Ilmu Padi

March 13, 2006

Masalah Gambar dan Lukisan 2

Filed under: Religi

Kedua: Apabila lukisan itu tidak berbentuk jasad, seperti gambar di atas sesuatu. Jenis ini bisa dibagi menjadi beberapa macam:

1. Apabila gambar atau lukisan tersebut digantung dengan tujuan untuk diagungkan dan dibesar-besarkan seperti digantungkannya gambar para raja, pemimpin, pejabat, ulama, para tokoh orang tua, dan lain-lain sebagainya. Maka jelas ini termasuk haram karena di dalamnya mengandung unsur ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap makhluk dan menyerupai para penyembah patung dan berhala, ditambah lagi ia dapat menjerumuskan ke dalam kemusrikan.

2. Apabila gambar atau lukisan yang digantung itu untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan, seperti orang yang menggantung gambar sahabat-sahabat dan teman mereka dalam kamar mereka maka ini juga haram hukumnya. Hal ini didasari dua hal:
Karena hal ini dapat menyebabkan ketergantungan hati pada mereka dalam bentuk suatu ketergantungan yang sulit dilepaskan dan mempengaruhi kecintaanya kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada syari’ah. Serta menyebabkan terbaginya cinta antara sahabat-sahabat tersebut dengan hal-hal yang semestinya dicintai secara syar’i. Sehingga setiap kali ia masuk ke dalam kamar seolah-olah ada yang mengetuk pintu hatinya dan berkata, Perhatikan temanmu. Padahal telah dikatakan bahwa, Cintailah kasihmu secukupnya karena bisa jadi ia akan menjadi musuhmu suatu hari.
Telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari hadits Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang didalamnya terdapat anjing dan gambar’. Ini merupakan hukuman dan tidak ada hukuman yang dijatuhkan kecuali atas perbuatan yang diharamkan.

3. Apabila gambar tersebut digantung dengan tujuan memperindah dan menghias ruangan, hal ini juga termasuk yang dilarang berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba dari suatu perjalanan sementara aku telah menutupi rak tempat barangku dengan sehelai kain tipis bergambar. Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau merobeknya dan berkata, ‘Manusia yang paling berat adzabnya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyaingi ciptaan Allah’. Aisyah berkata, Maka akupun menjadikannya sebagai satu atau dua buah bantal.
Dari Aisyah juga diriwayatkan bahwa ia telah membeli sebuah bantal kecil yang bergambar, maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya, beliau tetap berdiri di depan pintu dan tidak masuk. Maka aku (Aisyah) pun segera mengetahui ketidaksenangannya dari wajahnya, maka akupun berkata, Aku bertaubat kepada Allah, apakah kesalahanku? Rasulullah berkata, Bantal apa ini? Aku berkata, Untuk kau duduki atau tiduri. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, Sesungguhnya para pemilik gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkan apa yang telah kalian ciptakan!’ dan sesungguhnya para malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang didalamnya terdapat gambar. (Diriwayatkan Bukhari).

4. Apabila gambar tersebut digunakan sebagai barang yang hina dan remeh seperti gambar yang terapat di atas tikar atau bantal, atau bejana dan alat-alat makan (seperti taplak meja), An Nawawi telah menukil ijma’ jumhur ulama dari sahabat dan tabi’in tentang bolehnya hal tersebut. Ia berkata, Dan ini adalah juga pendapat Ats Tsauri, Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan madzhab Hambali.

Ibnu Hajar juga menukil dalam Fathul Bari kesimpulan dari apa yang dijelaskan tentang masalah ini dari Ibnul Arabi, Kesimpulan hukum dari penggunaan gambar atau lukisan adalah, apabila ia mempunyai jasad (patung) maka haram secara ijma’ dan apabila tidak berjasad maka terdapat empat pendapat dalam hal ini:Bolehnya secara mutlak didasari oleh makna lahiriah hadits Kecuali tertulis/tergambar di atas baju.

Tidak boleh secara mutlak meskipun tergambar di atas sesuatu. Apabila gambar itu memiliki bentuk yang tetap dan tegas bentuknya maka haram hukumnya, namun apabila kepalanya dihilangkan atau bagian-bagiannya dipisah-pisahkan maka hukumnya boleh. Jika ia digunakan sebagai barang yang remeh maka boleh digunakan, jika ia digantungkan maka tidak dibolehkan.

5. Apabila penggunaan gambar itu sudah sedemikian menyebar dan mewabah sehingga sulit untuk berlepas diri darinya seperti yang terdapat pada majalah, surat kabar dan beberapa buku bacaan, sementara sang pemakainya tidak pernah bermaksud sedikitpun untuk mengoleksi gambar-gambar itu atau bahkan ia sangat membencinya, hanya saja ia sudah begitu sulit untuk berlepas diri dari hal tersebut, atau seperti gambar-gambar yang terdapat pada lembaran uang berupa gambar raja, presiden atau pemimpin, maka dalam hal-hal seperti ini menurut saya tidaklah berdosa orang yang menggunakannya jika ia menggunakannya bukan demi gambar-gambarnya. Karena sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesulitan dan kesempitan dalam agama, dan Ia tiak pernah membebani hamba-hamba-Nya dengan hal-hal yang tidak sanggup mereka kerjakan kecuali dengan kesulitan yang begitu besar atau hancurnya harta benda.

Adapun tentang gambar yang menampakkan wajah atau bagian atas tubuh maka hadits Abu Hurairah yang telah kami sebutkan menunjukkan bahwa kepala itu harus dipotong dan dipisahkan dari bagian tubuh lainnya. Apabila gambar kepala itu digabungkan dengan dada maka tidak boleh dari gambar seorang pria yang duduk, berbeda jika kepala itu benar-benar dipisahkan secara sempurna dari gambar bagian tubuh yang lain.

Karenanya Imam Ahmad mengatakan, Hakikat gambar itu adalah kepala.

Dan beliau sendiri bila ingin menghilangkan sebuah gambar maka beliau memisahkan kepalanya. Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Hakikat gambar itu adalah kepala, jika kepala itu dipotong maka bukanlah termasuk gambar lagi. Sehingga sikap meremehkan yang muncul dari sebagian orang adalah merupakan suatu hal yang harus diwaspadai.

Sehingga kita sekalian selalu mendapatkan keselamatan dan kekuatan dari Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah dan Maha Mulia.

Wallahu a’lamu bish shawwab.

Sumber : Fatawa Al Mar-atul Muslimah, oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdil Maqshud.

March 12, 2006

Masalah Gambar dan Lukisan

Filed under: Religi
Masalah Gambar dan Lukisan
Oleh Abu Muhammad Asyraf bin Abdil Maqshud

Dalam masalah ini maka melukis atau menggambar terbagi menjadi dua macam:

1. Melukis dengan tangan

2. Melukis dengan alat

Adapun melukis dengan tangan hukumnya adalah haram, bahkan termasuk dosa besar, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pelakunya. Tidak ada perbedaan dalah hal ini antara lukisan yang memiliki bayangan atau sekedar gambar.

Sedangkan melukis dengan alat (kamera) dimana gambar terbentuk tanpa adanya perbuatan fotografer yang berupa menarik garis gambar dan membentuknya, maka hal ini termasuk masalah yang diperselisihkan oleh para ulama mutaakhirin. Di antara mereka ada yang melarangnya dan ada pula yang membolehkannya.

Ulama yang melihat lafazh hadits (yang melarang) berpendapat bahwa hal ini dilarang, karena mengambil gambar dengan alat termasuk dalam tashwir (melukis). Seandainya tidak didukung oleh perbuatan manusia dalam menggerakkan, menyusun dan mencuci gambar tersebut maka gambar itu tidak akan muncul.

Sedangkan ulama yang melihat kepada makna dan illah mereka membolehkannya, karena pelarangan dalam hal ini adalah menyaingi penciptaan Allah, sementara pengambilan gambar dengan alat tidaklah termasuk menyaingi Allah dalam penciptaan, bahka perbuatan ini tidak lebih dari sekedar memindahkan gambar benda yang diciptakan Allah tanpa mengubahnya. Mereka juga menambahkan bahwa hal ini semakin jelas apabila seseorang mengikuti bentuk tulisan seseorang maka yang terjadi adalah bahwa tulisan yang pertama bukanlah tulisan orang kedua, karena keduanya hanya memiliki kemiripan. Namun apabila tulisan orang pertama itu dipindahkan melalui alat fotografi maka yang muncul adalah gambar dari tulisan orang pertama itu sendiri. Demikian pula dengan pemindahan gambar menggunakan alat fotografi (kamera), gambar yang muncul adalah ciptaan Allah yang dipindahkan dengan menggunakan alat fotografi.

