkan semangat kita. Dilarang naikkursi takut jatuh, dilarang main pisau nanti berdarah. Dia tidak pernah punya pengalaman untuk mengambil pilihan. Dia tidak pernah punya pengalaman untuk mengetahui resiko dari tindakannya.

          Menyelesaikan bangsa kita sekarang bukan saja oleh kita sekarang, dengan mempersiapkan keturunan kita juga merupakan tanggung jawab kita kepada umat ke depan. Tidak pernah ada kata terlambat. Didik anak-anak kita dari kecil buat jadi mandiri, bebas, berani bertanggung jawab supaya dia percaya diri.

          Kalau dia jatuh biarkan saja. Ini adalah membangun bangsa ini. Ini adalah membangunmasa depan umat, yaitu bagaimana para orang tua membangun anak-anaknya. Kalau mereka mau jajan harus ada pertaruhannya, setiap rupiah harus ada perjuangannya.

          Latih anak-anak kita untuk selalu bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. Orang tua yang memanjakan anaknya sengsaranya juga akan kembali ke orang tua. Latihlah entrepreneurship dari uang jajan bulanan yang bertanggungjawab pemakaiannya. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan kita. Saya semenjak SD sampai SMA sudah berjualan, lulus kuliah tidak pernah mengambil ijazah sampai

sekarang.
          Alhamdulillah, rezeki Allah tidak kemana-mana.Allahu akbar, Allah Maha Besar sampai sekarang mampu membangun Daarut Tauhiid sampai sebegini besar. Tapi ini benar-benar membuat keyakinan jika jiwa entrepreneurship tertanam pada diri-diri kita, kita tidak pernah takut menghadapi situasi apapun. Kalau saja ini dikelola oleh orang-

orang yang berjiwa wirausaha yang baik pasti akan sukses.
          Bagaimana mungkin dengan alam yang begitu kaya kita bisa miskin, cuma kita saja yang bodoh sampai tertipu tetangga karena kita tidak mengerti cara mengelolanya. Saudara-saudaraku sekalian, Hikmahnya yang pertama adalah hati-hati dengan masa kecil, masa muda. Para mahasiswa sebaiknya sambil kuliah sambil cari nafkah. Pengalaman sudah harus dirintis, nantinya waktu kuliahnya sama hasilnya akan

berbeda dengan orang lain.
          Kedua, Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat sebagi nabi tidak punya apa-apa, mengapa setelah itu dapat menjadi orang kaya tanpa modal. Karena modal yang beliau punyai adalah Al-Amin yaitu orang yang kredibel. Mulai sekarang kita harus buat track record menjadi orang yang terpercaya dalam kehidupan kita. Modal kita itu adalah

nama baik kita. Demi Allah, uang itu kecil.
          Nama baiklah yang mahal. Mulai sekarang jangan pernah terpikir untuk licik. Mulut kita satu-satunya ini tidak boleh lagi berdusta. Mulut ini yang membuat kita kehilangan hidup, uang, dan kehormatan kita. Jangan main-main soal bohong ini. Biar kita diremehkan, disisihkan dan dikeluarkan karena kita jujur.

          Daripada kita sebaliknya karena kita tidak pernah menikmati hidup selama kita berbohong. Cari rezeki tidak perlu bohong, Allah SWT sudah tahu kebutuhan kita daripada kita sendiri. Tiap kita itu sudah ditentukan rezekinya, tidak mungkin Allah menciptakan kita tanpa rezeki.

          Rezeki dapat dibagi menjadi tiga, yaitu rezeki yang pertama adalah rezeki yang dijamin pasti ada, yaitu makan. Pada saat kita bayi kita tidak bisa mencari makan, apakah kita takut. Hal ini karena kita yakin sudah dijamin. Satu kesulitan mendatangkan dua kemudahan pada saat kita hendak terlahirkan.