Namun yang paling utama tentu saja adalah apabila kita meninggalkannya, karena hal ini termasuk dalam perkara yang musytabihat (samar-samar), dan barangsiapa meninggalkan perkara yang samar-samar maka ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya. Namun apabila ia membutuhkan hal tersebut untuk keperluan tertentu seperti untuk menjelaskan identitas diri maka tidaklah mengapa karena al hajah (kebutuhan) tersebut dapat mengangkat syubhat dan karena mafsadah belum terwujud dalam syubhah tersebut maka al hajah itupun mengangkat hukum syubhat tersebut.

Adapun hukum memakai dan menyimpan (mengkoleksi) lukisan atau gambar terbagi menjadi dua:

Pertama: Apabila gambar atau lukisan itu mempunyai bentuk jasad (patung) maka hukum menyimpannya adalah haram. Ibnul Arabi telah menukil ijma’ dalam masalah ini sebagaimana dinyatakan dalam Fathul Bari, ia mengatakan, Dan ijma’ ini tempatnya adalah pada selain permainan anak-anak perempuan. Dan di dalam kitab tersebut juga disebutkann sebuah hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

Dahulu aku bermain-main dengan boneka anak perempuan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku mempunyai beberapa teman yang selau bermain bersamaku. Maka apabila Rasulullah masuk, merekapun berlarian, lalu beliau menarik mereka kepadaku hingga mereka bermain denganku.

Ibnu Hajar mengatakan dalam penjelasannya, Dan hadits ini dijadikan sebagai dalil terhadap bolehnya menggunakan gambar untuk digunakan sebagai permainan bagi anak-anak wanita. Hal ini merupakan suatu kekhususan dari keumuman dalil yang melarang menggunakan gambar dan hal ini ditegaskan oleh Iyadh sebagaimana ia juga telah menukil ini dari jumhur ulama. Ia berkata., Sebagian ulama berpendapat bahwa hal ini telah di mansukh dan sebagian lagi mengkhususkannya untuk anak-anak kecil.

Dan merupakan hal yang sangat disayangkan bahwa sebagian kaum kita saat ini mulai menggunakan gambar-gambar berjasad (patung) ini dan meletakkannya dalam majelis-majelis mereka atau pintu masuk rumah mereka, hingga disamping mereka telah menurunkan derajatnya ke derajat anak-anak, mereka juga telah melakukan perbuatan dosa dan maksiat. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita.

============ Bersambung +++++++++++++

March 11, 2006

Agar Selalu Sholat 5 Waktu

Filed under: Religi
1. Masalah Persepsi
Tindakan seseorang biasanya sangat dipengaruhi oleh persepsi yang ada di dalam kepalanya. Kalau persepsi anda tentang shalat adalah sebuah ibadah yang bisa dilakukan dan boleh juga ditinggalkan, maka apa yang anda lakukan pastilah tidak akan jauh-jauh dari persepsi andai itu.
Masalahnya, sesungguhnya ibadah shalat itu adalah kewajiban mutlak yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku muslim. Bahkan para ulama mengatakan bahwa batasan seseorang itu menjadi muslim atau tidak adalah masalah shalatnya itu.
Juga ada hadits yang menyebutkan bahwa yang pertama kali akan dihisab nanti dari seorang hamba Allah adalah masalah shalatnya. Bila shalatnya itu baik, maka amal-amal yang lainnya akan cenderung ikut baik. Sebaliknya bila shalatnya itu rusak, maka amal-amal lainnya pun akan ikut cenderung rusak juga.
Maka kalau anda masih berpresepsi bahwa shalat itu boleh ditinggalkan, perbaikilah persepsi anda yang salah itu dan ganti dengan presepsi yang benar. Jangan-jangan kemangkiran anda dari shalat karena anda berpresepsi bahwa sholat itu boleh ditinggalkan, meski berdosa tapi tidak bejendol.

2. Masalah Kebiasaan
Ada juga oang yang tidak shalat bukan karena salah presepsi. Artinya dia tahu shalat itu wajib dan bila ditinggalkan dosa dan akan dibakar di neraka. Masalahnya adalah orang itu tidak pernah terbiasa untuk menjalankan shalat dengan genap. Dan ketidak-biasaan ini terjadi terus menerus sehingga mengkristal menjadi sebuah habbit.
Di dalam Al-Quran, orang seperti ini dikatakan lalai dari shalatnya dan termasuk orang yang celaka juga.
Maka sejak kecil seharusnya setiap orang sudah dibiasakan untuk melakukan shalat. Bahkan sejak belum baligh pun anak-anak sudah diperintahkan untuk shalat. Tujuh tahun adalah usia untuk secara tegas memerintahkannya shalat. Sepuluh tahun adalah usia dimana orang tua boleh memukul anak yang tidak mau shalat. Dan begitu baligh, maka perintah sholat menjadi lebih serius lagi. Semua ini merupakan pembiasaan yang harus ditumbuhkan sejak kecil.
Kalau anda tidak sempat mengalami hal itu, maka anda harus mulai saat ini melakukan pembiasaan itu.

3. Masalah Pergaulan
Seseorang yang dahulu rajin shalat bisa saja menjadi jarang-jarang shalat karena masalah pergaulan. Bila gaulnya dengan orang-orang yang shalatnya jarang-jarang, maka kemungkinan besar dirinya akan terkena imbas negatif. Paling tidak, pergaulan itu akan membuatnya tidak disiplin dan tidak ada yang mengingatkan atau membawanya kepada suasana untuk shalat.
Kalau anda punya teman pergaulan yang demikina, mulailah membuat jarak dan perlahan-lahan tinggalkan bergaul dengan mereka. Sebab tidak ada untungnya buat anda. Sebaliknya, bertemanlah dengan orang-orang shalih yang selalu mengerjakan shalat. Anda akan menikmati betapa indahnya hidup ini bila kita selalu shalat.

4. Masalah Tekad
Tekad di dalam dada yang kurang kuat sering kali bisa dikalahkan dengan mudah oleh berbagai halangan. Entah itu karena dalam perjalanan, entah karena lagi sibuk, entah juga karena halangan lainnya.
Namun bila dalam diri seserang sudah tertanam tekad untuk shalat, apapun halangannya tidak akan ditinggalkan shalatnya itu. Meski dia harus kehilangan kesempatan jadi presiden sekalipun. Sebab apa yang ada di dalam dada sudah membuatnya merasa harus segera melakukan shalat, apapun kondisinya.

5. Masalah Doa
Bila semua masalah itu sudah anda atasi dan anda perhatikan dengan baik, tinggal anda minta kepada Allah agar selalu diberikan kesempatan shalat dengan baik dan sempurna. Sebab shalat itu merupakan kesempatan yang Allah berikan, tidak ada yang bisa menghalangi orang yang mau shalat. Dan tidak ada orang yang bisa memaksa orang lain untuk shalat. Allah sajalah yang pada akhirnya menggerakkan hati seseorang untuk mau shalat atau tidak. Semau upaya itu pada akhirnya akan sangat tergantung dari Allah juga.

Maka mintalah kepada Allah agar anda bisa selalu beristiqamah dalam menjalan shalat yang merupakan wahana komunikasi antara langit dengan bumi.

 
Sumber : Lupa, kayaknya dari milis deh 

March 9, 2006

12 Hal untuk kesempurnaan sholat

Filed under: Religi
12 Hal untuk kesempurnaan sholat:

1. Ilmu, Rasulullah saw bersabda, yg artinya “Amal sedikit disertai ilmu adalah lebih baik dari amal yang banyak dalam kebodohan”.

2. Wudhu, sabda Rasulullah saw, yg artinya “Tidak ada shalat yg sah kecuali dg bersuci”.

3. Pakaian, firman Allah swt, yg artinya, “Ambillah pakaianmu di setiap masjid.” Yakni pakailah pakaian-pakaianmu di setiap shalat (QS. Al-A’raf : 31)

4. Memelihara waktu, firman Allah swt, yg artinya, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yg ditentukan waktunya atas orang2 yg beriman.” (QS. An-Nisa’ : 103)

5. Menghadap kiblat, firman Allah swt yg artinya, “Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah : 150)

6. Niat, sabda rasulullah saw, “Sesungguhnya amal-amal sah hanya dengan niat dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan.”

7. Takbir, sabda Rasulullah saw, “Kaharamannya (shalat) adalah takbir dan halalnya dengan salam.”

8. Berdiri, firman Allah swt, “Berdirilah untuk Allah dengan khusyu’, yakni sholatlah dengan berdiri” (QS. Al-Baqarah : 238)

9. Membaca Al-Fatihah, firman Allah swt., yg artinya, “Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Quran” (QS. Al-Muzammil:20)

10. Ruku’, firman Allah swt, “Dan ruku’lah” (QS. Al-Baqarah:43)

11. Sujud, firman Allah swt, “Dan sujudlah kamu” (QS. Al-Hajj:77)

12. Duduk, sabda Nabi Muhammad saw., “Ketika seorang laki-laki mengangkat kepalanya dari sujud terakhir dan duduk tasyahud, maka benar-benar telah sempurna shalatnya”.

Apabila 12 hal di atas telah dikerjakan, maka dibutuhkan kunci matinya; ikhlas, agar menjadi sempurna. Allah swt berfirman, yg artinya, “Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya” (QS. Al-Mu’min:14).


Sumber : Muqasyafatul Qulb — Imam Al-Ghazali

March 8, 2006

12 Azab Meninggalkan Sholat

Filed under: Religi, MyQuran.org
Dalam sebuah hadis menerangkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : "Barangsiapa yang mengabaikan solat secara berjemaah maka Allah S.W.T akan mengenakan 12 tindakan yang merbahaya ke atasnya. Tiga darinya akan dirasainya semasa di dunia ini antaranya :

1.Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga terhadap rezekinya.
2.Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya.
3.Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.

Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :

1.Roh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air laut.
2.Dia akan merasa yang amat pedih ketika roh dicabut keluar.
3.Dia akan dirisaukan akan hilang imannya.

Tiga macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :-

1.Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang sangat menggerunkan.
2.Kuburnya akan menjadi cukup gelap.
3.Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).

Tiga lagi azab nanti di hari kiamat, antaranya :

1. Hisab ke atsanya menjadi sangat berat.
2. Allah S.W.T sangat murka kepadanya.
3. Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka.

 
Sumber : MyQuran.org 

March 7, 2006

Sebab-Sebab Yang Dapat Memperkuat Iman

Filed under: Religi

Sebab-Sebab Yang Dapat Memperkuat Iman

Seseorang bertanya dengan penuh pengharapan. Bagaimana caranya agar bisa memperkuat imannya dimana kondisi yang dia alami adalah, dia sering sekali menemui keadaan dimana ayat-ayat Al Quran yang dibacanya tidak memberi pengaruh apapun pada dirinya, kecuali hanya sedikit sekali.

Dalam bukunya, “Fatwa-fatwa Terkini”, Syaikh Ibnu Utsaimin, mengatakan bahwa mereka yang mengalami keadaan tersebut adalah disebabkan oleh kekerasan hatinya.

Penyakit keras hati pada masa sekarang ini banyak sekali dan sebab utamanya adalah berpaling dari beribadah dan ketundukan secara total kepada Allah Ta’ala. Andaikata seseorang beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan tunduk patuh kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, niscaya dia akan mendapatkan hatinya menjadi lunak dan khusyu’. Dan, andaikan seseorang di antara kita menyongsong Al Quran dan mentadabburinya, niscaya dia juga akan mendapatkan hatinya menjadi lunak dan khusyu’ sebab Allah Ta’ala berfirman;

”Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.”  (qs Al Hasyr: 21)

Di antara penyebab timbulnya penyakit keras hati adalah fenomena hiasan dunia di era kontemporer ini, terbuainya manusia olehnya serta beragamnya problematika. Oleh karena itu, anda bisa menjumpai anak kecil yang belum begitu mengenal godaan duniawi dan godaan duniawi pun belum menyentuhnya lebih banyak khussyu’ dan tangisnya jika hatinya tersentuh dibandingkan dengan orang dewasa. Ini adalah pemandangan yang kita saksikan dan kalian saksikan juga sekarang ini di Masjidil Haram di saat shalat Qiyamullail. Anda akan menjumpai anak-anak muda berusia delapan belas tahun misalnya bisa lebih banyak tangisnya karena tersentuh saat disebutkan ayat-ayat yang berisi ancaman atau sugesti daripada orang yang lebih tua dari mereka karena hati mereka lebih lunak dan belum banyak terbuai oleh godaan duniawi dan belum begitu memikirkan problematika-problematika jangka panjang ataupun pendek.

Oleh karena itu, kita menjumpai mereka lebih banyak diliputi raasa khusyu’ dan lebih dekat kepada kelunakan haati daripada mereka yang sudah terbelalak oleh godaan duniawi dan terbuai olehnya sehingga menjadikan hati mereka tercerai berai ke sana ke mari.

Nasehat saya supaya mengkonsentrasikan hati dan pemikiran hanya pada hal yang terkait dengan dien ini semata, antusias dalam membaca Al Quran dengan tadabbur dan perlahan sertaa serta antusias pula merujuk kepada hadits-hadits yang mengandung targhib (bersifat rangsangan dan sugesti) dan tarhib (bersifat menakutkan dan ultimattum) karna hal ini dapat melunakkan hati.

Atau dengan kata lain, cobalah membaca Kitabullah, mengkajinya dan mentadabburi makna dan hukum-hukumnya; mengkaji sunnah Nabi saw dan mengetahui rincian syari’at darinya, mengamalkan isinya dan komitment terhadapnya dalam perbuatan dan ucapan’ menjadikan diri selalu dalam pengawasan Allah dan menyadarkan hati akan keagungan-Nya; mengingat hari akhir dan adanya hisab, pahala, siksa dan kepedihan serta hal-hal yang menyeramkan; bergaul dengan orang-orang yang dikenal keshalihannya dan menjauhi para pelaku kejahatan dan kerusakan. Wa Shallallahu’ala nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi.

Sumber: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz,dkk, “Fatwa-Fatwa Terkini”, jilid 1, Penerbit: Darul Haq, Jakarta.

March 6, 2006

Birul Walidain (Berbakti Kepada Kedua Orang tua)

Filed under: Religi
Allah berfirman:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah pada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)

Hadits pertama:
Dari Abu Hurairoh ia berkata: Rasulullah bersabda: Seorang anak tidak dapat membalas ayahnya, kecuali anak tersebut mendapati ayahnya menjadi budak kemudian ia membelinya dan memerdekakannya. (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Makna hadits tersebut adalah bahwa seorang anak tidak dapat membalas jasa ayahnya, kecuali jika anak tersebut mendapati ayahnya sebagai budak yang dimiliki oleh orang lain kemudian ia memerdekakannya, yakni membebaskan dari perbudakan dan perhambaan dari orang lain (tuannya) sehingga ayahnya menjadi orang yang merdeka karena memerdekakan budak itu adalah pemberian yang paling utama yag diberikan oleh seseorang kepada yang lain.

Hadits kedua:
Dari Abdullah Bin Mas’ud berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah: Amalan apakah yang dicintai oleh Allah Beliau menjawab: Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa Beliau menjawab: Jihad dijalan Allah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ketiga:
Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: Berbaktilah kepada bapak-bapak kamu niscaya anak-anak kamu akan berbakti kepada kamu. Hendaklah kamu menjaga kehormatan niscaya istri-istri kamu akan menjaga kehomatan. (HR. Ath-Thabrani dengan sanad hasan).