Ari-ari dipotong setelah itu mendapatkan makanan dari dua air susu ibu. Jadi setelah kita sebesar ini, apakah masih takut tidak makan. Yang harus kita takuti adalah makan makanan yang kita tidak tahu halal/haramnya. Demi Allah, kita akan ada rezekinya.

          Rezeki yang kedua adalah rezeki yang digantungkan. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri. Semua sudah ada ukurannya sendiri. Justru akan gawat kalau rezeki kita sama semua. Kalau kita mencarinya di jalan Allah. Rezeki dapat, pahala dapat, barokah namanya. Kalau mau licik boleh-boleh saja. Rezeki dapat, dosa dapat, haram namanya.

          Pencuri, koruptor itu maling hartanya sendiri. Kalau dia sholeh pasti ketemu rezekinya itu. Tidak perlu pakai licik. Tidak mungkin Allah menyediakan rezeki kalau harus pakai licik. Jujurlah pasti akan ketemu rezeki tersebut, mau kemana lagi. Ingatlah teori bayi, ketika menangis dengan suara pelan sang ibu hanya menenangkan dan tidak memberi makan. Kemudian si bayi menangis dengan berteriak tentu akan menarik perhatian dan ibu akan memberi makan kepadanya.

Saudara-saudara,
          Saya khawatir kita apes seperti ini bukan tidak ada jatah kita, tapi kita tidak mengambilnya hanya sedikit. Jangan-jangan jatah saudara seratus juta perbulan tapi mengambilnya hanya lima ratus ribu. Jika sudah bekerja keras itu masih belum cukup. Bekerjakeras itu urusan fisik, bekerja cerdas itu urusan otak dan bekerja ikhlas itu urusan hati. Kalau ketiganya jalan baru ketemu.

          Tanpa bermaksud meremehkan saudara kita tukang becak itu tidak kurang kerja kerasnya. Karena kalau tidak didorong tidak akan maju, tapi hasilnya hanya sepuluh ribu perhari. Tidak cukup mengandalkan otot saja, hati dan otak harus diperhatikan. Maka

saudara-saudara jangan sampai berpikir licik untuk mendapatkan rezeki, rezeki itu tidak akan kemana-mana.
          Rezeki yang ketiga adalah rezeki yang dijanjikan. Kita harus jatahkan setiap mendapatkannya harus langsung dikeluarkan sedekah/zakatnya. Demi Allah, Allah sudah berjanji barangsiapa yang ahli syukur nikmat yang ada Allah akan tambahkan. Tidak akan berkurang harta dengan sedekah, kecuali bertambah dan bertambah.

Inilah rumusnya kalau tidak mau uang kita sia-sia.

 

Sumber : milis

June 11, 2006

Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja

Filed under: Milis

Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di
sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus
dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli
angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan
membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan
soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.

Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan
harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? Wanita itu
terkekeh menjawab, "Bisa numpang makan dan beli sedikit
sabun." Tapi bukankah ia bisa menaikkan harga sedikit?
Sekali lagi ia terkekeh, "Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa
beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?"
katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan
ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan
dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar
kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang
bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah
tiang penyangga yang menahan langit agar tak runtuh.
Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang
tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati
luka. Bukankah demikian tugas kita dalam kerja:
menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.

June 9, 2006

ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN

Filed under: Milis

‘ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN’,

Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga
dan seorang malaikat menemaniku
dan menunjukkan keadaan di surga.
 
Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja
penuh dengan para malaikat.
Malaikat yang mengantarku berhenti di depan
ruang kerja pertama dan berkata, " Ini adalah Seksi
Penerimaan.
 
Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima".
Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku
dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang
memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis
pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui
koridor yang panjang lalu
sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikat-ku berkata, "Ini adalah Seksi Pengepakan
dan Pengiriman.
 
Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses
dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".
Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu.

Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu
banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan
untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada
ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti
pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.
 
Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu
malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun.
"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata
Malaikatku pelan.
 
Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan
disini?", tanyaku.

"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. " Setelah
manusia menerima rahmat
yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang
mengirimkan pernyataan terima kasih".

"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas
rahmat Tuhan?", tanyaku.

"Sederhana sekali", jawab Malaikat.
"Cukup berkata, ‘ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN, Terima kasih, Tuhan’ ".

"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri", tanyaku.
Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan
di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu,
atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka
engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan
uang-uang receh, maka
engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.

"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer
mu, engkau adalah bagian
dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.

Juga…. "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih
banyak kesehatan
daripada kesakitan … engkau lebih dirahmati
daripada begitu banyak orang
di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga
hari ini.

"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam
perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan,
atau kelaparan yang amat sangat ….
Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di
dunia".

"Jika engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan
religius tanpa ada ketakutan akan penyerangan,
penangkapan, penyiksaan, atau kematian …

maka engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang di
dunia.

"Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam
ikatan pernikahan …

maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.
"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum,

maka engkau bukanlah
seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan
semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.

"Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau
menerima rahmat ganda,
yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu
berpikir bahwa engkau
orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa,
engkau lebih dirahmati
daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang
bahkan tidak dapat membaca
sama sekali".

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah
Allah anugerahkan kepadamu.
 
Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan
ini ke semua teman-teman-mu untuk mengingatkan mereka betapa
dirahmatinya kita semua.

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa,
‘Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak
nikmat kepadamu’ ".
(QS:Ibrahim (14) :7 )

Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih
"Terima kasih, Allah! Terima kasih, Allah, atas
anugerahmu berupa kemampuan
untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan
memberikan aku begitu banyak
teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi". 

June 1, 2006

Christmas and Islam

Filed under: Milis, English

By Umm Muhammad  

Quite a number of Muslims today, especially those living in Christian dominated countries or those influenced to a large degree by western culture, have been led to consider that taking part in the Christmas celebrations of friends and relatives is, at very least, a harmless pastime if not a legitimate source of pleasure for children and adults alike. In many instances, pressure to conform with the practices of society is too great for those of weak resolve to withstand. Parents are often tempted to give in to the pleading of children who have been invited to a party or who are unable to understand why they alone are being prevented from joining the festivities they observe all around them or why they cannot receive gifts on this occasion like the other children.

 

Indeed, the Christmas season has been aggressively promoted in every aspect of business, in schools, in every public place. High pressure sales tactics have invaded the home through television, radio, magazine and newspaper, captivating the imagination with every kind of attraction day and night for a month or more every year. Little wonder that many of those thus targeted so persistently succumb to temptation. Among earlier generations, Christmas was an occasion which was still basically religious in orientation. Gifts, trees, decorations and feasting assumed lesser roles. But now all of this has changed. As noted in an American publication, Christmas has gone the way of many other aspects of society, becoming one more element in the mass culture which every season enables manufacturers and merchants to make millions of dollars through an elaborate system of gift exchange which comes more often from  mutual expectations that "must" be fulfilled than from the heart. The commonly accepted notion that happiness is derived largely from possessions and entertainment is the driving force behind the month-long preparations and festivities which continue on through the end of the year. This fact, although blameworthy in itself, has led many Muslims into the delusion that Christmas is no longer a religious occasion and therefore does not conflict with Islamic belief.