Hadits keempat:
Dari Asma binti Abu Bakar ia berkata: Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah . Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah dengan mengatakan: Ibuku mendatangiku dan dia menginginkan aku (berbuat baik kepadanya), apakah aku (boleh) menyambung (persaudaraan dengan) ibuku beliau bersabda: ya, sambunglah ibumu. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: Menyambung persaudaraan itu bisa dengan harta, berbakti, berbuat adil, berkata lemah lembut, dan saling kirim surat berdasarkan hukum Allah. Tetapi tidak boleh dengan memberikan walayah (kecintaan dan pembelaan) kepada orang-orang yang terlarang untuk memberikan walayah kepada mereka (orang-orang kafir)
Ibnu Hajar Rahimahullah bekata: Kemudian bahwa berbakti, menyambung persaudaraan dan berbuat baik itu tidak mesti dengan mencintai dan menyayangi (terhadap orang kafir walaupun orang tuanya) yang hal itu dilarang di dalam firman Allah : Kamu tidak akan menjumpai satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. (Al-Mujadilah: 22), karena sesungguhnya ayat ini umum untuk (orang-orang kafir) yang memerangi ataupun yang tidak memerangi. (Fathul Bari V/ 233).
Dalam kitabul ‘Isyrah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Sa’ad bin Malik , dia berkata: Dahulu aku seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku. Setelah masuk Islam, ibuku berkata: Hai Sa’ad! Apa yang kulihat padamu telah mengubahmu, kamu harus meninggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu kamu dipermalukan karenanya dan dikatakan: Hai pembunuh ibu! Aku menjawab: Hai Ibu! Jangan lakukan itu. Sungguh dia tidak makan, sehingga dia menjadi letih. Tindakannya berlanjut hingga tiga hari, sehingga tubuhnya menjadi letih sekali. Setelah aku melihatnya demikian aku berkata: Hai Ibuku! Ketahuilah, demi Allah, jika kamu punya seratus nyawa, lalu kamu menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun. Engkau dapat makan maupun tidak sesuai dengan kehendakmu. (Tafsir Ibnu Katsir III/791).

Hadits kelima:
Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi berkata: Ketika kami sedang duduk dekat Rasulullah , tiba-tiba datang seorang laki-laki dari (suku) Bani Salamah lalu berkata: Wahai Rasulullah, apakah masih ada sesuatu yang aku dapat lakukan untuk berbakti kepada kedua orangtuaku setelah keduanya wafat Beliau bersabda: Ya, yaitu mendoakan keduanya, memintakan ampum untuk keduanya, menunaikan janji, menyambung persaudaraan yang tidak disambung kecuali karena keduanya, dan memuliakan kawan keduanya. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban di dalam sahihnya)

Hadits keenam:
Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu (dari perbuatan) durhaka kepada para ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan apa yang menjadi kewajibanmu untuk diberikan, dan menuntut apa yang tidak menjadi hakmu. Allah juga membenci tiga hal bagi kamu desas-desus, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta. (HR. Al-Bukhari dan lainnya)

 
Tentang cara berbakti kepada kedua orangtua yang masih hidup, secara ringkas adalah sebagai berikut:
Mengajak masuk agama Islam jika belum Islam.
Mengajarkannya kepada pemahaman yang benar (Ahlus Sunnah)
Mentaati perintah mereka selama itu bukan maksiat.
Mendahulukan kepentingan mereka daripada kepentingan sendiri, bahkan daripada ibadah yang sunnah.
Membantu mereka dengan harta, membelikan kebutuhan mereka, dll.
Berkata yang baik dan lemah lembut kepada mereka, tidak memanggil langsung dengan namanya, tidak bersuara tinggi dan ketus, dll.
Mendoakan kebaikan untuk mereka, seperti mudah-mudahan mereka mendapatkan hidayah (Islam / sunnah) dan lainnya.
Berbuat baik kepada mereka seperti: melayani kebutuhan mereka, datang jika mereka memanggil dan lain-lain.

Adapun berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat, adalah sebagaimana yang tersebut pada hadits di atas yaitu:
Memohonkan ampun untuk mereka jika semasa hidupnya mereka sebagai orang Islam.
Menunaikan janji mereka.
Memuliakan kawan-kawan mereka.
Menyambung persaudaraan kepada kerabat mereka.

—————-

Sumber : As-Sunnah edisi: 08 / Th. IV / 1421 H - 2000 M dan berbagai sumber.

February 26, 2006

Iblis Menyesatkan Manusia Dengan Wanita

Filed under: Religi

Iblis Menyesatkan Manusia Dengan Wanita
Jumat, 24 Februari 06

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Dinding penutup antara mata jin dan aurat manusia ketika seseorang masuk jamban adalah kalau ia mengucapkan Bismillaah.” (Hr Ibnu Majah dalam Kitab Thoharoh / 242).

Iblis dan bala tentaranya adalah sosok-sosok yang jiwanya kotor terus-menerus. Mereka selalu mengintip aurat dan kejelekan. Iblis telah mencopot pakaian Adam ’alaihis salam dan isterinya sedangkan keduanya itu di surga. Lalu di dunia ini Iblis, wadya balanya, dan partainya membelejeti pakaian taqwa dari jiwa manusia, dan mencopoti pakaian penutup aurat dari badan. Sehingga keadaan telanjang menjadi pemandangan nyata yang dianggap biasa, sedang menampakkan aurat sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan manusia tanpa ada halangannya.

Tetapi kalau memang kita tetap teguh mengikuti syari’at Islam maka tidak akan terjadi yang demikian itu. Iblis tak mampu, sampai di tempat-tempat yang kita harus buka aurat pun, iblis tak mampu melihatnya, (karena ada do’a seperti tersebut di atas). Maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dzikir dan keutamaan berserah diri kepada-Nya itu sebagai pencegah bagi mata barisan iblis dan partainya. (Lihat Hasan Ahmad Qothomisy, Al-Muwajahah As-Shiro’ ma’as Syaithon wa Hizbihi, Daru Thaibah Ar-Riyadh 1415H/ 1995, cet I, hal 147).

Wanita

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Wanita itu menghadap ke muka dalam bentuk syetan, dan ke belakang dalam bentuk syetan (pula).” (Hr Muslim Juz 10 Kitab Nikah, hal 177).

Mujahid rahimahullah berkata: Ketika perempuan menghadap ke depan (datang) maka syetan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya untuk orang yang melihatnya, dan ketika perempuan itu menghadap ke belakang (pergi) syetan duduk di atas bagian belakangnya lalu ia memperindahnya untuk orang yang melihatnya. (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkaamil Quran juz 12/ 227).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan:
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sekalian khalifah di dunia, lalu Allah mengawasi bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu tentang dunia dan jagalah dirimu tentang wanita. Maka sesungguhnya bencana/ fitnah Bani Israil adalah dalam hal wanita.” (HR Muslim Juz 17 Kitab Riqoq hal 55).

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pula:
“Aku tidak meninggalkan fitnah/ bencana yang lebih berbahaya atas kaum lelaki (selain bahaya fitnah) dari perempuan.” ( Al-Fath juz 9 , Hadits 5096, dan Muslim juz 18 hal 54).

Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah berkata, “Jika syetan putus asa mengenai sesuatu maka ia kemudian pasti mendatangi sesuatu itu dari arah perempuan. Sa’id pun berkata lagi, “Tidak ada sesuatu yang lebih aku takuti di sisiku kecuali perempuan.” (Siyaru ‘a’laamin Nubalaa’ Juz 4/ 237).

Kalau syetan putus asa dalam hal tertentu, maka dia akan melancarkan godaan itu dari arah perempuan. Apa yang dikatakan Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah tersebut dalam kenyataan kini tampak nyata. Sudah menjadi rahasia umum, ada proyek-proyek yang dilancarkan pengurusannya pakai umpan wanita. Itulah praktek syetan. Maka Sa’id yang di zaman sahabat tidak ada kebiasaan model syetan seperti sekarang pun, dia paling takut terhadap wanita.

Dan hadits tentang wanita kadang panjang, itu tidak lain karena wanita itu adalah pengikut syetan terkutuk yang paling banyak. Wanita pengikut syetan itu adalah tali-tali dan perantara untuk para pengikut syetan. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan bahwa wanita itu penghuni neraka yang paling banyak, dan mereka tidak masuk neraka kecuali karena mengikuti iblis dan tentara-tentaranya. Dan tidaklah manusia mengikuti iblis kecuali karena iblis telah menguasai mereka. Dan iblis tidak menguasai kecuali dengan banyaknya maksiat dan dosa. Sedang kekuasaan iblis dan partainya itu dengan cara menganggap indah dan bagus dosa-dosa dan maksiat.

Dalam Hadits disebutkan:
“Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar, diincar oleh syetan.” (Hadits Shahih Sunan Tirmidzi no 936, dan Thabrani di Al-Kabier juz 3/ 64, dan lihat Al-Irwaa’ no 273).

Perempuan sebagai salah satu sarana iblis untuk merusak

Iblis menyodorkan fitnah pada wanita guna menyesatkan dan merusak. Al-Qur’an telah mengisahkan contoh-contoh adanya bencana-bencana/ fitnah lewat wanita. Di antara kisah-kisah tersebut adalah:

Godaan Syetan untuk Kaum Tsamud lewat wanita

Ibnu Jarir dan lain-lain dari ulama salaf (generasi Sahabat, Tabi’ien, dan Tabi’ut Tabi’ien) menyebutkan bahwa dua wanita dari kaum Tsamud, salah satunya Shoduq putri Al-Mahya bin Zuhair bin Al-Mukhtar, dia adalah bangsawan dan kaya. Sedang ia di bawah suami yang telah masuk Islam, lalu wanita ini menceraikan suaminya itu. Lalu wanita ini mengundang anak pamannya yang disebut Mashro’ bin Mahraj bin Al-Mahya, dan wanita ini menyodorkan dirinya pada lelaki anak pamannya itu bila ia berani membunuh onta (Nabi Shalih ’alaihis salam).

Wanita lainnya adalah Anbarah binti Ghanim bin Majlaz dijuluki Ummu ‘Utsman. Dia ini tua dan kafir, punya anak 4 wanita dari suaminya, Dzu’ab bin Amru, salah satu kepala kaum. Lalu si perempuan tua ini menyodorkan ke-4 putrinya kepada Qadar ibn Salif bila ia berani membunuh onta, maka ia akan kebagian putrinya mana saja yang ia ingini. Lalu 2 pemuda (Mashro’ dan Qadar) bersegera untuk membunuh onta itu, dan berusaha mencari teman di dalam kaumnya. Maka 7 orang lainnya merespon ajakannya itu, jadi jumlahnya 9 orang. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wata’ala:
“Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. 27:48)

Dan mereka berusaha pada sisa kabilah itu dan mempropagandakan untuk membunuh onta, lalu mereka menyambutnya dan sepakat untuk membunuh onta itu. Lalu mereka berangkat mengintai onta. Ketika onta itu muncul dari kawanan yang mendatangi air, lalu Mashro’ bersembunyi untuk menyergapnya, lantas melemparkan panah padanya dan menancaplah di tulang kaki onta. Dan datanglah wanita-wanita membujuk kabilah itu untuk membunuh onta, sedang wanita-wanita itu membuka wajah-wajahnya (dari kerudungnya) untuk menyemangati kabilahnya. Lalu Qadar bin Salif mendahului mereka mengeraskan (hantaman) pedangnya atas onta itu maka putuslah urat di atas tumitnya, lalu jatuh tersungkurlah onta itu ke bumi. (Tafsir At-Thabari juz 12 / 531-534, Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir juz 1/ 127, Al-Kamil fit Taariekh Ibnul Atsier juz 1/ 51-52).

Wanita yang menyemangati Mashro’ adalah isteri pemimpin, sedang yang menyemangati Qadar adalah isteri pejabat juga. Adapun Qadar bin Salif sendiri termasuk pemimpin, jadi mereka itu orang elit semua.

Perempuan pertama telah menyodorkan dirinya kepada Mashro’, sedang perempuan kedua menyodorkan puteri-puterinya kepada Qadar. Dan perempuan-perempuan kabilah itu telah keluar dengan membujuk orang-orang agar membunuh onta dengan cara membuka wajah-wajah mereka. Sungguh telah terjadi fitnah wanita itu sebagai jalan masuknya Iblis kepada para pembesar, dan Iblis bersandar bersama mereka untuk membunuh onta yang menjadi ayat Allah subhanahu wata’ala yang disampaikan kepada nabi-Nya, Shalih ’alaihis salam.

Demikian ini tampak bagi kita, para pembesar (kaum elit) bersepakat semuanya, laki-laki maupun perempuan.

Kepala Nabi Yahya ’alaihis salam Dipenggal untuk Pelacur

Hal itu dikatakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu oleh Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha di suatu tempat di Masjidil Haram. Demikian itu ketika Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu disalib, lalu Ibnu Umar menoleh ke Asma’ seraya berkata: “Jasad (anakmu) ini sebenarnya bukan apa-apa, sedang yang di sisi Allah adalah arwahnya. Maka bertaqwalah kamu kepada Allah subhanahu wata’ala dan bersabarlah.”

Lalu Asma’ menjawab, “Apa yang menghalangiku (untuk bersabar), sedangkan kepala Yahya bin Zakaria ’alaihis salam (saja) sungguh telah dihadiahkan kepada seorang pelacur dari bani Israel.” (Siyaru A’laamin Nublaa’ juz 2/ 294, Al-Muhalla juz 2/22, ‘Audul Hijaab juz 2/195, dan orang-orangnya terpercaya, khabar itu tetap untuk kisah., Al-Muwajahah hal 80).

Kenyataan dari kisah ini adalah Asma’ radhiyallahu ‘anha menyebutkan dibunuhnya Yahya ’alaihis salam itu karena (permintaan) pelacur. Di sini kita lihat puncak kekuasaan iblis atas orang-orang elit dengan dorongan syahwat seks di mana sampai membunuh seorang nabi Allah yaitu Yahya bin Zakaria ’alaihis salam. Walaupun berbeda-beda kitab-kitab tarikh dalam rincian peristiwa itu hanya saja intinya adalah; Seorang raja masa itu di Damskus ada yang menginginkan kawin dengan sebagian mahramnya atau wanita yang tidak halal baginya untuk dikawini. Lalu Nabi Yahya ’alaihis salam mencegahnya, sedangkan wanita itu menginginkan raja itu, maka ada suatu (ganjalan) yang menetap di dalam jiwa wanita dan raja itu terhadap Nabi Yahya ’alaihis salam. Maka ketika antara wanita dan raja itu terjadi percintaan, wanita itu minta agar diberi darah Yahya, lalu raja akan memberikan padanya. Maka raja mengutus orang untuk mendatangi Nabi Yahya ’alaihis salam dan membunuhnya, dan membawakan kepala Yahya kepada wanita itu!!! (Lihat Tarikh At-Thabari j 1/ 586-592, Al-kamil Ibnu Atsir j 1/ 171, Al-Bidayah wan Nihayah j 1/49).

Demikianlah kondisi orang-orang terlaknat yang tidak menahan diri untuk tidak membunuh nabi-nabi Allah. Bagaimana mereka tidak dilaknat? Sedangkan Nabi-nabi Allah itu penyulut hidayah dan pemegang bendera kebenaran dan Tauhid, sedangkan iblis terlaknat itu pembawa bendera neraka dan panji-panji kekafiran serta syirik.

Isteri Al-Aziz serta Yusuf

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggali di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “marilah ke sini,” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung.

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (QS Yusuf/ 12: 23-25).

Firman Allah subhanahu wata’ala lagi:
“Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu (wanita) adalah besar.”

(Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteri) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (QS Yusuf/ 12: 28-29).

Sesungguhnya kisah Yusuf ’alaihis salam adalah contoh terbesar yang menjelaskan konsentrasi iblis atas kalangan penguasa, dan iblis menguasai mereka dari segi syahwat seks. Dan barangkali dengan membaca ayat-ayat tentang kisah itu tidak perlu keterangan tambahan. Tetapi di sini tampak bagi kita gambaran dari kalangan papan atas (at-thobaqotur rooqiyyah) di masa jahiliyah ribuan tahun lalu, seakan-akan jahiliyah itu adalah yang ada hari ini pula, dengan leluasa dalam mengarahkan penyelewengan seks, dan kecenderungan untuk menutup-nutupinya dari masyarakat. Dan inilah pentingnya semua kisah itu. (Hartono)

Dipetik dari Al-Muwajahah as-Shiro’ ma’as Syaithon wa Hizbihi oleh Hasan Ahmad Qothomisy, Darut Thaibah Ar-Riyadh cet I, 1415H/ 1995.

Sumber : alsofwah

February 25, 2006

Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah

Filed under: Religi

Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup. Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi saya.

Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku…

1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.

2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.

Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah – dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya, maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160) [1]

Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.

4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60)

Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dan seterusnya.

Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll. [2]

Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia [3], pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll. [4]

Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dan lain-lain. [5]

Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad). [6]

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35). [7]

Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim). [8]

6. ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah : 153)
Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.

7. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6)
Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.

8. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)
Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.

9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40)

10. “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)

Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.

Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah?