 

The materialistic atmosphere surrounding the celebration of Christmas is, in reality, a manifestation of pagan culture (Jaahiliyyah) at its worst. It can only be seen by the conscious Muslim believer as a rat-race designed and implemented by Shaytaan to accomplish a great waste of time, effort, money and resources while countless families barely subsist in a state of poverty throughout many areas of the world. In addition to the commercial side of Christmas, although less obvious to the casual observer, are certain religious aspects to be noted. The celebration was and still is intended by practising Christians as a remembrance of the birth of Jesus Christ (peace be upon him) who is considered by many of them as God incarnate or the second person in a trinity, and thus they celebrate the birth of "divinity." The word itself is an abbreviated form of "Christ Mass," i.e., sacrament in commemoration of Christ. Although taken by Christians to be the birthday of Jesus, the actual date of celebration, December 25th, cannot be traced back any further than the fourth century after Christ. Ironically, this day is also considered to be the birthday of the Hindu god, Krishna, as well as Mithra, the Greek god of light. It also coincides with the annual Tree Festival which had long been celebrated in Northern Europe before the Christian era and which has been recently revived in some Arab countries in an attempt to encourage celebration by disguising the religious significance of the day.

 

The Christmas tree is the most obvious aspect of that pagan celebration which was incorporated along with its date of observance, December 25th, into church rites. The evergreen tree, because it keeps its green needles throughout the winter months, was believed by pre-Christian pagans to have special powers of protection against the forces of nature and evil spirits. The end of December marked the onset of a visible lengthening of daylight hours - the return of warmth and light and defeat of those evil forces of cold and darkness. At a particular stage of its development, the church is known to have adopted certain of the popular pagan practices into Christianity for political or social reasons.

 

Thus, in more aspects than one, the holiday is deeply rooted in the worship of different forms of creation rather than the Creator Himself. A Muslim cannot possibly approve of such beliefs or the practices which stem from them. Anyone with a minimal knowledge of Islam would surely reject kufr (disbelief) and shirk (association of partners with Allaah) in every form. Only through ignorance or unawareness could one continue to participate in activities that reflect the acceptance of both. Muslims must be firm in refusal of all which is contrary to the concept of "Laa ilaaha illallaaha (there is none deserving of subservience except Allaah alone)." Consideration for others is well and good on the condition that Islamic principles are not compromised. Allah (subhaanahu wa ta’aalaa) says:

{If you obey most of those upon the earth, they will lead you away from the way of Allaah} [An’aam 6:116]

And He commands:{Follow what has been revealed to you from your Lord and do not follow any patrons other than Him} [A’raaf 7:3]

 

Although some, in all honesty, admit their weakness in the face of continual social pressure, others defend their participation by the strange assertion that they observe the occasion through regard for Jesus (’Isa), a prophet of Islam. If such an observance, with its semblance of Islamic atmosphere, is invalid for Prophet Muhammad (saws), how then can it reasonably be valid for other prophets who neither observed nor encouraged such practices, which were later devised by those who abandoned prophetic teachings for their own inclinations and preferences?

{Have you seen him who take as his god his own desire, and Allah
has left him astray through knowledge} [Jaathiyah 45:23]

 

Again, the Muslim is reminded of the hadiths in which the Prophet (saws) warned against imitating the non-believers and encouraged distinguishing oneself from them in dress and manner. Whether taken from the materialistic or the religious standpoint, Christmas can have no place in the Muslim’s heart nor in his home. Any Muslim, young or old, who has a secure place in an Islamic community or group which has regular activities and affords companionship will find little difficulty in rejecting that which is harmful to himself and his family, in spite of the apparent attractions. In some societies, refusal and resistance may require actual jihad, but those who seek the acceptance of Allah and fear Him will undertake the task with knowledge that they are striving for salvation and will thus be firm and resolute. For Allah (subhaanahu wa ta’aalaa) calls to believers, saying:

{O you who have believed, protect yourselves and your families from a Fire whose fuel is men and stones} [Tahreem 66:6] And in the avoidance of Hellfire lies Paradise.

 

 

Source : Mailing List

May 12, 2006

Belajar Mencintai Seseorang Yang Tidak Sempurna Dengan Cara Yang Sempurna

Filed under: Milis
Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adaah kesempatan.
 
Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.
 
Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa, Adasuatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat : "Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil"
 
Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang Yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak… Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, Adalah pilihan yang harus kita lakukan.
 
Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.
 
Sumber : Milis 
 
<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main