Chandraleka
hchandraleka(at)telkom.net

Footnote:
[1] Lihat Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Konsep Perkawinan dalam Islam, Pustaka Istiqomah, Cet. II, 1995, hal. 12
[2] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Adab & Sebab Terkabulnya Do’a, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. I, Des 2004, hal. 1 – 2
[3] Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Allah lalu berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni.” Demikianlah keadaannya hingga fajar terbit. (HR. Bukhari 145, Muslim 758) (lihat Tahajjud Nabi, Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani, Media Hidayah, Sept. 2003, hal. 27).
[4] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Adab & Sebab Terkabulnya Do’a, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. I, Des 2004, hal. 8 – 14
[5] Idem, hal. 15 – 22
[6] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Al – Masaa-il Jilid 3, Penerbit Darul Qalam, Jakarta, Cet. II, 2004 M, hal. 103
[7] Idem, hal. 105
[8] Idem, hal. 101

——————————————————————————–
Referensi: Referensi : Footnote: [1] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Konsep Perkawinan dalam Islam, Pustaka Istiqomah, Cet. II, 1995 [2] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Adab & Sebab Terkabulnya Do’a, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. I, Des 2004 [3] Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Adab & Sebab Terkabulnya Do’a, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. I, Des 2004 [4] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Al – Masaa-il Jilid 3, Penerbit Darul Qalam, Jakarta, Cet. II, 2004 M

[Kontributor : Chandraleka, 25 Juni 2005 ]

sumber : Perpustakaan Islam

February 24, 2006

KATA-KATA HIKMAH DARI ORANG-ORANG SOLEH

Filed under: Religi

KATA-KATA HIKMAH DARI ORANG-ORANG SOLEH

SAYIDINA ABU BAKAR :

  1. Sesungguhnya seorang hamba itu bila merasa ujub karena suatu perhiasan dunia, niscaya Allah akan murka kepadanya hingga dia melepaskan perhiasan itu.
  2. Semoga aku menjadi pohon yang ditebang kemudian digunakan.
  3. Dia berkata kepada para sahabat,"Sesungguhnya aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah orang yang paling baik di kalangan kamu maka berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus maka ikutilah aku tetapi kalau aku menyeleweng maka betulkan aku!"

SAYIDINA UMAR BIN KHATTAB :

  1. Jika tidak karena takut dihisab, sesungguhnya aku akan perintahkan membawa seekor kambing, kemudian dipanggang untuk kami di depan pembakar roti.
  2. Barangsiapa takut kepada Allah SWT niscaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki.
  3. Wahai Tuhan, janganlah Engkau jadikan kebinasaan umat Muhammad SAW di atas tanganku. Wahai Tuhanku, umurku telah lanjut dan kekuatanku telah lemah. Maka genggamkan (matikan) aku untukMu bukan untuk manusia.

SAYIDINA ALI KARAMALLAHU WAJHAH :

  1. Cukuplah bila aku merasa mulia karena Engkau sebagai Tuhan bagiku dan cukuplah bila aku bangga bahwa aku menjadi hamba bagiMu. Engkau bagiku sebagaimana yang aku cintai, maka berilah aku taufik sebagaimana yang Engkau cintai.
  2. Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal, karena sesungguhnya terlalu sedikit amalan yang disertai takwa. Bagaimanakah amalan itu hendak diterima?
    Janganlah seseorang hamba itu mengharap selain kepada Tuhannya dan janganlah dia takut selain kepada dosanya.
  3. Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.

UMAR BIN AZIZ :

  1. Orang yang bertakwa itu dikekang.
  2. Sesungguhnya syubhat itu pada yang halal.
  3. Kemaafan yang utama itu adalah ketika berkuasa.

SUFFIAN AS THAURI :

  1. Tidak ada ketaatan bagi kedua ibu-bapak pada perkara syubhat.
  2. Sesungguhnya seorang lelaki itu berharta bila dia zuhud di dunia, dan sesungguhnya seorang itu adalah fakir bila dia gemar pada dunia.
  3. Menuntut ilmu lebih utama daripada shalat sunat.

IMAM AS SYAFIE :

  1. Barangsiapa menghendaki akhirat wajib baginya ikhlas pada ilmu.
  2. Tidak ada sesuatu yang lebih indah pada ulama kecuali dengan kefakiran dan mencukupi dengan apa yang ada serta redha dengan keduanya.
  3. Hendaklah kamu berilmu pengetahuan sebelum kamu menjadi ketua, sebab sesudah kamu menjadi ketua, tidak ada jalan lagi bagimu untuk mencari pengetahuan.
    Orang yang berakal itu adalah orang yang akalnya dapat mengawal segala sifat-sifat mazmumah (sifat keji).
    Barangsiapa yang menyukai bila Allah menutupinya dengan kebaikan maka hendaklah dia bersangka baik terhadap manusia.

IMAM MALIK :

  1. Ilmu itu bukanlah dengan membanyakkan riwayat tetapi ilmu itu adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati.
  2. Apabila seseorang itu memuji dirinya maka hilanglah cahayanya.
  3. Wajib bagi orang yang menuntut ilmu untuk memiliki kebesaran, ketenangan dan ketakutan.

IMAM ABU HANIFAH :

  1. Tidak sekalipun aku shalat kecuali aku doakan untuk guruku Hammad dan juga mereka yang pernah mengajarku serta mereka yang pernah aku ajar. (murid-muridnya).
  2. Aku telah 50 tahun bergaul dengan manusia. Tidak kudapati seorangpun yang mengampunkan kesalahanku. Tidak ada yang menghubungi aku ketika aku memutuskan hubungan dengannya. Tidak ada yang menutup keaibanku dan aku tidak akan merasa aman darinya bila dia murka kepadaku. Maka yang lebih mereka bimbangkan adalah perkara yang besar-besar.
  3. Telah sampai berita kepadaku, bahwa tidak ada yang lebih mulia daripada seorang alim yang warak.

IMAM AHMAD :

Jangan kamu mengambil ilmu dari orang yang mengambil benda dunia di atas ilmunya.

SUFFIAN BIN UYAINAH :

  1. Dua perkara yang susah sekali untuk mengobatinya yaitu meninggalkan loba (tamak) untuk manusia dan mengikhlaskan amal untuk Allah.
  2. Siapa yang ditambah akalnya maka kuranglah rezekinya.
  3. Zuhud di dunia itu adalah sabar dan menunggu-nunggu kedatangan mati.
  4. Ilmu itu jika tidak memberi manfaat padamu maka akan memberi mudarat padamu.
  5. Orang yang menuntut ilmu tidak akan dianggap sebagai orang yang berakal hingga dia melihat dirinya lebih hina dari sekalian manusia.

Surat dari ibu Aisyah r.a untuk Khalifah Muawiyah berbunyi sebagai berikut :

"Aku dengar Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang mengusahakan keredhaan Allah sampai manusia kesal kepadanya, ia akan dibantu Allah dalam menghadapi manusia. Dan siapa yang tidak menghiraukan Allah agar disenangi manusia nasibnya akan diserahkan Allah pada manusia."
Oleh itu tetaplah hati tuan dalam takut pada Allah karena bila tuan takut pada Allah, Dia akan membantumu terhadap manusia. Tetapi kalau tuan takut pada manusia mereka tidak akan dapat menolongmu terhadap Allah sedikit pun."

Khalifah Umar Ibnu Aziz menasehati gubernur-gubernur di daerah pemerintahannya dengan perkataan sebagai berikut :

"Kekuasaan yang ada di tangan saudara-saudara telah memungkinkan kalian untuk menzalimi rakyat. Bila terasa di hati kalian untuk menzalimi seseorang, ingatlah segera betapa besarnya kekuasaan Allah atas diri saudara-saudara."
"Ketahuilah bahwa satu kejahatan yang anda timpakan pada rakyat lambat laun akan hilang bekasnya dari mereka tetapi bekasnya akan tetap untuk saudara-saudara dalam daftar dosa. Ketahuilah pula bahwa Allah SWT membela orang teraniaya terhadap yang menzaliminya."

Luqmanul Hakim menasehati anaknya :

"Wahai anakku, dampingilah selalu para ulama dan jangan engkau banyak berdebat dengan mereka agar jangan dibenci oleh mereka."
"Ambillah dari dunia sekedar keperluan dan biayakan (belanjakan) kelebihan hasil usahamu untuk Akhirat. Dunia jangan ditolak semua agar engkau tidak menjadi ‘parasit’ (orang yang menumpang hidup pada orang lain tanpa membalas apa-apa) yang menyusahkan manusia (orang) lain."

"Berpuasalah selalu untuk menundukkan nafsumu, tetapi jangan sampai meletihkan badan sehingga merusak shalatmu karena shalat lebih utama dari puasa."
"Janganlah engkau duduk berteman dengan orang yang bodoh, sombong dan jangan didekati orang yang bermuka dua."

Pernah Allah SWT bertanya kepada Nabi Yaakub a.s. :

"Tahukah kamu kenapa Kupisahkan engkau dengan puteramu Yusuf?"
"Tidak, ya Tuhanku," jawab Nabi Yaakub a.s.
"Yaitu karena kata-katamu yang mengatakan, "Aku takut karena dia akan dimakan serigala waktu kamu (saudara-saudara Yusuf) lalai bermain-main", Kenapa engkau bimbang pada serigala tetapi tidak menyatakan harapan pada-Ku? Engkau hanya memandang kelalaian saudara-saudaranya saja tapi engkau tidak memandang perlindungan-Ku terhadapnya (Yusuf)."
Kemudian Allah bertanya lagi pada Nabi Yaakub a.s.,
"Tahukah kamu kenapa Yusuf Aku kembalikan padamu?"
"Tidak, ya Tuhanku," jawab Nabi Yaakub a.s.
"Juga karena kata-katamu, "Semoga Allah akan mengembalikan semua padaku". Dan karena kata-katamu, "Pergilah untuk mencari Yusuf dan adiknya dan janganlah kamu berputus asa."

Kata Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

"Yang paling awal diseru di hari kiamat adalah orang yang hafal Al Quran dan seorang yang syahid dalam peperangan serta seorang yang kaya."

Maka firman Allah kepada yang hafal Al Quran,
"Apakah Aku tidak mengajarmu? Mengajar Al Quran yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku?"
Jawab orang itu, "Tentu saja ya Tuhanku."

Dan firman Allah, "Digunakan untuk apa ilmu yang kau miliki itu?"
Jawabnya, "Aku amalkan dan aku kaji siang dan malam."

Firman Tuhan, "Kamu dusta!"
Demikian pula para malaikat berkata, "Kamu dusta."

Firman Tuhan, "Sebenarnya Kamu hanya ingin menjadi seorang qari maka cukuplah pujian orang-orang itu sebagai ganjaranmu. Itulah bagianmu."
Sekarang giliran orang yang mati di dalam peperangan dihadapkan kepada Tuhan yang Maha Esa dan Tuhan berfirman,
"Apakah yang engkau telah lakukan di dunia?"
Jawabnya, "Saya diperintahkan ikut perang sabil, kemudian perintah itu saya jalankan sampai saya mati dalam peperangan itu."

Firman Allah: "Kamu dusta!"
Demikian pula para malaikat berkata, "Kamu dusta."

Firman Allah, "Sebetulnya kamu ingin dipuji sebagai seorang yang berani (pahlawan). Cukuplah pujian itu sebagai bagianmu."
Kemudian tibalah giliran orang kaya dihadapkan ke hadirat Allah SWT. Firman Allah,
"Apakah engkau tidak diberi kekayaan oleh-Ku? Sehingga engkau tidak memberikan kepada sesiapapun?"
Jawab orang kaya, "Tentu saja ya Tuhan, hamba telah diberi kekayaan olehMu."

Firman Tuhan,"Dipergunakan untuk apa kekayaan yang Aku berikan padamu itu?"
Jawabnya, "Saya pergunakan untuk bersilaturrahim dan bersedekah."

Firman Tuhan, "Kamu berdusta!"
Demikian pula para malaikat berkata, "Kamu berdusta."

Firman Tuhan, "Sebetulnya kamu ingin dipuji sebagai seorang yang pemurah. Pujian orang-orang itulah sebagai bagian untukmu."
"Kemudian Rasulullah menepuk lututku," kata Abu Hurairah dan Rasulullah bersabda, "Ya Abu Hurairah untuk merekalah Api Neraka pertama kali akan dinyalakan."

Dari Muaz, Rasulullah SAW bersabda :

"Puji syukur ke hadrat Allah SWT yang menghendaki agar makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, wahai Muaz!"
Jawabku, "Ya, Sayidil Mursalin."

Sabda Rasulullah SAW, "Sekarang aku akan menceritakan sesuatu kepadamu yang apabila engkau hafalkan (diambil perhatian) olehmu akan berguna tetapi kalau engkau lupakan (tidak dipedulikan) olehmu maka kamu tidak akan mempunyai alasan di hadapan Allah kelak."

"Hai Muaz, Allah itu menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dari bumi. Setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu langit dan tiap-tiap pintu langit dijaga oleh malaikat penjaga pintu menurut ukuran pintu dan keagungannya."

"Maka malaikat yang memelihara amalan si hamba (malaikat hafazah) akan naik ke langit membawa amal itu ke langit pertama. Penjaga langit pertama akan berkata kepada malaikat Hafazah,"Saya penjaga tukang mengumpat. Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya karena saya diperintahkan untuk tidak menerima amalan tukang mengumpat".

"Esoknya, naik lagi malaikat Hafazah membawa amalan si hamba. Di langit kedua penjaga pintunya berkata,"Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya sebab dia beramal karena mengharapkan keduniaan. Allah memerintahkan supaya amalan itu ditahan jangan sampai lepas ke langit yang lain."

"Kemudian naik lagi malaikat Hafazah ke langit ketiga membawa amalan yang sungguh indah. Penjaga langit ketiga berkata, "Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya karena dia seorang yang sombong."

Rasulullah SAW meneruskan sabdanya,
"Berikutnya malaikat Hafazah membawa lagi amalan si hamba ke langit keempat. Lalu penjaga langit itu berkata,"Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya. Dia seorang yang ujub. Allah memerintahkan aku menahan amalan si ujub."

Seterusnya amalan si hamba yang lulus ke langit kelima dalam keadaan bercahaya-cahaya dengan jihad, haji, umrah dan lain-lain. Tetapi di pintu langit penjaganya berkata,"Itu adalah amalan tukang hasad. Dia sangat benci pada nikmat yang Allah berikan pada hamba-Nya. Dia tidak redha dengan kehendak Allah. Sebab itu Allah perintahkan amalannya dilemparkan kembali ke mukanya. Allah tidak terima amalan pendengki dan hasad."

Di langit keenam, penjaga pintu akan berkata,"Saya penjaga rahmat. Saya diperintahkan untuk melemparkan kembali amalan yang indah itu ke muka pemiliknya karena dia tidak pernah mengasihi orang lain. Kalau orang dapat musibah dia merasa senang. Sebab itu amalan itu jangan melintasi langit ini."

Malaikat Hafazah naik lagi membawa amalan si hamba yang dapat lepas hingga ke langit ketujuh. Cahayanya bagaikan kilat, suaranya bergemuruh. Di antara amalan itu ialah shalat, puasa, sedekah, jihad, warak dan lain-lain.

Tetapi penjaga pintu langit berkata,"Saya ini penjaga sum’ah (ingin kemasyhuran). Sesungguhnya si hamba ini ingin termasyhur dalam kelompoknya dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan kawan-kawan yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkan padaku agar amalan itu jangan melintasiku. Tiap-tiap amalan yang tidak bersih karena Allah maka itulah riya’. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan orang-orang yang riya’."

Kemudian malaikat Hafazah itu naik lagi dengan membawa amal hamba yakni shalat, puasa, zakat, haji, umrah, akhlak yang baik dan mulia serta zikir pada Allah. Amalan itu diiringi malaikat ke langit ketujuh hingga melintasi hijab-hijab dan sampailah ke hadirat Allah SWT.
Semua malaikat berdiri di hadapan Allah dan semua menyaksikan amalan itu sebagai amalan soleh yang betul-betul ikhlas untuk Allah.

Tetapi firman Tuhan,"Hafazah sekalian, pencatat amal hamba-Ku, Aku adalah pemilik hatinya dan Aku lebih mengetahui apa yang dimaksudkan oleh hamba-Ku ini dengan amalannya. Dia tidak ikhlas pada-Ku dengan amalannya. Dia menipu orang lain, menipu kamu (malaikat Hafazah) tetapi tidak bisa menipu Aku. Aku adalah Maha Mengetahui."

"Aku melihat segala isi hati dan tidak akan terlindung bagi-Ku apa saja yang terlindung. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah terjadi adalah sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang bakal terjadi."

"Pengetahuan-Ku atas orang yang terdahulu adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang datang kemudian. Kalau begitu bagaimana hamba-Ku ini menipu Aku dengan amalannya ini?"

"Laknat-Ku tetap padanya."

Dan ketujuh-tujuh malaikat beserta 3000 malaikat yang mengiringinya pun berkata:

"Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami sekalian bagi mereka."
Dan semua yang di langit turut berkata,"Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang yang melaknat."

Sayidina Muaz (yang meriwayatkan hadist ini) kemudian menangis terisak-isak dan berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana aku dapat selamat dari apa yang diceritakan ini?"
Sabda Rasulullah SAW, "Hai Muaz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan."

Muaz bertanya kembali,"Ya, tuan ini Rasulullah sedangkan saya ini hanyalah si Muaz bin Jabal, bagaimana saya dapat selamat dan bisa lepas dari bahaya tersebut?"
Bersabda Rasulullah, "Ya begitulah, kalau dalam amalanmu ada kelalaian maka tahanlah lidahmu jangan sampai memburukkan orang lain. Ingatlah dirimu sendiri pun penuh dengan aib maka janganlah mengangkat diri dan menekan orang lain."

"Jangan riya’ dengan amal supaya amal itu diketahui orang. Jangan termasuk orang yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik berdua ketika disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik. Jangan takabur pada orang lain nanti luput amalanmu dunia dan akhirat dan jangan berkata kasar dalam suatu majlis dengan maksud supaya orang takut padamu, jangan mengungkit-ungkit apabila membuat kebaikan, jangan mengoyak perasaan orang lain dengan mulutmu, karena kelak engkau akan dikoyak-koyak oleh anjing-anjing neraka jahanam."

Sebagaimana firman Allah yang bermaksud,"Di neraka itu ada anjing-anjing yang mengoyak badan manusia."

Muaz berkata, "Ya Rasulullah, siapa yang tahan menanggung penderitaan semacam itu?"
Jawab Rasulullah SAW, "Muaz, yang kami ceritakan itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT. Cukuplah untuk menghindari semua itu, kamu menyayangi orang lain sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri dan benci bila sesuatu yang dibenci olehmu terjadi pada orang lain. Kalau begitu kamu akan selamat dan dirimu pasti akan terhindar dari api neraka."

Nabi SAW bersabda :

Allah SWT berfirman,"Sekurang-kurangnya tindakan-Ku terhadap seorang hamba yang lebih mengutamakan nafsunya dari berbuat taat kepada-Ku tidak Kuberi padanya kebahagiaan bermunajat kepada-Ku."


Sayidina Ali r.a. berkata :

"Dasar kekafiran itu dikelilingi oleh empat tiang yaitu kasar hati, buta fikiran, lalai dan prasangka. Orang berhati kasar akan menghina kebenaran, menunjukan kejahatan dan mengutuk orang-orang pandai."
"Buta hati, lupa zikrullah dan lalai akan menjauhkan diri dari ketetapan Allah, dan orang yang syak wasangka akan tertipu oleh angan-angan. Sampai akhirnya ia ditimpa kecewa dan sesal yang tidak berujung karena diperlihatkan oleh Allah hal-hal yang selama ini tidak difikirkannya."

Nabi SAW bersabda:

"Sekurang-kurangnya (hati) mu mesti berisi keyakinan dan keteguhan dalam bersabar. Siapa yang mendapatkan kedua hal itu, tidak mengapa baginya bila kadang-kadang lalai dalam mengerjakan shalat sunat di malam hari dan puasa sunat di siang hari."

"Orang-orang sabar dalam keadaan itu lebih disukai. Aku khawatir sepeninggalku dunia akan terbuka luas di depanmu, lalu masing-masing bersifat nafsi-nafsi, engkau-engkau, aku-aku dan kamu tidak kenal lagi penduduk langit. Di waktu itu siapa yang sabar dan ikhlas akan memenangkan pahala yang selengkapnya."

Firman Allah : Terjemahannya : Apa yang ada pada kamu akan habis dan apa yang di sisi Allah akan kekal dan akan Kami beri tambahan pahala pada orang-orang yang sabar dalam apa yang mereka lakukan. (An Nahl: 96)

Dalam atsar dari Ibnu Abbas menceritakan ketika Nabi masuk ke suatu perkumpulan kaum Ansar baginda bertanya :

"Apakah saudara-saudara telah betul-betul Mukmin?"
Umar lalu menjawab, "Benar ya Rasulullah."
Baginda bertanya lagi, "Apakah ciri-ciri iman, saudara-saudara?"
Hadirin menjawab, "Kami bersyukur atas kesenangan, bersabar atas cobaan dan redha menerima ketentuan Tuhan." Lalu Nabi bersabda, "Memang anda semua Mukmin sejati, demi Tuhan Kaabah."

Termaktub dalam sepucuk surat Khalifah Umar kepada Abu Musa Al Ashaari,

"Hadapilah sifat sabar dan ketahuilah bahwa sifat sabar itu dua macam, di mana yang satu lebih afdol dari yang lain. Sabar dalam musibah adalah sifat baik namun lebih afdal lagi sabar dalam menghindar larangan Allah SWT.

Ketahuilah bahwa sabar itu berhubungan dengan iman karena kebajikan yang paling utama adalah takwa dan takwa hanya dapat dicapai dengan sabar."

Nabi Sulaiman a.s. pernah dihukum Allah selama 40 hari

Semasa baginda dihukum, banyak orang berbuat kasar dengannya. Sebab itu saat Nabi Sulaiman a.s. bebas dan menjadi raja kembali, ada seorang umatnya datang meminta maaf pada Nabi Sulaiman a.s. Nabi Allah itu menjawab,"Aku tidak mengumpat tentang apa yang telah kamu lakukan dan tidak lupa pula memuji sikapmu sekarang. Sesungguhnya semua yang telah terjadi itu adalah perintah dari langit yang mesti terjadi."

13. Seorang ulama salaf berkata

"Setiap seorang hamba berbuat dosa, bumi tempat ia berdiri meminta keizinan Tuhan untuk membenamkannya dan langit yang di atas kepalanya memohon izin untuk gugur menimpanya."Tetapi Tuhan berfirman pada langit dan bumi itu,

"Tahanlah bahaya untuk hamba-Ku itu dan beri dia waktu. Mungkin dia bertaubat pada-Ku lalu Aku ampunkan dan mungkin saja dia menggantikan kerja buruknya dengan amalan yang baik lalu Aku gantikan dosanya dengan pahala."

Itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah :
Terjemahannya : Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi dari terjatuh dan kalau keduanya terjatuh tiada seorang pun yang akan bisa menahan selain Dia. (Faathir : 41)

Rasulullah SAW bersabda :

"Ya Tuhanku, karuniakanlah aku dua mata yang berlinang meneteskan air mata sebelum datang saat di mana mata menetiskan darah dan gigi menjadi bara."

Ummul Mukminin Sayidatina Aisyah bertanya kepada Nabi SAW :

Wahai Rasulullah, "Apakah ada umatmu yang nanti dapat masuk syurga tanpa hisab?"
Jawab baginda,"Ada, yaitu orang yang mengenang dosanya lalu dia menangis."

Yahaya bin Muaz r.a berkata,

"Malang sekali nasib keturunan Nabi Adam a.s. Kalau mereka mencemaskan Neraka seperti mencemaskan kemiskinan tentulah dia akan masuk Syurga."

Diriwayatkan :

Seorang Nabi mengeluh kepada Allah bahwa dia telah menderita lapar dan kekurangan pakaian selama bertahun-tahun dan pakaiannya hanyalah jubah bulu yang kasar. Lalu Allah mewahyukan kepadanya,"Wahai hamba-Ku, tidakkah engkau senang hati karena hatimu telah Aku lindungi dari sikap kafir terhadap-Ku hingga engkau minta pula diberi keduniaan?"

Sebahagian ulama’ salaf bermunajat seperti ini :

"Ya Allah, generasi mana yang tidak membuat kedurhakaan padaMu namun Engkau tetap memberi rezeki kepada mereka. Sesungguhnya Maha Suci Engkau dan Maha Penyantun. Demi kemuliaanMu, Engkau didurhakai manusia namun Engkau tetap melimpahkan pemberian dan rezeki, bagaikan Engkau tidak pandai marah pada mereka, wahai Tuhan kami

 

 Sumber : gagakmas.org

Previous<<<<< >>>>>> Next

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main